Sejak malam itu, hidup Raka berubah drastis. Setelah tak sengaja melewati rumah tua terbengkalai di ujung gang dan merasakan gangguan gaib, ia terus dihantui penglihatan aneh, suara bisikan, dan kejadian tak wajar. Perlahan ia mengungkap rahasia kelam rumah itu—tempat menyimpan kutukan dan korban hilang puluhan tahun silam—sambil berjuang melepaskan diri dari jeratan makhluk yang sudah menandainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 2: JALAN BERLUBANG DI BELAKANG HUTAN BAB 3-Batu Penjaga yang Terlupakan
Langkah Arga terasa berat seolah setiap inci tanah di bawah kakinya ingin menariknya turun ke dalam. Ia terus memegang erat gagang pisau pusaka di satu tangan, sementara tangan lainnya mengangkat asap kemenyan yang masih mengepul, mengarahkan asapnya ke segala arah untuk menyingkirkan kabut dan mencegah wujud-wujud halus mendekat terlalu rapat. Bau tajam kemenyan bercampur dengan aroma daun sirih terasa menusuk hidung, namun menjadi satu-satunya perlindungan yang bisa ia andalkan saat ini.
Di sekelilingnya, suara berdesir tidak pernah berhenti. Dari balik setiap gundukan tanah, dari celah akar pohon yang tumbuh liar, dan dari balik selimut kabut, terasa ada banyak pasang mata yang mengawasi setiap gerakannya. Sesekali muncul sosok-sosok samar yang terlihat seperti bayangan orang berjalan, tapi begitu ia mengarahkan pandangan lebih tajam, sosok itu akan lenyap seketika hanya untuk muncul kembali di tempat lain, seolah sedang memainkan perhatiannya agar ia tersesat arah.
“Jangan lihat mereka. Fokus saja pada tujuanmu. Batu itu ada di tengah, tempat di mana kabutnya paling tebal namun tanahnya terasa lebih padat,” bisik suara dalam hati Arga, mengulang pesan terakhir Kakek Wito sebelum ia masuk.
Namun perjalanan itu tidak semudah yang dibayangkan. Baru berjalan beberapa puluh langkah, tanah di depannya tiba-tiba berubah tekstur. Yang tadinya terasa cukup kokoh, kini menjadi lunak dan berair, berubah menjadi semacam kubangan lumpur hitam yang tersembunyi di balik rumput hijau yang tampak subur. Jika ia melangkah sembarangan, kakinya bisa terperosok dan terjebak, menjadi mangsa empuk bagi kekuatan yang menguasai tempat ini.
Arga segera mengangkat tongkat kayu yang ia bawa, menusukkannya ke depan untuk menguji kekuatan tanah sebelum melangkah. Begitu ujung tongkat itu menyentuh permukaan lumpur, airnya bergejolak hebat, mengeluarkan gelembung-gelembung udara yang pecah disertai bau busuk yang lebih menyengat dari sebelumnya. Dari dalam kubangan itu, muncul suara berdesis lembut, seperti suara ular yang marah, diikuti oleh tangan-tangan kecil yang menjulur ke atas, mencoba memegang ujung tongkat itu dan menariknya masuk ke dalam.
Ia segera menarik tongkatnya dengan kuat, lalu melambungkan segenggam garam ke permukaan kubangan itu. Seketika terdengar suara mendesis nyaring, dan tangan-tangan itu segera menghilang ke dalam, menyisakan riak air yang perlahan mereda. Ia pun memutar arah, mencari jalur yang lebih tinggi dan kering, menyadari bahwa setiap jengkal tanah di sini memiliki jebakannya sendiri.
Semakin ia mendekati pusat hamparan tanah itu, kabutnya semakin pekat hingga ia hampir tidak bisa melihat lebih dari tiga meter ke depan. Suara-suara yang semula hanya berbisik, kini menjadi semakin kacau—terdengar suara orang menangis, memanggil nama keluarga, berteriak meminta pertolongan, bahkan suara tawa yang terdengar aneh dan menakutkan. Semua suara itu bercampur menjadi satu irama yang membingungkan, membuat kepala Arga terasa berdenyut nyeri dan matanya terasa perih seolah ingin tertutup paksa.
Ia tahu itu adalah serangan terhadap akal sehatnya. Jika ia membiarkan suara-suara itu masuk dan mempengaruhi pikirannya, ia akan mulai melihat hal-hal yang tidak nyata, berjalan mengikuti arah yang salah, dan akhirnya terjebak selamanya di tempat ini. Untuk melawannya, ia mulai melafalkan doa dengan suara lantang dan jelas, tidak memedulikan gangguan apa pun yang datang. Suara bacaannya bergema di antara gundukan-gundukan tanah, perlahan menekan suara-suara lain hingga mereda menjadi bisikan yang lemah.
Setelah berjuang melewati jalur yang berliku dan penuh jebakan selama hampir setengah jam, akhirnya Arga melihatnya. Di tengah hamparan tanah itu, berdiri tegak sebuah batu besar setinggi dua orang dewasa, permukaannya kasar dan tertutup lumut tebal berwarna hijau tua. Di sekelilingnya melilit akar pohon jati yang sangat tua, seolah berusaha menahan batu itu agar tidak roboh atau terangkat dari tempatnya. Di bagian atas batu itu, samar-samar terlihat ukiran-ukiran kuno yang hampir terkikis habis dimakan waktu dan air hujan—lingkaran yang dikelilingi tanda titik dan garis silang, persis seperti yang terlihat di tugu batas tadi, namun ukurannya jauh lebih besar dan terasa memiliki kekuatan yang jauh lebih besar pula.
Namun di antara batu dan tempat Arga berdiri, menghalangi jalannya, berdiri sosok Jelmaan Tanah yang tadi sempat mundur. Kali ini ia tidak sendirian. Di sekelilingnya berkumpul puluhan bahkan ratusan bayangan samar yang melayang rendah di atas tanah—jiwa-jiwa yang terperangkap, menjadi pengikut sekaligus bagian dari kekuatan makhluk itu. Mereka melingkar rapat membentuk pagar hidup yang menghalangi akses ke batu penjaga tersebut.
“Sudah kubilang, manusia… kau tidak akan sampai ke sana dengan mudah,” suara Jelmaan Tanah itu terdengar lebih berat dan bergema, seolah keluar dari seluruh tanah di sekitar mereka. Tubuhnya kini terlihat lebih kokoh, dikelilingi kabut berwarna abu-abu gelap yang memancarkan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum. “Selama puluhan tahun kami menunggu kesempatan untuk membebaskan diri, dan sekarang kau datang hanya untuk mengunci kami kembali ke dalam kesepian dan kegelapan yang sama. Mengapa kalian tak pernah mengerti rasa sakit yang kami alami?”
Arga berdiri tegak, tidak mundur lagi. Ia mengangkat pisau pusakanya setinggi bahu, ujungnya mengarah lurus ke depan, sementara asap kemenyan masih terus mengepul dari tangannya yang lain.
“Aku mengerti rasa sakit dan rasa terasing itu,” jawab Arga dengan suara yang tenang namun mantap, cukup keras agar terdengar jelas oleh semua yang ada di sekitarnya. “Tapi menginginkan kebebasan tidak berarti harus mengambil hak dan keselamatan makhluk lain. Kalian meninggal dalam penderitaan, itu bukan kesalahan kalian, namun bukan pula kesalahan orang yang hidup sekarang. Jika aku membiarkan kalian keluar, maka sejarah yang kelam itu akan terulang kembali—penyakit, kematian, dan kesedihan akan menyebar ke desa yang tidak bersalah. Itu bukan kebebasan, melainkan hanya memindahkan penderitaan ke orang lain.”
Jelmaan Tanah itu terdiam sesaat, seolah mempertimbangkan kata-kata itu, namun rasa marah yang telah terpendam selama puluhan tahun tidak bisa padam hanya dengan nasihat semata. Ia mengangkat kedua tangannya yang besar, dan seketika tanah di sekeliling Arga bergetar hebat. Gundukan-gundukan tanah terangkat sedikit, dan angin berputar kencang di tengah hamparan itu, mengangkat daun-daun kering dan debu, membentuk pusaran kabut yang menuju langsung ke arah Arga.
“Kalau begitu, biarkan kekuatan bumi ini yang memutuskan!” teriaknya.
Serangan itu datang dengan cepat. Pusaran kabut itu terasa berat dan menusuk, membawa rasa dingin yang membuat napas Arga terasa sesak dan kulitnya terasa terbakar oleh hawa yang bukan milik dunia manusia. Ia segera memutar tubuhnya, mengayunkan pisau pusakanya melingkar membentuk lingkaran pelindung, sambil terus melambungkan garam dan asap kemenyan ke segala arah. Setiap kali benda-benda itu menyentuh pusaran kabut, terdengar suara ledakan kecil dan kabut itu terpecah, namun segera terbentuk kembali dari arah lain.
Perlawanan itu terasa melelahkan. Keringat dingin membasahi seluruh tubuh Arga, napasnya terengah-engah, dan tangannya mulai terasa lemas menahan beban yang tak terlihat itu. Namun ia melihat celah kecil yang terbentuk saat Jelmaan Tanah itu sedang mengerahkan kekuatannya. Di sela-sela kerumunan bayangan, terbuka jalan sempit yang mengarah langsung ke batu penjaga itu.
Ini kesempatannya.
Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Arga melesat maju melewati celah itu secepat mungkin. Ia melompat menghindari tangan-tangan yang mencoba menangkap kakinya, menepis wujud-wujud yang mencoba menghalangi badannya, terus berlari sambil melambungkan perlindungan yang ia miliki. Di belakangnya, terdengar teriakan marah Jelmaan Tanah dan suara berdesir dari tanah yang bergerak mengejarnya, namun ia tidak menoleh sedikit pun—semua fokusnya hanya tertuju pada batu besar yang semakin dekat di hadapannya.
Hanya beberapa langkah lagi.
Begitu sampai di kaki batu itu, Arga segera berhenti dan bersandar pada permukaannya yang dingin dan kasar. Begitu tubuhnya menyentuh batu itu, ia merasakan aliran tenaga yang aneh—seolah ada denyutan lembut yang menjalar dari batu itu masuk ke dalam tubuhnya, sedikit menenangkan detak jantungnya yang berpacu cepat. Namun ia tidak punya waktu untuk merasakannya lebih lama. Di belakangnya, Jelmaan Tanah dan seluruh pengikutnya sudah tiba, mengepungnya rapat-rapat dengan pandangan yang penuh amarah.
“Sekarang kau terperangkap, manusia. Tidak ada jalan keluar lagi untukmu,” gumam suara yang memenuhi seluruh ruang.
Arga menghela napas panjang, mengumpulkan seluruh keberanian dan keyakinan yang ia miliki. Ia meletakkan pisau pusakanya di atas batu, lalu mengambil sisa garam dan abu tungku yang masih tersisa, mencampurnya dengan air hujan yang ia tampung dari daun lebar tadi. Ia juga mengambil seikat daun sirih yang masih segar, mengunyahnya sebentar hingga lunak, lalu menempelkannya pada bagian tengah ukiran yang hampir pudar itu.
Dengan suara yang jelas dan penuh keyakinan, ia mulai melafalkan doa dan mantra penenang yang diajarkan oleh Kakek Wito—kata-kata yang bukan untuk memerangi, melainkan untuk memulihkan kesepakatan lama, menghormati tanah dan jiwa yang terperangkap, serta memperkuat kembali ikatan batas yang telah ada sejak puluhan tahun lalu.
Begitu kata-kata itu selesai terucap, terjadi perubahan yang perlahan namun terasa nyata. Dari dalam batu besar itu, memancarkan cahaya samar berwarna keemasan yang mulai menyebar ke seluruh permukaannya, membersihkan lumut dan akar yang menutupinya hingga ukiran-ukiran kuno itu terlihat jelas kembali, bersinar terang memancarkan kekuatan pelindung. Cahaya itu terus meluas, menyebar ke seluruh hamparan tanah kuburan lama itu, mendorong kabut gelap menjauh dan menenangkan tanah yang tadinya bergejolak.
Suara-suara keras dan marah perlahan berubah menjadi gumaman yang lemah, lalu mereda menjadi hening. Tangan-tangan yang menjulur masuk kembali ke dalam tanah, bayangan-bayangan samar mulai berhenti melayang dan perlahan turun menyentuh permukaan tanah dengan tenang. Bahkan Jelmaan Tanah itu sendiri perlahan menundukkan kepalanya, tubuhnya yang tadinya kokoh mulai mengecil, amarah di matanya berubah menjadi pandangan yang lelah dan pasrah, seolah akhirnya merasakan ketenangan yang telah lama hilang.
Namun Arga tahu, ini bukan berarti semuanya selesai sepenuhnya. Batas telah diperkuat kembali, namun keseimbangan yang baru terbentuk ini harus dijaga dengan baik. Ia berdiri di samping batu penjaga itu, menyadari bahwa di balik keheningan yang kembali ada pesan yang lebih dalam: tempat ini bukan sekadar tanah kosong, melainkan saksi bisu sejarah, dan ia yang kini menjadi salah satu penjaganya.