Tika, seorang wanita yang tumbuh ditengah keluarga yg tidak harmonis,sejak kecil,ia terbiasa hidup dlm kekurangan,menyaksikan Ibunya berjuang sendirian, sementara sang ayah lebih sibuk mengejar gengsi dari pada memperhatikan keluarga nya.
Demi bertahan Hidup&membantu sang Ibu,Tika bekerja sebagai penyanyi Cafe sambil menyelesaikan Pendidikan nya.
ditengah kerasnya kehidupan,hadir Dika,seorang Pria Mapan yg memberikan Perhatian&kehangatan yg selama ini ia tidak pernah rasakan,namun cinta mereka terhalang oleh kenyataan yg Rumit karena perbedaan Dunia serta status Dika yg telah memiliki keluarga.
saat hubungan mereka mulai retak,karena kesalahan pahaman dan luka yang tak kunjung sembuh,Andre,cinta pertama yg pernah meninggalkan nya kembali Hadir,dengan kesabaran dan ketulusan, andre berusaha perbaiki kesalahan masa lalu dan membuktikan bahwa cinta nya masih sama.
Antara luka,keluarga, penghianatan, harapan dan pilihan yang sulit, tika harus menentukan jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NATstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CINTA YANG PANTAS DIKENANG
Tanpa menunggu jawaban,Andre mengambil alih tubuhku dan membawaku keluar,Di ruang tamu yang kini sepi, Dika hanya bisa duduk terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan betapa menyakitkannya rasa kehilangan.
Cinta...Memang tidak pernah bisa berbohong.hati dika perang melawan rasa cemburu,takut kehilangan,tapi dia tak bisa berbuat banyak,ia duduk lemah menyesali perbuatannya.
saat itu di rumah,aku terbangun,
“mas dika?!”sapaku tapi ternyata,dihadapku bukan dia.andre tertunduk diam.
"Ada barang yang tertinggal,Waktu mau pulang, Mama bilang kamu keluar bawa mobil. Aku langsung tahu kamu pasti pergi menemui Dika, makanya aku menyusulmu."
Andre duduk di samping tempat tidur sambil menjelaskan semuanya dengan tenang,Aku menunduk. Perasaan bersalah kembali menghantam dadaku.
"Maafin aku ya, Ndre. Aku cuma mau mengembalikan mobil dan semua yang pernah Mas Dika berikan kepadaku."
Suaraku bergetar memeluk nya, andre membalas dengan hangat tanpa mengucap sepatah kata pun,Aku tahu ini tidak mudah,Melupakan seseorang yang pernah begitu berarti bukanlah perkara sederhana,Namun aku harus mencoba melewatinya.
Dika yang masih duduk terpaku di ruang tamu yang kini terasa begitu sunyi. Pintu yang tadi tertutup setelah Andre membawaku pulang seakan menjadi batas yang memisahkan masa lalu dan masa depan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan kehilangan yang benar-benar nyata.
Selama ini ia selalu berpikir bahwa aku akan tetap ada. Meski marah, meski terluka, meski menjauh, pada akhirnya aku akan kembali.
Namun malam itu ia sadar, tidak semua orang bisa menunggu selamanya.
Tangannya mengepal pelan. Berbagai kenangan berputar di kepalanya,Tentang tawa yang pernah kami bagi bersama.
Tentang pertengkaran yang sebenarnya bisa dihindari.
Tentang berbagai kesempatan yang ia sia-siakan karena terlalu sibuk mempertahankan ego,Dadanya terasa sesak,Andai waktu bisa diputar kembali, mungkin ada banyak hal yang ingin ia perbaiki.
Namun hidup tidak pernah berjalan mundur.
Hidup hanya memberi pilihan untuk menerima atau menyesal,Dan malam itu, Dika memilih menanggung seluruh penyesalannya seorang diri.
Perlahan aku mulai menyadari bahwa hidup harus terus berjalan,mungkin, sudah saatnya aku berhenti menoleh ke belakang.
Mas Dika telah memiliki kehidupannya sendiri.
Sedangkan aku...Harus mulai belajar melanjutkan hidupku tanpa dirinya.
_________________________________________________
Waktu berlalu,aku habiskan waktu ku dengan lebih banyak diam,ternyata melepaskan kenangan tidak semudah mengembalikan sebuah mobil atau barang-barang pemberian.
Ada bagian dari hati yang masih terasa kosong,Aku sering terbangun di tengah malam,Memikirkan semua yang pernah terjadi,
Memikirkan berbagai kemungkinan yang seharusnya tidak perlu kupikirkan lagi.
Namun setiap kali aku terjatuh dalam kenangan itu,Andre hadir dengan caranya sendiri.
Ia tidak pernah memaksaku untuk melupakan,Ia tidak pernah memintaku memilih antara masa lalu dan dirinya.
Ia hanya menemani,Kadang dengan secangkir kopi hangat,Kadang dengan pesan singkat yang berisi kalimat sederhana.
"Sudah makan?"
"Jangan lupa istirahat."
"Kalau sedih, telepon aku."
Kalimat-kalimat itu mungkin terdengar biasa,Namun bagiku yang sedang berusaha bangkit,akan terasa begitu berarti.
Hari-hari berlalu,Aku mulai kembali bekerja.
Mulai kembali tertawa,Mulai kembali menikmati hidup tanpa harus terus memikirkan luka yang pernah ada.
Suatu sore Andre mengajakku pergi ke pantai,Kami duduk di pasir sambil memandangi matahari yang perlahan tenggelam.
Langit berwarna jingga keemasan,Ombak datang silih berganti,Untuk beberapa saat kami hanya diam menikmati suasana.
"Tik..."
Aku menoleh.
"Hm?"
"Aku senang lihat kamu tersenyum lagi."
Aku tersenyum kecil.
"Terima kasih ya."
"Buat apa?"
"Karena nggak pernah ninggalin aku."
Andre tertawa pelan.
"Lagian mau ke mana?"
Aku ikut tertawa.
Sudah lama sekali rasanya aku tidak tertawa setulus itu,Saat itulah aku mulai menyadari sesuatu,Mungkin cinta tidak selalu datang dengan cara yang rumit.
Kadang cinta hadir lewat seseorang yang memilih tetap tinggal saat orang lain pergi,Seseorang yang tidak banyak menuntut,Tidak banyak mengeluh,Tapi selalu ada.
Andre berusaha mengembalikan senyum dan keceriaanku. Lewat perhatian-perhatian kecil, hadiah sederhana, ia berusaha membuatku bangkit dari keterpurukan.
Tanpa kusadari,sedikit demi sedikit, semua itu membuatku merasa lebih baik.
Malam tiba, aku duduk santai di halaman rumah,kulihat,ada mobil berhenti di depan pagar.
Aku terkejut melihat Andre turun dari mobil itu bersama kedua orang tuanya.
"Om? Tante?" sapaku heran,Mereka langsung menghampiriku dan memeluk hangat.
Aku sampai tidak percaya,Mengingat beberapa tahun lalu, mereka bahkan tidak pernah menyetujui hubunganku dengan Andre yang saat itu mereka menolak karena mengetahui ku bekerja di sebuah kafe.
Belum lagi reputasi Papa yang cukup dikenal sebagai sosok yang tidak bertanggung jawab terhadap keluarganya.
malam ini semuanya terasa berbeda,Mungkin banyak hal telah berubah,Andre yang kini sukses dan mandiri setelah berkarier di Belanda berhasil mengubah cara pandang kedua orang tuanya. Mereka tak lagi ingin mengatur seluruh pilihan hidup putra semata wayangnya.
"Apa kabar, Sayang? kamu cantik sekali😊," ujar Tante sambil tersenyum ramah.
Aku tersenyum gugup.
"Om, Tante, silakan duduk dulu ya.
Aku panggil Papa dan Mama,Setelah itu,ku tarik tangan Andre ke halaman samping rumah.
"Kok tiba-tiba kamu datang bawa Om dan Tante segala?" tanyaku penasaran.
Andre hanya tersenyum saja, pakaiannya terlihat sangat rapi dengan kemeja putih yang membuatnya tampak beda dari biasanya.
"Cuma silaturahmi kok," jawabnya santai.
"Lihat kan? Mereka nggak membenci kamu. Malah senang banget bisa ketemu kamu lagi."
Rasa penasaranku justru semakin besar,Aku yakin ada sesuatu yang sedang disembunyikannya.
Benar saja.
lama kemudian, Andre mengeluarkan sebuah kotak merah kecil dari saku celananya,Wajahnya yang tadi santai berubah serius,Ia meraih tangan kananku perlahan.
"Tika..."
Aku menahan napas.
"Mungkin ini terlalu cepat. Tapi aku berpikir, kalau bukan sekarang, lalu kapan lagi?"
Jantungku mulai berdebar,Andre membuka kotak itu,Sebuah cincin berlian berkilau indah di dalamnya,Tatapannya penuh harapan,Penuh ketulusan,dan sedikit kegugupan.
"Aku mencintaimu, Tik."
Suaranya bergetar.
"Maukah kamu menikah denganku?"
Aku langsung melangkah mundur.
"Ndre..."
"Tik, aku tahu kamu mungkin masih luka karena masa lalu kita. Aku tahu aku pernah membuatmu kecewa. Tapi maukah kamu memaafkanku?"
Aku menunduk.
"Bukan begitu, Ndre. Tapi ini terlalu cepat. Aku baru saja mengakhiri semuanya dengan Mas Dika. Aku takut... dan aku masih ingin sendiri."
Andre mendekat,Dengan lembut ia menyibakkan rambutku.
"Aku nggak akan pernah capek mendampingimu."
Tatapannya begitu meyakinkan,Aku menghela napas panjang.
"Ndre, bukan berarti aku nggak mau memberi kamu kesempatan. Tapi aku sadar aku punya banyak kekurangan. Kamu bisa menemukan perempuan yang jauh lebih baik dariku."
Andre menggeleng,Seolah semua kekuranganku tidak pernah menjadi masalah baginya.
"Kita semua punya masa lalu, Tik. Aku juga manusia biasa."
Lalu dengan lembut ia mencium keningku,Entah kenapa, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa tenang,Aku membalas pelukannya,Dan perlahan, cincin itu melingkar di jari manisku.
Aku sadar, semua orang memiliki masa lalu,Namun aku tidak bisa terus hidup di dalamnya,Hidup adalah pilihan,Tetap berjalan ke depan atau terus terjebak di belakang.
Dan malam itu, aku memutuskan untuk melangkah maju,Aku menerima lamaran Andre,Kami resmi memulai hubungan yang baru,dan syukurlah, kedua keluarga kami memberikan restu.
Beberapa bulan kemudian, tanggal dan tempat pernikahan akhirnya ditentukan,persiapan pernikahan dimulai,Aku dan Andre sibuk memilih gedung.Mengurus administrasi,Menentukan konsep acara,Memilih dekorasi,Mencoba gaun pengantin,Semua terasa melelahkan sekaligus menyenangkan.
Kadang kami berbeda pendapat,Kadang kami berdebat soal hal-hal kecil,Namun setiap kali itu terjadi, Andre selalu berhasil membuat suasana kembali mencair.
"Kita belum nikah aja udah debat begini."
Aku tertawa.
"Nanti kalau udah nikah gimana?"
Andre mengangkat bahu.
"Ya tetap debat. Bedanya sekarang halal."
Aku langsung memukul lengannya pelan,Dan kami tertawa bersama.
Meski begitu, di sela kebahagiaan itu, ada satu hal yang masih mengganjal di hatiku.
Mas Dika.
Bukan karena aku masih berharap,Melainkan karena aku merasa hubungan kami belum benar-benar selesai dengan baik.
Aku ingin semuanya berakhir tanpa kebencian,Tanpa dendam,Tanpa luka yang terus dibawa,Karena bagaimanapun juga, ia pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupku,
Dan ketika akhirnya aku bertemu dengannya di rumah Hilda,aku merasa Tuhan sedang memberiku kesempatan untuk menutup semua itu dengan cara yang baik.
"Bahagia ya."
Hanya itu yang ia katakan, saat ia melihat foto preewed ku bersama Andre pada sampul undangan.
kalimat sederhana itu terasa begitu berat.
Aku mengangguk sambil menahan air mata.
"Mas juga."jawabku Canggung.
"Ng... gue ke belakang dulu ya. Kalian ngobrol aja."
Hilda segera menghilang, memberi kami ruang untuk berbicara.
Untuk beberapa saat, hanya ada keheningan,Dika menundukkan kepala.
"Saya seperti orang bodoh karena nggak pernah bisa menemui kamu."
Aku terdiam.
"Maafkan saya. Selama ini nggak bisa mengendalikan emosi,Saya egois."ujar mas dika penuh penyesalan.
Dika membuka undangan itu,wajahnya seketika berubah pucat.
Aku menunduk.
"Andre melamar saya, Mas... dan—"
"Ssst..."
Dika menghentikan ucapanku,Ia tersenyum tipis.
"Apa yang dia lakukan sudah benar."
Aku menatapnya.
"Waktu kamu sakit, dia yang selalu ada untuk kamu. Dan saya yakin dia bisa menjaga kamu jauh lebih baik."
Aku minta maaf, Mas."balas ku tertunduk,Air mataku mulai jatuh."Aku sadar Mas Dika sudah punya keluarga,memang jalan terbaik untuk kita."
Tanpa pikir panjang Dika memelukku untuk terakhir kalinya,Pelukan yang penuh keikhlasan.
"Izinkan saya datang ke pernikahan kamu nanti."
Suaranya terdengar lirih.
"Saya ingin melihat kamu memakai gaun pengantin."
Saat itu aku tahu,Ada cinta yang tidak ditakdirkan untuk bersama,Tetapi tetap pantas dikenang dengan baik.
_________________________________________________
Hari pernikahanku tiba,Seluruh keluarga telah berkumpul,Prosesi akad nikah berjalan lancar,untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasakan kebahagiaan menjadi seorang pengantin,dan aku Resmi menjadi istri Andre Baskoro.
Sejak pagi rumah sudah ramai,Para keluarga berdatangan,Tawa dan obrolan memenuhi setiap sudut ruanga,Mama beberapa kali menangis haru.
Sedangkan Papa terlihat sibuk menyambut para tamu.
Saat mengenakan gaun pengantin dan melihat diriku di depan cermin, aku hampir tidak percaya.
Perjalanan hidupku tidak mudah,Ada begitu banyak luka,Begitu banyak air mata,Begitu banyak kegagalan,Namun Tuhan tetap membawaku sampai ke titik ini,Titik di mana aku akhirnya menemukan keberanian untuk memulai hidup baru.
akad nikah berlangsung, Andre menggenggam tanganku erat,Tatapannya penuh keyakinan,ijab kabul selesai diucapkan, seluruh ruangan bergemuruh oleh ucapan syukur,Aku menangis,Mama menangis.
Andre tampak berusaha menahan haru,Hari itu bukan sekadar pernikahan,Hari itu adalah awal dari perjalanan baru,Perjalanan yang akan kami tempuh bersama,Sebagai suami dan istri,Sebagai partner dalam menghadapi hidup.
Ketika melihat Dika datang memenuhi janjinya,hatiku kembali bergetar,Namun kali ini berbeda,Tidak ada lagi rasa ingin kembali,Tidak ada lagi keraguan,Yang ada hanyalah rasa terima kasih,karena tanpa semua yang pernah terjadi, mungkin aku tidak akan menjadi diriku yang sekarang.
Dika tersenyum.
Aku membalas senyumnya.
Dan Perpisahan itu tak terasa menyakitkan,karena kami sama-sama telah menerima kenyataan.
cinta tidak harus berakhir dengan kebersamaan,cinta hanya hadir untuk mengajarkan sesuatu,Lalu pergi ketika pelajarannya selesai.
Mobil pengantin perlahan bergerak meninggalkan lokasi acara,Aku menoleh ke luar jendela,Melihat langit yang begitu cerah,Lalu menggenggam tangan Andre erat.
aku tidak lagi melihat ke belakang,masa depanku ada di sampingku,Dan pertama kalinya setelah sekian lama, aku benar-benar merasa pulang.
"Jaga dia baik-baik, Ndre. Terima kasih untuk semuanya."
Andre mengangguk memeluknya,Mama yang berdiri di dekat kami ikut tersenyum.
"Kamu tetap bagian dari keluarga kami, Nak Dika."
"Terima kasih, Ma."
Dika menatapku untuk terakhir kalinya.
"Ng... saya pamit. Jam dua siang ini saya harus sudah tiba di bandara,sampai jumpa.
Ia tersenyum,Aku hanya mampu membalas senyumnya.
"Selamat tinggal mas dika, semoga suatu hari nanti kamu juga menemukan kebahagiaan bersama keluargamu."ujarku dalam hati.
Kini Dika kembali pada kehidupannya bersama istri dan anak-anaknya.
Sedangkan aku...Memulai lembaran baru sebagai seorang istri,Dengan harapan baru Dan masa depan yang kupilih sendiri.
🙂 tak terasa setelah Beberapa bulan pernikahan, kehidupanku bersama Andre berjalan jauh lebih tenang,Ada hari-hari ketika kami berbeda pendapat,Namun setiap kali masalah datang, kami belajar untuk saling mendengarkan, bukan saling menyalahkan.
Aku mulai paham, bahwa pernikahan bukan tentang menemukan pasangan yang sempurna,Melainkan tentang dua orang yang sama-sama bertumbuh memperbaiki diri setiap hari.
malam itu, kami duduk di teras rumah,aku memandangi langit yang dipenuhi bintang.
"Kalau bisa mengulang waktu, apa kamu akan mengubah sesuatu?" tanya Andre tiba-tiba.
Aku terdiam sejenak lalu tersenyum.
"Dulu mungkin iya. Tapi sekarang tidak."
"Kenapa?"
Karena aku sadar, semua luka, kesalahan, pertemuan, dan perpisahan yang pernah terjadi sudah membawaku sampai ke titik ini,aku belajar memaafkan,Belajar Ikhlas,belajar mencintai dengan cara yang lebih dewasa.
Andre mengusap rambutku,lalu Aku sandarkan kepala ku di bahunya.
END __