Mantan agen rahasia dari sektor 7 kini kembali setelah masa tugasnya delapan tahun selesai.... Faas laki-laki pendiam yang selalu di anggap keluarganya adalah aib karena sifat pendiam nya membuat keluarga membuang Faas ke Amerika dengan dalih untuk meneruskan pendidikannya di sana, namun bertahun-tahun lamanya, menurut keluarnya ,Faas tetaplah laki-laki pendiam yang tidak bisa berbuat apa-apa,selain menghabiskan uang keluarganya, padahal di balik pendiam nya Faas , ada rahasia tersembunyi yang tidak ada satu keluarga nya yang tahu .
_
_
_
Bismillahirrahmanirrahim....
Assalamualaikum...
bertemu lagi dengan author yang suka-suka...
yuk ikuti kisahnya ... , ini kelanjutan cerita tentang Faas sebagai rekan sektor 7 shadow Midi.
semoga sukaaaaa
dan selamat membaca.... yang tidak suka tinggal skip, dan untuk yang mau mengikuti cerita ini, mohon dukungannya ya, 🥰🥰🥰🥰 terimakasih 🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Faas menegakkan punggung tegapnya, menatap lurus ke arah Husen.
"Papa, Ibu," panggil Faas, suaranya berat, tenang, dan bergaung penuh ketegasan yang mutlak. "Hari ini saya ingin meminta restu. Dalam waktu dekat, saya akan melamar seorang gadis untuk menjadi istri saya."
Hening sejenak.
Bffft
"Hahaha!"
Detik berikutnya, tawa Gavin dan Jenita pecah begitu saja. Gavin tersedak jus jeruknya, memegangi perutnya sembari menggeleng-gelengkan kepala dengan pandangan yang luar biasa meremehkan.
"Melamar? Kak Faas mau melamar anak orang?" Gavin terbahak-bahak, meletakkan garpunya dengan kasar. "Gak salah dengar nih? Kak, modalmu apa buat nikah, hah? Kemarin malam aja ditawari posisi formalitas di Abrari Group malah sok-sokan nolak. Sekarang tiba-tiba mau melamar gadis? Kamu mau kasih makan apa anak orang nanti? .... Batu?! Hahaha"
Jenita ikut tertawa melengking, wajahnya yang kemarin malam dibuat frustrasi oleh Eliza di toilet kini menemukan pelampiasan humor yang menyenangkan. "Aduh, sumpah, ini lelucon pagi yang paling lucu! Kak Faas, perempuan bodoh mana yang mau kamu lamar? Jangan-jangan dia perempuan udik yang silau cuma karena lihat tampang Arab-mu aja ya? Kasihan banget sih, belum tahu aja kalau calon suaminya ini pengangguran yang sebentar lagi bakal dicoret dari silsilah keluarga!"
Jihan ikut tersenyum sinis, melirik Diana dengan pandangan menjatuhkan. "Faas, pernikahan itu butuh materi, bukan cuma modal tampang , atau nekat bawa nama besar Papa. Jangan sampai nanti kamu malah merepotkan Papa setelah menikah karena tidak punya penghasilan tetap..., laki-laki itu harus punya penghasilan agar harga dirinya tidak di injak-injak..., ."
"iya....kalau baru nikah mah iya, lihat wajah tampan kakak saja udah kenyang....tapi masa tiap hari cuman makan wajah saja, wanita itu butuh perawatan, kalau cuman makan mah nasi sama garam saja bisa masuk, " celetuk Jenita tertawa.
"Pasti gadis itu hanya melihat keluarga kita saja, mana ada gadis yang mau menikah dengan laki-laki pengangguran yang hanya modal tampang "timpal Gavin Melirik sinis kakaknya.
Mendengar rentetan ejekan dan tawa yang menggema di ruang makan, Husen tidak ikut tertawa. Ia justru menurunkan tabletnya, lalu melemparkan tatapan mata yang sangat tajam dan menghunus langsung ke arah putra sulungnya. Dahi Husen berkerut dalam, memancarkan aura dominasi seorang kepala keluarga yang tidak suka dilangkahi.
"Siapa gadis itu?" tanya Husen, suaranya dingin dan menuntut. "Dari keluarga mana dia? Pengusaha? Atau anak rekan bisnis Papa?"
Faas menatap balik mata ayahnya tanpa ada rasa gentar sedikit pun. Di dalam kepalanya, ia sengaja menyimpan rapat-rapat nama Eliza. Ia tahu, jika ia menyebut nama Eliza sekarang, Jenita pasti akan mengamuk dan mencoba merusak segalanya. Lagipula, membiarkan mereka tetap mengira dirinya miskin adalah bagian dari skenario hiburan yang sedang ia nikmati.... Sebenarnya disini bukan hanya Mereka yang terhibur, Faas pun merasa terhibur melihat ejekan mereka yang palsu.
"Dia bukan dari lingkaran bisnis Papa. Hanya gadis biasa," jawab Faas datar, berbohong demi melindungi Eliza. "Dan saya tidak membutuhkan koneksi bisnis Papa untuk pernikahan ini."
Husen mendengus kasar, tangannya menggebrak meja dengan pelan namun sarat ancaman. "Kalau begitu Papa tidak merestui! Papa tidak mau tahu, kamu harus mapan dulu di Abrari Group baru boleh memikirkan pernikahan! Papa tidak sudi menampung menantu yang tidak jelas asal-usulnya!"
Di tengah penolakan keras Husen dan ejekan Gavin serta Jenita, sebuah tangan yang agak gemetar namun terasa sangat hangat menggenggam jemari Faas.
Diana menatap putranya dengan mata yang berkaca-kaca penuh kasih sayang. Sebagai seorang ibu yang tahu betul betapa menderitanya Faas yang selalu menjadi pelampiasan rasa frustrasi Jihan di rumah ini, Diana merasa ini adalah jalan terbaik bagi putranya untuk menemukan kebahagiaan di luar tembok mansion yang beracun ini.
Meskipun Diana sama sekali tidak tahu bahwa putra sulungnya ini sebenarnya adalah seorang konglomerat genius pemilik Apex Core yang memiliki kekayaan luar biasa, Diana tetap mempercayai karakter Faas yang baik dan pendiam.
"Ibu merestuimu, Faas..." bisik Diana dengan suara lembut namun tegas, menatap seisi meja makan seolah menantang siapa saja yang berani menghentikan kebahagiaan anaknya. "Pergilah, Nak. Lamarlah gadis pilihanmu. Ibu yakin dia adalah pilihan terbaik yang bisa menjagamu. Masalah rezeki, Allah pasti akan membukakan jalan untuk laki-laki yang berniat baik membangun rumah tangga."
Faas tersenyum sangat tipis, sebuah senyuman tulus yang hanya ia perlihatkan pada ibunya. "Terima kasih, Ibu. Restu Ibu sudah lebih dari cukup bagi Faas."
Faas berdiri dari kursinya, merapikan kemeja kasualnya dengan sangat tenang. Ia sama sekali tidak peduli dengan wajah merah padam Husen yang merasa otoritasnya diabaikan, atau Gavin dan Jenita yang masih memasang wajah mengejek.
"Saya permisi, tanpa restu papa dan ejekan kalian, Saya akan tetap melamarnya," ucap Faas pendek.
Laki-laki itu berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan. Saat berjalan menuju mobilnya untuk bersiap mengubah identitas menjadi Tuam Malik Ibrahim, Faas meraba ponselnya. Hari ini, ia akan ke kantor Apex Core, melihat Eliza bekerja sebagai sekretarisnya, dan mempersiapkan kedatangannya ke rumah Papa Doni untuk menepati janjinya malam nanti.
"Tertawalah sepuas kalian pagi ini,Gavin, Jenita, " batin Faas dengan tatapan elangnya yang mendingin menatap jalanan depan.
____
Sementara itu Di kediaman Daneswara, ketenangan pagi itu mendadak berubah menjadi ruang diskusi keluarga yang sangat serius. Di ruang tengah, Papa Doni duduk dengan kening berkerut dalam, didampingi oleh Saka yang melipat tangan di dada dengan raut wajah protektif seorang kakak. Kakek Horison yang biasanya santai, kali ini duduk tegak sembari menopang dagunya pada tongkat kayunya, menyimak dengan saksama.
Di hadapan mereka, Eliza duduk bersimpuh di dekat Maudi yang sedang memangku salah satu anak kembarnya, semalam Maudi , Rasya dan anak kembarnya menginap di rumah Harison karena Maudi yang rindu dengan kamarnya, tentu saja setelah melalui protokol kesehatan yang 100% bebas kuman. Wajah Eliza memerah sempurna, matanya berbinar, namun ada gurat kecemasan yang tidak bisa ia sembunyikan saat menceritakan seluruh kejadian di taman hotel semalam.
"Jadi... laki-laki bernama Faas itu sudah tahu kamu musuh adiknya, dan dia tetap ingin melamarmu?" tanya Saka, suaranya terdengar berat memastikan. "Dan kamu langsung menerimanya begitu saja, Za? Bahkan menembaknya duluan untuk menikah?"
Eliza menunduk dalam, meremas ujung jilbab instannya dengan perasaan campur aduk antara malu dan takut dihakimi. "I-iya, Kak Saka. Maaf kalau Eliza lancang. Tapi Eliza beneran sudah yakin sama Kak Faas. Dan... Tapi ....Kak Faas bilang, ayahnya kemungkinan besar tidak akan memberikan restu karena Kak Faas menolak bekerja di perusahaan keluarganya. Kak Faas mau datang ke sini mengandalkan dirinya sendiri."