NovelToon NovelToon
Second Half: Velix The Next Legend

Second Half: Velix The Next Legend

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Wawan wan

Velix Purnama umur 26tahun seorang pekerja kantoran tanpa sengaja kembali ke masa lalu saat dia masih menduduki bangku SMP.

"Dengan sistem aku akan mengejar apa yang menjadi mimpiku", ujar Velix

bagaimana kisah Velix menjadi legenda sepakbola mari kita saksikan bersama sama!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wawan wan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8: Sentuhan Sutra di Atas Rumput Kusam

BAB 8: Sentuhan Sutra di Atas Rumput Kusam

"Velix, kamu pindah ke Tim A. Danu, tukar posisi dengan gelandang Tim C. Kita lihat bagaimana Velix bermain di tim utama," perintah Pak Joko memecah euforia kemenangan tipis tadi.

Keputusan Pak Joko membuat seisi lapangan kasak-kusuk. Memindahkan Velix ke Tim A—yang diisi oleh para pemain inti sekolah—adalah bukti bahwa performa dewasanya di pertandingan pertama telah menjungkirbalikkan keraguan sang guru olahraga.

Danu berjalan melewati Velix sambil menepuk pundaknya. "Tunjukin kelas lu yang sebenernya, Vel. Jangan bikin malu jersi nomor 10 gua," bisik Danu dengan nada segan yang tulus.

Velix mengangguk dengan senyuman hangat. "Gua usahain, Dan."

Namun, begitu kakinya melewati garis lapangan untuk pertandingan kedua melawan Tim B, kehangatan itu lenyap seketika. Mode serius dan fokus sedingin es kembali menguasai tubuh Velix. Tatapan matanya menajam. Dia mengambil posisi sebagai gelandang serang, tepat di belakang striker utama Tim A.

'Sistem, aktifkan Skill: Sentuhan Pertama Sutra milik Dimitar Berbatov,' perintah Velix dalam hati.

[Mengaktifkan Skill: Sentuhan Pertama Sutra (Dimitar Berbatov - Fase 1)]

[Efek: Meningkatkan akurasi kontrol bola sebesar 30% saat menerima umpan sulit. Mengurangi gaya membalas bola secara instan melalui memori otot.]

[Toleransi Fisik Tuan Rumah saat ini: 80% (Bugar setelah istirahat sejenak).]

Velix merasakan sensasi dingin menjalar dari tulang belakangnya menuju kedua pergelangan kakinya. Otot-ototnya terasa lebih rileks, dan kepekaan saraf di telapak kakinya meningkat tajam.

Pertandingan dimulai. Tim B yang tidak ingin kalah dua kali berturut-turut langsung bermain dengan garis pertahanan tinggi dan menekan dengan sangat ketat (high pressing). Mereka tahu Velix adalah motor serangan baru di Tim A, sehingga dua pemain tengah langsung ditugaskan untuk mengawal Velix ke mana pun dia bergerak.

"Jaga si Velix! Jangan kasih dia ruang buat muter!" teriak Bagas yang masih dendam karena dikolongi di pertandingan pertama.

Lini tengah menjadi sangat padat. Bek tengah Tim A yang memegang bola mulai panik karena terus ditekan oleh striker Tim B. Dalam kondisi terdesak, bek tersebut asal menendang bola ke depan—sebuah umpan lambung yang sangat buruk, terlalu bertenaga, dan arahnya tidak akurat, melambung tinggi di atas kepala Velix.

"Ah, umpannya rusak!" keluh Ryan di pinggir lapangan.

Bola itu turun dengan kecepatan tinggi dan efek berputar (spin) yang liar. Dua bek Tim B sudah berlari kencang dari belakang Velix, bersiap menghantamnya dari belakang begitu bola menyentuh tanah.

Dalam situasi normal, anak usia 14 tahun akan mencoba menahan bola dengan dada yang berisiko memantul jauh, atau membiarkannya lepas. Namun, memori otot Sentuhan Pertama Sutra milik sang penyihir Bulgaria, Dimitar Berbatov, mengambil alih tubuh Velix.

Velix tetap tenang. Dia tidak melompat. Dia hanya mengangkat kaki kanannya sedikit ke udara, menjemput bola yang jatuh dengan sudut kemiringan sepatu yang sangat presisi. Tepat saat bola menyentuh permukaan sepatunya, Velix menarik kakinya ke bawah dalam hitungan milidetik, menyerap seluruh momentum dan gaya gravitasi bola.

Plop.

Bola yang berputar liar itu mendadak mati. Tidak memantul satu senti pun dari ujung sepatu Velix. Bola itu jatuh seolah-olah mendarat di atas bantal sutra yang empuk, tetap lengket di bawah kendali kakinya.

Gerakan itu begitu elegan, begitu halus, dan begitu tidak masuk akal untuk ukuran lapangan sekolah negeri yang berdebu di Jakarta.

Dua bek Tim B yang tadinya berlari kencang untuk menubruk Velix langsung mengerem mendadak. Mereka terpaku di tempat, melongo menatap bola yang terdiam manis di kaki Velix.

"Bagaimana bisa..." Bagas di kejauhan sampai mengucek matanya tidak percaya.

Pak Joko di pinggir lapangan bahkan menjatuhkan pulpennya ke tanah. Menahan bola lambung dengan teknik dead-ball control sehalus itu adalah keahlian yang bahkan jarang dimiliki oleh pemain profesional di Liga Indonesia saat ini.

Velix tidak memedulikan keterkejutan orang-orang. Mode fokusnya mendikte bahwa ini adalah momentum terbaik untuk menghabisi pertahanan lawan yang sedang goyah.

Sebelum dua bek lawan sempat memulihkan kesadaran mereka, Velix menggunakan bagian luar kaki kanannya untuk mendorong bola ke depan, melewati sela-sela tubuh mereka yang kaku. Dengan satu akselerasi pendek, Velix lolos dari kepungan.

Dia kini berhadapan langsung dengan garis pertahanan terakhir Tim B. Striker utama Tim A sudah berlari membuka ruang di sisi kiri.

Menggunakan ketenangan seorang pria dewasa, Velix melakukan gerakan tipuan mata (no-look pass). Wajahnya menatap ke arah striker di sisi kiri, memancing kiper dan bek lawan untuk bergeser mengantisipasi umpan. Namun, pergelangan kaki kanan Velix justru menendang bola dengan pelan ke sudut kanan bawah gawang yang kosong.

Sret.

Bola bergulir syahdu, mencium tiang gawang bagian dalam sebelum akhirnya bersarang ke dalam jaring.

Gol yang sangat dingin. Efisien, tanpa tenaga berlebih, namun mematikan.

[Statistik Diperbarui:]

[Teknik - Kontrol Bola (Ball Control): 35.6 -> 38.2 / 100]

[Tingkat Sinkronisasi Skill "Sentuhan Pertama Sutra": 5% -> 8%]

Peluit Pak Joko berbunyi panjang, bukan hanya tanda gol, melainkan tanda berakhirnya seluruh sesi seleksi sore itu. Beliau tidak perlu melihat lebih lama lagi. Slot gelandang serang utama tim sekolah sudah menemukan pemilik mutlaknya.

Velix mengembuskan napas panjang, merilekskan otot-ototnya saat Sistem menonaktifkan skill. Sisi antusiasnya berteriak kegirangan di dalam hati. 'Luar biasa! Jadi begini rasanya menggunakan skill pemain kelas dunia? Tubuhku yang ampas ini bisa melakukan hal magis seperti tadi!'

Saat Velix berjalan ke pinggir lapangan untuk mengambil tasnya, Pak Joko menghampirinya. Wajah guru berkumis itu tampak sangat serius.

"Velix," panggil Pak Joko tegas.

"Iya, Pak?" Velix kembali ke sifat hangatnya, menatap sang guru dengan sopan.

Pak Joko menepuk kedua pundak Velix dengan keras. "Bapak tidak tahu apa yang kamu lakukan selama seminggu ini sampai bisa sehebat ini. Tapi mulai besok, kamu resmi jadi jenderal lapangan tengah tim sekolah kita untuk turnamen antar-kecamatan. Jangan mengecewakan Bapak."

Velix tersenyum lebar dan mengangguk mantap. "Siap, Pak. Saya tidak akan mengecewakan Bapak."

Di sudut pandangnya, layar Sistem kembali berkedip, menampilkan hitungan mundur menuju turnamen resmi pertamanya di tahun 2014. Langkah kecil di Jakarta Timur ini adalah awal dari cetak biru yang akan membawanya terbang tinggi menuju benua Eropa.

1
Alia Chans
lanjut🌹✍️🤭
Wawan
Salam kenal buat Velix✍️
aldo
seru sekali 🙏🙏🙏🙏
aldo
ayo lanjut author 🙏🙏🙏🙏
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏
NoxVeil
Ayok like dan komen guys biar tambah smngt up nya💪😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!