NovelToon NovelToon
The Duchess Of Silent Tears

The Duchess Of Silent Tears

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11

Elara mengenali sosoknya instan. Bukan hanya karena jubah komandan berbulu serigala yang ia kenakan, tapi dari cara dia bergerak.

Kaelen sedang berduel pedang dengan dua prajurit sekaligus. Gerakannya bukanlah tarian indah seperti yang sering dipertontonkan para ksatria di turnamen ibu kota. Gerakannya brutal, efisien, dan menakutkan. Tidak ada gerakan sia-sia.

Trang!

Pedang Kaelen menangkis serangan dari kiri, lalu dengan gerakan memutar tubuh yang cepat, kakinya menyapu kaki lawan di sebelah kanan hingga jatuh berdebam ke tanah keras. Sebelum lawan pertama sempat memulihkan keseimbangan, ujung pedang tumpul Kaelen sudah berhenti satu inci di depan lehernya.

"Mati," suara Kaelen menggema di halaman itu, tajam dan dingin, terdengar jelas bahkan dari jarak tempat Elara berdiri.

"Kau ragu, Letnan," tegur Kaelen sambil menarik pedangnya. Ia tidak terlihat lelah. Napasnya bahkan tidak terdengar berat. "Di medan perang, keraguan adalah undangan bagi kematian. Musuhmu tidak akan menunggu kau membetulkan kuda-kuda."

Prajurit itu bangkit dan memberi hormat dengan wajah pucat. "Siap, Jenderal!"

Elara mencengkeram pagar balkon batu dengan tangan kirinya. Ia melihat sisi lain dari suaminya. Di sini, di tengah kekerasan dan disiplin besi, Kaelen tampak... tenang. Tidak ada kegelisahan seperti di mimpi buruknya. Di sini, dia memegang kendali penuh. Kekerasan adalah bahasa yang ia fasih, dunia yang ia mengerti.

Tiba-tiba, seolah merasakan tatapan yang membakar punggungnya, Kaelen mendongak.

Matanya yang tajam menembus jarak, langsung terkunci pada sosok Elara di balkon atas.

Elara tersentak. Jarak mereka jauh, tapi ia bisa merasakan intensitas tatapan itu. Prajurit lain mulai mengikuti arah pandang jenderal mereka, mendongak melihat Duchess baru yang berdiri seperti patung di atas sana, rambut cokelatnya berkibar tertiup angin.

Elara tidak mundur. Ia tidak lari. Ia balas menatap suaminya. Ia ingin Kaelen tahu bahwa ia tidak bersembunyi di kamar menangisi nasib.

Kaelen menatapnya selama dua detik—dua detik yang terasa seperti selamanya. Tidak ada senyum, tidak ada lambaian tangan. Wajahnya datar. Lalu, ia memutus kontak mata itu dengan acuh tak acuh, berbalik kembali kepada pasukannya.

"Ganti pasangan! Serang aku lagi!" teriaknya.

Elara menghela napas panjang, uap putih keluar dari bibirnya. Ia merasa kecil, namun juga anehnya merasa diakui. Kaelen melihatnya, dan tidak mengusirnya.

Rasa nyeri di pergelangan tangannya kembali menyengat, mengingatkannya bahwa ia butuh obat. Ia tidak mungkin meminta ke dapur dan menghadapi Martha lagi dalam kondisi seperti ini.

Elara memutuskan untuk kembali ke kamarnya yang baru, Kamar Biru.

Saat ia masuk ke kamar itu, ia terkejut dengan kemewahannya yang suram. Dindingnya dilapisi sutra biru tua, perabotan kayu mahoni yang kokoh, dan tempat tidur empat tiang yang besar dengan seprai linen bersih. Perapian menyala hangat, mengusir dingin sepenuhnya.

Namun, bukan kemewahan itu yang menarik perhatian Elara.

Di atas meja rias, di samping sisir dan cermin yang telah disiapkan pelayan, terdapat sebuah benda kecil yang sebelumnya tidak ada di sana.

Sebuah toples kaca kecil berwarna hijau gelap. Tidak ada label. Tidak ada pita.

Elara berjalan mendekat. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Ia mengambil toples itu. Berat dan dingin. Ia membuka tutupnya. Aroma herbal yang kuat—mint, arnica, dan sesuatu yang pedas seperti cengkeh—langsung menyeruak keluar.

Ini salep obat memar. Jenis yang mahal, biasanya digunakan oleh para perwira tinggi untuk mengobati cedera latihan agar cepat pulih.

Tidak ada surat. Tidak ada pesan maaf. Kaelen Draxos bukanlah pria yang menulis puisi permohonan maaf. Dia adalah pria yang bertindak.

Elara duduk di tepi tempat tidur. Dengan hati-hati, ia mencolek salep itu dengan jari telunjuk kirinya. Warnanya hijau pekat, teksturnya licin dan dingin.

Perlahan, ia mengoleskan salep itu ke pergelangan tangan kanannya yang lebam.

Sensasinya instan. Rasa dingin dari salep itu meresap ke dalam kulit, mematikan rasa nyeri yang berdenyut, digantikan oleh rasa hangat yang menenangkan. Elara memejamkan mata, menikmati kelegaan itu.

Dia tahu Kaelen yang meletakkannya di sana. Atau setidaknya, Kaelen yang memerintahkannya. Pria itu pasti melihat lebam itu semalam, atau mungkin saat ia mencengkeramnya.

Ini bukan permintaan maaf, batin Elara mengingatkan dirinya sendiri. Jangan tertipu. Ini hanya rasa bersalah. Kaelen memberinya salep ini agar dia tidak perlu merasa bersalah setiap kali melihat tangan istrinya. Ini untuk kenyamanan batinnya sendiri, bukan untuk Elara.

Namun, saat Elara selesai membalut pergelangan tangannya dengan perban tipis yang juga tersedia di meja itu, ia tidak bisa menahan perasaan aneh yang tumbuh di dadanya.

Suaminya mematahkan, tapi suaminya juga yang memberi obat.

Hubungan macam apa yang menunggunya di depan? Hubungan yang dibangun di atas siklus rasa sakit dan penyembuhan diam-diam?

Elara menatap toples hijau itu. Ia menutupnya rapat-rapat dan meletakkannya kembali di meja.

"Terima kasih," bisiknya pada ruangan kosong itu, suaranya mengandung nada ironi yang pahit.

Malam itu, saat makan malam tiba, Kaelen tidak datang. Silas memberitahu bahwa Duke makan di barak bersama para perwiranya. Elara makan sendirian di meja makan panjang yang mampu menampung tiga puluh orang. Ia duduk di ujung, dikelilingi kursi-kursi kosong yang menatapnya seperti hantu.

Namun malam itu, Elara tidak merasa terlalu kedinginan. Pergelangan tangannya terasa hangat oleh obat, dan di balik kesendiriannya, ia mulai memahami pola permainan di kastil ini.

Kaelen Draxos adalah benteng batu yang kokoh. Jika Elara ingin menembusnya, ia tidak bisa menggunakan palu godam. Ia harus menjadi seperti air—sabar, persisten, mencari celah sekecil apa pun, dan perlahan-lahan mengikis pertahanannya dari dalam.

Dan celah pertama itu... adalah mimpi buruk tentang wanita bernama Lyra.

Elara menyendok supnya dengan tangan kiri, matanya menatap tajam ke lilin yang menyala di tengah meja.

"Aku akan menemukan siapa kau, Lyra," gumamnya dalam hati. "Dan aku akan mencari tahu mengapa kau masih menghantui suamiku."

Di luar, angin utara kembali melolong, membawa salju baru yang menimbun rahasia Blackiron semakin dalam. Tapi di dalam, Elara Vane mulai berhenti sekadar bertahan hidup, dan mulai merencanakan langkah pertamanya.

1
Yuu Li
semoga bahagia lady
Roaffi Jj
mantap ceritanya
Lamia Dante
ceritanya menarik
kiu kiu
good...pasangan yg cocok.klu bisa saling bekerjasama mencairkan suasana di kastil yg sedingin salju itu.elara apa dia tk tertarik bermain pedang...dilihat dari sikapnya dia wanita yg tangguh.mampu menembus pertahanan duke draxos.semangat ya thor...lanjutkan...
Jake King
semangat lady
Irzad
go ladyyy
ikyar
mohon dukungannya terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!