NovelToon NovelToon
Kembali Ke Masa Muda, Tak Lagi Mengejarmu

Kembali Ke Masa Muda, Tak Lagi Mengejarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Transmigrasi / Mengubah Takdir
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Selama enam tahun, Kinara hidup sebagai istri dari Zergan Airlangga, seorang direktur sekaligus CEO muda yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Pernikahan mereka bukanlah kisah cinta yang indah, melainkan hasil perjodohan dua keluarga besar.
Sejak awal, Kinara mencintai Zergan seorang diri. Ia bertahan dengan harapan bahwa suatu hari hati suaminya akan luluh. Namun, harapan itu tak pernah menjadi kenyataan. Bagi Zergan, hatinya telah terkubur bersama wanita yang pernah ia cintai dan telah meninggal dunia. Kehilangan itu mengubahnya menjadi pria yang dingin, acuh, dan tak pernah benar-benar melihat keberadaan Kinara sebagai istrinya.
Hingga sebuah kejadian tak terduga mengakhiri segalanya.
Saat membuka mata, Kinara mendapati dirinya kembali ke masa lalu saat usianya baru dua puluh tahun dan masih duduk di bangku kuliah. Ia kembali ke waktu sebelum perjodohan itu terjadi, sebelum enam tahun penuh luka dan penantian.
Kali ini, Kinara bertekad mengubah takdirnya. Ia tidak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

Sesampainya di kamar kos yang sunyi, Kinara mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Rasa nyeri di punggungnya akibat hantaman balok kayu semalam masih terasa, namun pikirannya jauh lebih fokus pada masa depan finansialnya. Ia membuka laptop dan segera memeriksa pergerakan pasar modal.

​Berdasarkan ingatan dari kehidupan lalunya, Kinara tahu persis bahwa dalam minggu ini akan ada satu saham sektor teknologi yang nilainya meledak hingga lima kali lipat dalam waktu singkat akibat sentimen akuisisi besar. Dengan keyakinan penuh, ia memutuskan untuk mengalokasikan dana sekitar 500 juta rupiah ke saham tersebut. Setelah menyelesaikan transaksi pembelian, Kinara menutup laptopnya dengan helaan napas lega. Perlahan, ia merebahkan tubuhnya yang lelah dan akhirnya terlelap, mencoba mengistirahatkan raga dan hatinya yang terkuras habis.

​Sementara itu, di waktu yang bersamaan, atmosfer di dalam ruang kerja kediaman mewah keluarga Airlangga terasa sangat mencekam. Zergan berdiri mematung di depan meja kerja kayu jati yang megah, berhadapan langsung dengan sang nenek, Oma Gayatri Airlangga, wanita tua berwibawa yang memegang kendali atas norma dan tradisi keluarga besar mereka.

​"Putuskan hubunganmu dengan Haura, Zergan. Jauhi gadis model itu sekarang juga," ucap Oma Gayatri dengan suara tenang namun sarat akan penekanan yang mutlak. "Haura itu bukan gadis yang cocok untuk menjadi pendamping hidupmu, apalagi untuk memimpin pendamping keluarga Airlangga di masa depan. Kejadian di alun-alun kota semalam sudah cukup membuktikan kalau dia hanya membawa masalah dan bahaya karena kecerobohannya sendiri."

​Wajah Zergan seketika mengeras. Rahangnya mengatup rapat menahan emosi yang mendadak membakar dadanya. "Oma, kejadian semalam itu murni musibah. Haura adalah korban di sana. Kenapa Oma selalu mencari celah untuk menyalahkan dan menolaknya?" protes Zergan dengan nada suara yang meninggi, menahan gejolak amarah.

​Oma Gayatri menatap cucunya dengan sorot mata dingin tanpa riak. "Keluarga kita butuh wanita yang anggun, berbobot, dan bisa menjaga kehormatan serta keselamatan dirinya sendiri, bukan wanita egois yang hobi keluyuran di tempat umum tanpa memikirkan konsekuensi hingga menyusahkanmu. Keputusan Oma sudah bulat, Zergan. Tinggalkan dia."

​"Aku tidak akan pernah meninggalkan Haura, Oma!" bentak Zergan akhirnya, kehilangan kendali atas emosinya. Napasnya memburu naik-turun. Tanpa menunggu respons lebih lanjut dari sang nenek, Zergan membalikkan badannya dengan gusar dan melangkah lebar keluar dari ruangan, membanting pintu dengan keras hingga gema kemarahannya menyelimuti koridor rumah mewah tersebut.

​Keesokan pagi harinya di kampus, sinar matahari menyinari koridor gedung fakultas dengan hangat. Kinara berjalan menuju kelasnya ketika tiba-tiba sebuah seruan melengking memanggil namanya.

​"Naraaa!"

​Ririn, sahabat karibnya, berlari kencang dari arah kejauhan dengan wajah yang memerah dan mata yang berkaca-kaca. Begitu sampai di depan Kinara, Ririn langsung memeluk erat tubuh Kinara hingga membuat Kinara sedikit meringis menahan nyeri di bahunya.

​"Nara, ya ampun! Aku nggak tahu harus ngomong apa lagi sama kamu!" tangis Ririn pecah, namun itu adalah tangisan kebahagiaan yang teramat sangat. Ia melepas pelukannya dan memegangi kedua pundak Kinara dengan tangan yang gemetar.

​Kinara tersenyum lembut. "Hei, kenapa menangis? Ada apa, Rin?"

​"Hutang keluargaku, Ra... Hutang orang tuaku yang menumpuk selama bertahun-tahun akhirnya lunas semuanya hari ini!" seru Ririn dengan suara semi berbisik namun penuh penekanan yang emosional. "Ini semua berkat saham yang kamu sarankan minggu lalu. Aku nekat pakai sisa tabungan darurat buat beli saham itu, dan nilainya bener-bener melonjak tinggi banget sampai berkali-kali lipat! Tadi pagi Papa langsung cairkan dan bayar semua sisa hutang ke rentenir."

​Ririn kembali menyeka air matanya yang lolos, menatap Kinara seolah-olah gadis di hadapannya ini adalah malaikat penolong. "Keluargaku benar-benar terbebas dari jeratan hutang yang bikin kami hampir gila setiap malam, Nara. Kamu hebat banget, kok bisa tahu saham itu bakal naik setinggi itu? Terima kasih banyak, ya. Kamu udah menyelamatkan masa depan keluargaku."

​Kinara yang mendengar hal itu merasakan kehangatan yang luar biasa menjalar di hatinya. Mengubah takdir buruk orang-orang yang tulus menyayanginya jauh lebih berharga daripada apa pun. "Aku cuma kebetulan menganalisis pasarnya dengan benar, Rin. Aku ikut senang banget mendengarnya. Sekarang, kamu dan keluargamu bisa tidur dengan tenang tanpa perlu cemas lagi," jawab Kinara tulus, menggandeng tangan sahabatnya itu untuk berjalan bersama masuk ke dalam ruang kelas.

Suasana kantin kampus siang itu sangat riuh dan padat oleh mahasiswa yang melepas penat setelah jam kuliah yang padat. Di salah satu meja sudut yang agak tenang, Kinara duduk bersama dua sahabat karibnya, Ririn dan satu temannya lagi, asyik menikmati makan siang mereka. Ririn masih sesekali tersenyum lebar, tampak sangat ringan dan bahagia karena beban finansial keluarganya baru saja terangkat pasca-keuntungan investasi saham kemarin.

​Kinara menyuap makanannya dengan tenang, menikmati momen-momen sederhana seperti ini yang tidak pernah bisa ia rasakan di kehidupan lalunya karena selalu terkurung dalam kesedihan di rumah mewah Zergan.

​Namun, ketenangan di sudut kantin itu tidak bertahan lama. Kehebohan mendadak tercipta di area tengah kantin, dekat stan minuman. Suara pekikan nyaring dan nada bicara yang meninggi memicu perhatian hampir seluruh mahasiswa yang ada di sana.

​"Maksud kamu apa, hah?! Kamu sengaja mau ngeboikot nama aku dari daftar perwakilan lomba model busana kampus?!" teriak Haura dengan wajah yang memerah padam menahan amarah.

​Di hadapan Haura, berdiri seorang mahasiswi berkacamata tebal dengan angkuh, melipat kedua tangannya di dada. Perempuan itu adalah ketua panitia seleksi internal sekaligus rival akademis yang memang sejak lama bersaing ketat dengan Haura dalam berbagai ajang perlombaan kampus.

​"Ngeboikot? Tolong ya, Haura, jangan terlalu percaya diri," balas perempuan itu dengan nada meremehkan yang memekakkan telinga. "Seleksi ini murni berdasarkan nilai akademis dan kedisiplinan. Kamu itu sering absen kuliah demi pemotretan di luar. Wajar dong kalau skor kamu turun dan posisi kamu digantikan sama yang lebih berkompeten? Nggak usah bawa-bawa urusan pribadi!"

​"Tapi aku udah dapet dispensasi resmi dari dekanat! Kamu sengaja cari-cari kesalahan aku karena kamu takut tersaingi di babak final nanti, kan?!" cecar Haura tidak mau kalah, melangkah maju menyudutkan perempuan tersebut.

​Mendengar keributan itu, Ririn menyenggol lengan Kinara. "Ra, lihat deh. Itu si Haura lagi labrak anak panitia lomba. Gila, dramatis banget siang-siang begini."

​Kinara hanya melirik sekilas ke arah pusat keributan, lalu kembali menunduk menatap piringnya. Wajahnya datar, sama sekali tidak tertarik. "Bukan urusan kita, Rin. Biarin aja," jawab Kinara pendek. Di dalam hatinya, ia sudah bertekad kuat untuk tidak lagi terlibat dalam pusaran drama apa pun yang berkaitan dengan Haura ataupun lingkaran kehidupan Zergan. Urusannya menyelamatkan nyawa gadis itu semalam sudah selesai, dan ia tidak mau menambah rumit takdir barunya.

​Setelah menyelesaikan makanan di piringnya, Kinara berdiri. "Aku mau ambil pesanan sop ayam panas di stan ujung dulu ya buat dibungkus dibawa ke kos," pamit Kinara pada kedua sahabatnya.

​Kinara berjalan memutari area kantin menuju stan makanan berkuah. Beberapa menit kemudian, ia kembali berjalan menyusuri koridor tengah kantin sambil membawa sebuah mangkuk melamin tebal yang berisi penuh sop ayam yang baru saja diangkat dari panci besar yang mendidih. Kuah beningnya masih meletup-letup kecil dengan asap tebal yang mengepul lurus ke atas, menebarkan aroma kaldu yang sangat pekat. Kinara berjalan dengan sangat hati-hati, kedua tangannya memegangi tepian mangkuk, memastikan kuah panas itu tidak tumpah.

​Nahas, jalur jalan menuju mejanya harus melewati titik di mana Haura dan perempuan tadi masih berdebat sengit. Keadaan di sana rupanya kian memanas dan tidak terkendali.

​"Kamu bener-bener keterlaluan ya!" teriak perempuan rival Haura itu yang tampaknya sudah kehilangan kesabaran karena terus-terusan ditunjuk oleh Haura.

​Perempuan itu dengan emosi tinggi menghentakkan tangannya, mendorong bahu Haura dengan kuat. Haura yang memakai sepatu hak tinggi sontak kehilangan keseimbangan. Tubuh Haura terhuyung ke belakang dengan hebat, menabrak tubuh mahasiswi lain, yang kemudian menimbulkan efek domino saling dorong di tengah kerumunan yang menyemut.

​Tepat pada detik itu, Kinara sedang melintas tepat di samping barisan mahasiswa yang menonton. Seseorang yang terdorong akibat pemicu dari perempuan rival Haura tadi, melangkah mundur secara drastis tanpa melihat arah dan langsung menghantam keras sisi kanan tubuh Kinara.

​Brakk!

​"Aaahh!" Kinara menjerit refleks.

​Benturan yang tiba-tiba dan keras itu membuat pertahanan tangan Kinara runtuh. Mangkuk melamin di tangannya miring seketika. Dalam hitungan sepersekian detik, kuah sop yang masih berada di tingkat kematangan maksimal dan mendidih itu tumpah ruah, langsung menyiram pergelangan hingga punggung tangan kiri Kinara secara telak.

​Sshhh!

​Rasa panas yang luar biasa seperti membakar kulit langsung menjalar seketika. Kulit putih mulus Kinara dalam sekejap berubah menjadi merah meradang akibat sengatan suhu ekstrem dari kuah kaldu tersebut. Mangkuk melamin itu jatuh ke lantai semen kantin, menimbulkan bunyi nyaring yang memecah ketegangan perdebatan.

​Pranggg!

​Kinara langsung berlutut di lantai, memegangi pergelangan tangan kirinya yang gemetar hebat. Rasa perihnya begitu menyiksa, seolah kulitnya sedang dikelupas paksa. Air mata Kinara refleks menetes menahan rasa sakit yang datang bertubi-tubi semenjak kejadian semalam di alun-alun.

​"Nara!!" Ririn dan sahabatnya yang melihat kejadian itu langsung berteriak histeris dan berlari dari meja sudut, membelah kerumunan untuk menolong Kinara yang terduduk kesakitan di lantai kantin yang basah.

1
si mesteri
semoga kau hidup bahagia kedepan nya kinara oh iya thor ini yg terbagus dalam ending sad bikin haru dan mau aku baca berkali-kali tapi radak nyesek sama endingnya semoga thor nya juga sehat selalu dadah /Smile//Sob/
Uthie
Lagiiii dong 😍
heyyykau
crazy up kak🫰
Dwi Agustina
Allah pasti trlah menyiapkan takdir yg lbh indah utkmu Nara😥💪
heyyykau
crazy up kak, gk sabar liat kinara menghilang dri kehidupan zergan trs kinara jadi sukses sm ada seseorang mencintai kinara dengan tulus dan juga sebaliknyaa🫰😭
Dedi Dahlia
nanti setelah kinara pergi,zergan ingat kembali massa lalu kehidupan pertama, dan menyadari sipat Haura tak seperti yang diharapkan,baru lah sadar hanya kinara gadis yang tulus dan mengerti tapi,sayang terlambat baru menyadarinya,sip di tunggu momennya thorr itu terjadi🙂🙂
Uthie
Saya sihhh paling gak sabar nunggu pas moment Kinara pergi dari Zergan, dan ia baru menyadari siapa yg paling tulus pada nya nanti 😏😏

kayanya Haura ada main di belakangnya, dengan Arsen pula!
Dwi Agustina
Sesakit ini y Nara nyampe kesini😥🤣😂😂
putmelyana
bodoh bukannya menjauh malah masuk kedalam masalahnya bodoh bnget lu kinara
Devi..
harusnya Kinara memastikan dulu gmna hub Haura dg Arsen.. terlalu buru" klo lngsung menghadap Oma..😌
heyyykau
crazy upp kak gk sabar kinara pergi jauh, sukses dan punya pasangan yang menerima dia apa adanya dan yg terpenting mencintai diaa🫰
aku
kenapa nara smpe segitunya sih. bukannya udh ckup smpe haura batal diculik ja? kesannya jd ikut campur bgt. agk kurang respect 🙏 mf cm berpendapat 🙏
Uthie
Sepertinya Kinara malah membuat masalah baru nantinya untuk Zergan... bahwa Haura sebenarnya tidak sebaik yg terlihat!!
ada pengkhianatan sebenarnya...
Uthie
Kalau menurut aku, berubah nya Takdir ini adalah saat Haura batal di culik, dan tidak jadi meninggal tragis...
Namun sesudahnya sebenarnya terkuak hubungan rahasia Haura dan Arsen....
dan itu belum di ketahui oleh Ze 👍

dan...bisa jadi di takdir kedua ini, sebenarnya menghubungkan antara 2 tokoh utamanya 👍😁
Dwi Agustina
Nyesek bngt jd Kinara😥
Uthie
Lagiiii dongggg 😍🙏🙏
Lippe
Kinara malah bikin Zergan jadi tambah beban pikiran 🤣
Uthie
Bagussss... keren tuhhhh pembalasan nya 👍👍😍😍😍
aku
🌹 ayo tor biar semangat 🙏
Yuyun Suprapti
masih kurang kk...
besok² crazy up dong kk thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!