NovelToon NovelToon
PEMBERONTAK PARA DEWA LAST SEASON

PEMBERONTAK PARA DEWA LAST SEASON

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Epik Petualangan / Perperangan
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Seratus tahun telah berlalu sejak Shi Hao mengorbankan kultivasinya menggunakan Teknik Terlarang untuk menyelamatkan Alam Atas dari kehancuran Kaisar Langit. Di Alam Atas, kedamaian semu tercipta di bawah pimpinan Dewan Bersama (Raja Yan, Lei Zhen, Ao Zun).

Namun, di sebuah desa fana yang terpencil, Shi Hao hidup bahagia sebagai petani buta dan lumpuh bersama istri fananya (Gu Qing Yi yang menyembunyikan identitasnya). Kepompong fana Shi Hao perlahan-lahan menyehatkan jiwanya yang hancur, menanamkan pemahaman Dao Kemanusiaan yang belum pernah dicapai oleh Dewa mana pun.

Kedamaian itu hancur ketika Dinding Dimensi Alam Atas robek. Shen Yu, Dewa Iblis dari Semesta Sembilan Nether yang telah menaklukkan ribuan alam, akhirnya tiba bersama pasukan jenderalnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 23

Alam Atas – Lautan Bintang Sektor Utara (Garis Depan Tembok Ratapan).

Suara langkah kaki fana yang memijak ketiadaan itu masih bergema di dalam lautan kesadaran setiap entitas yang hadir. Kehampaan angkasa yang sebelumnya mendidih oleh Qi Iblis dan jeritan kematian, mendadak membeku seolah-olah waktu itu sendiri ketakutan untuk terus mengalir.

Di bawah pilar cahaya emas yang membelah kegelapan Sembilan Nether, sosok pemuda berpakaian rami kasar berdiri dengan tenang. Kain putih yang membebat mata kirinya berkibar pelan tertiup badai kosmik. Di dahinya, Mata Ketiga berwarna Emas Kehidupan memancarkan dominasi yang tidak menindas, namun membuat siapa pun yang menatapnya merasa harus berlutut menyerahkan nyawa mereka secara sukarela.

Shi Hao, sang Kaisar Asura, telah tiba di medan pembantaian.

Cakar raksasa milik Dewa Iblis Shen Yu yang terbentuk dari miliaran tengkorak dewa mati dan bersiap meremukkan sisa-sisa pasukan Alam Atas kini membeku hanya berjarak sepuluh tombak di atas kepala Lei Shan.

Shi Hao tidak berteriak. Ia tidak melepaskan fluktuasi Qi yang menggelegar layaknya penguasa dunia. Ia hanya mengangkat Tombak Asura Kemanusiaan berwarna hitam legam di tangan kanannya, dan menyentuhkannya dengan sangat pelan ke ujung cakar iblis raksasa tersebut.

Ting.

Sebuah dentingan ringan terdengar, sedamai tetesan embun yang jatuh ke atas permukaan daun teratai.

Dalam sepersekian tarikan napas, cakar raksasa pembawa kiamat itu... meleleh.

Bukan hancur oleh ledakan energi, melainkan diubah paksa oleh Mortal Dao (Jalan Kemanusiaan) menjadi rintik hujan cahaya emas yang sangat hangat. Hujan suci itu turun membasahi medan pertempuran. Begitu tetesan cahaya itu menyentuh tubuh raksasa Lei Shan, luka menganga di dadanya menutup seketika. Sisik Ao Zun yang menghitam karena racun kembali memancarkan kilau emas yang menyilaukan. Api karma yang membakar Inti Dao Wuming padam tak berbekas, mengembalikan energi kehidupannya yang memudar.

Ketiga Jenderal Tertinggi itu mendongak. Tubuh mereka yang sedari tadi tegar menyambut kematian, kini bergetar hebat hingga senjata mereka terlepas dari genggaman.

"Bos..." Lei Shan jatuh berlutut di udara hampa, air matanya tumpah deras membasahi janggutnya yang hangus. "Kami... kami gagal menjaga gerbang rumah kita."

Shi Hao menunduk, menatap ketiga bawahan setianya dengan senyum tipis yang penuh kelembutan seorang kakak.

"Berdirilah, Lei Shan. Kalian tidak gagal," kata Shi Hao, suaranya mengalun seperti lonceng surga yang menenangkan sisa-sisa prajurit Alam Atas. "Kalian telah menjaga halaman ini dengan sangat baik. Sisanya... biarkan aku yang menyapu kotoran ini."

Di kejauhan, di atas geladak kapal tulang raksasa, Dewa Iblis Shen Yu terpental dari singgasananya. Ia memegangi tangan kanannya yang berasap hitam tangan aslinya di Sembilan Nether baru saja melepuh hanya karena proyeksi cakarnya disentuh oleh ujung tombak pria buta itu!

"Kaisar Asura..." desis Shen Yu, suaranya bergetar antara kebencian abadi dan ketakutan yang merayap di tengkuknya. "Kau akhirnya keluar dari cangkang pengecutmu!"

Namun, tidak semua iblis memiliki akal sehat untuk menyadari kengerian sang Asura.

Naga hitam raksasa, Mo Yuan, yang baru saja dipukul mundur oleh Ao Zun, mengaum kegirangan. Insting binatang buasnya tertipu oleh penampilan fana Shi Hao.

"Dia hanya sendirian! Tubuhnya tidak memancarkan fluktuasi Qi sedikit pun!" raung Mo Yuan, tubuh raksasanya yang sepanjang jutaan Zhang menggeliat membelah ruang angkasa. "Hukum alam dunia fana benar-benar telah membuatnya menjadi manusia cacat! Tuan Shen Yu, biarkan aku yang menelan kepalanya!"

Tanpa menunggu persetujuan, Mo Yuan melesat maju bagaikan komet hitam pembawa wabah. Mulut raksasanya terbuka, menyemburkan Lautan Bisa Kematian Nether sebuah racun kosmik yang bisa melelehkan tata surya menjadi lumpur dalam hitungan detik.

Di saat yang bersamaan, Feng Jiu, sang Gadis Phoenix Hitam, ikut mengepakkan sayap apinya. "Mati kau di dalam apiku, Kaisar Palsu!" pekik Feng Jiu, melepaskan badai Api Teratai Tulang yang menyusul dari sisi kanan, mengunci jalur ruang dan waktu agar Shi Hao tidak bisa menghindar.

Dua serangan tingkat Dewa Sejati puncak menerjang secara bersamaan. Alam semesta berderit, tak mampu menahan benturan dua hukum kehancuran tersebut.

Di bawah, Lei Shan dan Ao Zun bersiap melesat untuk menjadi perisai hidup bagi raja mereka. Namun, Shi Hao hanya mengangkat tangan kirinya dengan santai, memberi isyarat agar mereka tetap berlutut di tempat.

"Kalian istirahatlah. Darah kalian baru saja berhenti mengalir," kata Shi Hao tanpa menoleh.

Ia memutar tubuhnya, menghadap langsung ke arah naga hitam raksasa dan badai api phoenix yang nyaris menelannya. Mata Ketiga Emas nya menatap datar. Tidak ada amarah, tidak ada ketegangan. Hanya tatapan seorang petani fana yang melihat hama ilalang tumbuh di sawahnya.

"Cacing tanah dan burung pegar yang berisik," gumam Shi Hao pelan. "Kalian membuat udara musim semi di desaku berbau anyir."

Shi Hao mengangkat Tombak Asura Kemanusiaan dengan kedua tangannya. Ia memutar pinggangnya sedikit, menarik napas panjang, lalu mengayunkan tombak hitam itu dengan gerakan melingkar horizontal.

Sebuah gerakan yang sangat awam, tanpa kerumitan formasi sihir dewa, tanpa nyanyian yang membelah langit. Itu hanyalah gerakan ingatan otot seorang petani yang sedang mengayunkan sapu lidi di halaman rumahnya.

SWUUUUSH!

Tidak ada ledakan energi kosmik yang menyilaukan mata.

Yang ada hanyalah sebuah busur cahaya keemasan setipis helaian rambut yang melesat keluar dari ujung tombak Shi Hao. Gelombang Mortal Dao itu meluas dengan sangat tenang, melewati ruang dan waktu seolah-olah jarak fisik hanyalah ilusi yang menggelikan.

Saat gelombang emas itu menyentuh Lautan Bisa Kematian milik Mo Yuan... racun yang bisa melelehkan bintang itu seketika diubah paksa menjadi kabut air biasa yang menyejukkan.

Saat gelombang emas itu menyentuh Api Teratai Tulang milik Feng Jiu... api abadi Sembilan Nether itu padam seketika, seolah ditiup oleh hembusan angin fana.

Namun, sapuan tombak itu tidak berhenti di sana. Busur cahaya keemasan tersebut terus melaju, menembus leher naga hitam Mo Yuan dan dada Feng Jiu tanpa sedikit pun menemui hambatan.

Waktu seakan benar-benar berhenti.

Mo Yuan membelalakkan matanya yang sebesar bulan fana. Ia mencoba menunduk, dan melihat sebuah garis cahaya melingkar di lehernya.

"A... apa... yang terjadi...?" suara naga itu menggelegak. Hukum baka di dalam Inti Iblis-nya telah dilucuti sepenuhnya.

KREK.

Kepala raksasa Mo Yuan terputus dari lehernya dengan irisan yang sangat licin, meluncur jatuh ke dalam lautan bintang dan hancur menjadi abu keemasan bahkan sebelum menyentuh meteorit.

Di sebelahnya, tubuh Feng Jiu mematung. Sang Phoenix Hitam menatap dadanya yang terbelah dua. Ia mencoba menjerit, namun pita suaranya telah menjadi abu. Dalam keputusasaan absolut, tubuh abadinya hancur berserakan layaknya debu arang yang tersapu angin.

Dua Penguasa Iblis terbunuh oleh satu ayunan santai!

Tetapi kengerian itu belum usai. Busur cahaya emas dari sapuan tombak Shi Hao terus meluas ke arah armada Nether di cakrawala. Saat gelombang Dao itu melewati barisan depan, sepuluh ribu Kapal Kematian raksasa yang terbuat dari tulang dewa mendadak terpotong rata dari tiang hingga lambungnya. Jutaan prajurit iblis di atasnya berubah menjadi kabut emas tanpa sempat menyadari bahwa mereka telah mati.

Hening.

Keheningan yang mencekam menguasai garis perbatasan Alam Atas.

Sisa prajurit Sembilan Nether menjatuhkan senjata mereka dengan tangan gemetar. Lima Penguasa Iblis yang berdiri di belakang Shen Yu langsung berlutut hingga kening mereka membentur geladak kayu, diwarnai teror yang tak bisa dijabarkan. Ini bukan lagi peperangan, melainkan eksekusi mutlak!

Wuming, sang Pendekar Pedang Gila, menelan ludah dengan susah payah. Matanya membelalak takjub. "Satu ayunan... Satu ayunan memusnahkan armada kiamat... Bos... monster seperti apa kau sekarang setelah mencangkul tanah selama seratus tahun?!"

Di tengah keheningan kosmik itu, Shi Hao menegakkan punggungnya. Ia menyandarkan kembali tombaknya ke bahu, merilekskan otot-ototnya seolah baru saja selesai menyapu teras.

"Hanya daun kering dan debu kotor," kata Shi Hao, matanya terkunci pada sosok berjubah ungu di atas sisa kapal utama. "Sekarang, giliranku untuk bertanya padamu, Shen Yu. Apakah kau ingin pulang sendiri ke alam baka-mu, atau perlu kubantu memahat peti matimu di sini?"

Di atas singgasana tengkoraknya yang mulai retak, Shen Yu tidak bergetar. Alih-alih memohon ampun, Dewa Iblis itu justru mulai tertawa. Tawanya pelan pada awalnya, lalu membesar menjadi raungan yang menggetarkan seluruh bintang di sektor tersebut.

"Hahaha... HAHAHAHA! Sempurna! Sangat Sempurna, Shi Hao!" Shen Yu merentangkan kedua tangannya yang gemetar. Jubah ungunya berkibar liar. "Kau benar-benar telah menyatu dengan ketiadaan absolut. Kuantitas pasukan, kekuatan fisik, pertahanan karma... semuanya menjadi lelucon di hadapan Dao Kemanusiaan-mu."

Mata Shen Yu memancarkan kegilaan kosmik yang tak tertolong lagi.

"Jika bentuk fisik dan hukum alam sudah tidak mempan terhadapmu... maka aku akan menarikmu ke dalam Keputusasaan Purba yang melampaui keberadaan itu sendiri!"

Shen Yu mengangkat tongkat tengkorak naganya, lalu dengan gerakan brutal, ia menikamkan ujung tongkat itu menembus jantungnya sendiri!

CRAT!

Darah esensi Sembilan Nether muncrat dari dada Shen Yu.

"T-Tuan Shen Yu! Apa yang Anda lakukan?!" jerit salah satu Penguasa Iblis yang tersisa, panik melihat tuannya menghancurkan Inti Dewanya sendiri.

"KORBANKAN SEMUANYA!" raung Shen Yu, darah mengalir dari ketujuh lubang di wajahnya. "DENGAN DARAHKU SEBAGAI KUNCI, DAN JUTAAN PASUKAN INI SEBAGAI TUMBAL! BANGKITLAH, WUJUD SEJATI DARI AWAL KEHANCURAN!"

Sihir terlarang diaktifkan. Sisa kapal kematian beserta jutaan prajurit iblis di dalamnya mendadak menjerit histeris. Tubuh mereka dilelehkan secara paksa oleh formasi kutukan, disedot ke dalam tubuh Shen Yu layaknya lautan pusaran darah.

Dewa Iblis Shen Yu menelan seluruh semestanya sendiri demi memanggil entitas purba yang tertidur di dasar pusaran waktu sebelum dunia diciptakan.

Ruang dan waktu di sekitar Tembok Ratapan mulai retak membentuk jaring laba-laba kelabu raksasa. Dari balik retakan dimensi tersebut, hawa kegelapan mutlak mengalir keluar.

Di belakang tubuh Shen Yu yang mulai membusuk, sebuah Pasang Mata Tunggal Raksasa yang ukurannya melampaui ukuran seluruh tata surya perlahan-lahan mulai terbuka dari dalam kehampaan.

Mata Ketiga Shi Hao yang selalu tenang kini sedikit menyipit. Pegangannya pada gagang tombak hitam itu mengerat. Sang Kaisar Asura menyadari bahwa yang baru saja dipanggil oleh musuhnya... bukanlah makhluk yang terikat pada hukum alam semesta ini.

1
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
saniscara patriawuha.
kasian berkali kali manggg wuuuu ini....
saniscara patriawuha.
sakit banget tuhhh rasaneee...
saniscara patriawuha.
sikattttttt lagiiii mangggg shiiiiii.....
saniscara patriawuha.
mantaffffff surataffff....
Hendra Saja
makin penasaran.....apa tidak bertemu dengan sang tiran Thor....
yos helmi
👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
HINATA SHOYO
mantapp jiwa kerennn cuuyyyyy
HINATA SHOYO
kerenn poolĺll lanjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!