NovelToon NovelToon
Candu Ragamu

Candu Ragamu

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Dark Romance / Obsesi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Syela

Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Billboard Scandal (A)

Menjelang pukul tujuh malam, Emily melangkah cepat dan seksi keluar dari lift basement, mengeratkan mantel panjangnya saat angin dingin menyelinap melalui sela-sela lorong parkiran yang sepi. Denting sepatu hak tingginya memantul di dinding beton parkiran yang luas.

Ia mempercepat langkah menuju mobil, tergesa ingin kembali ke penthouse. Masih banyak yang harus dilakukan—membersihkan diri dari hari yang melelahkan dan mempersiapkan berkas untuk pertemuan penting malam ini.

Akhirnya, setelah beberapa hari, ia menunjuk juga seorang pengacara untuk mewakilinya. Bukan seseorang dengan nama besar, belum. Tapi reputasinya bersih, dengan portofolio kasus-kasus kecil yang berhasil ia menangkan. Harapan Emily kini bertumpu pada pria itu. Semoga untuk kali ini, keberpihakan hukum tidak memerlukan nama besar—cukup dengan kecerdasan, hati nurani dan niat untuk menang membela keadilan.

Tatkala Emily meraih gagang pintu mobilnya, sebuah bayangan tinggi dan pekat muncul begitu saja di sisinya. Kontan tubuhnya mundur satu langkah, tersentak karena terkejut.

"What the hell are you doing here?" pekiknya kala menatap sosok Raphael-lah yang tiba-tiba berdiri di sana.

"Hello again, Nona Cooper." Ucapan Raphael terdengar rendah dan tanpa ekspresi apapun.

Emily menyipitkan mata, berkilat tajam. "Kenapa kau selalu muncul tiba-tiba di parkiranku?" Ia melirik ke kanan dan kiri, berharap menemukan seseorang, siapa saja, tapi lorong itu sunyi. Pandangannya kembali ke pria itu. "Kau punya side job jadi tukang parkir di perusahaanku, Tuan Walter?"

Raphael tidak menjawab. Matanya menatap Emily intens, pun kemudian dalam satu gerakan cepat, ia menggenggam pergelangan tangan wanita itu.

"Ikut aku sekarang."

"Hei! Apa-apaan ini?! Lepas!" Emily panik, mencoba menarik kembali tangannya, tapi genggaman Raphael tercengkram kuat. Ia mencoba menahan tubuhnya, menjejakkan tumit agar tak terseret. Namun pria itu tetap melangkah, menyeretnya dengan mudah seperti boneka kapas yang malang.

"RAPHAEL! SIALAN! LEPASKAN!" teriak Emily, amarah dan ketakutannya bercampur jadi satu. Ia memukul-mukul lengan pria itu, namun sialnya tubuh besar dan kekar Raphael tak merasakan apapun.

Postur tubuhnya yang tinggi, berotot, dan mendominasi itu membuat setiap usaha Emily untuk melepaskan diri tampak sia-sia. Wanita itu terlihat kecil dan rapuh di hadapannya.

"Raphael! Apa kau tuli?! Lepaskan aku!"

Raphael menoleh singkat, matanya gelap, rahangnya mengeras. "Diamlah, Emily. Turuti saja apa yang kulakukan."

"Kau pikir kau siapa, hah?! Yang harus kuturuti seenak jidatmu begitu?! Brengsek!" Emily meronta, menderu napasnya tak beraturan, mulai sedikit berantakan rambutnya.

Di sisi lain, Raphael tetap tenang. Ia membuka pintu Lamborghini-nya. Satu tangan mendorong Emily masuk, dan wanita itu terpaksa masuk, terjatuh ke dalam kursi penumpang, tubuhnya terdorong oleh tenaga gagah yang sulit dilawan dari pria itu.

"Aku mau menunjukkan sesuatu padamu," lontar sang pria singkat.

Emily mendecak marah, "Kau pikir aku peduli?!"

Raphael membanting pintu, tertutup. Kemudian mengitari mobil dan masuk ke sisi pengemudi. Saat mesin meraung hidup, mobil itu melaju dengan cepat, meninggalkan area parkiran, tak memberi kesempatan bagi Emily untuk kabur.

"Kau akan peduli setelah kau melihatnya nanti," tambahnya, tak menoleh sedikitpun pada wanita di sampingnya.

Di kursi penumpang, Emily duduk tak nyaman dengan ekspresi kesal bukan main. Ia tahu ia harus melawan, tapi bagian dari dalam dirinya juga mulai dihantui pertanyaan—apa sebenarnya yang akan pria itu tunjukkan?

Suasana di dalam Lamborghini Raphael terasa sempit, meski mobil itu mewah dan kedap suara. Di luar, lampu-lampu Manhattan berkelebat melewati jendela, silau di balik kaca gelap mobil itu.

Bersilang kaki, Emily mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Raphael dengan tatapan penuh kebencian. "Apa kau sadar bahwa ini penculikan? Aku bisa menelepon orang-orangku sekarang juga dan menyuruh mereka melaporkanmu karena menculikku untuk ditiduri, supaya kau masuk dalam daftar pencarian dan ditangkap."

Raphael tetap fokus pada jalanan, kedua tangannya memegang setir dengan tenang, menatap lurus ke depan.

"Kau pikir ini lucu, huh?" lanjut Emily, semakin kesal. "Kau kebanyakan nonton film mafia dan merasa diri superior!"

Masih tak ada respons.

Emily memutar bola matanya. "Kau tuli, Tuan birahi?"

Raphael hanya menarik napas pelan, namun tak juga menanggapi.

Emily mendengus keras, suaranya meninggi kali ini. "Keluarkan aku dari mobil sialan ini atau aku bersumpah akan berteriak sekeras-kerasnya sampai seluruh berita meliput dan mencetak namamu di berita utama besok!"

Akhirnya Raphael membuka suara. Terdengar dalam, berat dan jengah.

"Emily."

Satu kata itu cukup membuat wanita itu sedikit tercekat, diam. Karena aura Raphael tak main-main.

"Jika aku ingin menidurimu, aku pasti sudah melakukannya di sana. Di tempat parkir. Di dalam mobil. Tanpa harus repot membawamu ketempat lain atau membuang-buang waktuku dengan menyetir di tengah kemacetan Manhattan seperti ini."

Emily membeku sejenak, bibirnya terbuka sedikit, masih tak terbiasa mendengar kata-kata vulgar yang keluar begitu enteng dari mulut pria itu.

Raphael melirik ke arahnya sebentar sebelum kembali fokus pada jalan. "Tapi bukan itu tujuanku."

Satu tangan Raphael bergerak cepat membetulkan kerah bajunya yang terbuka, kemudian melanjutkan. "Meski sungguh, tidak bisa kupungkiri, fantasi tentangmu itu cukup menyiksa untuk kutahan. Tapi bukan itu alasanku membawamu malam ini."

Emily menelan ludah. Matanya membelalak.

"You're sick. Psikopat!"

Raphael menyeringai kecil. "And yet you're still in my car."

"Kau yang menyeretku masuk, lupa?!"

"Kalau gitu, lompat saja. Keluar dari sini. Pintu tidak terkunci."

Emily menatapnya tajam. Benar-benar pria gila. Ia tidak akan melakukannya. Tentu saja tidak. Ia masih menyayangi nyawanya.

Raphael melanjutkan. Suasana lebih tenang sekarang. "Aku membawamu karena ada hal penting yang perlu kau lihat. Bukan soal ranjang. Not yet, at least. Itu bisa nanti.. ada gilirannya."

"You're unbelievable."

"That's what most woman say... right before they beg me not to stop."

Emily membuang muka ke jendela, menggigit bibir bawahnya, geram pun juga lelah. Terkuras energinya menghadapi pria itu. Terserah apa katanya sekarang.

Mobil melaju makin jauh ke pusat kota, lampu-lampu bangunan pencakar langit menyinari bayangan wajah mereka di kaca.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil Raphael berhenti di sisi jalan sebuah blok di kawasan Times Square yang ramai dan benderang. Lampu-lampu neon, sorotan billboard raksasa, dan riuh kehidupan malam kota New York menghiasi suasana yang padat.

Emily menyipitkan mata, menoleh ke sekeliling dengan bingung saat Raphael mematikan mesin mobil. Ia hendak bertanya tapi pria itu sudah lebih dulu turun dari kursi pengemudi.

Terpaksa, Emily membuka pintunya dan ikut turun. Tumit stilettonya menjejak trotoar dengan bunyi nyaring, menggema di tengah keriuhan malam.

"Untuk apa kau membawaku ke sini?" tanyanya, menatap Raphael yang kini bersandar tenang pada sisi mobilnya.

1
Mita Paramita
Ralph lagi curhat nih 🤣🤣🤣
Mita Paramita
semangat Emily 💪 Ralph terlalu memaksa kn Emily jadi takut 🤣🤣🤣 lanjut Thor 💪💪💪
Nona Syela: Wkwk iya nih Raphael mau enaknya doang
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: Okay😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor semangat nulisnya 🔥🔥🔥 ceritanya bagus
Nona Syela: Thank you kak semoga betah😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: 😍💪 siap
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor double up 💪💪💪
Nona Syela: 😍💪 Thank you kak
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: Siap kak 😍💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!