“Mari bercerai, Mas!”
Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.
Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.
“Apa katamu?!”
Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”
Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.
Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.
Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.
Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 6
Pagi itu langit terlihat mendung.
Rania duduk diam di kursi belakang mobil sambil memeluk paper bag berisi buah-buahan dan mainan kecil di pangkuannya. Di sebelahnya ada satu kotak camilan cokelat kesukaan Gavin yang tadi pagi sengaja ia beli sebelum berangkat.
Mobil melaju perlahan membelah jalanan kota yang mulai ramai. Namun sejak tadi, Rania lebih banyak diam. Tatapannya kosong memandang keluar jendela.
Semalaman ia hampir tidak tidur. Setelah menyiapkan kamar ibu mertuanya, Rania masih memasak beberapa lauk favorit wanita itu sampai dini hari. Padahal tubuhnya benar-benar lelah.
Kepalanya sakit, dadanya sesak dan tubuhnya semakin sering terasa dingin akhir-akhir ini. Tapi seperti biasa, Rania tetap berusaha menjadi menantu dan istri yang baik. Mungkin itu satu-satunya hal yang masih bisa ia lakukan sekarang.
Tangannya tanpa sadar menyentuh kotak mainan kecil di pangkuannya.
“Gavin pasti senang.” gumamnya.
Anak itu memang selalu dekat dengannya sejak kecil. Bahkan sebelum Harsa terlalu sering datang ke rumah Wulan, Gavin sudah lebih dulu memanggil Rania sebagai tante favoritnya.
Memikirkan itu membuat bibir Rania tersenyum kecil. Tiba-tiba saja senyum itu perlahan memudar saat bayangan Harsa kembali muncul di kepalanya.
Tadi pagi lelaki itu bahkan berangkat lebih dulu tanpa sarapan bersamanya. Padahal Rania sudah memasak banyak sekali.
Ia mengembuskan napas pelan lalu menyandarkan kepala ke kaca mobil. Pusingnya datang lagi. Dan beberapa detik kemudian, rasa hangat mengalir dari hidungnya.
Rania langsung menegang. Cepat-cepat ia menyentuh bawah hidungnya.
“Darah lagi?” tetesan merah itu bahkan jatuh mengenai gaun putih yang dipakainya hari ini.
Panik, Rania buru-buru mengambil tisu dari tasnya lalu menekan hidungnya kuat-kuat sebelum Pak Darto melihat lewat kaca spion.
Sialnya, pria paruh baya itu ternyata sudah lebih dulu menyadarinya.
“Nona nggak apa-apa?” tanyanya khawatir.
Rania buru-buru tersenyum kecil.
“Nggak apa-apa, Pak.”
“Wajah Nona pucat banget.”
Rania cepat membersihkan darah di gaunnya dengan tisu basah.
“Saya cuma kecapean.”
Pak Darto mengernyit pelan. Ia sudah bekerja untuk keluarga Harsa hampir belasan tahun. Dan selama itu pula, ia mengenal Rania sebagai perempuan ceria yang selalu banyak bicara.
Biasanya Rania akan bertanya kabar istrinya. Kadang membawakan makanan untuk cucunya. Atau sekadar bercanda ringan sepanjang perjalanan.
Tapi belakangan ini, majikannya itu berubah sangat diam.
“Banyak pikiran ya, Non?” tanya Pak Darto hati-hati.
Rania tersenyum kecil sambil menunduk. “Mungkin.”
“Kalau capek, istirahat aja, Non. Jangan terlalu dipaksakan.” suara Pak Darto terdengar tulus. “Takutnya malah sakit.”
Kalimat sederhana itu membuat dada Rania terasa sesak lagi. Ia memang sudah sakit, bahkan mungkin tidak akan sembuh.
“Iya, Pak.”
Mobil kembali hening. Rania memejamkan mata perlahan. Kadang ia sendiri bingung kenapa masih bertahan sejauh ini.
Mungkin karena cinta. Atau mungkin karena dirinya terlalu takut kehilangan Harsa sepenuhnya. Padahal lucunya, lelaki itu bahkan sudah lama tidak benar-benar ada untuknya.
Satu-satunya orang yang mampu menjadi alasan Rania bertahan hidup justru perlahan menjauh darinya. Dan sekarang, Rania bahkan mulai kehilangan gairah hidup sedikit demi sedikit.
“Sudah sampai, Non.” suara Pak Darto membuat Rania membuka mata.
Mobil berhenti tepat di depan rumah kecil milik Wulan. Rumah itu nampak sederhana. Tidak besar dan cat dindingnya pun mulai sedikit pudar. Tapi entah kenapa, rumah itu terlihat jauh lebih hangat dibanding rumah mewah miliknya sendiri.
Mungkin karena di dalam sana ada tawa, ada perhatian dan selalu ada kehadiran Harsa.
Sedangkan rumahnya sendiri, terlalu luas untuk ditinggali seorang diri.
“Nanti bapak jemput jam sebelas ya, Non,” ucap Pak Darto. “Saya mau antar berkas dulu ke kantor tuan Harsa.”
“Iya, Pak. Terima kasih.”
Rania turun perlahan sambil membawa semua hadiah di tangannya. Ia berdiri beberapa detik di depan rumah itu.
Ada perasaan aneh yang kembali menghimpit dadanya. Rumah kecil ini begitu hidup. Dan Harsa lebih sering berada di sini dibanding di rumah mereka sendiri.
Tok! Tok!
Rania mengetuk pintu pelan. Tak lama kemudian pintu terbuka.
“Eh, Mbak Rania?” Wulan langsung tersenyum lebar saat melihatnya.
Perempuan itu mengenakan daster sederhana dengan rambut yang diikat asal. Tangannya masih memegang lap bekas membersihkan meja ruang tamu.
“Kok datang nggak bilang dulu sih? Masuk, Mbak!”
Rania tersenyum lembut. “Aku mau lihat Gavin. Katanya dia demam.”
“Aduh, repot-repot banget bawa barang.”
“Nggak banyak kok.”
Wulan buru-buru membantu membawakan paper bag dari tangan Rania.
“Gavin!” panggilnya ke dalam rumah. “Lihat siapa yang datang!”
Suara langkah kaki kecil langsung terdengar. Dan beberapa detik kemudian, Gavin kecil berlari keluar dengan wajah cerah.
“Tante Raniaaa!” bocah itu langsung memeluk kaki Rania erat.
Hati Rania langsung menghangat.
“Eh, jagoan tante udah sembuh?” tanyanya sambil jongkok.
Gavin mengangguk semangat. “Udah! Tante bawa hadiah ya?”
Rania tertawa kecil. “Iya. Tapi Gavin harus minum obat dulu.”
“Yeeey!” anak kecil itu langsung memeluknya lagi.
Wulan tersenyum melihat kedekatan mereka. “Dia dari tadi rewel nyari mainan.”
Rania mengusap rambut Gavin pelan. Namun beberapa detik kemudian, bocah itu malah melihat ke belakang tubuh Rania.
Tatapannya tampak bingung.
“Papa Harsa nggak ikut Tante?”
Deg.
Tubuh Rania langsung membeku di tempat. Apa ia tak salah dengar? Gavin memanggil suaminya papa Harsa ?
Jantungnya terasa seperti jatuh mendengar satu kata itu. Sementara Wulan terlihat langsung panik.
“Gavin!” tegurnya cepat. “Nggak boleh begitu.”
Gavin malah cemberut.
“Kan papa Harsa kemarin udah janji, papa bilang mau datang lagi,” ujar bocah itu dengan polosnya.
Rania tersenyum kecil meski dadanya terasa nyeri luar biasa.
Sejak kapan Gavin mulai memanggil Harsa seperti itu? Dan yang lebih menyakitkan, kenapa Harsa membiarkannya?
Ruangan itu mendadak terasa pengap bagi Rania. Meski wajahnya masih tersenyum tipis pada Gavin, dadanya perlahan terasa semakin sesak setelah mendengar bocah kecil itu memanggil Harsa dengan sebutan papa, bukan om.
Dan yang paling menyakitkan, Gavin mengucapkannya dengan begitu terbiasa. Seolah panggilan itu sudah sering keluar dari mulutnya.
“Maaf ya, Mbak Rania.” Wulan terlihat buru-buru merasa tidak enak. “Jangan diambil hati ucapan Gavin.”
Rania perlahan mengalihkan pandangannya pada wanita itu.
“Dia memang terbiasa manggil mas Harsa papa,” lanjut Wulan pelan sambil tersenyum kikuk. “Mas Harsa sendiri nggak keberatan kok. Bahkan beliau udah nganggep Gavin kayak anak sendiri.”
Untuk sesaat Rania hanya diam. Tangannya perlahan mengepal di atas paha. Kenapa Harsa tidak pernah cerita soal ini padanya?
Kenapa semua orang terlihat tahu posisi Harsa di rumah ini, kecuali dirinya sebagai istri?
Apa lelaki itu sengaja menyembunyikannya? Dan kalau iya, untuk apa?
“Lagipula…” Wulan kembali bicara pelan, “Mas Harsa udah janji mau urus Gavin sampai dia dewasa.”
Rania menatap wanita itu tanpa berkedip.
“Karena kecelakaan itu…” suara Wulan mulai lirih. “Mas Bima rela meninggal demi melindungi kakaknya.”
Rania tahu cerita itu. Bima meninggal saat kecelakaan karena melindungi Harsa dalam sebuah insiden tahun lalu. Sejak saat itu, rasa bersalah Harsa berubah menjadi perhatian berlebihan pada keluarga adiknya.
Dan sekarang, Rania merasa perhatian itu mulai melewati batas.
“Gapapa, Wulan. Nggak usah terlalu dipikirin. Wajar aja Gavin manggil mas Harsa papa. Asal kamu nggak nganggep mas Harsa suami kamu juga.” lanjut Rania sambil tersenyum tipis.
Harsa kalo Masih mau sama Rania sok aku dukung selama mau berubah yak! anggap aja perjuanganmu itu ganti 1 tahun kebelakang💪
selama no making love, dungu sedikit it's okay 👌😄
sebentar sebentar saja kamu menikmati fasilitas kemewahan itu
iya iya siap siap sebelum didepak
dari rumah mewah ituu