NovelToon NovelToon
Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Duda
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.

Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.

Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.

Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Bahkan Sampai Akhir Tak Dipilih

Pagi datang terlalu cepat. Langit bahkan masih pucat ketika Anjani membuka mata.

Weekend yang sunyi. Tidak ada suara Bella merengek minta dikepang. Tidak ada suara Satriya memanggilnya dari kamar mandi karena handuk lupa diambilkan. Rumah besar itu terasa asing, dingin. Dan anehnya, lebih ringan.

Anjani duduk pelan di tepi ranjang. Matanya panas karena semalaman nyaris tidak tidur. Namun entah kenapa dadanya tidak sesesak tadi malam. Mungkin karena setelah sekian lama, akhirnya sesuatu benar-benar pecah. Tidak ada lagi harapan kecil yang dipaksa hidup.

Semuanya sudah selesai.

Talak semalam masih terngiang jelas di kepalanya.

Talak satu. Talak dua. Talak tiga.

Kalimat yang dulu terasa mustahil keluar dari mulut Satriya, ternyata semudah itu diucapkan saat marah.

Anjani menatap lemari cukup lama, lalu perlahan mulai memasukkan beberapa pakaian ke koper. Tidak banyak barang yang dibawa. Dia baru menyadari, setelah bertahun-tahun tinggal di rumah sebesar ini, ternyata tidak banyak hal yang benar-benar terasa miliknya.

Di sisi lain kamar, Satriya membuka mata dengan napas berat. Kepalanya sakit. Tidurnya semalaman berantakan. Potongan kejadian tadi malam terus muncul seperti rekaman rusak yang tidak mau berhenti diputar.

Tamparan keras, tangisan Anjani, dan kalimat 'Kita cerai aja.'

Satriya mengusap wajah kasar. Ada sesuatu yang mengganjal samar di dadanya. Penyesalan kecil yang cukup mengganggu. Akan tetapi egonya masih terlalu besar untuk mengakui kalau mungkin, ia kelewatan.

Menurut Satriya, semua ini bukan sepenuhnya salahnya. Entah sejak kapan Anjani berubah menjadi begitu sulit ditebak. Perempuan itu masih diam, masih tenang, tetapi tatapannya tak lagi sama. Ada jarak dan keberanian yang perlahan tumbuh di sana. Dan tanpa Satriya sadari, perubahan kecil itu justru membuat dirinya semakin kehilangan kendali.

Ia keluar kamar dengan langkah berat, lalu langsung berhenti. Aroma mi instan tercium dari dapur. Dan suara tawa kecil Bella terdengar nyaring.

“Aaaa nuggetnya lucu!”

Satriya mengernyit samar lalu berjalan mendekat. Di dapur, Cintya sudah berdiri cantik sejak pagi.

Rambutnya rapi. Make up tipis natural. Dress rumahan mahal yang bahkan tetap terlihat seperti outfit photoshoot.

Perempuan itu tampak sibuk sekali mondar-mandir dapur. Padahal di meja makan cuma ada, mi goreng instan, nugget goreng, donat warna-warni, cokelat, wafer, dan jus kemasan. Sebuah sarapan yang isinya seperti hasil negosiasi anak TK dengan minimarket.

“Tante Cintyaaaa, enak banget!” Bella terlihat paling bahagia pagi ini. Anak itu duduk sambil menggoyangkan kaki kecilnya riang.

Cintya tertawa lembut. “Bella suka?”

“Suka banget!

"Kalau Mama pasti nggak bolehin ya?”

Bella langsung mengangguk cepat. “Mama cerewet.”

Cintya tersenyum kecil. “Karena Mama sayang Bella.”

“Tapi Tante Cintya lebih baik.” Bella memeluk lengan perempuan itu manja. “Mama selalu ngelarang-ngelarang.”

Kalimat polos itu terdengar ringan. Dan tepat saat itu, langkah koper terdengar pelan dari arah tangga. Semua orang refleks menoleh.

Anjani berdiri di sana. Wajahnya pucat. Matanya sembab tipis. Namun ekspresinya jauh lebih tenang dibanding semalam. Dan di samping kakinya, koper hitam berdiri diam.

Bella langsung membeku. Satriya ikut diam. Sementara Cintya perlahan berdiri dari kursinya. Tatapan perempuan itu turun pada koper tersebut, lalu pada wajah Anjani.

Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak tadi malam, Cintya merasa sedikit tidak nyaman. Bukan karena Anjani akan pergi dari rumah itu, tapi karena wanita itu terlihat berbeda pagi ini. Tidak menangis histeris, memohon belas kasihan. Tidak juga tampak hancur. Justru terlalu tenang. Seperti seseorang yang akhirnya berhenti berharap pada apa pun di rumah ini.

Bella berkedip bingung. “Mama mau pergi?”

Anjani menatap putrinya beberapa detik. Dadanya tetap nyeri karena bagaimanapun Bella adalah separuh hidupnya. Namun malam tadi meninggalkan luka yang terlalu dalam.

“Iya," jawabnya pelan.

Bella langsung turun dari kursi. Namun sebelum Anjani sempat berharap, anak itu justru bertanya polos.

“Terus nanti yang bantu Bella ngerjain PR siapa?”

Sunyi.

Ah, jadi cuma itu. Anjani tersenyum tipis. Senyum yang terasa jauh lebih menyakitkan daripada tangisan.

Cintya buru-buru mendekati Bella. “Bella jangan ngomong begitu…”

Tapi lagi-lagi nadanya tidak benar-benar menegur. Justru terdengar seperti perempuan yang diam-diam menikmati posisi barunya di rumah itu.

Satriya sejak tadi hanya berdiri diam.

Tatapannya tertuju pada koper Anjani.

Dan untuk pertama kali, sesal itu muncul sedikit lebih jelas karena baru sekarang semuanya terasa nyata.

Anjani benar-benar pergi.

Bella masih berdiri di dekat meja makan. Tangan kecilnya memegang donat setengah dimakan. Matanya memandang koper hitam di samping Anjani dengan bingung yang polos.

“Mama mau pergi lama?”

Anjani diam beberapa detik, lalu perlahan berjalan mendekat. Setiap langkah terasa berat. Bukan karena koper itu, tapi karena anak kecil di depannya adalah satu-satunya alasan ia bertahan selama ini.

Anjani berjongkok pelan di depan Bella. Tangannya terangkat mengusap pipi putrinya penuh sayang, lembut sekali. Seakan sedang menyentuh sesuatu yang paling berharga sekaligus paling menyakitkan dalam hidupnya. Matanya nanar, namun tetap tenang menahan tangis yang sejak tadi menggumpal di tenggorokan.

“Kalau Mama nggak ketemu Bella lama…Bella bakal kangen nggak?” tanyanya lirih.

Bella mengangguk kecil cepat. “Kangen.”

Hati Anjani langsung berdenyut nyeri.

Tangannya gemetar samar saat merapikan rambut anak itu.

“Kalau gitu…” Napasnya tertahan kecil. “Bella mau ikut Mama?”

Sunyi.

Bella langsung tampak bingung. Tatapannya berpindah-pindah ke Satriya, lalu ke Cintya. Dan sayangnya, Cintya terlalu pintar membaca situasi.

Perempuan itu buru-buru mendekat lalu berjongkok di samping Bella dengan wajah paling lembut sedunia.

“Sayang…” Suaranya halus sekali, “Kalau ikut Mama nanti Bella pindah rumah.”

Bella langsung menoleh cepat. “Hah?”

“Nanti Bella nggak bisa ketemu Papa tiap hari.” Jemari Cintya membelai rambut anak itu pelan. “Nggak bisa tidur di kamar Bella yang cantik. Nggak bisa ketemu Tante juga.”

Bella mulai terlihat ragu. Sementara Cintya melanjutkan dengan senyum hangat yang terasa seperti racun dibungkus pita manis.

“Tapi Mama tetap sayang Bella kok.” Kalimatnya terdengar baik. Sangat baik malah, tapi diam-diam sedang membangun satu kesan 'ikut Mama berarti kehilangan semuanya.

Bella menggigit bibir kecilnya.

“Aku…” Anak itu menoleh ke Satriya. “masih mau sama Papa…”

Hancur. Anjani masih bertahan diam, meski dadanya rasanya seperti diremas pelan-pelan. Sayangnya belum selesai.

Bella kembali memeluk lengan Cintya kecil. “Dan sama Tante Cintya juga.”

Seketika dunia terasa sunyi. Anjani tidak langsung bergerak. Tidak juga menangis histeris. Ia hanya diam memandang anaknya sendiri memilih perempuan lain di depan matanya.

Dan mirisnya, Cintya masih sempat memasang wajah bersalah. “Bella…,” bisiknya lembut seolah tak enak hati.

Padahal mata perempuan rubah itu menyimpan kemenangan kecil yang nyaris tidak bisa disembunyikan lagi.

Anjani tersenyum kecil..Namun senyum itu retak. Benar-benar retak.

“Gitu ya…” Suaranya nyaris seperti bisikan.

Bella langsung merasa sedikit tidak enak. “Mama marah?”

Anjani cepat menggeleng. “Nggak.”

Mana mungkin ia marah pada anaknya? Bella cuma terlalu kecil untuk mengerti bagaimana orang dewasa saling melukai.

Anjani mengusap pipi anak itu sekali lagi lebih lama. Seakan sedang menghafal hangatnya untuk terakhir kali. Dan saat itulah, Satriya tertawa sinis.

“Kamu dengar sendiri ‘kan?”

Anjani perlahan berdiri. Tatapannya langsung bertemu Satriya. Lelaki itu bersandar santai di meja makan sambil menatapnya dingin.

“Bahkan Bella aja nggak milih kamu, jadi jangan terlalu merasa dibutuhkan di rumah ini.”

Serentetan frasa yang mencela dari bibirnya menghantam telak. Kejam dan benar-benar tanpa sisa belas kasih.

Anjani menatap lelaki yang dulu dicintainya mati-matian itu cukup lama. Aneh ya. Manusia memang bisa berubah sejauh ini. Atau mungkin, Satriya memang sudah lama seperti ini, hanya saja dulu Anjani terlalu cinta untuk menyadarinya.

Air matanya akhirnya jatuh satu. Bukan karena berharap dipertahankan, melainkan karena sesuatu dalam dirinya benar-benar selesai.

Anjani akhirnya menarik koper hitamnya pelan. Roda kecilnya bergesekan dengan lantai marmer, menimbulkan suara lirih yang entah kenapa terdengar menyedihkan di rumah sebesar itu.

Tidak ada yang menahannya dan berkata 'Jangan pergi.'

Padahal dulu Satriya pernah bilang. “Kalau kamu ninggalin aku, rumah ini bakal kosong.”

Nyatanya sekarang yang kosong justru hati Anjani.

Ia melangkah menuju pintu, tapi baru beberapa langkah--

“Eh Kak Anjani…”

Suara lembut Cintya menghentikannya.

Bersambung~~🤧

1
Ayuwidia
Seperti biasa, pasti memerah karena melihat bidadari 😃
Ayuwidia
Winda ini mengingatkan aku sama mahasiswi yg cinta berat sama Sagara
Anna
ceritanya bagus dan lucu nya pas
Kafire deweh
kepentok cinta janda kembang🤣🤣🤣🤣
ryuka
lanjuutt thoorrr👍👍👍👍👍👍
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭 eeeiiiiiyyy ada yg makin trrpesona deh nih 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ifana
pasti telinga nya ren langsung merah tu liat Anjani 🤣🤣
Najwa Aini
Aduuhhh...ngakak
Najwa Aini
Nah benar. aku setuju dgn komentar Staf
Najwa Aini
Aku gak bosan kok Sae dengan papamu
Najwa Aini
Itu bapakmu lo Sae
Ayuwidia
Pasti memerah
Ayuwidia
Uhuk, perhatian yang sangat unik, Pak Ren
Ayuwidia
Cemburu, tapi gengsi bossss 😆
Ayuwidia
Woah, aku pernah kena semburan ini
Ayuwidia
Kerja di mana pun pasti ada orang yg dengki ya 😏
ryuka
lanjuutt thoorrr
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭 raka kamu pintarrrr
Ayuwidia
Jiahhhh percaya diri sekali. Plek ketiplek Ren Aksara
ryuka: bapak nya bodoh ga bisa jaga hati dan otakk.. ekhhh anak nyq jadi ketularan juga dehh
total 1 replies
Ayuwidia
Anak ini, selalu sukses bikin orang dewasa ngakak 😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!