NovelToon NovelToon
Gen Z Emperor

Gen Z Emperor

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:51
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

maizy melihat berita tentang sepasang tulang dengan cincin pernikahan yang saling menggenggam romantis, menandakan cinta mereka tidak akan pernah tergerus oleh peradaban. Di bawah reruntuhan istana yang baru saja di temukan arkeolog Jerman, membuatnya penasaran namun harus menutup rasa ingin tahu nya di sekolah

pada perjalanan dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang anak laki laki yang sangat ia kenali, seseorang yang selalu menghujami nya dengan perkataan dan perundungan. Di sana Paul berdiri dengan angkuh di saat maizy dengan tertatih memungut buku nya..

perdebatan mereka masih berlanjut, sampai kedua nya muak dan memutuskan untuk beradu mulut dan malah membawa petaka. Kedua nya terjatuh dari tangga lantai 3

saat maizy terbangun, apa lah daya nya. dia terbangun di tengah tengah hutan hujan Jerman kuno, di keliling kuil kerajaan yang tidak asing, namun baru pertama kali ia datangi.

ternyata maizy terlempar ke masa lalu dan harus menduduki tahta ratu

apa yang akan dia lakuka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Di tengah pecahan kaca etalase yang hancur dan kilatan cahaya putih yang mendadak muncul, kekacauan fisik di antara mereka berdua mencapai titik puncaknya. Saling cengkeram, penuh amarah, dan didera keputusasaan, Paul dan Maizy kehilangan kendali penuh atas keseimbangan tubuh mereka.

Lantai marmer yang licin membuat pijakan mereka tergelincir parah. Dorongan terakhir yang penuh emosi itu justru menyeret mereka berdua melampaui pagar pembatas koridor lantai tiga museum yang rendah.

"Ah—!"

Paul terbelalak lebar saat menyadari tubuhnya melayang ke udara. Dalam kepanikan mutlak yang instan, insting bertahannya membuat dia refleks mencengkeram pergelangan tangan Maizy dengan sangat erat—persis seperti sepasang kerangka tangan yang mereka lihat di lantai bawah. Maizy pun tidak bisa menahan pekikannya saat gravitasi menarik mereka jatuh bersamaan menuju dasar atrium museum.

Waktu seolah melambat secara ekstrem saat mereka berdua terjatuh dari ketinggian lantai tiga.

Angin dingin museum menerpa wajah mereka. Frame kacamata baru Maizy terlepas dari wajahnya, melayang di antara serpihan kaca yang berkilauan seperti berlian di udara. Untuk satu detik yang krusial, di tengah rasa takut akan kematian yang menjemput, mata Paul dan Maizy saling mengunci. Tidak ada lagi ruang untuk dendam atau cemoohan; yang tersisa hanya syok mutlak di antara dua manusia yang takdirnya mendadak terikat paksa.

Namun, hantaman keras dengan lantai dasar yang mereka takuti tidak pernah terdengar.

Sebelum tubuh mereka menyentuh ubin lantai satu, cahaya putih yang tadinya hanya berupa kilatan kecil di etalase mendadak meledak hebat, meluap, dan menelan seluruh ruang atrium museum. Cahaya itu begitu pekat, murni, dan menyilaukan hingga melenyapkan segala visual dekorasi bangunan, pameran sejarah, bahkan suara bising di sekitar mereka.

And everything is white.

Semua hal berubah menjadi putih mutlak. Rasa sakit di lutut Maizy, rasa perih di bibir Paul, bahkan gema berita kecelakaan Paman Michael mendadak senyap, tersedot ke dalam keheningan dimensi putih yang tak berujung. Hanya ada keheningan total, dan kehangatan aneh dari tangan mereka yang masih saling menggenggam erat di tengah kekosongan.

Rasa hampa dan cahaya putih menyilaukan itu perlahan-lahan memudar, digantikan oleh sensasi dingin yang menusuk kulit dan aroma tanah basah bercampur wangi pinus yang sangat pekat.

Saat Maizy membuka matanya, hal pertama yang dia lihat bukanlah langit-langit beton museum Winterhall atau ubin marmer yang keras. Di atasnya, terbentang kanopi hijau dari pepohonan raksasa yang sangat lebat. Sinar matahari pagi menerobos di sela-sela dedaunan, menciptakan pendar cahaya alami yang terasa sangat asing.

Maizy tersentak, langsung mendudukkan tubuhnya dengan panik. "P-Paman Michael?! Paul?!"

Suaranya bergema di keheningan hutan belantara. Tidak ada mesin mobil, tidak ada sirine ambulan, tidak ada kerumunan murid sekolah. Suasananya begitu sunyi, murni, dan... kuno. Ini jelas bukan tahun 2026. Merasakan atmosfer udara dan sekelilingnya, tempat ini terasa seperti terlempar jauh ke masa lalu, ratusan tahun yang lalu.

Saat Maizy mencoba berdiri, dia mendadak tersandung oleh kain yang sangat berat di sekeliling kakinya. Dia menunduk, dan matanya terbelalak lebar seketika.

gaun macam apa ini?!

Maizy tidak lagi mengenakan sweater sekolah atau rok seragam Winterhall-nya. Tubuhnya kini dibalut oleh sebuah gaun bergaya Victoria akhir abad ke-19 yang luar biasa mewah dan megah. Gaun itu terbuat dari kain sutra premium berwarna biru dongker tua dengan aksen renda-renda putih yang dirajut sangat rumit di bagian kerah dan manset tangannya. Korsetnya terpasang pas, menopang tubuhnya dengan anggun, dan roknya mengembang besar dengan beberapa lapisan furing di bawahnya. Dia terlihat persis seperti seorang rani atau nona muda dari kalangan bangsawan tinggi kekaisaran Eropa Barat.

Dengan jantung yang berdebar kencang, Maizy langsung memeriksa kedua tangannya. Dia menatap jari-jari manisnya secara bergantian.

Kosong. Tidak ada cincin perak kuno ataupun permata yang melingkar di sana. Dia benar-benar tidak memakai cincin misterius yang ada di dalam paviliun kaca museum tadi.

Maizy memandang ke sekeliling dengan napas tertahan. Di tengah hutan selebat dan seasing ini, hanya ada dia seorang diri. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Paul yang tadi jatuh bersamanya, ataupun petunjuk bagaimana dia bisa terjebak di zaman yang berbeda ini. Sifat ENFJ-nya yang biasanya mandiri kini dirayapi oleh rasa takut yang luar biasa karena benar-benar terisolasi di masa lalu tanpa membawa apa-apa selain gaun mewah di tubuhnya.

Keheningan hutan belantara itu terasa mencekam, seolah-olah waktu sendiri menolak untuk bergerak di tempat ini. Aroma tanah basah setelah diguyur hujan berselimut wangi pekat daun pinus meresap kuat ke dalam indra penciuman Maizy. Setiap kali dia mengembuskan napas, uap dingin keluar dari mulutnya, menandakan suhu tempat ini jauh di bawah kehangatan musim panas Berlin yang baru saja ditinggalkannya.

Maizy mencoba melangkah, namun bobot gaun Victoria yang dikenakannya benar-benar menyulitkan pergerakan lincah yang biasa dia lakukan. Kain sutra tebal bertumpuk furing itu berdesir kasar setiap kali bergesekan dengan semak belukar dan ranting-ranting patah di lantai hutan. Sifatnya yang cenderung ceroboh membuatnya harus berkali-kali memegang pinggiran rok besarnya agar tidak tersangkut pada duri tanaman liar.

"Halo?! Apa ada orang di sini?!"

Suara Maizy melengking memecah kesunyian, namun hanya gema suaranya sendiri yang kembali memantul di antara batang-batang pohon raksasa yang menjulang tinggi, menghalangi pandangan ke langit luar. Rasa cemas dan ketakutan sebagai seorang ENFJ yang mendadak terisolasi dari lingkungan sosial mulai merayap naik, meremas dadanya hingga terasa sesak. Di dunia yang asing ini, dia tidak memiliki siapa pun untuk dimintai tolong, tidak ada Rachel, tidak ada kepastian, dan yang paling membuatnya terpukul—dia kehilangan jejak tentang nasib Paman Michael yang beberapa menit lalu dikabarkan mengalami kecelakaan.

Air mata keputusasaan kembali menggenang di pelupuk matanya. Maizy memeluk tubuhnya sendiri, meraba kain beludru dingin di lengannya. Mengapa dia dikirim ke sini? Mengapa dalam wujud seorang nona bangsawan tanpa sebuah cincin pun di jarinya? Jika tempat ini adalah masa lalu dari kerajaan yang hilang dalam berita itu, di mana gerangan kastil megah atau tanda-tanan peradaban manusia?

KRETEK.

Bunyi patahan ranting pohon yang cukup besar dari arah belakang seketika menghentikan aliran air mata Maizy. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.

Dia membalikkan badannya dengan waspada, mencengkeram kain gaunnya kuat-kuat. Di balik kabut tipis yang mulai turun menyelimuti sela-sela pohon pinus, Maizy menangkap sebuah siluet pergerakan yang besar. Sesuatu sedang berjalan mendekat ke arahnya melalui semak-semak yang rimbun. Keheningan hutan purba itu mendadak berubah menjadi panggung penuh ancaman, dan Maizy hanya bisa memaku di tempatnya, menunggu dengan napas tertahan untuk melihat apa yang akan muncul dari balik kegelapan hutan belantara tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!