NovelToon NovelToon
Pura-Pura Jadi Supir

Pura-Pura Jadi Supir

Status: tamat
Genre:CEO / Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas / Perjodohan / Tamat
Popularitas:507.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: SunRise510k

Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Sinar matahari pagi Kota Surabaya menerobos masuk melalui celah gorden kamar VVIP Mahardika Medical Center, menandakan dimulainya hari yang baru. Setelah dua hari menjalani perawatan intensif, wajah Kirana Adytama mulai kembali merona. Meskipun masih ada sedikit sisa pucat di bawah matanya, binar kecerdasannya telah kembali.

Rio, dengan kaos hitam yang melekat pas di tubuh atletisnya dan celana kargo praktis, tampak sibuk merapikan tas kecil berisi barang-barang milik Kirana. Gerakannya cekatan, sangat efisien untuk ukuran seorang supir.

"Sudah tidak ada yang tertinggal, Mbak Kirana?" tanya Rio lembut, menatap Kirana yang sedang mematut diri di depan cermin, merapikan kemeja linennya.

"Sepertinya sudah semua, Mas Rio. Terima kasih ya, sudah menemani saya selama dua hari ini," jawab Kirana tulus.

Saat mereka berjalan menuju area parkir, Kirana berkali-kali melirik ponselnya. Jarinya menari di atas layar, mengetikkan sesuatu, lalu mendesah pelan. Ia tampak gelisah.

Di dalam mobil sedan yang mulai membelah kemacetan Jalan Ahmad Yani, Kirana akhirnya membuka suara.

"Aneh ya, Mas Rio..."

"Apa yang aneh, Mbak?" Rio bertanya sambil tetap fokus menatap jalanan di depan, tangannya dengan lihai memutar kemudi.

"Saya sudah mencoba menghubungi nomor Tuan Raditya Mahardika yang ada di kartu nama itu. Saya ingin mengucapkan terima kasih secara langsung dan menanyakan soal biaya rumah sakit ini. Tapi, telepon saya tidak pernah diangkat. Pesan WhatsApp saya pun hanya centang dua, tidak dibaca. Apa orang seperti beliau memang sesibuk itu?"

Raditya—yang sedang menyamar menjadi Rio—menahan senyum di sudut bibirnya. Tentu saja tidak diangkat, pikirnya. Ponsel 'khusus CEO' itu saat ini berada di dalam laci terkunci di dasbor mobil ini dalam keadaan senyap.

"Mungkin saja, Mbak. Pak Raditya itu memimpin puluhan anak perusahaan Mahardika Group. Bayangkan saja berapa ratus orang yang mencoba menghubungi beliau setiap jam. Pesan dari Mbak mungkin tertumpuk di antara urusan proyek triliunan," jawab Rio dengan nada bicara yang sangat meyakinkan.

Kirana mengangguk lesu. "Benar juga sih. Rasanya tidak sopan kalau saya terus-menerus mengganggunya. Tapi saya merasa berhutang budi sekali."

"Mbak Kirana tidak perlu terlalu merasa terbebani. Orang seperti beliau biasanya menolong tanpa mengharapkan balasan," tambah Rio, memberikan tatapan sekilas melalui spion tengah yang membuat jantung Kirana berdegup sedikit lebih kencang.

**

Sesampainya di kediaman mewah Adytama, tidak ada sambutan hangat. Ayah Haris sudah berangkat ke kantor, sementara Mama Reva entah sedang berada di mana—mungkin sedang arisan sosialita. Hanya Bi Tuti yang menyambut mereka di depan pintu dengan raut wajah lega.

"Ya ampun, Non Kirana! Syukurlah sudah pulang. Mari, Non, langsung ke kamar saja ya, Bibi sudah siapkan sup ayam hangat," ucap Bi Tuti sambil merangkul pundak Kirana.

Kirana tersenyum tipis. "Terima kasih, Bi."

Saat Kirana baru saja akan melangkah menuju kamarnya, sebuah suara melengking yang sangat ia kenali memecah ketenangan rumah.

"RIO! MANA RIO?!"

Bianca turun dari tangga dengan langkah berdentum-dentum. Penampilannya hari ini sangat berbeda. Ia mengenakan blazer berwarna merah muda terang dari koleksi terbaru Chanel, dipadukan dengan rok pendek senada. Rambutnya ditata blow-out sempurna, dan riasan wajahnya sangat tebal seolah-olah ia akan menghadiri pesta red carpet, bukan pergi magang.

Bianca berhenti di depan Kirana, menatap kakaknya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan.

"Oh, sudah pulang? Baguslah. Jadi Rio tidak perlu lagi membuang waktu di rumah sakit cuma buat menjaga kamu."

Kirana hanya diam, terlalu lelah untuk berdebat.

"Rio! Cepat panaskan mobil yang satunya! Aku sudah telat untuk hari pertama magang di Mahardika Tower!" perintah Bianca pada Rio tanpa memandang wajah pria itu.

Rio menatap Kirana sejenak, seolah meminta izin secara tersirat. Kirana mengangguk lemah. "Pergilah, Mas Rio. Antar Bianca. Saya sudah ada Bi Tuti di sini."

"Baik, Mbak Kirana. Istirahatlah dengan baik," ucap Rio lembut, memberikan penekanan yang sangat kontras dengan nada bicaranya saat menjawab Bianca.

"Baik, Non Bianca. Saya siapkan mobilnya sekarang."

**

Di dalam mobil menuju pusat kota Surabaya, Bianca tidak bisa berhenti bergerak. Ia terus membuka kaca bedaknya, menambah lipstik, dan menyemprotkan parfum berkali-kali sampai aroma di dalam mobil terasa menyesakkan.

"Rio, kamu tahu tidak hari ini hari apa?" tanya Bianca dengan nada angkuh sambil berswafoto.

"Hari Senin, Non," jawab Rio datar.

Bianca mendengus. "Bukan itu! Hari ini adalah hari keberuntunganku. Hari ini aku mulai magang di Mahardika Tower. Dan kamu tahu apa tujuanku yang sebenarnya?"

"Belajar desain interior, Non?"

Bianca tertawa mengejek. "Duh, Rio... kamu ini memang cuma supir ya, jadi pola pikirmu pendek. Aku ke sana bukan buat kerja rodi. Aku ke sana untuk bertemu dengan calon suamiku!"

Tangan Rio yang memegang kemudi sempat sedikit goyah. "Calon suami, Non?"

"Iya! Raditya Mahardika! CEO Mahardika Group. Dia itu tampan, kaya raya, dan yang paling penting, dia masih lajang. Papa sudah bilang kalau Mahardika Group dan Adytama Group harus punya hubungan lebih dekat. Dan caranya adalah melalui aku!" Bianca berbicara dengan nada pamer yang sangat tinggi.

"Hebat kan calon suamiku?"

Raditya menahan tawa yang hampir meledak di tenggorokannya. Ia merasa geli sekaligus muak mendengar gadis di belakangnya ini mengklaim dirinya sebagai calon suami.

"Hebat sekali, Non. Bisa menjadi calon suami orang penting seperti beliau pasti impian banyak orang," puji Rio, suaranya mengandung sarkasme yang sangat halus hingga Bianca yang otak dangkal tidak akan menyadarinya.

"Tentu saja! Makanya, percepat mobilnya! Aku tidak mau Raditya menunggu terlalu lama atau melihatku datang terlambat. Aku harus memberikan kesan pertama yang sempurna. Bayangkan, Rio, kalau nanti aku sudah jadi Nyonya Mahardika, kamu mungkin akan aku pecat dan aku ganti dengan supir yang lebih profesional!"

"Saya mengerti, Non," sahut Rio, matanya berkilat tajam di balik kaca spion.

Mobil terus melaju membelah kemacetan di depan Kebun Binatang Surabaya. Raditya menatap gedung Mahardika Tower yang sudah mulai terlihat di kejauhan. Sebuah rencana mulai tersusun di kepalanya. Jika Bianca ingin bertemu dengan "Raditya Mahardika", maka dia akan memberikan pertemuan yang tidak akan pernah dilupakan oleh gadis manja itu.

Silakan bermimpi, Bianca, batin Raditya. Tapi begitu kamu menginjakkan kaki di kantorku, kamu akan sadar bahwa dunia tidak berputar di sekitar keinginanmu. Dan kamu akan tahu betapa salahnya kamu karena telah merendahkan kakakmu sendiri.

"Rio! Jangan melamun! Lampu sudah hijau!" teriak Bianca sambil memukul jok pengemudi.

"Baik, Non Bianca," jawab Rio tenang. "Kita akan sampai di Mahardika Tower dalam lima menit."

Raditya menekan pedal gas lebih dalam. Permainan yang sesungguhnya baru saja akan dimulai. Dari balik kemudi sebagai Rio, ia sedang mengantar "masalah" menuju singgasananya sendiri sebagai seorang CEO.

***

Gaya Bianca yang all out sekali... hehehehe

1
arniya
luar biasa kak
Siti Nurhayati
Sekilas bacanya CEO MBG. Jadi inget sama si bapak CEO MBG 😄
Kinah Muarofah
gk di dunia nyata gk di dunia novel, anak yang mandiri emang kadang anak yang sering diabaikan, anak yang nyusahin anak yang paling disayang
MF Iyan
lah kan bab sblmnya udah tau mau dicelakain?
kok bukannya menghindar malah kena, aneh
Tisya
bukannya dr malam sdh tau ya rencana si reva kok bisa ya kecolongan
Tisya
menyamar,, tp kemudian menciptakan kebohongan demi kebohongan, jika aku Kirana mungkin akan menolak bila kebenaran itu terungkap,
Ririn Nursisminingsih
gila yaa mau kaya merampas harta orang lain ingin mbunuh lagi reva2 jahat sekali kau
Ririn Nursisminingsih
terlambat kmu reva.. orang serakah mau enaknya ambil yg bukab haknya
Ririn Nursisminingsih
langsung nikah aja thor gak usah pakai tunangan. segala
AYU SKP
Luar biasa
Ririn Nursisminingsih
kirana ini cerdas keluar dong dari rumah itu klamaan mau2nya dihina sama reva dan adiknya
Ririn Nursisminingsih
bianca2 kmu licik dan jahat juga yas
Ririn Nursisminingsih
kereenn raditya bianca sombong sekali.. ayo pilih kirana raditya ljndungi kirana
Ririn Nursisminingsih
keluar aja kirana dari rumah yg seperti neraka kmu kan ceo jg mau terus ditindass
joong
seem too easy.......
malah degh degh an gak sih 🥺
joong
makin lama makin keren konflik nya 💕
Triastuti Widyaningsih
cerita menarik
Fitri Adin
keren karya y...tetap semngat menulisnya kaka💪💪
sientje semet
lanjut
sientje semet
mantap
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!