NovelToon NovelToon
Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / TKP
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Chocolate Chase

Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhir Dari Permainan Kartu.

Pagi itu langit Hamptons cerah, tapi suasana di sekitar rumah mewah Victor Kane jauh dari damai. Tim SWAT sudah mengelilingi properti tersebut sejak subuh. Manuel Vin berdiri di depan pintu utama dengan rompi anti peluru, sementara Arthur dan Elena berada beberapa meter di belakangnya.

Victor Kane, calon wakil gubernur berusia 52 tahun itu, membuka pintu dengan wajah pucat. Ia masih mengenakan piyama sutra mahal.

"Apa ini?" tanyanya dengan suara bergetar.

Manuel mengangkat surat perintah penangkapan dengan tegas. "Victor Kane, Anda ditangkap atas tuduhan pembunuhan berencana terhadap Senator Elias Grant beserta keluarganya, serta konspirasi bersama Derek Grant."

Kane mencoba tersenyum, tapi wajahnya sudah berkeringat dingin. "Ini pasti kesalahan. Saya calon wakil gubernur, tidak mungkin melakukan ini."

Arthur melangkah maju dengan langkah tenang. Suaranya terdengar dingin namun sangat tajam. "Kartu King of Spades yang Anda tinggalkan di dada Senator sudah cukup bicara, Mr. Rutherford. Begitu juga dengan aliran transfer uang, surel terenkripsi, dan jejak sepatu Anda di tempat kejadian perkara. Permainan kartunya sudah selesai."

Kane menatap Arthur dengan tatapan yang dipenuhi kebencian mendalam. "Kau… monster yang dibebaskan. Kau tidak punya hak untuk menghakimiku."

"Benar sekali," potong Arthur sambil menyunggingkan senyum tipis. "Tapi monster inilah yang menangkap Anda hari ini."

Tim SWAT segera memborgol kedua tangan Kane dan membawanya masuk ke dalam mobil tahanan. Di tempat terpisah, Derek Grant sudah ditangkap lebih dulu dan kini berada di bawah pengawasan ketat pihak kepolisian.

Dua bulan kemudian di Pengadilan Federal New York.

Ruang sidang penuh sesak oleh manusia. Media dari seluruh penjuru Amerika memadati kursi penonton hingga tidak ada tempat yang tersisa. Victor Kane dan Derek Grant duduk di bangku terdakwa dengan wajah muram dan sorot mata yang redup.

Jaksa penuntut umum membacakan tuntutan panjang yang memberatkan. Bukti bukti yang dikumpulkan oleh tim Arthur mulai dari rekaman kamera pengawas, transfer uang, obrolan terenkripsi, hingga kotak kartu remi cadangan disajikan satu per satu di depan majelis hakim. Elena memberikan kesaksian yang meyakinkan sebagai ahli forensik digital, Manuel sebagai penanggung jawab operasi, sedangkan Arthur dipanggil sebagai konsultan khusus kepolisian.

Saat giliran Arthur naik ke mimbar kesaksian, seluruh ruangan mendadak menjadi hening.

"Mr. Rutherford," tanya jaksa penuntut umum, "bagaimana Anda bisa menyimpulkan bahwa Victor Kane adalah dalang utama dari pembantaian ini?"

Arthur menatap lurus ke arah sepasang mata Kane. Suaranya terdengar tenang, namun setiap kata yang keluar memiliki penekanan yang mutlak.

"Kecewa karena dia bermain seperti seorang raja yang sangat takut kehilangan mahkotanya. Dia membantai seluruh keluarga hanya untuk memastikan tidak ada pewaris sah yang bisa menghalangi jalannya menuju kursi gubernur. Kartu remi itu adalah pesan teatrikal darinya, sebuah tanda bahwa dia sedang mengocok ulang permainan kekuasaan di negara bagian ini."

Kane seketika menunduk dalam, tidak lagi memiliki keberanian untuk menatap mata Arthur.

Setelah proses persidangan yang melelahkan selama hampir tiga minggu, hari pembacaan vonis akhir pun tiba. Hakim mengetuk palu dengan keras. Victor Kane divonis hukuman penjara seumur hidup tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat. Sementara itu, Derek Grant divonis 25 tahun penjara karena terbukti turut serta dalam konspirasi pembunuhan keluarganya sendiri.

Ruang sidang seketika meledak oleh suara sorak sorai pengunjung dan kilatan lampu kamera jurnalis yang saling bersahutan.

Malam harinya di pesta kecil yang diadakan di Apartemen Pengawasan.

Kembali ke apartemen pengawasan mereka di kawasan Manhattan, Manuel membawa dua kotak pizza berukuran besar. Elena membawa sebotol anggur merah mahal, sedangkan Arthur hanya datang dengan senyum miringnya yang khas sembari menjinjing sebotol soda.

Ruangan yang biasanya sunyi dan kaku itu kini dipenuhi oleh suara tawa yang langka.

"Untuk kasus kedua yang berhasil kita selesaikan dengan tuntas!" Manuel berseru riang sambil mengangkat tinggi gelasnya.

Elena tersenyum lalu membenturkan gelasnya ke gelas milik Arthur dengan agak keras. "Kau memang pria yang sangat menyebalkan, Wales. Tapi harus kuakui, otakmu itu cukup berguna."

Arthur tertawa kecil mendengar pengakuan itu. "Itu adalah pujian paling manis yang pernah kudengar keluar dari mulut seorang gadis Rusia."

Elena memutar bola matanya dengan malas, namun semburat merah muda tidak bisa menyembunyikan rasa malu di kedua pipinya. "Jangan terlalu percaya diri. Besok pagi aku masih bisa marah marah lagi kepadamu."

Manuel duduk dengan santai di sofa sambil menikmati gigitan pizzanya. "Aku benar benar tidak menyangka kita bertiga bisa bekerja sama dengan baik. Awalnya aku sempat berpikir akan menjadi gila karena harus mendengarkan kalian berdua berantem setiap hari."

Arthur bersandar nyaman di kursinya, mengalihkan pandangan untuk menatap langit malam yang membentang di balik jendela besar. "Aku juga tidak pernah menduga hal ini akan terjadi. Dulu aku selalu menyelesaikan semuanya sendirian dalam kegelapan. Tapi sekarang, ternyata ada sebuah tim yang rela memijit pelipis mereka hanya karena memikirkan kelakuanku."

Mereka bertiga tertawa bersama menikmati momen itu. Untuk sesaat, suasana di dalam apartemen terasa begitu hangat, ringan, dan penuh kedamaian.

Elena memperhatikan Arthur diam diam dari samping. Di balik semua perdebatan tajam mereka selama ini, ia mulai bisa melihat sisi lain dari pria yang dulu sering dijuluki monster oleh orang orang, seorang pria yang kini sedang berjuang keras untuk memperbaiki hidupnya.

Malam semakin larut. Kotak pizza sudah kosong dan botol anggur hanya tersisa setengah. Manuel sudah tertidur pulas di atas sofa karena kelelahan.

Arthur memilih untuk berdiri di balkon sendirian, menikmati embusan angin sembari menatap gemerlap lampu kota New York yang berkelap kelip indah.

Elena melangkah keluar menyusulnya sambil membawa dua gelas berisi soda dingin.

"Kau baik baik saja?" tanya Elena dengan nada suara yang sangat pelan.

Arthur menoleh lalu tersenyum tulus. "Aku merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Terima kasih karena sudah sudi bekerja sama dengan monster seperti aku, Elena."

Elena menyenggol bahu Arthur dengan pelan dan akrab. "Kau bukan monster lagi, Arthur. Kau hanya seorang rekan kerja baru yang sangat menyebalkan."

Mereka berdua berdiri berdampingan menikmati keheningan malam yang terasa nyaman bagi mereka. Kasus kedua memang sudah selesai dengan kemenangan besar. Namun, mereka semua tahu bahwa di luar sana, masih banyak teka teki dan kasus rumit lain yang sedang menanti mereka.

Untuk pertama kalinya dalam hidup yang panjang dan kelam, Arthur merasa bahwa ia tidak lagi berjalan sendirian di dalam kegelapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!