NovelToon NovelToon
Back To Us, Zehar & Alesha

Back To Us, Zehar & Alesha

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Tujuh tahun lalu, kerasnya hidup memaksa sepasang kekasih berpisah jalan. Kini, mereka kembali dipertemukan di puncak kesuksesan. Alesha seorang Direktur wanita yang tangguh, dan Zehar telah menjadi perwira polisi yang mapan.
Kesempatan kedua pun diambil. Namun tepat saat hubungan mereka kembali bertaut, sebuah utang budi dari masa lalu datang menagih.
Alesha dihadapkan pada dua pilihan, antara harus berbakti pada perjodohan orang tua, atau mempertahankan cinta sejatinya.
Saat pangkat dan jabatan sudah di tangan, mampukah mereka memenangkan takdir yang dulu sempat gagal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Malam Bisnis

Jumat malam itu, suasana di kawasan pusat perbelanjaan dan hotel bintang lima Ibu Kota terasa lebih meriah namun terlihat sangat tertib.

 Di salah satu ruang pertemuan mewah di lantai paling atas Hotel Sentral, akan diadakan makan malam bisnis yang sangat penting bagi kelangsungan kerja sama Argantara Investama dengan mitra dari luar negeri.

Acara ini dinilai sangat penting, sehingga manajemen puncak memutuskan untuk meminta bantuan pengamanan resmi dari pihak kepolisian guna memastikan segala sesuatunya berjalan lancar dan aman.

Alesha tiba di hotel itu sekitar pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Malam itu ia tampil dengan anggun mengenakan gaun panjang berwarna krem keemasan yang dipadukan dengan selendang tipis berwarna senada. Rambutnya disusun rapi dengan gaya simpel namun elegan, memperlihatkan leher dan bahunya yang jenjang. Di sampingnya berjalan Dinda serta dua orang petugas keamanan swasta dari perusahaan yang telah mengawalinya sejak berangkat dari kantor.

Begitu melangkah masuk ke lobi utama yang luas dan berkilau, langkah Alesha terhenti seketika.

Di tengah lobi, berdiri sekelompok petugas kepolisian yang sedang memeriksa jalur akses dan berkomunikasi lewat alat bantu bicara.

Di barisan paling depan, mengenakan seragam dinas lengkap dengan lencana pangkat yang terlihat jelas di bahunya, berdiri sosok yang tak asing lagi bagi pandangannya, dia adalah Zehar Pradipta.

Zehar juga sedang memeriksa daftar tugas di tangannya ketika matanya tanpa sengaja beralih ke arah pintu masuk.

Saat pandangan mereka bertemu, napasnya seolah terhenti sesaat. Ia tidak menyangka bahwa wanita yang baru ditemuinya dua hari lalu, yang telah mengisi seluruh pikirannya semalam, adalah sosok yang menjadi pusat pengamanan pada malam ini.

Keduanya saling menatap dalam keheningan singkat yang terasa lama. Di tengah keramaian orang yang berlalu‑lalang, dunia mereka seolah kembali menyempit hanya pada satu sama lain.

 Alesha merasakan jantungnya kembali berdebar kencang, sama seperti saat pertemuan di persimpangan jalan itu. Ia mencoba menenangkan diri, mengingat bahwa ia harus tetap bersikap profesional mengingat posisinya dan situasi tempat itu.

Zehar adalah orang pertama yang menyadarkan diri, meski raut wajahnya masih menyimpan keterkejutan. Ia melangkah mendekat dengan langkah tegas namun tetap menjaga kesopanan.

“Selamat malam, Bu Alesha,” sapa Zehar dengan nada resmi, meski matanya menyiratkan rasa terkejut yang tak bisa disembunyikan sepenuhnya.

“Saya AKP Zehar Pradipta, bertugas memimpin tim pengamanan untuk acara malam ini.”

Alesha mengangguk singkat, berusaha menjaga suara meski nadanya terasa sedikit lebih lembut dari biasanya.

“Selamat malam, Pak. Terima kasih atas bantuan dan pengawasannya.”

“Sudah menjadi tugas kami, Bu Alesha. Silakan masuk ke ruang acara, kami akan memastikan seluruh jalur aman dan terkendali,” jawab Zehar, lalu memberi isyarat kepada bawahannya untuk terus memantau keadaan.

Saat Alesha dan rombongannya melangkah menuju lift, Zehar masih berdiri di tempatnya, menatap punggung wanita itu hingga menghilang di balik pintu lift yang tertutup.

Ia menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya sejenak.

“Mengapa harus bertemu lagi dalam situasi seperti ini?” gumamnya dengan pelan, hanya dirinya sendiri yang mendengar.

Selama acara makan malam berlangsung, Zehar tetap berada di luar ruangan, mengawasi setiap titik akses, memeriksa identitas tamu yang datang, dan berkomunikasi dengan anggota timnya lewat radio genggam.

 Secara lahiriah ia terlihat tenang, sigap, dan memimpin tugasnya dengan wibawa yang biasa ia tunjukkan. Namun, di dalam pikirannya, kekacauan sedang terjadi.

Setiap kali seseorang keluar masuk ruangan itu, matanya selalu terarah ke sana. Ia membayangkan apa yang sedang terjadi di dalam, bagaimana penampilan Alesha malam itu, dan bagaimana ia berinteraksi dengan para tamu penting. Rasa ingin tahu yang bercampur dengan rasa rindu yang terpendam terus mengganggu konsentrasinya.

Di sela‑sela pengawasan, ia berdiri di dekat jendela yang menghadap ke pemandangan kota malam yang gemerlap. Pertanyaan yang sama terus berputar di kepalanya,

Haruskah aku lebih berani malam ini?

Ia bertanya pada dirinya sendiri,

apakah setelah acara selesai, ia harus mendekatinya lagi, menyapa, atau sekadar bertanya kabar?

Atau cukup menjalankan tugas saja, menjaga jarak, dan membiarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya?

Di satu sisi, hatinya berteriak ingin mendekat, ingin mengetahui lebih banyak, ingin melanjutkan percakapan yang terputus di kedai kopi tempo hari. Ia merasa bahwa pertemuan berulang ini bukan sekadar kebetulan biasa.

Namun di sisi lain, keraguan dan rasa gengsi kembali menghantui pikirannya.

Bagaimana jika Alesha menganggapnya hanya mencari alasan untuk mendekat?

Bagaimana jika ia justru merasa terganggu dengan kehadirannya yang terus muncul dalam setiap kesempatan?

Zehar memegang alat komunikasi di tangannya, merasakan dinginnya benda itu di telapak tangannya. Ia sadar, sebagai petugas yang sedang bertugas, ia harus tetap menjaga batas profesional. Namun, di balik seragam dan tanggung jawab itu, ada perasaan pribadi yang terus mendesak untuk keluar.

“Pak, semua titik pengawasan aman dan terkendali,” lapor salah satu anggotanya, memecah lamunannya.

Zehar menoleh, mengangguk mantap meski pikirannya masih melayang.

“Baik, terus pantau. Jangan lengah sampai acara benar‑benar selesai dan semua tamu telah meninggalkan tempat ini.”

Ia kembali berdiri di posisinya, matanya sesekali melirik ke arah pintu ruang makan malam. Waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Setiap menit yang berlalu terasa seperti jam baginya. Ia memeriksa jadwal, mengetahui bahwa acara akan berakhir sekitar pukul sepuluh malam.

Selama sisa waktu itu, Zehar terus memimpin pengamanan dengan cara yang sempurna, namun pikirannya tetap terbagi dua.

Satu bagian mengurus tugas dan keamanan, bagian lain terus mempertimbangkan keputusan yang akan diambilnya nanti.

Haruskah ia berani mengambil langkah malam ini, ataukah ia akan membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja lagi?

Ia memutuskan untuk menunggu saja. Ia akan menyelesaikan tugasnya dengan baik terlebih dahulu, lalu melihat apa yang akan terjadi saat acara itu benar‑benar berakhir.

Hingga saat itu tiba, ia hanya bisa berdiri tegak, menjaga keamanan tempat itu, sekaligus menjaga gejolak di dalam hatinya agar tidak terlihat oleh siapa pun.

1
Siti Sarfiah
cinta yg lama hilang akhirnya tersambung kembali👍💪
Siti Sarfiah
lancar kan urusannya kalau mengalah dari egois lanjutkan lagi cinta yg terputus dan perbaiki kembali
Siti Sarfiah
maju pakpol , buang jauh" egomu bisa nyesal kalau d ambil orang
Siti Sarfiah
itulah sama" egois🤭💪
Siti Sarfiah
pakpol yg buang" waktu , bilang saja ingin mengenang masa lalu😄👍
Siti Sarfiah
cinta lama bersemi kembali😍👍💪
Siti Sarfiah
dengan bertugasnya AKP zehar d daerah yg d tuju akan aman selalu👍💪
Siti Sarfiah
mantap ibu Dirut yg jenius👍
Elisabeth Ratna Susanti
semoga pak Zehar beneran tulus ya
Rosella
udh, 🙏
kalah saing kmu erhan
Rosella
baguss
Rosella
Zaskia sadar krna di bayarin tuh utang, coba kalau ga d bayarin, apa masih Nerima Zehar 😏
Rosella
sepakat din🙏
Rosella
keren juga Dinda 😍.
real sahabat ini mah😍
Elisabeth Ratna Susanti
harus tetap tegak berdiri 👍🥰
Rosella
aku paling suka karakter Zehar. apa yang dia ucapkan pasti positif. keren thor.
kalau bisa up banyak y. plis 🙏
Rani: tengkyu.

siapp,😍
demi readers rela up banyak kok😍
total 1 replies
Rosella
sudah pasti terpecah belah lah. gila aja anak sendiri di jadikan bahan untuk balas Budi.😏
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
ibu aja yg nikah sama erhan noh. kehormatan apaan, ngorbanin anak
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
egois bnget si ibu
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
idih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!