“Lepas gaunmu sekarang juga! Tunjukkan ke mereka, apa saja yang akan mereka bawa pulang nanti!”
“Aku gak bakal ngelakuin hal itu, paham!” seru Rosella dari atas meja.
“Aku gak minta persetujuan kamu, Rosella.” Nada bicara dan pandangan Ayahnya pun berubah menjadi sangat dingin.
“Baimm,” suara Dio memotong niat buruknya. “Aku rasa kamu gak perlu menyuruh anakmu melakukan hal menjijikkan itu.”
Anak perempuan tertua dari pemimpin Bataviarch akan dilelang malam ini. Rosella Rachmandi telah lama bersiap menghadapi hari itu. Sebenarnya, rencananya sederhana, ia ingin mendapatkan suami yang bodoh dan lemah, sehingga dapat dikendalikannya, lalu merebut seluruh kekuasaan ayahnya yang kejam demi menyelamatkan nasib ketiga adiknya.
Ia yakin segala sesuatunya akan berjalan lancar, hingga Dio Walisang, pria yang tiba-tiba hadir di acara pelelangan itu, mengubah dan meruntuhkan seluruh rencananya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Empat Putri Pewaris Bataviarch
Rosella merapikan lipstiknya dengan tenang. Produk merah muda merek Estée Lauder itu selalu membuatnya merasa lebih percaya diri dan kuat. Malam ini, Ayahnya akan melelang dirinya layaknya hewan ternak. Ia bertekad memastikan orang yang membelinya nanti adalah pria yang mudah dikendalikan dan bodoh.
"Papa bakal dapat uang banyak banget dari kamu," ujar Verlis sambil masuk ke kamar. Di belakangnya ada Angguni dan Dahlia yang ikut melangkah masuk.
Kedua saudari itu menatap Rosella dengan bingung. Mereka tidak paham kenapa Rosella diam saja dan tidak melawan keadaan ini. Mereka sama sekali tidak tahu rencana besar yang sudah disusun Rosella dan Verlis selama bertahun-tahun.
Rencana itu dimulai tepat malam ini. Rosella harus dapat suami yang gampang diatur, dan Verlis harus melakukan hal yang sama. Setelah itu, mereka akan menguasai seluruh bisnis keluarga dari belakang layar, lalu menyingkirkan ayah mereka. Dengan begitu, adik-adiknya tidak perlu dijodohkan dengan orang yang tidak mereka cintai.
"Kamu cantik banget," kata Angguni pelan sambil menatap wajah Rosella.
Rosella hanya membalas dengan senyum tipis. Di sebelahnya, Dahlia justru menunduk diam, terlihat sedih dan gelisah. Rosella tahu persis apa yang ada di pikiran adiknya itu, meski tidak mendengar sepatah katapun darinya. Ia langsung mengulurkan tangan, lalu memegang dagu Dahlia supaya menatap matanya.
"Ini bukan salah kamu, ya. Kamu harus paham itu," ucap Rosella tegas.
"Kalau aku berani ngomong atau ngelakuin sesuatu ... mungkin malam ini nggak bakal kejadian gini, kan?" jawab Dahlia dengan suara bergetar.
"Nggak ada gunanya. Papa cuma bakal kurung kamu di kamar, batalin pesta ulang tahunmu, tapi pelelangan ini tetap berjalan," potong Rosella dengan nada lembut.
Ia tahu Dahlia sebenarnya sudah sadar hal itu, tapi kadang, orang tetap butuh mendengar penjelasan langsung supaya lebih tenang.
"Terus ... apa mungkin aja ada keajaiban? Kamu malah ketemu cinta sejati malam ini?" tanya Dahlia lagi, matanya berbinar kecil. Ia memang penggemar cerita romantis, selalu percaya hal indah bisa datang kapan saja.
"Bisa aja sih," jawab Rosella sambil tertawa pendek. "Tapi aku lebih berharap dia yang jatuh cinta duluan. Jadi aku lebih gampang atur dia sesuka hati."
Verlis langsung mengedipkan sebelah mata ke arah Rosella, tanda setuju. Keduanya sudah sepaham soal langkah yang harus diambil.
"Kita mendingan turun sekarang," sela Angguni sambil melirik jam di pergelangan tangannya. "Semua tamu udah nunggu yang ulang tahun. Kalau mereka sampai naik ke sini buat cari kita, bahaya banget."
Dia tidak melanjutkan kalimatnya lagi. Semua sudah paham maksudnya.
Kalau para tamu atau ayah mereka sampai naik ke atas, situasi akan menjadi buruk. Bagi ayah mereka, harga diri dan penampilan itu segalanya. Mempermalukan dia di depan keluarga besar adalah dosa paling besar.
"Sebentar, ya. Kita belum kasih kado ulang tahun buat kamu," kata Rosella, lalu berjalan ke arah lemari pakaian.
Ia mengeluarkan kotak besar berwarna merah muda dengan pita perak. Kotak itu cukup berat, sampai ia harus meletakkannya perlahan di atas kasur.
Mereka bertiga menatap Dahlia dengan senyum antusias. Begitu kotak dibuka, Dahlia langsung menutup mulutnya dengan tangan.
Di dalamnya ada seri Novel edisi khusus. Bukan versi biasa yang dijual di toko buku umum.
Kelima buku itu dijilid ulang dengan sampul yang jauh lebih indah. Di bagian belakang tertulis kutipan kesukaan Dahlia, dan pinggiran halamannya penuh gambar ilustrasi.
Tiga buku pertama punya gambar pemandangan kota Solmara yang tergambar menyatu. Rosella sendiri tidak terlalu suka cerita fantasi, tapi setiap kali Dahlia bercerita soal kota itu, ia jadi mengerti kenapa adiknya sangat menyukainya.
Buku keempat penuh simbol dan gambar kecil yang bermakna. Buku terakhir menampilkan sosok Nesta, tokoh wanita kesukaan Dahlia dari cerita itu.
"Dari mana kalian dapat barang sekeren ini?" tanya Dahlia dengan mata berbinar, jari-jarinya menyentuh sampul buku satu per satu.
"Aku punya teman, terus temanku itu punya sepupu, yang dulu satu kampus sama pembuat konten buku di TikTok," jawab Angguni bangga. "Aku minta dia bikin yang spesial cuma buat kamu."
"Dan hasilnya luar biasa banget," gumam Dahlia penuh kekaguman, lalu memeluk tumpukan buku itu erat ke dadanya.
Setelah itu, keempat saudari itu saling berpelukan lama. Ibu mereka sudah meninggal saat mereka masih kecil. Ayah mereka mungkin orang paling jahat dan kejam sedunia. Tapi selama mereka berempat masih saling mendukung, masalah sebesar apa pun bisa dihadapi. Dunia boleh saja hancur, dan mereka tidak akan kalah.
Mereka membantu Dahlia menyimpan buku-buku itu di kamar, lalu berjalan beriringan turun ke ruang pesta.
Begitu keempatnya muncul di ujung tangga, seluruh mata yang ada di ruangan langsung tertuju ke arah mereka. Mereka punya ciri khas masing-masing, dan perbedaan itulah yang membuat mereka makin terlihat mencolok dan menarik perhatian.
Rosella adalah anak tertua. Ia memakai gaun malam panjang warna merah muda lembut, ada renda di bagian dada, dan belahan cukup tinggi di bagian paha. Sepatu hak tingginya membuat tubuhnya yang aslinya 170 sentimeter terlihat hampir setinggi 180 sentimeter.
Verlistya tetap memakai sepatu bot model militer seperti kebiasaannya. Malam ini warnanya kuning, sama persis dengan kalung gantungan bebek karet yang melingkar di lehernya.
Orang yang tidak kenal dekat pasti akan menganggap Verlis aneh dan tidak pantas. Tapi keluarga mereka tahu, warna sepatu dan gantungan bebek itu selalu menggambarkan suasana hatinya saat itu.
Gaun hitam selutut yang dipakainya menonjolkan lekuk tubuhnya, dan membuat kulitnya yang putih pucat makin kontras dibandingkan kulit saudaranya yang berwarna sawo matang.
Sepatu Angguni bertemakan bajak laut, selalu dibuat khusus dan punya kualitas terbaik. Hal itu membuat banyak orang iri, apalagi dia jago memadankan pakaian dan alas kaki. Malam ini pun sama. Dia pakai gaun putih model skater yang membuat penampilannya tegas dan berwibawa.
Lalu ada Dahlia, si bungsu yang dikenal paling pemalu. Rambut merah mudanya justru membuat dia jadi pusat perhatian di mana saja dia berada. Gaun chiffon biru muda yang dia kenakan makin menonjolkan kesan lembut dan muda di dirinya.
Mereka bertiga berjalan turun tangga, dan semua mata langsung tertuju ke sana.
Mereka adalah keluarga bangsawan yang memiliki pengaruh besar di jagad nusantara atau lebih tepatnya keturunan pemimpin kelompok mafia. Gaya berjalan mereka saja sudah cukup untuk menunjukkan status itu dengan jelas.
"Tuh kan, semua orang ngeliatin kita. Kayak kita artis aja," celetuk Angguni sambil menyengir sedikit.
"Ya emang kita punya nama besar, lagian penampilan kita malam ini nggak main-main," jawab Rosella santai.
Ada satu hal yang membuat mereka berbeda dari putri mafia lain malam itu. Mereka punya tato di berbagai bagian tubuh. Mereka menandai kulit sendiri sesuka hati, sebagai bukti kalau tubuh ini milik mereka seutuhnya.
"Kamu yakin nggak apa-apa? Papa pasti bakal marah besar kalau tahu kamu pakai tato," ucap Dahlia pelan, nadanya sedikit khawatir.