Bumi mengalami kehancuran dengan munculnya banyak Monster melalui retakan dimensi, hingga bencana ini disebut sebagai The Chaos.
Manusia mulai beradaptasi dan berevolusi. Kini setiap manusia punya Status Window sebuah layar hologram mengambang yang hanya dapat dilihat oleh pemiliknya. Dan manusia pun disebut sebagai Userator. Namun tidak semua Userator itu kuat, karena syarat menjadi kuat adalah Awakening.
Arka adalah Userator biasa yang belum Awakening, ia bekerja sebagai kuli bangunan. Tiba-tiba dinikahkan dengan seorang gadis bernama Sisil untuk melunasi hutang Ibunya.
Siapa sangka setelah menikah—Arka malah Awakening, kekuatannya meningkat.
[Bahagiakan Istrimu untuk mendapatkan banyak keuntungan dan meningkatkan kekuatanmu!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramirisss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1 Prolog
Langit Bumi tidak lagi sama sejak hari itu.
Puluhan tahun lalu, tirai realitas robek. Retakan dimensi menganga di berbagai belahan dunia, memuntahkan monster-monster yang tidak dikenal dalam sejarah umat manusia.
Peristiwa itu dicatat dengan nama The Chaos. Senapan, tank, bahkan bom nuklir yang dibanggakan peradaban modern tidak lebih dari sekadar kembang api tak berguna di hadapan mereka. Umat manusia berada di ambang kepunahan total.
Namun, keputusasaan melahirkan evolusi.
Saat teknologi gagal, sebuah mekanisme misterius bangkit dalam diri manusia. Status Window—sebuah layar melayang virtual—tiba-tiba muncul di hadapan penglihatan setiap orang. Namun, memiliki akses tidak berarti memiliki kekuatan. Hanya sebagian kecil manusia yang berhasil melewati ambang batas dan mengaktifkan potensi penuh mereka. Fenomena itu disebut Awakening, dan manusia sekarang disebut sebagai Userator.
Waktu bergulir hingga tahun 2050. Peta dunia telah digambar ulang. Kedaulatan tidak lagi terkotak-kotak oleh batas negara lama, melainkan disatukan di bawah kendali tiap benua.
Di salah satu sudut Benua Axia, di sebuah pemukiman padat yang bising dan berdebu, hidup seorang pemuda berusia 24 tahun bernama Arkana Herssen. Di lingkungan itu, ia hanya dikenal sebagai Arka—seorang yatim piatu yang menghuni kamar kontrakan sempit. Orang tuanya tidak gugur di medan perang melawan monster; mereka hanyalah manusia biasa yang meninggal dimakan usia.
Demi menyambung hidup di dunia yang keras ini, Arka bekerja sebagai kuli bangunan. Setiap hari ia memeras keringat di bawah terik matahari, mengangkut material untuk benteng atau gedung-gedung para petinggi, sementara statusnya sendiri tetap stagnan, tak tersentuh oleh keajaiban Awakening.
Hingga malam itu tiba, membawa perubahan yang tidak pernah ia duga.
Ponsel murah yang layarnya telah retak sebagian di atas meja kayu bergetar tanda panggilan masuk, memecah keheningan malam di kamar kontrakan Arka. Pemuda itu menyeka sisa keringat di lehernya sebelum mengangkat panggilan dari nomor yang sudah lama tidak dihubunginya.
"Halo, ada apa, Bi?" tanya Arka, mencoba bersuara seramah mungkin meski tubuhnya lelah parah setelah seharian mengangkat sak semen.
"Halo, Arka. Bibi sebenarnya malas menghubungi kalau bukan karena urusan penting," suara wanita di seberang sana terdengar ketus dan tanpa basa-basi. "Bibi mau menagih utang mendiang ibumu. Tapi, yah... melihat keadaanmu sekarang, sepertinya kamu sendiri susah makan. Memangnya apa yang bisa diharapkan dari seorang kuli bangunan, kan?"
Kalimat itu telak menusuk harga diri Arka. Rahangnya mengatup rapat. Ia mengepalkan tangan, menahan rasa sakit dan hinaan yang dilemparkan begitu saja.
"Lalu... ada apa Bibi menelepon?" tanya Arka, menekan suaranya agar tetap tenang.
"Karena itu, Bibi tidak akan menagih uangnya. Sebagai gantinya, kamu harus menuruti satu permintaan Bibi," potong wanita itu cepat. "Harusnya dia sudah sampai di depan pintumu sekarang."
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu yang tiba-tiba membuat Arka tersentak. Dengan ponsel yang masih menempel di telinga, ia melangkah membelah ruangan sempitnya dan memutar kunci pintu.
Saat daun pintu terbuka, Arka terpaku. Di ambang pintu yang remang-remang, berdiri seorang gadis. Kepalanya tertunduk dalam, tangannya meremas ujung baju dengan cemas, dan sepasang matanya yang sayu menyiratkan ketakutan yang mendalam.
"Apa maksudnya ini, Bi?" bisik Arka, menuntut penjelasan.
"Itu permintaan Bibi. Mulai malam ini, kamu yang urus dia. Nikahi dia," jawab wanita itu dari seberang telepon, terdengar begitu enteng.
"Hah?! Menikahinya?"
"Anggap saja ini untuk melunasi semua utang ibumu. Bibi sudah cukup baik tidak menagihnya padamu, karena Bibi paham keadaanmu," suara di telepon menjelaskan, penuh penekanan.
"Tapi dia siapa, Bi?"
"Dia anak tiriku. Kondisi ekonomiku sedang sulit sekarang, dan aku tidak sudi menampung parasit tidak berguna seperti dia lagi. Jadi, kurangi bebanku dengan mengurusnya. Sudah, ya, Bibi sibuk!"
"Tut—"
Panggilan diputus sepihak.
Arka menurunkan ponselnya dari telinga dengan tangan yang sedikit gemetar. "Gila... benar-benar gila," umpatnya dalam hati. Wanita itu tidak sedang mencarikan jodoh, dia sedang membuang manusia yang dianggapnya sebagai beban finansial.
Arka kembali menatap gadis di hadapannya. Bahu gadis itu gemetar kecil, seolah dia tahu bahwa dirinya baru saja dibuang seperti barang bekas.
Melihat pemandangan memilukan itu, amarah Arka menguap, digantikan oleh rasa iba. Ia menghela napas panjang. "Masuklah dulu. Angin malam di luar tidak bagus untuk kesehatan."
Gadis itu melangkah ragu-ragu ke dalam kontrakan yang hanya berisi kasur lantai, satu lemari pakaian, dan meja kayu kecil. Mereka duduk berhadapan dalam kecanggungan yang kentara.
"Siapa namamu?" tanya Arka lembut.
"S-Sisil..." jawabnya dengan suara cicit yang hampir tenggelam dalam keheningan.
"Oke, Sisil. Dengar," Arka menatap mata gadis itu lekat-lekat. "Malam ini kamu boleh istirahat di sini. Besok pagi, kamu bebas pergi ke mana pun kamu mau. Kamu tidak perlu menikah denganku hanya karena paksaan wanita itu. Aku tidak mau memanfaatkan keadaanmu."
Arka berpikir ini adalah jalan terbaik. Ia tidak ingin mengikat seseorang dalam pernikahan tanpa cinta, apalagi karena motif utang.
Namun, di luar dugaan, Sisil justru merosot dari lantai dan bersujud di depan kaki Arka. Tubuhnya bergetar hebat saat tangisnya pecah.
"Aku mohon... jangan usir aku," ratap Sisil di sela isak tangisnya. "Aku tidak punya tempat tinggal lain... aku tidak tahu harus ke mana lagi di luar sana. Aku akan melakukan apa saja, aku bersedia menjadi istrimu! Tolong... jangan buang aku..."
"Eh, Sisil, bangun. Jangan seperti ini," Arka panik. Ia segera memegang bahu Sisil, mencoba menarik gadis itu agar kembali duduk. "Aku melepaskanmu agar kamu bebas menjalani hidupmu sendiri, bukan karena mengusirmu."
"Tidak! Aku takut di luar sana!" Sisil mendongak, matanya sembap dan basah oleh air mata. "Aku lebih baik di sini, menjadi istrimu. Aku akan melayanimu dengan baik... tolong, biarkan aku tinggal... hiks..."
Melihat ketakutan yang begitu nyata di mata Sisil, benteng pertahanan Arka runtuh. Hatinya melunak total. Di dunia yang dipenuhi monster dan manusia-manusia egois ini, membiarkan gadis tanpa perlindungan berkeliaran di luar sama saja dengan mengirimnya ke lubang kematian.
"Baiklah. Hentikan tangismu," ucap Arka sambil menyeka air mata di pipi Sisil dengan ibu jarinya. "Kita akan menikah. Kamu bisa tinggal di sini denganku. Jadi, tolong jangan menangis lagi, ya?"
Pernikahan itu terjadi beberapa hari kemudian. Tidak ada gaun putih mewah, tidak ada dekorasi bunga, bahkan tidak ada satu pun keluarga yang menyaksikan. Hanya sebuah prosesi sederhana di kantor catatan sipil benua untuk melegalkan status mereka. Di dunia luar yang keras, hidup bersama tanpa ikatan sah hanya akan mengundang masalah hukum setempat.
Hari itu, Kartu Tanda Pengenal mereka resmi diperbarui. Di kolom status tertera: Menikah. Sebuah surat nikah sederhana kini menjadi jangkar baru bagi kehidupan mereka berdua.
Bersambung...
Arkana Herssen
Usia : 24 tahun.
Raisilya Putri
Usia : 20 tahun.
like+ bunga🌹✍️
kalo berkenan mmpir y thor😉
Btw saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa boleh singgah profile dan like .. terima kasih /Grin/