NovelToon NovelToon
Terperangkap Cinta Duda Kaya

Terperangkap Cinta Duda Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19 : Rasa Bersalah

Koridor lantai dua belas terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Rina akhirnya kembali ke meja sarapan setelah Alexander meminta izin untuk berbicara berdua dengan Dara.

Kini hanya mereka berdua yang berdiri di ujung koridor dekat jendela besar yang menghadap kota Surabaya. Dara berdiri dengan kepala menunduk. Sedangkan Alexander berdiri beberapa langkah di depannya.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Alexander menggenggam anting yang tadi ditemukannya sebelum akhirnya membuka suara.

"Dara."

"Iya, Tuan." Suara wanita itu terdengar pelan.

Alexander menarik napas panjang. "Apa yang kamu lakukan semalam?"

Deg.

Tubuh Dara langsung menegang. Namun ia tidak menjawab.

Tatapannya tetap tertuju ke lantai. Alexander menunggu, beberapa detik berlalu. Tetap tidak ada jawaban.

"Dara." Kali ini suaranya lebih tegas.

Wanita itu menggigit bibir bawahnya.

"Saya hanya mengantar Tuan sampai kamar."

Alexander menatapnya. "Lalu?"

"Setelah itu saya kembali ke kamar saya." Jawaban itu terdengar terlalu gugup. Dan terlihat jelas bahwa Dara sedang menyembunyikan sesuatu.

Alexander menyipitkan mata. "Dara."

Wanita itu tetap diam.

"Kamu tidak pandai berbohong."

Jantung Dara berdegup semakin keras. Ia tetap memalingkan wajah.

Alexander mengeluarkan anting pasangannya dari saku jas. "Saya bangun pagi ini tanpa mengingat apa pun, saya hanya melihat tubuh saya tidak memakai selehai kain pun."

Dara mengepalkan tangannya.

"Saya menemukan ini di kamar saya." Alexander mengangkat anting tersebut. "Lalu saya menemukan bercak darah di atas sprei."

Wajah Dara langsung memucat.

"Serta beberapa helai rambut panjang." Suara Alexander terdengar semakin berat. "Saya mungkin tidak ingat apa yang terjadi. Tapi saya tidak bodoh."

Dara menutup matanya sesaat. Dadanya terasa sesak. Alexander memperhatikannya lama.

Lalu berkata pelan, "Saya bukan laki-laki yang akan pergi begitu saja jika benar saya telah melakukan sesuatu."

Dara perlahan mengangkat kepalanya, kini mata mereka bertemu. Dan Alexander melihat sesuatu yang membuat dadanya terasa diremas.

"Kalau memang sesuatu terjadi semalam..." lanjut Alexander perlahan, "saya akan bertanggung jawab."

Dara menatapnya beberapa detik. Lalu tersenyum tipis. "Bertanggung jawab?"

Alexander mengangguk. "Iya."

Dara tertawa pelan. Tawa yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan. "Tuan bahkan tidak ingat apa yang terjadi."

Kalimat itu membuat Alexander membeku. Dara mengalihkan pandangan. "Saya juga tidak tahu harus menjelaskan apa."

"Dara..."

"Saya lelah, Tuan." Suara Dara mulai bergetar. "Tolong."

Alexander langsung terdiam.

Wanita itu menarik napas panjang. Berusaha mengendalikan dirinya. "Saya tidak ingin membahas ini sekarang."

Lalu Dara berbalik, namun baru beberapa langkah berjalan. Alexander refleks meraih pergelangan tangannya. "Dara."

Wanita itu berhenti, tetapi tidak menoleh. Alexander merasakan tubuh Dara sedikit gemetar. Dan kini rasa takut yang sejak pagi menghantuinya berubah menjadi keyakinan.

Sesuatu memang telah terjadi semalam, sesuatu yqng membuat Dara terluka. Dan semakin ia melihat reaksi wanita itu, semakin besar rasa bersalah yang mulai menghimpit dadanya. Meski ia belum mengetahui seluruh kebenarannya.

"Dara." Kali ini suaranya jauh lebih pelan. "Saya tidak akan memaksa."

Wanita itu tetap diam.

"Tapi saya akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi."

Mata Dara perlahan memanas. "Terkadang..." ucapnya lirih tanpa menoleh, "ada hal yang lebih baik tidak perlu diingat, Tuan."

Setelah mengatakan itu, Dara melepaskan tangannya perlahan dari genggaman Alexander. Lalu berjalan pergi meninggalkan koridor.

Sedangkan Alexander tetap berdiri di tempatnya. Menatap punggung wanita itu menjauh. Dan kini ia berharap dugaan terburuknya salah. Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu, kemungkinan besar tidak.

Alexander tetap berdiri di ujung koridor bahkan setelah Dara menghilang dari pandangannya. Kali ini ia merasa benar-benar kehilangan kendali. Bukan karena bisnis, persaingan, melainkan karena dirinya sendiri.

Tangannya perlahan mengepal. Kata-kata Dara terus terngiang di kepalanya.

Ada hal yang lebih baik tidak perlu diingat, Tuan.

Kalimat itu seharusnya membuatnya berhenti mencari tahu. Namun justru sebaliknya, kalimat itu terdengar seperti seseorang yang sedang menanggung luka sendirian.

Di sisi lain, Dara berjalan cepat menuju lift. Dadanya terasa sesak. Ia terus menunduk agar tidak ada yang melihat matanya yang mulai memerah.

"Dara!" Suara Rina membuatnya tersentak.

Rina baru saja keluar dari area restoran sambil membawa tas kerja mereka. "Kamu kenapa?"

"Aku nggak apa-apa."

"Tuan Alexander habis ngomong apa sama kamu?"

Dara memaksakan senyum. "Soal pekerjaan."

Rina mengernyit. "Owh."

"Memangnya kenapa?"

"Kamu habis di marahin ya sama Tuan, wajahmu terlihat sedih gitu. Seperti semalam."

Dara langsung memalingkan wajah. "Aku cuma kurang tidur aja."

Rina masih tampak tidak percaya, tetapi akhirnya memilih diam.

Sementara itu, Alexander kembali ke kamarnya. Pintu ditutup dengan keras.

Brak.

Ia langsung duduk di tepi ranjang. Tatapannya kembali jatuh pada sprei yang masih belum diganti. Rahangnya mengeras. Lalu ia mengambil ponselnya.

"Pak Ganjar."

"Ya, Tuan?"

"Tolong cari rekaman CCTV."

Pak Ganjar terdiam. "CCTV, Tuan?"

"Koridor lantai dua belas."

"Baik."

"Dan cari tahu pukul berapa Dara keluar dari kamar saya semalam." Suara Alexander terdengar dingin.

Namun Pak Ganjar yang sudah mengenalnya bertahun-tahun tahu. Semakin dingin suara pria itu, semakin buruk keadaan hatinya.

Dua jam kemudian...

Rombongan perusahaan sudah berada di ruang rapat hotel untuk menyelesaikan agenda terakhir sebelum kembali ke Jakarta.

Dara duduk di samping Rina. Berusaha fokus pada dokumen di depannya. Namun berkali-kali ia kehilangan konsentrasi. Sedangkan di ujung meja, Alexander beberapa kali tanpa sadar melirik ke arahnya.

Dara terlihat berbeda. Lebih pendiam, pucat, dan sama sekali tidak pernah menatapnya. Hal itu justru membuat perasaan tidak nyaman dalam dirinya semakin besar.

Menjelang siang, ponsel Alexander bergetar. Pesan dari Pak Ganjar. "Tuan, rekaman CCTV sudah saya dapatkan."

Alexander langsung berdiri. "Saya keluar sebentar."

Para investor hanya mengangguk.

Beberapa menit kemudian...

Ia berada sendirian di ruang kerja sementara yang disediakan hotel. Video rekaman diputar, wajah Alexander tetap tenang. Namun beberapa detik kemudian, tubuhnya membeku.

Dalam rekaman itu terlihat jelas. Pukul 21.48. Pak Ganjar dan Dara membawanya masuk ke kamar. Pukul 21.51. Pak Ganjar dan petugas hotel keluar.

Namun Dara tidak keluar, Alexander menatap layar tanpa berkedip. Video terus berjalan. 22.10. 22.30. 23.00. 23.45. Dara masih belum keluar, jantungnya mulai berdetak lebih keras.

Lalu... 01.07 dini hari. Pintu kamar akhirnya terbuka. Dara keluar sendirian dengan kepalanya tertunduk. Dan bahkan dari rekaman yang tidak terlalu jelas itu, Alexander bisa melihat sesuatu yang membuat dadanya terasa diremas. Dara terlihat sedang menangis dan jalannya tertatih seperti menahan rasa sakit.

Video berhenti, ruangan mendadak sunyi. Alexander menatap layar hitam di depannya cukup lama. Kemudian perlahan ia menutup matanya. Rasa bersalah yang sejak pagi menghantuinya kini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berat.

Karena sekarang ia tidak lagi menduga. Ia mulai memahami bahwa sesuatu yang buruk memang terjadi malam itu. Dan kemungkinan besar, Dara menanggung semuanya sendirian.

Sementara di tempat lain, Dara berdiri di balkon hotel sebelum keberangkatan mereka ke bandara. Angin siang menerpa rambutnya. Matanya memandang langit Surabaya yang cerah.

Namun pikirannya sama sekali tidak tenang. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Tidak tahu bagaimana harus menghadapi Alexander. Dan yang paling membuatnya takut, ia tidak tahu apakah hidupnya akan tetap sama setelah hari itu.

Tanpa disadarinya, seseorang berdiri beberapa meter di belakangnya... Alexander. Pria itu baru saja tiba di balkon dan berhenti ketika melihat Dara. Kini, ia tidak tahu harus memulai dari mana. Karena tidak ada kata-kata yang cukup untuk memperbaiki sesuatu yang mungkin sudah terlanjur melukai seseorang.

1
Rian Moontero
lanjuuutt👍👍
It's me Sky: siap ka
total 1 replies
Arditya
gemes banget sama Alexander ngeselin🤣
Amoera
Aaaa... ini Alexander kereennn😍
Amoera
kerenn banget thoor
Amoera
Top banget dara😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!