NovelToon NovelToon
Immortal Phoenix Emperor

Immortal Phoenix Emperor

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Fantasi Timur / Perperangan / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: AnginBiru

Seorang Kaisar Abadi yang sedang melewati rangkaian Ujian Langit, mengalami kegagalan karena diserang oleh Pasukan Berjubah. Dirinya yang mengalami luka cukup parah sebab gagal melewati Ujian Langit, serta merasa geram terhadap Pasukan Berjubah. Menggunakan sebuah Teknik Terlarang untuk melawan Pasukan Berjubah hingga menyebabkan tubuh dan jiwanya hancur.

Lima Ribu Tahun kemudian, Ia terlahir kembali sebagai seorang Tuan Muda dari Klan Xiao. Namun sayangnya, Ia terlahir dengan kondisi lautan energi yang tersegel sehingga membuat dirinya tidak bisa berkultivasi.

Tetapi, kondisi yang kurang baik tersebut tidak membuat dirinya menyerah. Ia akan berusaha keras untuk mendapatkan kembali seluruh kekuatannya seperti di masa lalu, demi membalaskan dendamnya serta melindungi orang yang ia cintai!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnginBiru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 07 - Ramuan Penyucian Tubuh

Xiao Yun melihat keluar jendela kamarnya, menatap langit pagi yang cerah di Kota Bulan Malam. Tatapan matanya penuh keyakinan dan semangat yang tinggi. Ia terlihat sangat berbeda dari sebelumnya.

TOK! TOK!

Pandangan Xiao Yun seketika teralihkan karena suara ketukan pintu kamarnya. Kemudian, pintu kamar Xiao Yun terbuka oleh seorang pelayan perempuan yang muncul dari balik pintu. Pelayan perempuan yang datang tersebut ternyata adalah Bibi Yi. "Permisi Tuan Muda. Aku ingin.." Bibi Yi seketika berhenti berbicara saat melihat Xiao Yun

Sementara itu, Xiao Yun yang melihat kedatangan Bibi Yi pun langsung menyambutnya dengan senyuman seraya berkata, "Selamat pagi, Bibi Yi."

Tangan Bibi Yi langsung gemetar ketika melihat Xiao Yun yang sedang berdiri di dekat jendela. Senyum Xiao Yun yang ditujukan pada dirinya, membuat matanya terbuka lebar hingga berkaca-kaca. Langkah kakinya bergegas menghampiri Xiao Yun, lalu memeluk erat tubuh kecil Tuan Muda Klan Xiao tersebut.

"Tuan Muda!!"

Air mata yang tak terbendung seketika membasahi kedua pipi Bibi Yi. Ia merasa sangat bahagia melihat Xiao Yun yang sudah terbangun, setelah tidak sadarkan diri selama tujuh hari. "Syukurlah! Aku sangat bersyukur Tuan Muda baik-baik saja."

Tubuh Xiao Yun tampak membeku ketika mendapatkan sebuah pelukan hangat dari Bibi Yi. Lalu, ia segera membalas perkataan Bibi Yi dengan nada lembut, "Iya, kondisiku saat ini sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Maafkan aku, karena sudah membuat Bibi khawatir."

Bibi Yi langsung menggeleng pelan kepalanya serta melepas pelukannya. Lalu, ia mengalihkan pandangannya ke arah Xiao Yun sembari menyentuh wajahnya dengan lembut. "Anda tidak perlu meminta maaf. Kekhawatiran yang kumiliki ini, merupakan sebuah bentuk kasih sayangku kepada Anda. Ini adalah hal yang sangat wajar karena aku sudah menganggap Anda sebagai putraku sendiri." Sebuah senyum lembut dan tulus terlukis di wajah Xiao Yun ketika ia mendengar perkataan Bibi Yi. Xiao Yun merasa sangat senang dan beruntung, karena memiliki Bibi Yi yang selalu menjaga dan merawatnya.

"Terima kasih, Bibi Yi."

Bibi Yi mengangguk pelan seraya menyeka air matanya dengan sapu tangan. Kemudian, ia menarik lembut tangan Xiao Yun ke arah tempat tidur. Bibi Yi meminta Xiao Yun untuk kembali duduk di atas tempat tidurnya sebab masih khawatir terhadap kondisi Xiao Yun. "Apakah Anda lapar, Tuan Muda?"

"Iya, aku sangat lapar. Terakhir kali aku makan sekitar tujuh hari yang lalu." jawab Xiao Yun seraya memegangi perutnya

"Kalau begitu, aku akan mengambil beberapa makanan dan pakaian baru untuk Anda. Mohon tunggu sebentar, Tuan Muda." Bibi Yi langsung bergegas pergi meninggalkan kamar Xiao Yun. Sementara itu, Yan kembali keluar dari tubuh Xiao Yun setelah sebelumnya ia sempat kembali masuk karena kehadiran Bibi Yi. "Kenapa seorang pelayan perempuan sepertinya bisa begitu menyayangimu, Yun?" tanya Yan

"Karena Bibi Yi bukanlah sekadar pelayan biasa. Ia adalah orang yang menjaga dan merawatku, sejak ibuku pergi meninggalkan diriku saat masih berusia satu tahun. Ia menggantikan peran ibu kandungku dan sudah menganggapku sebagai putranya." jawab Xiao Yun

"Begitu, ya. Kau sangat beruntung memiliki seseorang seperti dirinya di sisimu, Yun." ucap Yan seraya kembali ke dalam tubuh Xiao Yun

"Ini lebih dari beruntung, Yan." gumam Xiao Yun dengan tersenyum lembut

Selepas berbincang singkat bersama Yan. Xiao Yun menggunakan waktunya untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Ia segera memejamkan matanya dan mencoba untuk menyerap energi murni yang berada di sekitarnya. Namun, dirinya terlihat kesulitan saat proses penyerapan tersebut. "Hahh.. Sudah kuduga. Meskipun aku sudah bisa berkultivasi, tetapi tubuh ini belum sepenuhnya dapat menyerap energi murni dengan baik."

Sembari menunggu kedatangan Bibi Yi kembali, Xiao Yun berusaha mencari solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah pada tubuhnya. Di saat ia sedang berkonsentrasi penuh pada pikirannya, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seseorang yang begitu cepat menuju kamarnya.

TAP-TAP! TAP-TAP!

BAMM!!

Pintu kamar Xiao Yun seketika hancur menjadi serpihan-serpihan kecil dalam sekejap mata. Tubuh Xiao Yun langsung membeku, matanya terbuka lebar. Ia sungguh terkejut ketika melihat Ayahnya yang masuk ke dalam kamarnya dengan begitu kasar. "Apa kau baik-baik saja, Yun'er?!"

"Xiao Yi baru saja memberitahu Ayah kalau kau sudah sadar. Jadi, Ayah bergegas datang ke sini untuk melihatmu." jelas Xiao Qinzi seraya memegang kedua bahu Xiao Yun

"A, aku baik-baik saja, Ayah. Maafkan aku karena sudah membuat Ayah khawatir."

"Tidak apa-apa, putraku. Ayah merasa sangat senang melihatmu baik-baik saja." ucap Xiao Qinzi sambil memeluk putra kecilnya

Xiao Qinzi kini dapat bernapas dengan tenang dan nyaman. Sebab sebelumnya, selama tujuh hari penuh ia terus-menerus khawatir dan tertekan karena hal buruk yang menimpa putranya. Namun sekarang, wajahnya terlihat lebih rileks dan bebas dari rasa ketegangan. "Rasanya sangat senang bisa kembali ke kamarku saat masih kecil. Tetapi.. Apakah Ayah harus masuk ke kamarku dengan cara seperti itu?" tanya Xiao Yun sembari menunjuk serpihan-serpihan pintu kamarnya

Xiao Qinzi langsung mengalihkan pandangannya pada beberapa serpihan kayu yang berada di belakangnya. Lalu, ia kembali melihat ke arah Xiao Yun sambil tersenyum lebar, "Hahaha, maaf Yun'er. Ayah tidak sengaja melakukannya. Ayah akan meminta seseorang untuk menggantinya dengan yang baru nanti."

Xiao Yun hanya bisa berekspresi datar ketika melihat tingkah Ayahnya. Lalu, ia segera menarik napas panjang kemudian berbicara dengan tatapan mata yang lurus dan tajam. "Aku berhasil, Ayah. Sekarang aku sudah bisa berkultivasi!"

Xiao Qinzi sontak terkejut. Tangan kanannya langsung memeriksa tubuh Xiao Yun dengan mengalirkan energi murni ke dalam tubuh putranya tersebut. Kedua matanya seketika berkaca-kaca saat dirinya merasakan fluktuasi energi di dalam tubuh Xiao Yun. "Sudah kuduga kau pasti akan berhasil, Yun'er. Kau benar-benar luar biasa." ucap Xiao Qinzi seraya memeluk erat Xiao Yun

"Terima kasih, Ayah. Ini semua berkat Eliksir Tujuh Api serta seluruh usaha yang Ayah lakukan untukku."

"Tetapi, tubuhku belum sepenuhnya dapat menyerap energi murni dengan baik. Jadi, aku membutuhkan bantuan Ayah kembali untuk menyelesaikan masalah ini dengan metode yang sudah kumiliki."

Xiao Qinzi langsung melepas pelukannya, lalu meletakkan tangan kanannya di kepala Xiao Yun dengan lembut. "Katakanlah apapun yang kau inginkan, Yun'er. Ayah akan selalu berusaha untuk membantumu."

Xiao Yun segera mengeluarkan selembar kertas dan pena dari cincin ruangnya. Kemudian, ia mulai menggoreskan ujung penanya di atas selembar kertas tersebut. Mata Xiao Qinzi terlihat melebar sebab rasa penasaran pada setiap gerakan pena putranya. Setelah itu, Xiao Yun langsung menyerahkan lembar kertas tersebut kepada Ayahnya. "Bunga Serbuk Api, Rumput Kaca Suci, Gingseng Seribu Tahun, Mutiara Tak Bernoda dan Inti Spirit Beast Tingkat Dua dengan Elemen Api. Apa yang ingin kau lakukan dengan semua bahan ini, Yun'er?"

"Aku ingin membuat Ramuan Penyucian Tubuh."

"Ramuan Penyucian Tubuh? Jadi, kau berniat untuk membersihkan seluruh aliran meridian dan organ dalam tubuhmu?"

"Tepat sekali, Ayah. Aku merasa ada sesuatu yang menghambat proses penyerapan energi murni ke dalam tubuhku."

"Mungkin, itu adalah kumpulan dari sisa-sisa pil dan ramuan yang Ayah berikan padaku selama ini. Namun, tidak memberikan efek langsung dan berubah menjadi kumpulan endapan." jawab Xiao Yun

"Begitu, ya." ucap Xiao Qinzi sambil memperhatikan setiap inci tubuh putranya dengan saksama

"Padahal segel di lautan energinya baru saja hancur, tetapi tingkat kultivasinya sudah berada di tahap Pemurnian Energi Lapisan Ketiga. Putra Ketigaku ini benar-benar hebat." batin Xiao Qinzi

Di Benua Petarung, Tingkat Kultivasi terbagi menjadi sembilan bagian, yakni Pemurnian Energi, Master Energi, Master Duniawi, Grandmaster Duniawi, Grandmaster Surgawi, Raja Surgawi, Raja Yin Yang, Kaisar Yin Yang dan terakhir Kaisar Abadi. Lalu, setiap tingkatan terbagi menjadi Sembilan Lapisan.

"Apakah hanya ini saja yang kau inginkan?" tanya Xiao Qinzi

"Sebenarnya, masih ada satu hal lagi. Apakah Ayah bisa menyiapkan bak mandi beserta air hangat untukku?"

"Itu hal yang mudah. Ayah akan menyuruh Xiao Yuran untuk menyiapkannya."

"Baiklah. Terima kasih, Ayah."

Xiao Qinzi mengangguk pelan lalu pergi meninggalkan kamar Xiao Yun. Tidak lama kemudian, Bibi Yi kembali datang dengan dua pelayan perempuan yang membawa makanan dan pakaian baru untuknya. "Tuan Muda! Aku sudah membawa.." Bibi Yi seketika berhenti bicara

Kedua tangannya langsung menutupi mulutnya. Ia kembali terkejut saat melihat beberapa serpihan kayu yang berserakan di lantai. "Apa yang terjadi di sini, Tuan Muda?! Kenapa ada banyak serpihan kayu berserakan di lantai dan.. Tunggu sebentar, di mana pintu kamar Anda?!"

"Ja, jangan-jangan.. seluruh serpihan kayu ini merupakan pintu kamar Anda?!" tanya Bibi Yi yang terlihat panik

"Yah, banyak hal yang terjadi selama Bibi pergi." jawab Xiao Yun sambil tersenyum canggung

Xiao Yun berusaha untuk tidak menjelaskan kejadian yang sebenarnya atau lebih tepatnya, ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya pada Bibi Yi. Sementara itu, Bibi Yi tampak terus memperhatikan serpihan-serpihan kayu yang berserakan karena penasaran selama beberapa detik. Kemudian, ia segera melupakan rasa ingin tahu yang ada di benaknya. Lalu langsung memberi isyarat kepada kedua pelayan perempuan yang berada di sisinya, untuk meletakkan makanan serta pakaian Xiao Yun di atas meja. "Pakaian baru serta beberapa makanan yang Anda inginkan sudah kami siapkan di atas meja, Tuan Muda."

"Apakah ada hal lain lagi yang Anda inginkan?" tanya Bibi Yi

Xiao Yun segera menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Tidak ada, Bibi Yi. Itu saja sudah cukup."

"Baiklah. Karena Tuan Muda sudah tidak memerlukan apapun lagi, maka kami izin undur diri untuk menyelesaikan tugas kami yang lain."

"Iya. Terima kasih, Bibi Yi. Terima kasih juga untuk kalian berdua."

Bibi Yi beserta kedua pelayan perempuan tersebut langsung menundukkan kepalanya, lalu pergi meninggalkan Xiao Yun seorang diri. Beberapa menit kemudian, Xiao Yuran serta tiga anak buahnya datang ke kamar Xiao Yun sambil membawa bak mandi dan empat ember air hangat. Salah satu dari tiga anak buah Xiao Yuran juga membawa sebuah pintu kayu untuk kamarnya. "Tuan Muda! Aku sudah membawa bak mandi yang Anda inginkan. Dimana aku harus meletakkan bak mandi ini?" tanya Xiao Yuran

"Tolong letakkan di dekat jendela saja, Paman."

"Baiklah!" Xiao Yuran segera meletakkan bak mandi tersebut ke tempat yang Xiao Yun inginkan. Lalu, kedua anak buahnya yang masing-masing membawa dua ember berisi air hangat, langsung menuangkan isi ember tersebut ke dalam bak mandi. Sedangkan, satu anak buah lainnya mulai sibuk memasang pintu kayu.

Di sisi lain, Xiao Yun hanya dapat mengamati pekerjaan Xiao Yuran dan ketiga anak buahnya dari tempat tidurnya. Tubuhnya belum mampu bergerak dengan bebas sebab masih dalam tahap pemulihan. Ketika pekerjaan Xiao Yuran dan ketiga anak buahnya sudah hampir selesai. Xiao Qinzi kembali datang dengan membawa sebuah kantung kain yang berisi bahan-bahan yang Xiao Yun Inginkan. "Aku sudah mendapatkan semua bahan yang kau inginkan, Yun'er." ucap Xiao Qinzi seraya memberikan kantung kain yang ia bawa kepada Xiao Yun

"Terima kasih, Ayah. Aku sangat beruntung memiliki seorang Ayah yang hebat dan selalu dapat diandalkan."

"Hmph! Dasar bocah kecil, kau sangat pandai berkata manis setiap kali keinginanmu dituruti." ujar Xiao Qinzi sembari mengusap-usap kasar rambut Xiao Yun

"Hahaha! Hentikan, Ayah. Jangan mengacak-acak rambutku."

Xiao Yun tampak sangat senang, meskipun kata-kata yang baru saja ia ucapkan berlainan dengan perasaan hatinya saat ini. Tawanya menggema, mengisi setiap sudut kamarnya dengan membawa keceriaan yang menular. Xiao Qinzi, Xiao Yuran dan tiga anak buahnya juga turut bahagia melihat Xiao Yun yang terlihat lebih ceria dibandingkan sebelumnya. "Baiklah. Karena semua hal yang kau inginkan sudah terpenuhi. Maka, aku dan yang lain pergi dulu." ucap Xiao Qinzi sambil menarik kembali tangannya

"Iya, Ayah. Terima kasih karena selalu membantuku menyelesaikan semua masalah yang kuhadapi."

Senyum lembut dan tulus seketika terlukis di wajah Xiao Qinzi. Kedua matanya memandang Xiao Yun dengan sangat dalam dan lembut. Meskipun Xiao Yun bukanlah putra satu-satunya yang ia miliki. Namun bagi Xiao Qinzi, keberadaan Putra Ketiganya tersebut sangatlah berharga lebih dari apapun yang ia miliki selama ini. Xiao Qinzi terus menatap Xiao Yun selama beberapa detik, sebelum pandangannya mulai teralihkan ke arah Xiao Yuran. "Kita pergi sekarang?" tanya Xiao Qinzi dengan nada tegas

"Iya, Tuan Pemimpin."

Xiao Yuran serta ketiga anak buahnya segera menundukkan kepala mereka seraya berkata, "Kami izin undur diri, Tuan Muda."

Xiao Yun pun menganggukan kepalanya. "Terima kasih atas bantuannya, Paman Yuran."

Kemudian, Xiao Qinzi beserta Xiao Yuran dan tiga anak buahnya langsung pergi meninggalkan kamar Xiao Yun. Setelah itu, Xiao Yun segera bangkit dari tempat tidurnya. Lalu berjalan dengan tegas ke arah bak mandi sembari berkata, "Baiklah! Sekarang waktunya untuk melakukan pembersihan pada tubuhku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!