NovelToon NovelToon
Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Teen
Popularitas:857
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

“Tadi dua kakak kamu juga tidak sekolah.”

“Hah? Kenapa, Pak?” Nayla menatap Pak Dino dengan wajah terkejut sekaligus heran.

Malam masih terasa hangat ketika taksi yang ditumpanginya melaju pelan melewati jalanan sepi. Lampu-lampu jalan yang berjajar di sisi kiri dan kanan memantulkan cahaya redup di kaca jendela, menciptakan bayangan samar di wajah Nayla yang masih pucat. Dia duduk diam di kursi belakang, tangannya menggenggam ujung seragam sekolahnya yang masih kusut, sementara pikirannya dipenuhi oleh banyak hal yang belum sempat ia cerna.

Pak Dino yang duduk di depan, menoleh sebentar melalui kaca spion. Ada kerutan tipis di dahinya, seolah ia sendiri baru teringat sesuatu yang sebenarnya cukup penting.

“Loh?” katanya pelan, lalu menghela napas pendek. “Bukannya Devan sedang sakit? Memangnya kamu nggak tahu?”

Nayla tertegun.

“Devan sakit?” ulangnya lirih. Ia menatap Pak Dino dengan alis mengernyit. Kepalanya terasa penuh dan bingung. “Oh… eh, iya… lalu yang—”

“Jevan?” sambung Pak Dino. “Anak itu nggak ada izin sama sekali dan nggak tahu ke mana.”

“Emang Bapak nggak tahu dia di mana?” tanya Nayla lagi, kali ini benar-benar heran. Bukankah sekolah sangat disiplin? Bukankah kalau ada murid yang bolos, pihak sekolah akan mencari tahu? Bahkan terkadang mereka sampai menghubungi orang tua jika ada yang tak masuk tanpa alasan jelas.

Pak Dino terkekeh kecil, tapi nadanya tetap penuh kebingungan. “Semua guru nggak ada yang tahu keberadaan Jevan. Jevan itu anak yang penuh kejutan. Dia lebih baik dihukum daripada harus menjelaskan.”

Nayla terdiam.

Nama Jevan berputar-putar di kepalanya. Kakak pertamanya itu memang aneh. Terlalu diam. Terlalu misterius. Dan sekarang, seiring dengan semua yang ia dengar malam ini, perasaan Nayla semakin tak menentu. Ada bagian dari dirinya yang seperti tidak mau percaya bahwa tadi yang ia lihat di rumah sakit hanyalah mimpi.

Karena ia masih mengingat dengan jelas.

Laki-laki itu menemuinya di pinggir jalan yang sepi. Setelah Marvin pulang dia berjalan tanpa arah di jalanan sepi. Lalu dua pria brengsek yang tadi sempat mengganggunya.Kemudian Jevan yang tiba-tiba muncul, menolongnya, lalu membiarkan dua pria itu kabur.

Meski setelahnya Nayla tidak sadarkan diri karena tubuhnya terlalu lemah, ingatan itu tetap terasa begitu nyata. Terlalu nyata.

Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan diri. Jantungnya masih berdebar, bukan hanya karena kecapean, tetapi juga karena segala pertanyaan yang belum menemukan jawaban.

Taksi kembali melaju, dan dalam waktu yang terasa terlalu cepat, mobil berhenti tepat di depan mansion keluarga Raharja.

Rumah besar itu berdiri megah dalam gelap malam, lampu-lampu taman masih menyala lembut. Dinding putihnya tampak bersih, pagar besarnya menjulang tinggi, dan pintu gerbang utama berdiri kokoh seperti penjaga tak bernyawa. Dari luar, rumah itu memang tampak seperti tempat tinggal keluarga terpandang. Mewah. Rapi. Tenang. Tapi bagi Nayla, bangunan itu sudah lama bukan lagi rumah.

Rumah itu hanyalah tempat yang harus ia masuki dengan hati-hati.

Tempat yang menyimpan terlalu banyak luka.

Nayla menoleh ke arah Pak Dino dengan perasaan tidak enak. Ia tidak ingin merasa merepotkan, apalagi setelah guru itu berbaik hati mengantarnya sampai ke sini.

“Bapak nggak mau mampir dulu?” tanyanya basa-basi, meski sebenarnya ia tahu jawabannya akan sama.

Pak Dino tersenyum kecil. “Lain kali saja ya, Nayla. Bapak masih banyak urusan.”

“Iya, Pak. Terima kasih ya, Pak, sudah antar saya pulang.”

Nayla mengucapkannya tulus. Sangat tulus. Meskipun pada kenyataannya, ia tidak benar-benar ingin pulang.

Pak Dino mengangguk. “Iya, Nayla. Cepat sembuh ya. Sampaikan salam Bapak untuk orang tua kamu.”

“Baik, Pak.”

Nayla lalu memberi hormat dengan spontan, persis seperti saat hormat kepada bendera di upacara. Gerakan itu membuat Pak Dino terkekeh kecil. Suasana yang sebelumnya tegang sedikit mencair, dan untuk sesaat Nayla merasa seperti dirinya yang dulu anak sekolah yang biasa, yang bisa tertawa tanpa harus berpikir dua kali.

Pak Dino mengangkat tangannya kecil, lalu taksi itu perlahan menjauh meninggalkan pekarangan rumah Raharja.

Nayla berdiri beberapa detik di tempatnya, menatap mobil itu sampai menghilang di ujung jalan. Nafasnya keluar panjang, berat, lalu ia berbalik menatap pagar tinggi yang menjulang di hadapannya.

“Lo harus siap, Nayla…” bisiknya pada diri sendiri. “Lo harus kuat.”

Tangannya mengepal kecil di sisi tubuhnya.

Dia tahu, begitu pintu itu dibuka, segalanya bisa berubah.

Atau mungkin segalanya akan benar-benar runtuh.

Saat Nayla hendak melangkah masuk, terdengar suara seseorang memanggil namanya dari seberang jalan.

“Nayla!”

Nayla menoleh cepat. “Eh iya? Kenapa?”

Seorang gadis berdiri di sisi seberang jalan sambil melambai. Tak lama kemudian ia berjalan cepat ke arah Nayla, membuat niat Nayla untuk langsung masuk ke rumah menjadi tertunda.

Nayla mengenali gadis itu.

Luna.

Tetangga sekaligus teman yang cukup sering berbincang dengannya saat berpapasan di luar rumah. Luna punya wajah ramah dan suara yang ceria, tipe orang yang selalu terlihat lebih ringan menjalani hidup dibandingkan dirinya.

“Ada apa, Lun?” tanya Nayla.

Luna mengulurkan sebuah tas berwarna biru. “Ini tadi ada laki-laki yang nitipin tas lo ke gue. Katanya dia buru-buru, makanya nggak sempat masuk.”

Nayla terdiam sesaat, lalu menerima tas itu dengan senyum lega. “Oh iya, makasih ya, Luna.”

Luna mengangguk, lalu menatap tangan Nayla yang tersembunyi separuh di belakang tubuhnya. Keningnya langsung berkerut.

“Tangan lo kenapa, Nay?”

Refleks, Nayla menyembunyikan lengannya lebih rapat lagi di belakang tubuhnya. “Eh… anu… tadi gue jatuh pas jam olahraga. Lo tenang aja, ini cuma luka kecil kok.”

Luna tampak tidak sepenuhnya percaya, tapi ia juga tidak memaksa. “Oh, yaudah deh kalau gitu. Gue balik ya.”

“Iya, hati-hati.”

Luna melambaikan tangan kecil sebelum kembali menyeberang jalan dan masuk ke rumahnya sendiri. Nayla menghela napas lega. Untung saja pertanyaan Luna tidak terlalu banyak. Setidaknya dia tidak perlu memutar otak lebih keras untuk berbohong pada orang yang lebih ramah daripada keluarganya sendiri.

Nayla menatap tas biru itu lagi.

Marvin.

Nama itu tiba-tiba terlintas di kepalanya.

Jadi, dia benar-benar yang mengirimkan tas ini ke Luna? Kenapa dia berbuat baik seperti itu? Tumben sekali. Biasanya laki-laki itu selalu punya cara bicara yang membuat Nayla kesal. Selalu terlihat terlalu yakin pada dirinya sendiri. Selalu memancing emosi.

Namun kali ini, barang-barangnya kembali tanpa hilang satu pun.

Bahkan ponselnya tadi sempat diisi dayanya.

Nayla mengernyit kecil.

Apa Marvin memang sedang baik?

Atau itu hanya cara lain untuk membuatnya berhutang budi?

Ia menggeleng kecil. Tidak ada gunanya memikirkan laki-laki itu terlalu jauh sekarang. Yang terpenting, ia harus masuk.

Sekarang tidak ada pilihan lain.

Dia harus kembali ke rumah yang sudah ia tinggali hampir tujuh belas tahun lamanya. Harus meminta kejelasan. Harus menanyakan semuanya langsung kepada mama dan papanya. Kalau memang benar ia bukan anak kandung mereka, maka Nayla sangat siap pergi dari rumah ini.

Ia tidak mau menjadi beban.

Ia tidak mau tinggal di tempat di mana keberadaannya hanya dianggap kesalahan.

Setidaknya, sebelum usianya benar-benar dewasa, ia harus tahu semuanya. Harus tahu siapa dirinya sebenarnya. Harus tahu kenapa semuanya bisa seburuk ini. Harus tahu apa yang selama ini disembunyikan dari dirinya.

Nayla menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

“Lo harus siap, Nayla. Lo harus kuat.”

Kali ini suaranya sedikit lebih tegas.

Dan dengan langkah yang terasa berat, ia akhirnya masuk ke dalam pekarangan rumah keluarga Raharja.

Pagar besi itu menutup perlahan di belakangnya.

Dan untuk sesaat, Nayla merasa seperti sedang melangkah masuk ke dalam kandang yang pernah ia kenal terlalu baik.

Halaman luas itu sepi. Lampu-lampu taman memantulkan cahaya pucat pada jalan setapak yang mengarah ke pintu utama. Rumput-rumput terawat rapi. Semuanya tampak begitu sempurna. Namun justru karena terlalu sempurna, tempat itu terasa makin dingin.

Nayla berjalan pelan.

Setiap langkah terasa semakin berat.

Seolah kakinya tahu bahwa setelah ini, ia tidak akan mendapat jawaban yang mudah.

Sampai akhirnya ia tiba di teras rumah.

Jari-jarinya menyentuh gagang pintu.

Berhenti sejenak.

Merasakan dinginnya logam sebelum benar-benar mendorong pintu itu terbuka.

Ceklek.

Pintu terbuka.

Dan seperti biasa, yang menyambutnya hanyalah keheningan.

Tidak ada yang menunggu.

Tidak ada yang menyapa.

Hanya suara lampu yang menyala lembut, dan langkah beberapa pekerja rumah yang masih sibuk beraktivitas di kejauhan. Mungkin membersihkan, mungkin menata, mungkin sekadar memastikan rumah besar itu tetap terlihat seperti istana yang damai.

Nayla masuk perlahan.

Baunya masih sama.

Aroma kayu mahal, parfum ruangan, dan udara dingin yang sulit dijelaskan. Rumah ini memang selalu senyap pada malam hari. Bahkan jika seluruh keluarga ada di dalam, suasananya tetap tidak pernah terasa seperti rumah.

Mungkin karena di sini tidak ada yang benar-benar berbicara dari hati ke hati.

Mungkin karena di sini, semua orang hanya sibuk menjadi peran masing-masing.

Nayla melepas sepatunya di dekat pintu, lalu berjalan melewati ruang tengah.

Langkahnya terhenti ketika ia melihat ke arah tangga.

Dan di sanalah Jevan berdiri.

Laki-laki itu mengenakan pakaian santai, jaket hitam dan celana gelap. Ekspresinya seperti biasa tenang, sulit ditebak, dan terlalu jauh dari kata hangat. Nayla menatapnya beberapa detik. Mereka sama-sama diam. Seperti dua orang asing yang hanya berbagi nama belakang dan alamat rumah.

Jevan menatapnya balik.

Lalu memalingkan wajah.

Tanpa kata.

Tanpa sapaan.

Nayla tidak bertanya apa pun. Tidak juga menegur kenapa dia tidak masuk sekolah. Tidak ada tenaga untuk itu malam ini. Kepalanya masih penuh oleh banyak hal yang jauh lebih besar daripada sikap dingin Jevan.

Ia terus berjalan.

Naik satu anak tangga.

Naik lagi.

Namun baru sampai di pertengahan, ia mendengar suara yang membuat langkahnya terhenti.

Suara perdebatan.

Dari arah kamar orang tuanya.

Nayla menoleh.

Suara itu bukan suara biasa. Ada ketegangan di sana. Ada sesuatu yang pecah. Ada tangisan yang tertahan. Dan tanpa sadar, telinganya justru menangkap setiap kata dengan sangat jelas.

“Mau sampai kapan?” suara papanya terdengar keras.

“Nayla itu anak kandung kamu! Setidaknya jangan lukai dia demi aku!”

Nayla membeku.

Napasnya tertahan.

Tangannya langsung memegang railing tangga.

Apa?

Apa yang barusan ia dengar?

“Kamu sudah bilang itu berkali-kali, Nova. Saya sudah bosan dengar alasan itu!”

“Luka itu masih ada… bahkan meninggalkan bekas!”

Nayla merasakan hawa dingin menyusup ke tulang belakangnya.

“Jangan coba cari celah kalau semua bukti ada!”

“Jangan siksa dia lagi… aku mohon…”

Suara tangisan mamanya terdengar sangat jelas sekarang. Isak yang tertahan, putus asa, penuh kepedihan yang selama ini tidak pernah benar-benar Nayla pahami. Dan justru karena itulah, dadanya makin sesak.

“Saya sudah memaafkan kamu,” suara papanya turun menjadi lebih tajam dan rendah. “Tapi tidak dengan anak itu.”

Kalimat itu menghantam tepat di tengah dada Nayla.

Berat.

Dingin.

Mengerikan.

“Tapi dia anak kamu! Darah daging kamu! Dia nggak salah, tolong berhenti… sudah cukup…”

“Berhenti memohon untuk dia!” bentak papanya. “Kalau kamu tidak mau anak bajingan itu saya musnahkan!”

Nayla menutup mulutnya.

Tubuhnya langsung terasa lemas.

Ia menggeleng-geleng kecil, seolah ingin menolak suara yang baru saja ia dengar.

Tidak.

Tidak mungkin.

Tidak mungkin itu benar.

Anak bajingan?

Apa maksudnya?

Apa yang sebenarnya terjadi?

Jantungnya berdegup begitu keras sampai ia merasa suaranya sendiri seperti tertelan udara.

Ia tidak sanggup bergerak.

Kakinya seakan membeku di tempat.

Kalimat-kalimat itu terus terngiang di kepalanya, seperti petir yang berulang kali menyambar.

Jadi selama ini benar?

Jadi ia bukan anak kandung papanya?

Bagaimana mungkin?

Kenapa semua ini terasa begitu menghancurkan?

Nayla memejamkan mata.

Air mata langsung menggenang, menunggu sedikit celah untuk jatuh.

Lalu perlahan, ia mundur satu langkah.

Satu langkah lagi.

Ia harus pergi.

Ia tidak bisa berdiri lebih lama di sana. Tidak bisa mendengar lebih banyak lagi. Tidak bisa membiarkan hatinya dihancurkan di depan pintu kamar orang tuanya sendiri.

Namun saat hendak berbalik, tubuhnya mendadak menegang.

Di belakangnya, berdiri seorang laki-laki tinggi dengan pakaian rumahan.

Devan.

Mata Nayla langsung menatapnya.

Laki-laki itu tampak berbeda. Wajahnya terlihat lelah, matanya sedikit sembap, dan ekspresi yang ia tunjukkan bukan seperti biasanya. Ada sesuatu yang aneh. Ada sesuatu yang disembunyikan. Namun Nayla terlalu kacau untuk memikirkan itu sekarang.

Ia tidak bisa berpikir jernih.

Tidak bisa menilai.

Tidak bisa bernapas dengan benar.

Yang ada hanya satu hal di kepalanya sekarang:

Papa tadi bilang ia bukan anak kandung.

Sisa tenaga dalam tubuh Nayla langsung menghilang begitu saja.

Tanpa memedulikan apapun, ia berbalik dan berlari menuruni tangga. Langkahnya terburu-buru. Napasnya tidak teratur. Air mata mulai jatuh tanpa ia bisa kendalikan lagi.

Di kepalanya, suara papanya terus bergema.

“Anak bajingan…”

“Tidak dengan anak itu…”

“Kalau kamu tidak mau anak bajingan itu saya musnahkan…”

Semua kalimat itu seperti menusuk-nusuk dadanya secara bergantian.

Nayla menutup mulutnya sendiri agar tidak menangis terlalu keras. Bahunya bergetar. Punggungnya terasa panas. Kepalanya pening. Dunia di sekitarnya seperti mulai kabur.

Ia tidak tahu ke mana harus pergi.

Tidak tahu harus melakukan apa.

Yang ia tahu hanya satu, rumah itu bukan lagi rumah.

Dan dirinya mungkin memang tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari keluarga itu.

Ia keluar kembali ke halaman rumah dengan langkah sempoyongan.

Udara malam langsung menghantam wajahnya, dingin dan lembap. Nayla berdiri di tengah pekarangan beberapa detik, memandangi pintu rumah yang baru saja ia tinggalkan.

Tangannya gemetar.

Dadanya naik turun cepat.

Hati dan pikirannya kacau.

Ia sangat ingin kembali masuk lalu memaksa mama dan papanya menjelaskan semuanya. Tapi kakinya tidak sanggup.

Belum.

Ia butuh waktu.

Butuh napas.

Butuh sedikit ruang untuk tidak runtuh sepenuhnya.

Nayla memeluk tas birunya erat-erat ke dada.

Lalu menengadah ke langit.

Hitam.

Tanpa bintang.

Seperti hidupnya malam ini.

“Jadi gue siapa?” bisiknya nyaris tak terdengar.

Tidak ada jawaban.

Hanya angin malam yang lewat, menyisir pipinya yang basah.

Untuk pertama kalinya sejak tadi, Nayla benar-benar merasa bahwa hidupnya sedang berdiri di ujung jurang.

Dan ia tidak tahu apakah setelah ini ia akan jatuh.

Atau justru harus belajar terbang sendiri.

Ia menarik napas panjang.

Lalu berjalan pelan menuju bangku kecil di dekat taman rumah.

Duduk.

Memeluk dirinya sendiri.

Dan membiarkan air mata yang sedari tadi tertahan akhirnya jatuh tanpa suara.

Malam itu, di bawah lampu taman yang redup, Nayla Arabella akhirnya mulai mengerti satu hal, bahwa segala yang selama ini ia yakini bisa saja hancur dalam satu malam.

Dan setelah itu, tidak ada lagi yang benar-benar sama.

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!