NovelToon NovelToon
CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Single Mom
Popularitas:30.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.

Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.

Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13

Ananda terpaku di tempatnya berdiri, kakinya terasa seolah tertanam kuat ke lantai keramik kontrakan yang dingin. Jantungnya berpacu liar memikirkan berbagai kemungkinan buruk.

Melihat keheningan yang aneh di antara putrinya dan sang tamu, Bu Mila mencoba memecah kecanggungan dengan senyum tulusnya. "Wah, kebetulan sekali kita sedang bersiap untuk makan malam. Apakah Tuan bersedia makan malam bersama kami yang sederhana ini? Pasti Tuan ini teman kerjanya Nanda, ya?"

Elvano ikut mendongak, matanya berbinar menatap Tristan. "Nenek masak sop buntut loh, Om Tampan! Itu makanan kesukaanku!" ucap El riang sambil berlari kecil dan memeluk manja pinggang ibunya.

Deg!

Tristan kembali dikejutkan oleh ucapan bocah laki-laki di hadapannya. Sop buntut? Dada Tristan berdesir aneh karena sedari kecil hingga sedewasa ini, sop buntut adalah makanan nomor satu yang paling ia sukai di dunia. Kebetulan macam apa ini? Tristan tidak bisa banyak bicara, lidahnya mendadak kelu, namun sorot matanya terus menatap lurus ke arah Elvano dan Ananda secara bergantian.

Menyadari situasi yang kian berbahaya, Ananda buru-buru menguasai emosinya. Ia mengusap bahu putranya. "Ibu... El, kalian lebih baik ke meja makan duluan, ya. Nanti Nanda menyusul. Nanda mau bicara sebentar dengan... atasan Nanda."

Bu Mila mengangguk paham lalu menuntun tangan Elvano menuju dapur. Setelah ibu dan anaknya benar-benar menghilang di balik sekat ruangan, Ananda langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia meremas daster yang dikenakannya, masih tidak percaya bagaimana bisa Tristan melacak keberadaannya sampai ke sini.

"M...maaf sekali, Tuan," ucap Ananda, suaranya bergetar namun berusaha ia tekan sekuat tenaga. "Apa yang membawa Anda datang ke sini? Rumah ini sama sekali tidak cocok untuk orang terhormat seperti Anda. Rumah ini terlalu kumuh."

Perkataan sinis dari Ananda barusan seketika menampar kesadaran Tristan. Kalimat "rumah ini terlalu kumuh" langsung mengingatkan Tristan pada tabiat buruknya di masa lalu yang selalu memandang rendah orang-orang dari kelas bawah, termasuk saat ia merundung si itik buruk rupa. Kenapa... kenapa memori kelam itu terus saja berputar di dalam otaknya sejak ia menginjakkan kaki di rumah ini?

Tristan menghembuskan napas berat, mencoba meredam gejolak rasa bersalah dan amarah di dadanya. Pria itu meraba kantong jasnya, lalu mengeluarkan sebuah ponsel dengan casing pastel dari balik sakunya.

Ananda mendongak dan matanya membelalak terkejut.

"Tadi kau tidak sengaja menjatuhkan ponselmu di jok belakang mobilku," ujar Tristan, suaranya terdengar berat dan datar. "Ya sudah, karena searah, aku antar sendiri ponselmu ini."

Mendengar alasan itu, Ananda sedikit lega. Ia melangkah mendekat untuk meraih benda miliknya. "Terima kasih, Tuan. Biar saya ambil..."

Namun, baru saja jemari Ananda menyentuh permukaan ponselnya, dengan gerakan kilat yang tidak terduga, tangan kiri Tristan terulur menyergap pinggang Ananda. Pria itu menarik tubuh Ananda dengan satu hentakan kuat hingga wanita itu terhuyung dan jatuh tepat ke dalam pelukan dada bidangnya.

Ananda terengah, menahan napasnya yang memburu. Jarak mereka begitu dekat hingga napas hangat Tristan menerpa wajah polosnya. Tristan menatap lekat-lekat ke dalam bola mata Ananda yang teduh, indah, namun menyiratkan luka yang mendalam, sebuah tatapan yang sama persis dengan bola mata gadis cupu yang selalu menghantui mimpinya.

"Itik... Kau si itik buruk rupa ku yang dulu, kan? Katakan sejujurnya padaku!" bisik Tristan dengan nada menuntut sekaligus penuh harap.

Deg!

Jantung Ananda serasa tercekat, namun amarahnya jauh lebih besar. Dengan sekuat tenaga, ia mendorong dada Tristan dan berusaha melepaskan tubuhnya dari kungkungan lengan kekar pria itu.

"Lepaskan saya, Tuan! Anda jangan bersikap kurang ajar!" bentak Ananda setengah berbisik, takut suaranya terdengar sampai ke dapur. "Nama saya Ananda Ayunindia, bukan si itik! Anda salah orang!" sanggah Ananda dengan kilatan mata penuh kebencian.

Tristan tertegun, perlahan mengendurkan cengkeramannya dan membiarkan Ananda menjauh darinya.

"Sebaiknya Tuan segera pergi dari sini. Seperti yang saya katakan tadi, rumah ini tidak cocok untuk pria seperti Anda!" tegas Ananda, menunjuk ke arah pintu keluar dengan jarinya yang gemetar.

Mendengar pengusiran yang begitu terang-terangan, keangkuhan Tristan sebagai seorang CEO Bratadikara Group mendadak terusik. Ia mendengus kesal, merapikan jasnya yang sedikit kusut.

"Cih, kau berani sekali mengusirku dari tempat ini? Kau tidak takut aku pecat besok pagi, hah?!" ancam Tristan dengan tatapan mengintimidasi.

Ditantang dengan ancaman pemecatan, Ananda justru menantang balik dengan senyuman pahit yang berani. "Jika Tuan ingin memecat saya hanya karena sikap saya yang lancang di rumah saya sendiri, silakan saja, Tuan! Saya tidak takut!"

Rahang Tristan mengeras, tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. "Kau... kau benar-benar wanita paling menyebalkan yang pernah kutemui! Sikapmu sangat berani dan barbar terhadap atasanmu sendiri!"

"Maaf, Tuan," potong Ananda, suaranya beralih menjadi dingin dan penuh penekanan. "Saya hanya tidak ingin terjadi fitnah di lingkungan ini. Dengan status saya yang sekarang, kehadiran Tuan malam-malam di rumah saya bisa menjadi bahan gunjingan para tetangga. Tolong hargai privasi saya. Dan ingat Tuan, di luar jam kerja, saya tidak harus mematuhi perintah apa pun dari Anda."

Mendengar rentetan kalimat tegas yang tidak menyisakan ruang untuk mendebat, Tristan akhirnya memilih mundur. Dengan perasaan yang campur aduk dan dipenuhi kekesalan, ia membalikkan tubuhnya dan melangkah lebar keluar dari rumah sewa tersebut, membanting pintu dengan cukup keras.

Namun, sepanjang perjalanannya kembali ke mobil, ego Tristan terusik oleh satu fakta aneh, entah kenapa ia tidak bisa marah sampai meledak-ledak ataupun benar-benar memecat Ananda atas kelancangannya. Di matanya, Ananda telah menjelma menjadi sosok wanita yang teramat menarik justru karena keberaniannya menentang kekuasaannya, sesuatu yang belum pernah berani dilakukan oleh wanita mana pun seumur hidupnya.

Sementara di dalam rumah, Ananda menyandarkan tubuhnya ke pintu yang baru saja tertutup. Sebelum ia sempat menghela napas lega, langkah kaki kecil kembali mendekat dari arah dapur.

Tristan telah pergi, namun menyisakan satu tanya yang belum sempat terjawab saat pria itu tiba-tiba menoleh di ambang pintu tadi sebelum melangkah keluar:

"Tunggu, Ananda... kenapa tadi kau menangis saat aku bertengkar dengan Bella?"

Pertanyaan itu kini menggantung di udara, membuat Ananda diam terpaku memikirkan seberapa dekat monster itu dari rahasia besarnya.

Ananda melangkah kembali ke area meja makan dengan perasaan yang masih campur aduk. Detak jantungnya berangsur normal, namun sisa ketegangan dari perseteruannya dengan Tristan masih membekas jelas di wajahnya. Melihat ibunya datang sendirian, Elvano langsung mendongak dari mangkuk sop buntutnya, celingak-celinguk menatap ke arah ruang tamu.

"Loh, Om Tampan ke mana, Mah?" tanya Elvano dengan wajah kecewa karena kehilangan teman mengobrol barunya yang tampan.

Ananda mencoba tersenyum, menyembunyikan badai emosi di dalam dadanya. Ia menarik kursi kayu di samping putrinya lalu mendudukkan diri. "Om Tampan sudah pergi, El. Katanya tadi tiba-tiba ada urusan mendadak yang harus diurus," ucapnya menenangkan sang putra sembari meraih centong, mengambil nasi, dan menaruhnya di atas piring.

Melihat sikap putrinya yang tampak terburu-buru dan sedikit tegang, Bu Mila yang sejak tadi memperhatikannya mulai merasa penasaran. Insting seorang ibu tidak bisa dibohongi, bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Ananda.

"Nanda... memangnya pria tadi itu siapa?" tanya Bu Mila pelan, tidak ingin membuat Elvano curiga.

Ananda sempat tertegun sejenak sebelum menjawab dengan nada sedatar mungkin, seolah tak ingin membeberkan jati diri pria itu yang sebenarnya adalah ayah kandung dari Elvano. "Dia atasan Nanda di kantor, Bu. Tadi dia ke sini cuma mau mengembalikan ponsel Nanda yang sempat ketinggalan di mobilnya."

Bu Mila hanya mengangguk-angguk kecil, meski di dalam hatinya masih tersimpan tanda tanya besar mengapa seorang atasan rela bersusah payah mengantarkan ponsel seorang karyawan baru ke kawasan sekumuh ini.

*

*

Keesokan harinya, kecemasan menggelayuti pikiran Ananda. Sepanjang perjalanan menuju kantor, ia hanya bisa pasrah. Mengingat bagaimana beraninya ia menantang dan mengusir Tristan dari rumahnya semalam, Ananda sudah bersiap untuk kemungkinan terburuknya yakni dipecat hari ini juga. Sebagai langkah antisipasi, ia bahkan sudah merapikan kembali lembaran CV miliknya di dalam tas, siap untuk melamar ke perusahaan lain jika surat pemecatan itu benar-benar turun.

Setibanya di lobi kantor, langkah kaki Ananda terasa begitu berat. Rasa gugup perlahan merayapi dirinya saat ia bergegas melangkah menuju deretan lift.

Begitu pintu lift berdenting terbuka di lantai sepuluh, langkah Ananda langsung dihadang oleh sosok Kevin yang berjalan tergesa-gesa ke arahnya. Ananda menghentikan langkahnya, menarik napas dalam-dalam, dan memantapkan hatinya. Ia sudah pasrah jika detik ini juga Kevin akan menyampaikan kalimat pemecatan dari sang CEO.

"Selamat pagi, Nanda. Bagaimana suasana hatimu pagi ini?" tanya Kevin menyapa, wajahnya tampak segar seperti biasa.

Ananda tersenyum tipis, agak getir. "Selamat pagi, Pak Kevin. Sepertinya... suasana hati saya sedang kurang baik hari ini."

Kevin mengernyitkan dahi, menatapnya penuh perhatian. "Lho, kenapa? Kamu sakit?"

"Ah... tidak, Pak. Cuma lagi bad mood saja," jawab Ananda mengalihkan alasan.

Mendengar hal itu, Kevin terkekeh pelan lalu menepuk pundak Ananda sekilas untuk memberi semangat. "Yah, namanya juga hari kerja, pasti ada saja masanya. Tapi kamu harus tetap semangat, Nanda! Oh iya, tadi sebelum saya ke sini, Tuan Tristan sempat berpesan kepada saya untuk memberi tahu kamu agar segera menyiapkan dokumen-dokumen penting untuk pertemuan dengan klien besar kita dari Singapura."

Ananda tertegun, matanya membelalak kecil. "Dokumen pertemuan?"

"Iya," lanjut Kevin sambil merogoh saku jasnya dan menyerahkan selembar kartu nama restoran mewah. "Bukankah hari ini kau dan Tuan Tristan ada agenda pertemuan jamuan makan siang dengan mereka? Nanti siang kamu langsung datang ke alamat restoran ini, ya. Tuan Tristan akan langsung menunggumu di sana, karena pagi ini beliau tidak masuk ke kantor karena ada urusan lain."

Mendengar seluruh penjelasan dari Kevin, Ananda seketika terpaku. Setelah Kevin pamit untuk kembali ke ruangannya, Ananda perlahan mengangkat tangannya dan mengusap dadanya yang sempat terasa sesak sejak pagi.

Sebuah helaan napas lega yang panjang lolos dari bibirnya. Ia tidak dipecat. Rupanya ancaman Tristan semalam hanya gertakan belaka untuk menakut-nakutinya. Sambil melangkah menuju meja kerjanya dengan perasaan yang jauh lebih ringan, Ananda membatin,

'Rupanya pria menyebalkan itu masih tahu profesionalitas kerja. Setidaknya, posisiku di sini masih aman untuk saat ini

Bersambung...

1
Nar Sih
gak usah dgr kata orang nanda ,yg penting diri kita
Nar Sih
alhamdulilah sdh terungkap semua☺️
Lilis Ilham
ahirnya tercapai juga cinta pertama😍😍😍
Lilis Ilham
aku ada disini tuan Tristan😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Euis Tea
tetangga kepo, tukang ngerumpi ga ada kerjaan bgt
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: berarti gk dimana-mana ya kak, malah sekarang sudah trend bapak-bapak ikut jadi tukang gosip juga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
Ilfa Yarni
hahahaha terciduk kalian kasian kevin patah hati sebelum berkembang hahaha
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr 😘😘😘
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lanjut besok ya kak 😉
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh mulai dah pada julid, bilang aj iri sm Nanda ya ibu ibu
Teh Euis Tea
Nanda mirip ayu Ting Ting klu LG meluk Tristan 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: oalah, kok bisa 😊
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh lagi lagi si Bella biang keroknya, enaknya di gantung x ya biar kapok
Teh Euis Tea
ada rahasia apa si dre? jd penasaran ini
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya kak gpp, ikh selow aja sama aku mah 😉😊
total 3 replies
Nar Sih
semoga dgn kejujuran dan terbongkar nya mslh ini nanda bisa memaaf kan semua
Nar Sih
mkin pensaran dgn rahasia yg kau simpan andre
Nar Sih
semoga ini pertemuan yg akan membawa ananda dan putra nya bahagia
Dartihuti
Ciieee...yang udah dapat sama" buka diri aaa ...lega,ttp ti ati cr bukti gimana busuknya si Bello😄🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
Uba Muhammad Al-varo
nyonya Mutia dengarin tuh kata tuan Surya, nyari pasangan tuh yang tulus jangan dilihat dari hartanya tuh kaya Bela walaupun kaya tapi hatinya jahat dan busuk,ayo Tristan selidiki lebih lanjut Bela dan hasilnya kasih tahu nyonya Mutia biar tahu betapa jahatnya Bella
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 👍🏼😉
total 1 replies
Nar Sih
ahir nya kmu tau kan tristan saat nya kmu lebih berusaha agar nanda memaaf kan mu
Nar Sih
ayoo dree sgra kaaih tau kebnran nya pada tristan
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 😊
total 1 replies
Ilfa Yarni
waah Tristan sekarang udah terang2an bilang sayang sama Nanda eits hati2 Tristan jgn sampe keceplosan dikantor bilang sayang ya nanti kebongkar hubungan kalian sebelum wkt yg tepat selesaikan dulu urusan perusahaanmu yg kacau dan km jg hrs cari tau gmn kehidupan bella dan tingkah lakunya diluar sana agar nanti km menolaknya ada bukti klo bella itu ga pantas buat km tristan
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip Bunda
total 1 replies
Aghitsna Agis
aih padahal tristan pura2 duterima pertunana itu nah nanti bongkar semua kebusukan bella dan mungkin bella sydah sering gunti ganti pasang nanti pasang lsyar tancap disana dsn thor harus langsung up juga dirunggu mks
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: nanti ada saatnya si Bella di balas oleh Tristan ya kak 😉
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!