NovelToon NovelToon
Pengantin 1,2 Triliun.

Pengantin 1,2 Triliun.

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Romansa / Nikahmuda
Popularitas:706
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
​Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
​Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Jurus tebal muka.

Rencana tetaplah rencana, namun eksekusinya ternyata jauh lebih brutal dari yang dibayangkan Prisha.

Malam itu, setelah aksi nekatnya di kantor tidak membuahkan hasil yang signifikan, Prisha memutuskan untuk menaikkan level permainannya. Berbekal salah satu pakaian tidur berbahan satin tipis yang dibelinya siang tadi yang menurut mbak-mbak penjaga toko bisa meruntuhkan iman pria mana pun, Prisha menyelinap masuk ke dalam kamar Saka.

Kamar utama yang bernuansa maskulin itu sangat luas, dengan ranjang berukuran super king size di tengahnya. Prisha dengan jantung berdebar kencang langsung naik ke atas ranjang tersebut, berbaring dalam posisi yang menurutnya paling seksi dan memikat, menunggu sang pemilik kamar pulang.

Sekitar jam sebelas malam, pintu kamar terbuka. Saka melangkah masuk dengan wajah yang terlihat luar biasa lelah setelah seharian penuh mengurus karut-marut perusahaan. Namun, gurat lelah itu seketika sirna, digantikan oleh kilat amarah yang membara begitu netranya menangkap sosok seorang wanita asing tengah berbaring di atas ranjang pribadinya dengan pakaian yang sangat minim.

"Selamat datang, Kak Saka."

Saka tidak berkata apa-apa. Tanpa babibu, tanpa ada adegan terpesona seperti di novel-novel roman picisan, pria itu melangkah lebar mendekati ranjang. Dengan satu sentakan kuat yang efisien, Saka mencengkeram lengan Prisha, menariknya bangun, dan langsung melempar gadis itu keluar dari kamarnya tanpa belas kasihan.

Brak!

Pintu kamar jati itu dibanting tepat di depan wajah Prisha yang masih syok. Tubuh Prisha mendarat dengan tidak estetik di atas lantai koridor yang dingin. Bagian bokongnya menjadi korban pertama yang menghantam ubin keras.

Di tengah rasa sakit yang menjalar dan rasa malu yang membubung, sebuah suara tepuk tangan ritmis mendadak terdengar di ujung koridor yang sepi.

Prok... prok... prok...

Prisha mendongak dengan meringis. Di sana, Bora sudah berdiri tegak dengan seragam pelayannya yang rapi, menatap Prisha dengan binar mata kekaguman yang aneh.

"Luar biasa, Nona Prisha. Baru hari pertama, tapi keberanian Anda benar-benar patut diacungi jempol," puji Bora dengan wajah yang sangat lempeng, hampir tanpa ekspresi. Gadis pelayan itu melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Prisha berdiri dari lantai. "Gadis-gadis sebelum Nona bahkan tidak ada yang berani menyelinap sampai ke atas ranjang Tuan Muda."

Prisha menerima uluran tangan Bora sambil memegangi pinggangnya yang terasa encok. Ia menghela napas panjang, mencoba merapikan pakaian satinnya yang kusut. "Tapi ujung-ujungnya aku tetap dilempar seperti karung beras, Bora."

"Sifat Tuan Muda memang konsisten, Nona. Setidaknya Anda masih utuh," sahut Bora, terdengar sangat profesional namun entah mengapa terdengar menyebalkan di telinga Prisha.

Kegagalan tragis semalam rupanya tidak membuat mental Prisha yang sudah telanjur setebal baja itu surut. Bagi seorang buronan rentenir dengan tanggungan utang 1,2 triliun, urat malu rasanya sudah putus sejak ia berdiri di atas jembatan sepi.

Esok paginya, Prisha kembali menyusun strategi baru. Saat waktu sarapan tiba, ia sengaja datang terlambat beberapa menit. Begitu melangkah masuk ke ruang makan, ia melihat Saka sudah duduk tenang, bersiap menghabiskan suapan terakhir dari menu sarapan paginya yang serba protein.

Prisha menarik napas dalam-dalam, memantapkan hati, lalu melangkah cepat menghampiri meja makan. Sebelum Saka sempat menyadari kehadirannya, Prisha dengan nekat langsung memutar tubuh dan mendudukkan dirinya dengan manja di atas pangkuan pria itu. Tak lupa, kedua lengannya langsung bergelayut manja di sekeliling leher kokoh Saka.

"Selamat pagi, Kak Saka ..." bisik Prisha dengan nada yang dibuat semanja mungkin, menatap lurus ke dalam manik mata hitam pria itu.

Rahang Saka seketika mengeras. Kilat berbahaya terpancar dari matanya. Dorongan insting pelindung diri Saka langsung bekerja dengan kecepatan penuh. Tanpa memedulikan status Prisha sebagai tamu ibunya, Saka mencengkeram pinggang Prisha dengan kuat, lalu mengangkat dan melemparkannya menjauh hingga gadis itu kembali terduduk di lantai ruang makan dengan bunyi berdebam yang cukup nyaring.

Duk!

Saka langsung berdiri, menyambar jasnya di sandaran kursi, dan melangkah pergi begitu saja tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Aura dingin yang ditinggalkannya sanggup membuat ruangan itu terasa membeku.

Prisha masih terduduk di lantai, mengelus pantatnya yang malang sambil menatap punggung Saka yang menjauh dengan tatapan nanar. Di saat itulah, Bora kembali muncul dari arah dapur, berjalan mendekat sambil membawa nampan kosong.

Bora menatap Prisha, lalu kembali bertepuk tangan pelan. "Bagus sekali, Nona. Untunglah Anda datang tepat setelah ia menghabiskan sarapannya. Kalau tidak, mungkin piring-piring di meja ini juga ikut melayang bersama Anda."

Prisha mendongak, menatap asisten pribadinya itu dengan pandangan menyelidik. "Bora, kau ini sebenarnya sedang memuji atau menghina diriku?"

Bora membungkuk sedikit dengan sangat sopan, wajahnya tetap datar tanpa dosa. "Saya tidak pernah menghina majikan, Nona Prisha. Saya hanya menyatakan fakta dengan sudut pandang yang positif."

Prisha mendengus pasrah, mencoba bangkit berdiri sendiri karena Bora tampaknya terlalu sibuk mengagumi ketebalan muka majikan barunya ini. "Oh, terima kasih kalau begitu atas 'sudut pandang positif'-mu."

Malam harinya, setelah adegan pelemparan di ruang makan pagi tadi, bukan berarti Prisha akan kapok dan berhenti. Oh, tentu saja tidak. Selama angka 1,2 triliun itu masih membayangi masa depannya, Prisha akan terus maju menerjang badai es bernama Saka Tanubrata.

Sekitar jam sembilan malam, begitu mendengar mobil Saka kembali memasuki area mansion, Prisha langsung bersiap di dekat pintu ruang kerja pribadi Saka yang ada di dalam rumah.

Begitu Saka membuka pintu, Prisha langsung menghadang di ambang pintu, mencoba memberikan senyuman termanisnya sambil sengaja memiringkan tubuh agar terlihat proporsional.

"Kak biarkan aku memijat bahumu."

Namun, reaksi Saka masih sama. Pria itu menatapnya bagai melihat seonggok sampah yang menghalangi jalan. Tanpa berkata-kata, Saka mengulurkan satu tangannya, mendorong bahu Prisha ke samping dengan kekuatan yang cukup besar hingga gadis itu kembali kehilangan keseimbangan dan terjerembap ke lantai koridor untuk yang kesekian kalinya. Pintu ruang kerja langsung ditutup rapat dan dikunci dari dalam.

Cklek.

Prisha masih terduduk di lantai, menatap pintu kayu di depannya dengan sisa-sisa tenaga. Dan seperti biasa, seolah memiliki radar khusus, Bora mendadak sudah berdiri di sampingnya dengan posisi siap siaga.

Bora kembali memberikan tepuk tangan khasnya. Prok... prok... prok...

"Ini lebih cepat dari malam semalam, Nona. Rekor baru. Tuan Muda tampaknya mulai terbiasa dengan keberadaan Anda, sehingga waktu eksekusinya menjadi lebih efisien," ucap Bora dengan nada suara yang sangat datar, seolah sedang melaporkan grafik saham tahunan perusahaan.

Prisha memutar bola matanya dengan malas. Rasa kesal dan nyeri kini bercampur aduk menjadi satu. Ia merasa seluruh tulang di bagian belakang tubuhnya, terutama pantatnya, sudah memar-memar karena terus-terusan membentur lantai mansion yang terbuat dari marmer mahal ini. Hidup mewah di rumah konglomerat ternyata harus dibayar dengan cedera fisik yang tidak main-main.

"Bora, ayo balik ke kamar," keluh Prisha sambil mencoba merangkak bangun dengan sisa harga diri yang tersisa. "Kau bantu aku oleskan salep di pantat. Rasanya ini sudah membiru semua."

Bora dengan sigap memapah lengan Prisha, menuntun gadis itu berjalan perlahan menuju kamarnya. "Tenu, Nona. Saya bahkan sudah menyiapkan salep pereda memar dan nyeri otot merek terbaik sejak sore tadi di meja rias Anda."

Prisha menoleh ke arah pelayan mudanya itu dengan tatapan tidak percaya. "Kau ... sangat siaga ya, Bora. Seolah-olah kau sudah tahu kalau aku akan ditendang lagi dari pintu malam ini."

"Sebagai pelayan profesional di kediaman Tanubrata, mengantisipasi cedera fisik majikan adalah bagian dari deskripsi pekerjaan saya, Nona," jawab Bora dengan senyum tipis yang sarat akan kesarkasan tersembunyi.

Prisha hanya bisa menghela napas pasrah, meratapi nasib bokongnya yang malang sembari berharap memar-memar ini sebanding dengan lunasnya utang triliunan rupiah di kemudian hari.

Bersambung....

1
Amal Syafiqah
aa novel nya bagus, cepat update nya ye. aku tunggu
Rinnaya: Ok. Up setiap hari, tapi hari ini sibuk jadi besok malam ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!