NovelToon NovelToon
Pengkhianatan Manis Adik Kandung Ku

Pengkhianatan Manis Adik Kandung Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Mbak Rani!" Tyas langsung memeluk kakaknya erat.

​"Wah, adik Mbak sudah besar sekarang, ya. Makin cantik," puji Rani tulus, mengusap kepala adiknya. Rani kemudian beralih ke suaminya yang berdiri di ambang pintu. "Mas, ini Tyas."

​Tyas beralih menyalimi tangan Angga. "Halo, Mas Angga. Mohon bantuannya ya selama Tyas kuliah di sini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas waktu

​Tyas keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terasa lebih segar setelah dibasuh air dingin, meski lingkaran matanya masih tampak sembap. Ia melangkah masuk ke kamarnya, duduk di tepi tempat tidur sembari menatap ke luar jendela yang kini menyajikan pemandangan langit malam yang pekat.

​Pikiran Tyas mendadak dipenuhi oleh kecemasan baru saat mengingat kalender. Besok adalah hari di mana Mbak Rani dijadwalkan pulang dari luar kota. Waktu kebersamaan terlarangnya dengan Angga di rumah minimalis satu lantai ini hanya tersisa malam ini. Esok hari, segalanya harus kembali berjalan normal, dan Tyas harus pandai-pandai menyembunyikan bekas kemerahan di lehernya agar sang kakak tidak menaruh curiga.

​Tok, tok.

​Pintu kamar terbuka perlahan. Angga melangkah masuk sambil membawa sebuah nampan kayu yang cukup besar. Di atasnya sudah tersaji dua mangkuk mie ayam yang mengepulkan uap hangat, sekotak martabak manis yang aromanya menggugah selera, dan beberapa batang cokelat pesanan Tyas.

​"Tyas, ambilkan air dingin di kulkas untuk kita. Mas tunggu di sini," ujar Angga sembari meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil dekat tempat tidur.

​"Iya, Mas," jawab Tyas patuh.

​Ia segera berjalan ke area dapur yang letaknya tak jauh dari kamarnya, membuka pintu lemari es, dan mengambil satu botol besar air dingin beserta dua gelas. Begitu kembali ke kamar, Tyas mendapati Angga sudah duduk santai di lantai yang dilapisi karpet bulu, bersandar pada sisi ranjang tempat tidur Tyas. Pria itu sudah menanggalkan kemejanya, kini hanya mengenakan kaos dalam hitam yang menonjolkan otot lengannya yang kekar.

​Tyas meletakkan botol air dan gelas di dekat nampan, lalu ikut duduk di samping Angga. Suasana kamar yang biasanya menjadi ruang privasi Tyas kini terasa begitu intim dan penuh ketegangan yang halus.

​"Makanlah, mumpung masih hangat. Kamu butuh energi setelah kejadian tadi siang," kata Angga, menyerahkan satu mangkuk mie ayam ke tangan Tyas.

​Mereka berdua mulai makan dalam keheningan yang nyaman. Sensasi hangat dari makanan dan kehadiran Angga di sisinya perlahan-lahan mengusir sisa rasa dingin akibat trauma di basemen mall tadi. Namun, setiap kali mata Tyas melirik ke arah Angga, ada debaran aneh yang terus berpacu di dadanya—sebuah kesadaran bahwa malam ini adalah malam terakhir mereka sebelum dinding realitas dan kedatangan Mbak Rani merubuhkan segalanya esok hari.

Setelah mangkuk mie ayam yang kosong disisihkan, Tyas meraih sebatang cokelat pesanan yang sudah dibelikan Angga. Dengan jemari yang sedikit lebih tenang, ia merobek bungkusnya, mematahkan satu kotak kecil, dan memasukkannya ke dalam mulut. Rasa manis yang pekat perlahan meleleh, memberikan sensasi rileks yang sangat ia butuhkan setelah seharian didera ketegangan.

​Sambil mengunyah pelan, Tyas menoleh ke arah Angga yang masih bersandar di sisi ranjang. Suasana kamar yang temaram dan keheningan malam satu lantai rumah itu membuat keberaniannya sedikit terkumpul untuk membicarakan hal yang sejak sore mengusik pikirannya.

​"Mas..." panggil Tyas lirih, memecah kesunyian.

​Angga menoleh, menatapnya dengan sepasang mata tajam yang selalu tampak tenang namun menghanyutkan.

​Tyas menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Nanti kalau Mbak Rani sudah pulang, tolong... bersikap sewajarnya kakak ipar saja ya, Mas."

​Ada jeda sejenak saat Tyas menunduk, memainkan ujung bungkus cokelat di tangannya. Bayangan wajah Mbak Rani yang tersenyum tulus di telepon sore tadi kembali melintas, menghadirkan rasa perih yang tipis di sudut hatinya.

​"Aku takut banget kalau Mbak Rani sampai curiga," pungkas Tyas dengan suara yang nyaris berbisik, menyiratkan ketakutan terdalamnya akan kehancuran rahasia terlarang mereka esok hari.

1
Anonim
Kurang ajar banget si angga dan si tyas ini,buat rani tau lebih cepat thor tentang kebangsatan suami dan adik nya
Anonim
Lama bener thor muter nya ,si rani kapan sadar perselingkuhan adik nya sama suami nya jangan kelamaan
Anonim
Si rani kenapa oneng sih g bisa liat sekilas model ade nya kek apaan dah ,cuek apa emang buta dia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!