Duan Melahirkan di usia 16 tahun, selama 7 tahun ini ia selalu percaya jika putra yang ia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa malah meninggal di hari kelahirannya, namun siapa yang menyangka saat dirinya kembali ke ibu kota muncul seorang bocah laki laki yang sangat menyebalkan namun Yan Fei merasa dirinya tak bisa membiarkan bocah itu jauh darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auliya Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalinya Nona Ketiga
Kembalinya Nona Ketiga
Di sudut jalan tidak jauh dari gerbang megah kediaman keluarga Duan, sekelompok wanita bangsawan sedang berdiri mengobrol santai sambil melirik sesekali ke arah pintu gerbang yang dijaga ketat oleh pengawal berseragam rapi. Suara percakapan mereka terdengar samar namun cukup jelas untuk didengar oleh siapa saja yang lewat di dekat situ.
“Ku dengar Nona Ketiga sudah kembali ke ibu kota beberapa hari ini. Sungguh tak menyangka, setelah bertahun-tahun menghilang, wajah dan parasnya masih terlihat begitu memikat dan mempesona,” ujar salah seorang wanita dengan nada kagum yang bercampur rasa penasaran.
Memang, di seluruh penjuru ibu kota, siapa yang tidak mengenal nama Nona Ketiga dari keluarga Duan? Selama ini, dia selalu dikenal oleh masyarakat luas sebagai gadis yang lincah, sedikit nakal, dan sangat manja. Namun di balik sifatnya yang terkadang sulit diatur itu, ada satu hal yang tak pernah bisa dibantah oleh siapa pun: kecantikannya yang luar biasa. Sejak masih berusia belasan tahun, namanya sudah sering disebut-sebut di antara para pemuda dan keluarga bangsawan, bukan hanya karena kedudukan keluarga yang tinggi, melainkan juga karena rupa dan keanggunan yang alami.
“Huuh, lagi pula siapa yang bisa menyalahkan sifatnya yang demikian?” sahut wanita lain sambil menghela napas pelan. “Dia terlahir dalam keluarga yang sangat baik. Ayah dan ibunya mencintainya sepenuh hati, kakak-kakaknya pun selalu memanjakannya. Bisa dibilang, kehidupan Nona Ketiga ini nyaris sempurna, tidak ada yang kurang. Namun sayang sekali, seolah takdir ini tidak menyukai kebahagiaan yang terlihat begitu lengkap itu.”
Benar adanya. Kebahagiaan yang tampak begitu utuh itu harus terganggu ketika sebuah penyakit aneh datang menyerang gadis muda itu tanpa peringatan. Penyakit itu membuat keceriaan yang selalu menyertai Nona Ketiga keluarga Duan perlahan memudar, hingga akhirnya dia harus meninggalkan ibu kota dan menghilang dari pandangan masyarakat selama hampir tujuh tahun lamanya.
Selama tujuh tahun itu, banyak yang mulai melupakan wajahnya, namun nama dan kisahnya tetap menjadi topik pembicaraan sesekali. Kini, gadis kecil yang dulu lincah dan tak bisa diam itu telah tumbuh berkembang menjadi wanita dewasa yang matang. Waktunya terus berjalan tanpa terasa, dan sejak hari kepergiannya tujuh tahun silam, usianya kini telah menginjak angka hampir dua puluh dua tahun.
“Ku dengar kabar bahwa penyakit yang dideritanya itu sangat unik dan jarang ditemukan,” lanjut wanita ketiga dalam kelompok itu dengan suara yang sedikit diturunkan. “Bahkan tabib-tabib istana awalnya bingung mencari cara penyembuhannya. Hingga akhirnya, dia harus dibawa jauh ke dalam Lembah Obat, tempat yang terkenal dengan tanaman obat langka dan udara yang sejuk, serta ditangani langsung oleh Sang Tabib Raja Obat sendiri, orang yang paling dihormati dan diakui keahliannya di seluruh negeri.”
Mendengar hal itu, ketiga wanita itu pun menggelengkan kepala perlahan seolah turut merasakan kesedihan yang menimpa keluarga tersebut. Semua orang tahu betul bahwa keluarga Duan adalah keluarga terhormat yang dikenal sangat baik hati, ramah, dan dermawan kepada rakyat kecil maupun sesama bangsawan. Namun seolah kebaikan itu justru membuat dewa merasa iri, sehingga musibah yang tak terduga datang menghampiri mereka tanpa ampun.
“Keluarga Duan ini sungguh sangat malang,” ujar salah satu dari mereka dengan nada penuh rasa iba. “Selama beberapa generasi terakhir, mereka selalu mengalami kesulitan yang sama: sangat sulit mendapatkan keturunan perempuan. Anak laki-laki memang banyak, namun kehadiran putri selalu menjadi anugerah yang jarang mereka dapatkan.”
Kisah sulitnya memiliki putri ini memang sudah menjadi pengetahuan umum di kalangan keluarga bangsawan. Pada generasi pertama keluarga Duan, hanya terlahir satu orang putri saja dari seluruh cabang keluarga besar. Memasuki generasi kedua, nasib mereka belum berubah, kembali hanya lahir satu putri yang menjadi kebanggaan semua orang. Hal yang sama pun terulang pada generasi ketiga, di mana kembali hanya ada satu gadis yang hadir melengkapi rumah tangga mereka.
Untungnya, ketika tiba pada generasi keempat, keadaan akhirnya berubah menjadi lebih baik. Pada masa ini, keluarga Duan dikaruniai enam orang putri. Tuan Pertama, Tuan Ketiga, dan Tuan Kelima masing-masing memiliki seorang putri, sedangkan Tuan Kedua dan Tuan Keempat hanya dikaruniai anak laki-laki saja.
Di masa itu, kedudukan anak laki-laki memang dianggap lebih tinggi dan diutamakan dalam hal pewarisan serta urusan keluarga. Namun, bagaimanapun juga, memiliki sebuah rumah besar yang dihuni banyak orang namun tidak ada seorang gadis pun yang bisa dimanjakan, disayang, dan menjadi penyejuk suasana, pasti akan terasa sangat sepi dan hambar. Oleh sebab itu, generasi ini dianggap cukup beruntung, meski kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Dari enam putri yang ada, putri pertama dan putri kedua telah menikah pada usia muda dan dibawa pergi oleh suami mereka ke wilayah kekuasaan masing-masing, sehingga jarang kembali ke ibu kota. Lalu tinggallah putri ketiga, yang justru jatuh sakit parah dan harus pergi meninggalkan rumahnya selama bertahun-tahun. Sedangkan putri keempat, kelima, dan keenam masih sangat muda, bahkan dua di antaranya baru lahir tak lama setelah kepergian Nona Ketiga, sehingga belum bisa mengisi kekosongan yang ditinggalkannya.
“Memang benar, seolah dewa selalu merasa iri melihat kebahagiaan orang baik,” ujar wanita yang pertama kali berbicara tadi.
“Namun setelah bertahun-tahun menunggu, akhirnya beberapa putri kembali lahir di tengah keluarga ini. Setelah melalui kesulitan turun-temurun, akhirnya keluarga Duan tidak lagi kekurangan kehadiran anak perempuan yang menjadi kebanggaan.”
Setelah puas mengobrol dan membicarakan kabar yang sedang hangat itu, kerumunan kecil itu pun perlahan membubarkan diri. Masing-masing melangkah pergi melanjutkan urusan mereka masing-masing, meninggalkan gerbang megah kediaman keluarga Duan yang segera kembali diselimuti keheningan yang tenang, seolah menunggu untuk menyambut sang putri yang telah lama dinanti pulang.
Namun di balik pembicaraan yang penuh rasa iba itu, ada juga yang menyimpan rasa penasaran yang tak tersampaikan. Selama tujuh tahun kepergiannya, banyak spekulasi bermunculan—ada yang menduga penyakitnya akan meninggalkan bekas pada wajah atau tubuhnya, ada pula yang beranggapan masa pengobatan yang panjang akan mengubah sifatnya yang dulu lincah menjadi pendiam dan tertutup. Tak ada yang tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi selama ia tinggal jauh di Lembah Obat, tempat yang jarang dikunjungi orang luar dan menyimpan banyak rahasia alam.
Meskipun begitu, harapan keluarga Duan tetap menjadi andalan semua orang. Selama bertahun-tahun, ayah dan ibunya selalu mengirimkan utusan untuk menanyakan kabar, dan setiap kali menerima kabar bahwa kondisi putrinya perlahan membaik, hati mereka terasa terangkat kembali. Kini, saat hari kepulangan itu tiba, suasana di dalam kediaman terasa sangat berbeda. Para pelayan sibuk membersihkan setiap sudut ruangan, menata taman dengan bunga-bunga kesukaannya, dan menyiapkan segala kebutuhan agar sang putri merasa betah seolah tak pernah pergi.
Bagi keluarga Duan, kehadiran Nona Ketiga kembali bukan sekadar kembalinya seorang putri, melainkan kembalinya kehangatan yang sempat hilang selama tujuh tahun panjang. Meski usianya sudah menginjak dewasa dan banyak hal telah berubah di ibu kota, mereka yakin gadis itu tetap membawa cahaya yang sama seperti dulu—cahaya yang selama ini mereka rindukan.