Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
POV ADRIAN
"...jadi untuk alokasi vendor baru, kita akan pakai sistem termin yang sudah direvisi."
Aku menjeda kalimatku, lalu menoleh ke samping kiri. "Aruna, tolong tampilkan data perbandingan efisiensi logistik bulan lalu di layar."
Hening. Tidak ada jawaban sama sekali.
Aku mengernyit, memutar tubuhku sedikit untuk menghadap sekretaris baruku itu. Ternyata, gadis di sebelahku ini sama sekali tidak menyentuh tabletnya. Dia duduk diam membeku, memegangi pulpen, dengan sepasang mata bulatnya yang menatap lurus... tepat ke arah wajahku.
Dia sedang melamun. Dan lucunya, dia melamun sambil terang-terangan memandangi wajah atasannya sendiri tanpa berkedip. Tatapannya itu begitu kosong tapi sekaligus terlihat sangat polos, memperlihatkan dengan jelas isi kepalanya yang entah sedang melanglang buana ke mana.
Melihat ekspresi menggemaskan itu di tengah rapat yang menegangkan, dadaku mendadak berdebar. Ada rasa gemas yang luar biasa yang menggelitik egoku. Rasanya aku ingin sekali menyentil keningnya saat itu juga agar dia sadar.
"Aruna," panggilku, sengaja menurunkan oktaf suaraku.
Masih tidak ada respons. Dia masih asyik menatapku dengan tatapan tanpa dosa itu.
"Aruna!" Panggilanku yang kedua kali ini sengaja kubuat lebih tegas dan bertekanan.
"Eh, i-iya, Pak?!"
Gadis itu langsung tersentak hebat, persis seperti orang yang baru saja diguyur air es. Kepalanya menegak kaku sampai pulpen di tangannya terlepas dan menggelinding di atas meja kaca ruang rapat.
Detik itu juga, aku harus berjuang mati-matian menahan tawa yang hampir meledak dari tenggorokanku. Kelakuannya benar-benar diluar dugaan. Untuk menjaga imej di depan para kepala divisi yang sedang menonton kami, aku terpaksa melakukan gerakan dramatis, menghela napas panjang, perlahan menutup kedua mataku, lalu mengatupkan mulut rapat-rapat sambil menggigit bibir bawahku sekilas. Dari luar, aku pasti terlihat seperti bos kejam yang sedang menahan amarah mutlak, padahal aslinya aku sedang bersusah payah mengunci tawaku agar wibawaku tidak runtuh.
Suasana di dalam ruang rapat seketika berubah mencekam. Aku bisa merasakan atmosfer ketakutan yang mendadak menyelimuti ruangan ini. Beberapa kepala divisi yang duduk di ujung meja tampak memucat, mereka saling lirik dengan tatapan ngeri, pasti mengira aku akan mengamuk dan memecat sekretaris baru ini di tempat karena berani melamun di depan mukaku.
"M-maaf, Pak Adrian! Maaf, saya agak kurang fokus tadi. Bisa tolong diulang poin terakhirnya?" cicit Aruna panik, wajahnya mulai memerah karena malu.
Gavin, yang duduk di seberang meja dan tahu betul tabiat asliku, tentu saja tidak bisa dikelabui. Sahabatku itu langsung sadar kalau aku bukan sedang marah, melainkan sedang menahan tawa.
Aku melirik Gavin sekilas. Benar saja, si keparat itu sedang menunduk kaku dengan bahu yang naik-turun hebat. Dia menutupi seluruh mulutnya dengan telapak tangan, berpura-pura terbatuk padahal matanya yang menyipit jenaka sedang menertawakan penderitaan Aruna.
Setelah puas menyaksikan kecanggungan kami, Gavin akhirnya berdeham cukup keras, memutuskan untuk menyelamatkan sekretarisku dari situasi yang makin salah tingkah ini.
Ehem.
"Maksud Pak Adrian tadi, Aruna..." Gavin bersuara dengan nada santai yang langsung memecah ketegangan, membuat beberapa orang di ruangan mengembuskan napas lega. "Tolong catat final revisi operasional pergudangan harus dikirim ke meja divisi saya paling lambat jam empat sore ini. Begitu, kan, Pak Direktur?"
Gavin melirikku sambil menaikkan sebelah alisnya, memamerkan senyum menyebalkan yang seolah mengejek gengsiku.
Aku kembali memasang wajah datar yang dingin seolah tidak terjadi apa-apa, lalu mengangguk sekali pada Gavin.
"Ah, iya! Baik, Pak Gavin. Sudah saya catat, revisi pergudangan jam empat sore. Terima kasih banyak, Pak,” jawab Aruna buru-buru dengan suara yang bergetar kecil karena malu. Dia langsung menunduk sedalam-dalamnya, mengetik dengan kecepatan penuh tanpa berani mendongak lagi.
Aku kembali menatap laptop di depanku dan melanjutkan penjelasan rapat, meskipun fokusku kini sudah sepenuhnya terdistraksi oleh rona merah di pipi sekretaris baruku itu. Menahan tawa di depan umum ternyata jauh lebih melelahkan daripada begadang semalaman.
Begitu pintu ruang rapat tertutup sepenuhnya dan hanya menyisakan kami berdua, aku sengaja menghentikan langkahku di ujung meja kaca. Membalikkan badan, memasukkan satu tangan ke saku celana, lalu menatap gadis yang sedang sibuk setengah mati merapikan barang-barangnya itu.
"Aruna," panggilku datar. Dia langsung membeku dan mendongak waswas. "Mikirin apa kamu tadi sampai bengong seperti itu di depan semua orang?"
Aku sengaja memancingnya, ingin tahu kebohongan atau alasan absurd apa lagi yang akan keluar dari otak kecilnya untuk menyelamatkan diri. Namun, rentetan kalimat yang kemudian meluncur dari bibirnya justru sukses membuatku tersentak di dalam hati.
"Saya jadi mikir... kira-kira besok pagi saya harus bawain makanan apa lagi ya yang cocok buat ganjal perut Bapak supaya Bapak nggak lelah kerja? Nah, pas lagi serius mikirin menu sarapan besok, eh Bapak malah manggil saya. Jadi... kurang lebih begitu alasannya, Pak. Saya mikirin gizi Bapak!"
Aku memandangnya dalam diam selama beberapa detik, berusaha keras mencerna jawaban absurd itu.
Mikirin giziku?
Sial. Aku tahu dia sedang berbohong. Aku tahu itu hanya alibi yang payah agar tidak diomelin karena tidak fokus saat rapat. Tapi tetap saja, mendengar kalimat ‘saya sebenarnya lagi mikirin Bapak' keluar langsung dari mulutnya benar-benar membuat detak jantungku mendadak tidak karuan.
"Kali ini saya kasih kamu kesempatan, Aruna," ujarku, berusaha sekuat tenaga menjaga suaraku tetap dingin dan berwibawa di tengah debaran dada yang mulai tidak keruan. "Anggap ini peringatan pertama dan terakhir. Kalau di rapat berikutnya kamu sampai terulang bengong dan tidak fokus lagi seperti tadi... tidak akan ada kesempatan kedua. Mengerti?"
"I-iya, Pak! Mengerti sekali. Terima kasih banyak, Pak Adrian," jawabnya buru-buru sambil mengangguk patuh.
Aku langsung memutar tubuhku, melangkah keluar dari ruang rapat lebih dulu menuju koridor lantai direksi. Begitu posisiku sudah memunggungi gadis itu dan jarak kami cukup aman, pertahananku runtuh. Sebuah senyuman lebar yang sejak tadi kutahan setengah mati akhirnya lolos begitu saja di wajahku.
Aku berjalan sambil tersenyum sendiri seperti orang bodoh. Kalimatnya tadi terus terngiang-ngiang di kepalaku. Sialan, meskipun aku tahu seratus persen kalau dia cuma mengarang cerita, egoku sebagai pria tetap saja merasa sangat puas dan terhibur. Mengetahui kalau dia sampai kehilangan fokus di tengah rapat penting lepas dari apapun alasan aslinya karena memandangiku, memberikan kesenangan tersendiri yang sulit kujelaskan.
Langkah kakiku akhirnya sampai di depan pintu kayu ruang kerjaku. Niatnya, aku ingin berbalik untuk menanggapi bualannya tadi. Aku ingin memberitahunya dengan santai menu makanan apa yang kuinginkan untuk sarapan besok pagi, sekadar untuk menjahilinya dan melihat ekspresi kesalnya lagi.
Namun, begitu aku membalikkan badan dengan cepat—
BUK!
"Aduh!"
Tubuh mungil Aruna langsung menabrak dadaku dengan cukup keras. Gadis itu rupanya berjalan terlalu mepet di belakangku sambil menunduk, entah sedang melamunkan apa lagi atau mungkin sedang sibuk mengumpatiku dalam hati.
Benturan itu cukup kuat hingga membuat tubuhnya terhuyung ke belakang, kehilangan keseimbangan. Refleks, aku langsung mengulurkan kedua tanganku ke depan, menangkap dan mencengkram kedua bahunya dengan kokoh sebelum dia sempat jatuh terjungkal ke lantai.
Aroma manis yang khas dari tubuhnya seketika menyerbu indra penciumanku dalam jarak yang kelewat dekat ini. Jantungku berdenyut keras. Lagi-lagi, aku harus bertarung hebat dengan diriku sendiri untuk mengendalikan ekspresi wajahku agar tetap terlihat datar dan sedingin es, padahal sepasang tanganku yang menahan bahunya mendadak terasa kaku karena gugup.