Tika, seorang wanita yang tumbuh ditengah keluarga yg tidak harmonis,sejak kecil,ia terbiasa hidup dlm kekurangan,menyaksikan Ibunya berjuang sendirian, sementara sang ayah lebih sibuk mengejar gengsi dari pada memperhatikan keluarga nya.
Demi bertahan Hidup&membantu sang Ibu,Tika bekerja sebagai penyanyi Cafe sambil menyelesaikan Pendidikan nya.
ditengah kerasnya kehidupan,hadir Dika,seorang Pria Mapan yg memberikan Perhatian&kehangatan yg selama ini ia tidak pernah rasakan,namun cinta mereka terhalang oleh kenyataan yg Rumit karena perbedaan Dunia serta status Dika yg telah memiliki keluarga.
saat hubungan mereka mulai retak,karena kesalahan pahaman dan luka yang tak kunjung sembuh,Andre,cinta pertama yg pernah meninggalkan nya kembali Hadir,dengan kesabaran dan ketulusan, andre berusaha perbaiki kesalahan masa lalu dan membuktikan bahwa cinta nya masih sama.
Antara luka,keluarga, penghianatan, harapan dan pilihan yang sulit, tika harus menentukan jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NATstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BABAK BARU YANG TAK PERNAH KU SIAPKAN
Hari-hari yang kami jalani kini terasa berbeda,Rumah yang dulu sering dipenuhi kesunyian, perlahan berubah menjadi lebih hidup.
Tangisan kecil di tengah malam,Botol susu yang harus disiapkan setiap beberapa jam,Popok yang berganti berkali-kali dalam sehari.
tawa-tawa kecil yang tanpa sadar membuat lelah terasa tidak berarti,Setiap hari ia memang membawa cerita baru,Aku menikmati peranku sebagai seorang ibu.
Begitu pula Dharma,Meski kesibukan pekerjaan masih menyita waktunya, ia selalu menyempatkan diri untuk datang,Kadang hanya beberapa jam,Kadang hingga malam,Namun kehadirannya selalu membuat putri kami terlihat lebih ceria.
"Putri Papa...."
Begitulah Dharma selalu memanggilnya,Melihat mereka berdua bersama selalu menghadirkan rasa hangat di hatiku,namun jauh di dalam hati, aku sadar,Kebahagiaan ini berdiri di atas kenyataan yang tidak sederhana,bagaimanapun juga, Dharma telah memiliki kehidupan yang lain.
aku tidak pernah lupa akan hal itu,Suatu sore
"Tika?"
jantungku langsung berdegup kencang.
"Iya."
Perempuan itu terdiam sesaat.
"Aku istrinya Dharma."
Aku tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
"Aku rasa kita perlu bicara."
Seluruh ketakutan yang selama ini berusaha kusimpan kembali muncul dalam sekejap,pertemuan itu terjadi.
Dua hari kemudian.
Aku datang sendirian,sementara putriku kutitipkan pada Baby sister yang bekerja dirumahku sejak 1 minggu terakhir.
Jantungku terus berdebar,Aku sudah membayangkan berbagai kemungkinan,amarah,makian,tuduhan,Bukankah itu yang biasanya terjadi?
Saat tiba di sebuah kafe kecil, aku langsung mengenalinya,Istri mas dharma,Duduk sendirian di sudut ruangan.
Wajahnya terlihat tenang,Terlalu tenang,Dan justru itu yang membuatku semakin gugup,Aku duduk perlahan di hadapannya,Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara,perempuan itu tersenyum tipis.
"Aku sudah lama ingin bertemu denganmu."
Aku menunduk.
"Aku tahu tentang anak itu."
Kalimat itu langsung membuat napasku tertahan.
Tanganku refleks menggenggam erat ujung tas.
"Aku juga tahu Dharma sering datang"
tidak ada lagi yang bisa disembunyikan,Semua telah terbuka,Semua telah diketahui,Dan kini aku hanya bisa menunggu bagaimana takdir akan membawa kami melangkah selanjutnya.
Perempuan itu menatapku cukup lama,
"Aku tidak datang untuk bertengkar."
Aku mengangkat kepala,terkejut,karena itu bukan kalimat yang kubayangkan akan keluar dari mulutnya,Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Lalu ia membuka tas yang dibawanya,Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan.
Sampai ia mengeluarkan sebuah cek kosong dan meletakkannya di atas meja.
Belum sempat bertanya, ia kembali mengeluarkan beberapa lembar dokumen,Kemudian mendorong semuanya ke arahku.
"Perempuan itu menghela napas.
"Anggap saja sebagai jalan keluar.
Tatapanku berpindah dari cek kosong itu ke wajahnya.
"Aku ingin kamu pergi dari kehidupan Dharma,Aku tahu mungkin ini terdengar kejam."
Air mataku mulai menggenang.
"aku juga sedang mempertahankan rumah tanggaku."ujar istri dharma.
Aku tidak menjawab,Di satu sisi, aku memahami posisinya,disisi lain,kata-kata itu terasa seperti pisau yang perlahan mengiris dadaku.
"Aku tidak pernah berniat merebut siapa pun."
Suaraku bergetar.
"Justru karena itu aku memilih bicara baik-baik,Kalau kamu mau pindah ke kota lain, semuanya sudah cukup.
"Aku dan Dharma akan membesarkannya."ujar Istri dharma.
"Tidak."!!
jawabku lantang
"Dia anak saya,Dia tumbuh di dalam rahim saya,dia yang saya kandung selama sembilan bulan."
Suaraku semakin bergetar,pertama kalinya, perempuan itu terlihat kehilangan kata-kata.
"Anak itu bukan barang yang bisa dipindahkan begitu saja, cek kosong ini?"
Aku menunjuknya di atas meja.
"Dikiranya bisa menggantikan anak saya?"Tidak ada uang yang bisa membeli anak saya"Aku juga tidak pernah meminta semua ini terjadi."
Dadaku terasa sesak,Perempuan ini bukan penjahat,Ia juga korban keadaan,Namun tetap saja,Aku tidak bisa menerima permintaannya.
" jangan minta anakku."
Suaraku melemah.
"Sekarang aku mengerti kenapa Dharma begitu melindungi kalian."
Aku terdiam,Hari itu aku pulang dengan langkah yang berat,Tanganku masih gemetar,begitu membuka pintu rumah dan melihat putriku tertidur pulas,air mataku kembali jatuh.
Aku mendekatinya perlahan,Kemudian mencium kening kecilnya.
"Maafkan mama ya ."
bisikku pelan.
"Maaf karena dunia orang dewasa begitu rumit."
Aku menggendongnya ke dalam pelukan,Apa pun yang akan terjadi setelah ini,Apa pun keputusan yang akan diambil mas Dharma,Aku tidak akan pernah menyerahkan putriku.
aku masih duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi putriku yang tertidur lelap,tanpa sadar,aku teringat masa kecilku sendiri.
Masa yang selama bertahun-tahun berusaha kulupakan,Bertahun-tahun kemudian aku tumbuh dengan luka itu,saat seseorang meminta anakku untuk dibawa pergi dariku...
Aku merasa seperti kembali menjadi anak kecil itu lagi,Anak kecil yang tidak mengerti kenapa ia harus kehilangan,Bagaimana jika suatu hari putriku harus merasakan hal yang sama?
Bagaimana jika suatu hari ia bertanya, Ma, kenapa aku tidak tinggal bersamamu?bagaimana jika suatu hari ia menangis mencariku seperti dulu aku menangis mencari ibuku?"Tidak akan."
Aku tahu bagaimana sakitnya menjadi seorang anak yang harus berpisah dengan ibunya,aku tidak akan membiarkan sejarah itu terulang pada putriku.
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya,Mataku sembab,kepalaku terasa berat,Percakapan dengan istri Dharma terus berputar di dalam pikiranku.
Tentang uang,Tentang perpisahan,Tentang anakku,Aku tidak tahu harus berbuat apa,Suara mobil yang berhenti di depan rumah membuat lamunanku buyar.
Aku tahu siapa yang datang,Beberapa detik kemudian, pintu terbuka,Dharma masuk sambil membawa beberapa kantong belanja.
Namun senyumnya perlahan menghilang saat melihat wajahku.
"Tika?"
Aku tidak menjawab.Dharma langsung meletakkan barang yang dibawanya,Kemudian menghampiriku.
"Kamu habis menangis?"Ada apa?"
Aku mencoba bertahan,Namun begitu melihat wajah Dharma, seluruh keberanianku runtuh,Tangannya memegang bahuku.
"Siapa yang bikin kamu menangis?"
Aku menarik napas panjang,Lalu menceritakan semuanya,Tentang telepon itu,Tentang pertemuan di kafe,Tentang cek kosong,Tentang permintaan agar aku pergi dari kehidupannya,Dan tentang keinginan membawa putri kami.
Semakin banyak yang kuceritakan, wajah Dharma semakin berubah,Awalnya terkejut,Kemudian bingung,Lalu perlahan mengeras.
Saat aku selesai bercerita, suasana menjadi hening,Aku belum pernah melihat ekspresi Dharma seperti itu sebelumnya.
Rahangnya mengatup,Tatapannya kosong,Namun justru itulah yang membuatku tahu bahwa ia sedang marah.
Beberapa detik berlalu,ia langsung pergi beranjak,
"Mau ke mana mas?
Dharma mengambil kunci mobil.
"Aku akan menemuinya."
"Mas..."
"Aku harus bicara."!! Suaranya tegas.
tapi "Jangan bertengkar."kataku membalas.
Dharma menatapku,Malam itu juga Dharma pergi.
Sementara aku hanya bisa duduk gelisah di rumah,Ponselku berada di genggaman sejak tadi.
Namun tidak ada kabar apa pun.
Jam demi jam berlalu,Perasaanku semakin tidak tenang,Sampai akhirnya hampir dua jam kemudian, Dharma menghubungiku,ketika Dharma tiba di rumah istrinya, suasana langsung berubah tegang,Perempuan itu tampak terkejut melihat kedatangannya.
"Dharma?"
"Aku ingin bicara."
Perempuan itu terdiam,Karena dari wajah suaminya, ia tahu ini bukan percakapan biasa.
Mereka duduk berhadapan.
Dan tanpa basa-basi, Dharma langsung berbicara.
"Kamu menemui Tika?"
Perempuan itu menunduk.
"Aku hanya ingin bicara."tukas istri dharma
"Bicara?"
Dharma tertawa pahit.
menawarkan uang?"Kamu meminta dia pergi?"Kamu bahkan ingin membawa anaknya?"
Perempuan itu mengangkat kepala
"Aku hanya ingin mempertahankan rumah tanggaku."
Dharma terdiam,Kemudian menghela napas panjang,Untuk sesaat, kemarahannya berubah menjadi sesuatu yang lain.
"Kamu tahu apa yang paling membuat dia menyakitkan?"
Perempuan itu memandangnya,Dharma menatap lurus ke depan,"kamu tahu kenapa?
"Keheningan memenuhi ruangan,Untuk pertama kalinya, Dharma mulai menceritakan sesuatu yang selama ini jarang ia ungkapkan.
"Tika itu tumbuh dengan luka yang bahkan tidak pernah dia pilih,Dia tumbuh dalam keluarga yang berantakan,Dia kehilangan banyak orang yang dia sayangi,!kenapa dulu aku memilih menikahinya?"aku melihat seseorang yang hanya ingin punya keluarga."
dia tidak pernah meminta hidup seperti itu,sekarang setelah dia punya anak "...kamu meminta dia kehilangan itu juga."
Perempuan itu menangis,istri dharma mendengar seluruh cerita dari sudut pandang yang berbeda.
Bukan sebagai istri yang takut kehilangan suami,Tetapi sebagai seorang perempuan yang melihat penderitaan perempuan lain.
"disini aku yang salah, aku tidak bisa menahan diri, aku yang minta maaf" tatap dharma pada istrinya.
tak lama disitu, dharma pergi meninggalkan rumah,kembali ke rumahku, hari sudah sangat larut,Dharma memelukku erat,sangat erat.
_________________________________________________
Tiga Tahun yang Mengubah Segalanya,Tak terasa waktu berjalan begitu cepat,putri kami sudah berusia tiga tahun.
"ALEA AZ-ZAHRA : Anugerah,yang bersinar,ia tumbuh menjadi anak yang aktif, ceria, dan penuh rasa ingin tahu.
Pagi itu, suara tawa kecil memenuhi rumah yang selama ini menjadi tempat Tika membangun kembali hidupnya.
"Mama... lihat... lihat..." seru sang anak sambil berlari membawa boneka kesayangannya.
"iya sayang, bonekanya cantik sekali 🙂"
Anak itu tertawa bangga lalu kembali bermain di ruang tengah dengan ceria.
Tiga tahun yang tidak mudah,dulu, ia sempat berpikir hidupnya telah berakhir saat badai datang bertubi-tubi,dan kini,syukurlah,ia kina bisa melihat anaknya tertawa tanpa beban,
"Ma..."
"Iya?"
"Aku sayang Mama."
Kalimat sederhana itu membuat dada Tika menghangat,Ia segera menghampiri putrinya lalu memeluknya erat.
"Mama juga sayang sekali sama kamu."
Anak itu terkekeh geli saat pipinya dicium berkali kali,Sejak menjadi ibu, kehidupan Tika berubah total,Tidak ada lagi waktu untuk terlalu lama meratapi masa lalu.
Malam ulang tahun ketiga putrinya,akhirnya tiba.
Perayaannya sangat meriah,rumah itu dipenuhi kebahagiaan, Alea tersenyum lebar melihat kue ulang tahunnya.
"Mama... ini buat aku?"
"Iya."
"Hebat ya aku sudah besar."
Semua orang tertawa mendengarnya.
Saat lilin dinyalakan, Tika menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca,Tiga tahun lalu ia lahir ke dunia,Tiga tahun lalu pula Tika seperti terlahir kembali sebagai seorang ibu.
Begitu banyak hal yang telah mereka lalui bersama."Yuk tiup lilinnya."ujar papa tersenyum
Sang anak menarik napas panjang.
Lalu meniup lilin dengan penuh semangat.
Semua bertepuk tangan.
"Horeeeee!"
Tika ikut bertepuk tangan sambil tersenyum
_________________________________________________
Mas Dharma benar benar Menikmati Masa Tuanya.
tanpa terasa, tahun demi tahun berlalu,Perbedaan usia kami memang cukup jauh. Saat aku masih berada di usia yang produktif dan penuh tenaga,aku di usia 35 Thn, mas Dharma sudah memasuki usia 55th ,masa ketika rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya.
Namun sejak awal aku tidak pernah memandang usia sebagai penghalang,Bagiku, mas dharma adalah rumah,Ketika usia Dharma mulai memasuki kepala enam, kesehatannya memang tidak sekuat dulu,Ia lebih cepat lelah.
"Mas masih harus hidup lama."
Dharma tertawa kecil.
"Kita tidak pernah tahu umur,kalau suatu hari aku pergi lebih dulu..
Aku menggeleng.
Namun Dharma tetap melanjutkan.
"Jangan bersedih terlalu lama."
Beberapa minggu kemudian,Dokter mengatakan usianya memang membuat beberapa fungsi tubuhnya mulai melemah,Tidak ada penyakit berat,Hanya waktu yang perlahan mengambil kekuatan yang dulu dimilikinya.
Hingga suatu pagi yang tenang,Langit cerah.
"papa..."
Tidak ada jawaban.
Dharma masih terbaring dengan wajah damai,Perlahan aku mendekatinya.
"Mas..."
Tetap tidak ada jawaban.
Tanganku menyentuh tangannya Dingin,Saat itulah dunia seakan berhenti berputar.
mas Dharma telah pergi,Tanpa rasa sakit,Tanpa keluhan,Tanpa menyusahkan siapa pun,Aku menggenggam tangannya erat,Lelaki yang selama ini mengisi hidupku telah menyelesaikan perjalanannya,Putri kami berdiri di dekat tempat tidur dan Masih terlalu kecil untuk memahami arti kehilangan.
Hari itu rumah kami dipenuhi keluarga dan kerabat,Semua datang mengantar kepergian mas Dharma,Semua mengenangnya sebagai sosok baik yang selalu membantu orang lain.
Saat jenazahnya dimakamkan, aku berdiri memandangi pusaranya dengan hati yang terasa kosong,Kata-kata terakhir yang pernah ia ucapkan.
adalah "Aku bahagia..
Hari-hari setelah kepergiannya tidak mudah.
Aku harus belajar menjalani hidup tanpa dirinya.
Namun setiap kali melihat putri kami tersenyum, aku selalu melihat bayangan Dharma di sana.
Pada matanya,Pada tawanya,Pada kebaikan hatinya.
_________________________________________________
Alea Bertumbuh Remaja,Tahun demi tahun berlalu,hidup harus terus berjalan. Aku menepati janjiku untuk membesarkan Alea dengan penuh kasih sayang, sebagaimana yang selalu diinginkan ayahnya.
Alea tumbuh menjadi anak yang cerdas dan ceria. Semakin besar usianya, semakin banyak pula sifat Dharma yang terlihat dalam dirinya,Cara ia tersenyum,Cara ia memperhatikan orang lain.
Bahkan cara ia mengerutkan dahi saat sedang berpikir.
Kini Alea telah beranjak remaja,Tubuhnya tumbuh tinggi,Rambut hitamnya tergerai indah hingga melewati bahu,Matanya yang teduh menyimpan keteguhan yang membuatku sering tertegun.
Suatu sore, saat kami duduk di teras rumah.
Ma,papa itu seperti apa sih orangnya?"
Aku terdiam.
"papa orang yang sangat baik."
Alea tersenyum.
"Alea sedih karena tidak punya banyak kenangan tentang papa."
"Tak apa. Mungkin kenanganmu sedikit. Tapi cinta papamu tidak pernah sedikit."
🙂Di langit, warna jingga perlahan berubah menjadi gelap,aku merasa Dharma tidak benar-benar pergi,Ia hidup dalam setiap langkah putrinya.
Melupakan sosok dharma memang tidak mudah,diusia tika sekarang, hanya darma yang meninggalkan cerita terdalam, alea yang semakin hari bertumbuh menjadi dewasa, rasanya masa itu begitu cepat berganti waktu.