Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Aku meletakkan guling stroberiku tercinta tepat di tengah-tengah kasur *king size* itu, menepuknya dengan bangga seolah baru saja menancapkan bendera kemenangan di puncak Gunung Everest.
Arkan, yang sedari tadi duduk bersandar di kepala ranjang sambil membaca laporan keuangan—yang aku curigai hanya pura-pura karena dia belum membalik halamannya selama sepuluh menit terakhir—menurunkan mapnya. Alis kanannya terangkat naik, menatap guling stroberiku dengan tatapan menilai yang luar biasa menyebalkan.
"Apa itu?" tanyanya dengan nada datar yang dibuat-buat.
"Ini? Ini penjaga perbatasan," jawabku sambil berkacak pinggang, menatap lurus ke arah sepasang mata elang yang sialnya selalu berhasil membuat lututku lemas. "Meskipun perang dingin kita sudah berstatus gencatan senjata, perjanjian damai resmi baru akan ditandatangani besok lusa di depan penghulu. Jadi, sampai besok lusa, zona demiliterisasi ini tetap berlaku secara mutlak."
Arkan mendengus pelan, meletakkan mapnya di atas nakas dengan gerakan lambat. Pria arogan ini kemudian bergeser mendekat. Tanpa permisi, tangan besarnya yang kokoh meraih guling stroberiku, lalu melempar benda tak berdosa itu begitu saja ke atas sofa di sudut ruangan.
"Hei! Apa-apaan?! Kembalikan gulingku!" protesku panik, bersiap melompat turun dari kasur.
"Guling itu saya sita sebagai barang bukti kebodohanmu hari ini," ucap Arkan tanpa rasa bersalah sedikit pun. Dia menepuk ruang kosong di sebelahnya, menatapku dengan intensitas yang membuat aliran darahku seketika berdesir cepat. "Tidak ada lagi penjaga perbatasan, Naura. Mengingat rekam jejakmu yang sangat mudah dipengaruhi oleh provokasi murahan mantan tunangan saya, saya memutuskan untuk mengawasimu dari jarak dekat mulai malam ini. Jarak nol sentimeter, kalau perlu."
"Tapi, Arkan, kita belum—"
"Tidur, Manajer Naura, atau saya akan memotong seluruh bonus akhir tahunmu karena berani membantah perintah langsung dari atasan."
Skakmat. Jika sudah membawa-bawa bonus akhir tahun, pertahananku otomatis jebol tak tersisa. Dengan bibir mengerucut sebal dan jantung yang berdebar tak keruan bagai genderang perang, aku merangkak naik ke atas ranjang. Baru saja punggungku menyentuh kasur yang empuk, sepasang lengan kokoh langsung melingkari pinggangku, menarikku mundur dengan tenaga penuh hingga punggungku menabrak dada bidangnya yang hangat. Aroma *mint* bercampur kayu cendana seketika menyelimuti seluruh indra penciumanku.
"Arkan... gengsimu itu beneran sudah menguap tak bersisa terbawa angin malam, ya?" cicitku pelan, wajahku sudah memerah hebat dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi lampu tidur remang-remang.
"Gengsi saya masih utuh di tempatnya. Saya hanya sedang menjalankan fungsi sebagai selimut berpemanas agar calon istri saya ini tidak kedinginan," balasnya dengan suara bariton serak yang bergetar tepat di telingaku, disusul oleh kecupan sangat ringan di puncak kepalaku yang membuat perutku dipenuhi ribuan kupu-kupu imajiner. "Selamat malam, Naura."
Aku tersenyum diam-diam dalam pelukan posesifnya. Dasar bos tsundere tingkat dewa! Tapi anehnya, pelukan berbalut alasan konyol inilah yang membuatku akhirnya bisa tertidur sangat lelap malam itu.
***
Pagi ini, gedung apartemen mewah Arkan mendadak diinvasi oleh pasukan *wedding organizer*, penata rias, hingga desainer pakaian. Dan tentu saja, komandan tertinggi dari segala kekacauan massal ini tidak lain dan tidak bukan adalah Papa Surya, ayah kandung Arkan yang luar biasa perfeksionis dan memiliki otoritas absolut yang bahkan melebihi Dewan Direksi.
"Arkan! Kenapa dasimu belum disetrika dengan sudut kemiringan empat puluh lima derajat?! Ini untuk pemotretan pra-akad, bukan untuk rapat pemegang saham tahunan!" Suara menggelegar Papa Surya menggema merobek ketenangan ruang tengah apartemen.
Arkan yang sedang berdiri kaku di depan cermin besar, memijat pelipisnya dengan frustrasi tingkat dewa. "Papa, ini dasi sutra eksklusif dari Milan. Bahannya tidak butuh disetrika pakai sudut kemiringan segala. Lagipula, kenapa kita harus melakukan sesi pemotretan konyol ini? Bukankah foto kita berdua di acara makan malam keluarga minggu lalu sudah cukup?"
"Bisa-bisanya anak ini ingin menggunakan foto makan malam menjadi foto preweddingnya!" Papa Surya memukul pelan bahu lebar putranya dengan gulungan majalah bisnis.
Di sudut ruangan, aku yang sedang didandani oleh perias, berusaha sekuat tenaga menahan tawa hingga perutku kram melihat CEO Mahardika Group yang biasanya ditakuti ribuan karyawan, kini dimarahi habis-habisan oleh ayahnya sendiri layaknya anak SD yang ketahuan membolos.
"Nah, sudah selesai, Mbak Naura. Sempurna sekali!" seru perias dengan nada bangga.
Aku berdiri dari kursi rias, mengenakan gaun kebaya modern berwarna putih gading yang pas membalut lekuk tubuhku. Payet-payet kristal kecil memantulkan cahaya lampu setiap kali aku bergerak. Saat aku melangkah keluar menuju ruang tengah, keributan antara Arkan dan Papa Surya seketika terhenti total.
Mata elang Arkan terpaku padaku. Selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian, pria itu lupa cara berkedip. Mulutnya sedikit terbuka, dan rahangnya yang biasanya selalu mengeras kaku kini mengendur sempurna. Tidak ada lagi kilat arogan di matanya, yang ada hanyalah kekaguman murni yang menyala begitu terang, membuat lututku mendadak terasa seperti jeli.
"Ehem!" Papa Surya berdehem keras, menyadarkan putranya dari lamunan tak berujung. "Bagaimana? Pilihan Papa untuk vendor gaun ini memang tidak pernah salah, kan? Calon istrimu terlihat seperti bidadari yang baru turun dari kahyangan."
Arkan buru-buru memalingkan wajahnya, merapikan kerah kemejanya dengan gerakan canggung yang sangat jarang dia tunjukkan. Ujung telinganya memerah samar. "Lumayan. Setidaknya dia tidak terlihat seperti manajer pemasaran yang baru disuruh revisi laporan kampanye tiga kali dalam sehari."
Aku mencibir pelan, meski jantungku berdetak sangat cepat. "Terima kasih atas pujiannya yang sangat puitis dan menyentuh kalbu, Pak CEO."
"Oke, Mas Arkan, Mbak Naura, sekarang kita coba pose romantis yang intim, ya. Mbak Naura, tolong putar badan menghadap ke Mas Arkan," arah Jojo, Sang fotografer sambil menggerakkan tangannya lincah di udara. "Mas Arkan, tangannya tolong ditaruh di pinggang Mbak Naura. Rapat sedikit. Nah, Mbak Naura, tangannya di dada Mas Arkan. Tatap matanya dalam-dalam, seolah dunia ini milik kalian berdua, yang lain cuma numpang lewat!"
Aku dan Arkan saling berhadapan dengan kaku bagaikan dua balok kayu. Tangan Arkan melingkar di pinggangku seolah sedang memegang granat aktif, sementara tanganku menempel di dadanya layaknya sedang memeriksa detak jantung pasien kritis.
"Duh, kok kaku banget sih auranya?" Jojo menurunkan kameranya dengan ekspresi gemas maksimal. "Kalian ini mau nikah atau mau adu panco perebutan warisan? Lemes aja, santai. Mas Arkan, tatapannya kurang *melting*! Jangan kayak mau mecat karyawan dong!"
Hadi, sang asisten setia yang berdiri di pojok ruangan untuk membawakan ponsel bosnya, refleks menutup mulutnya, menahan napas ketakutan mendengar Jojo mengkritik bos besarnya dengan seberani itu.
"Saya tidak kaku," balas Arkan dengan nada bariton yang mulai mendingin. "Ini adalah pose standar dan profesional untuk ukuran publikasi."
"Aduh, cinta itu nggak butuh standar profesionalitas, Mas Arkan!" Jojo melangkah maju dengan pedenya, mendekat ke arahku. "Sini, saya contohin langsung biar kerasa *feel*-nya. Mbak Naura, badannya agak condong ke depan begini, lalu kepalanya dimiringkan—"
Belum sempat ujung jari Jojo menyentuh kain di bahuku, sebuah tangan besar sudah lebih dulu menepis udara di antara kami dengan gerakan kilat. Arkan melangkah maju satu tindak, memosisikan tubuh besarnya tepat di depanku, menjadi perisai hidup yang tak tertembus. Mata elangnya menatap Jojo dengan kilatan pedang samurai yang baru diasah.
"Tangan Anda, Mas Jojo," suara Arkan turun dua oktaf, memancarkan aura membunuh yang sangat pekat hingga membuat suhu ruangan terasa anjlok. "Mundur tiga langkah sekarang juga, atau kamera mahal yang menggantung di leher Anda itu akan saya jadikan suvenir pernikahan besok pagi."
Jojo seketika pucat pasi bagai mayat hidup. Dia melangkah mundur dengan kecepatan cahaya hingga nyaris menabrak tiang *lighting*. "M-maaf, Pak Arkan! S-saya cuma mau kasih instruksi arah badan..."
"Istri saya bukan manekin etalase yang bisa Anda sentuh sembarangan," desis Arkan tajam, tak memberikan ampun sedikit pun. "Anda bilang pose kami kaku? Anda bilang tatapan saya seperti mau memecat karyawan? Perhatikan baik-baik. Saya hanya akan melakukan pose ini satu kali, dan kalau Anda tidak bisa memotretnya dengan benar, saya akan memastikan studio foto Anda gulung tikar besok."
Tanpa peringatan apa pun, Arkan berbalik menghadapku. Tangannya dengan sigap melingkar di pinggangku, bukan lagi dengan kaku, melainkan dengan tarikan kuat dan posesif yang membuat tubuhku langsung menabrak dada bidangnya tanpa sisa jarak. Tangan kirinya naik ke tengkukku, menelusup ke balik helaian rambutku yang ditata rapi, sementara ibu jarinya mengusap rahangku dengan kelembutan yang sangat kontras dengan kemarahannya barusan.
Aku terkesiap pelan, mendongak menatapnya. Mata elang yang biasanya sedingin es batu itu kini menatapku dengan intensitas yang begitu dalam, memancarkan dominasi, kepemilikan mutlak, dan... cinta yang luar biasa manis hingga membuatku sesak napas. Jantungku berdegup liar layaknya pacuan kuda. Dunia di sekeliling kami, bersama dengan semua orang di ruangan itu, seolah menguap lenyap seketika.
"A-Arkan..." bisikku pelan, kehilangan semua perbendaharaan kata tajamku.
"Senyum, Naura," gumamnya tepat di depan bibirku, menyapu wajahku dengan napas hangatnya yang beraroma memabukkan. "Buktikan pada mereka kalau saya beneran sudah gila karena kamu."
*Klik! Klik! Klik!*
Suara *shutter* kamera memecah keheningan yang magis tersebut. Jojo memotret dengan kalap kesetanan, air mata kebahagiaan (atau mungkin air mata ketakutan nyawanya terancam) menggenang di sudut matanya. "I-ini... ini mahakarya kelas dunia! *Chemistry*-nya tumpah-tumpah sampai banjir! Sempurna, Pak Arkan!"
Setelah sesi foto yang menguras seluruh stok kewarasanku itu selesai dengan sukses, kami dihadapkan pada masalah baru yang jauh lebih pelik. Papa Surya berdiri tegak berkacak pinggang di depan pintu kamar utama dengan wajah tanpa kompromi.
"Mulai malam ini, sampai besok kalimat ijab kabul selesai diucapkan dengan sah, kalian berdua dilarang keras tidur dalam satu kamar!" titah Papa Surya dengan suara bulat tak terbantahkan yang menggema ke seluruh lorong.
***
Malam itu, jam digital di dinding menunjukkan pukul dua belas tepat. Aku sedang berguling-guling gelisah, sama sekali tidak bisa memejamkan mata di kasur kamar tamu yang terasa terlampau dingin. Rasanya ada yang salah dengan gravitasi ruangan ini. Tubuhku sudah terlampau terbiasa dengan kehangatan 'selimut berotot' bernapas *mint* yang selalu mengurungku setiap malam.
Tiba-tiba, di tengah keheningan malam, terdengar bunyi ketukan pelan dari arah kaca jendela balkon.
Aku terlonjak kaget hingga nyaris terjatuh dari kasur. Kamar tamu ini berada di lantai lima belas! Makhluk astral macam apa yang iseng mengetuk jendela di lantai setinggi ini pada tengah malam?!
Dengan jantung berdebar kencang bersiap mengambil lampu meja sebagai senjata, aku membuka tirai perlahan. Mataku seketika melebar maksimal menembus batas normal saat melihat Arkan Mahendra—sang CEO perusahaan multinasional beraset triliunan rupiah—sedang berdiri di luar balkon sempit yang menyambungkan kamar utama dengan kamar tamu. Pria itu mengenakan piyama sutra hitamnya, berdiri menantang angin malam ibu kota sambil memegang dua cangkir porselen berisi *chamomile tea* yang asapnya masih mengepul di udara.
Aku buru-buru membuka kunci pintu kaca geser tersebut dan menarik lengannya. "Arkan! Kamu ngapain di luar sana, hah?! Kamu mau masuk angin menjelang ijab kabul besok?! Atau lebih parah, kalau kamu terpeleset jatuh bagaimana?!" bisikku panik bercampur syok, menyeretnya masuk ke dalam kamar tamu.
Arkan tersenyum miring, menyerahkan satu cangkir hangat itu padaku dengan gaya luar biasa santai seolah dia baru saja berjalan sore di taman bunga, bukan menyelinap lewat balkon sempit bertaruh nyawa di lantai lima belas.
"Papa memang cerdas mengunci pintu depan kamarmu dari luar, tapi beliau lupa mengecek apartemen ini yang menunjukkan kalau balkon kita saling terhubung," ucapnya dengan nada kemenangan yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.
"Kamu beneran sudah hilang akal! Gengsimu beneran tidak ada harganya dibandingkan nyawamu, ya?!" omelku pelan, tidak tahan untuk tidak mendaratkan pukulan kecil di dadanya yang keras, meski diam-diam aku merasa luar biasa lega dan tersentuh melihat kehadirannya.
Arkan menangkap tanganku yang memukulnya, lalu menarikku ke dalam pelukannya dengan sangat lembut. Rasa hangat seketika menjalar ke seluruh pembuluh darahku, meruntuhkan hawa dingin kamar tamu dalam sekejap mata.
"Saya tidak bisa tidur," gumamnya jujur, meletakkan dagunya dengan nyaman di puncak kepalaku. "Tidak ada kamu di kasur saya rasanya seperti Mahardika Group sedang mengalami defisit triliunan rupiah dalam semalam."
Aku terkekeh pelan di dadanya, membalas pelukannya dengan tak kalah erat. "Perumpamaan anak bisnis beneran tidak romantis sama sekali, Mas Bos."
"Romantis atau tidak, faktanya sang CEO arogan ini rela menyusup lewat balkon layaknya pencuri kelas teri hanya untuk memastikan calon istrinya tidak kabur sebelum besok pagi," balas Arkan. Dia mengurai pelukan kami sedikit, menundukkan kepalanya untuk menatap mataku dengan kelembutan yang sangat memabukkan akal sehat. "Tidur, Naura. Besok adalah hari yang panjang. Hari di mana saya akan mengucapkan ijab janji, hari di mana kamu tidak akan pernah bisa melarikan diri dari saya lagi, untuk selamanya."