NovelToon NovelToon
Di Jual 500 Juta, Istri Kontrak CEO Dingin

Di Jual 500 Juta, Istri Kontrak CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: TheDee

Judul:
Dijual 500 Juta: Istri Kontrak CEO Dingin

Deskripsi/Sinopsis:
Liana dijual bapak tirinya seharga 500 juta untuk jadi istri kontrak Arka Wijaya, CEO dingin yang lumpuh dan membenci semua orang.

Di rumah mewah itu, dia dipermalukan setiap hari. Disiram comberan, diusir ke gudang, dianggap sampah oleh Keluarga Wijaya.

Tapi yang tidak mereka tahu, di dalam tas lusuh Liana ada surat wasiat Ibu yang bisa mengguncang seluruh Keluarga Wijaya.
Surat yang menyebut nama Arka sebagai kunci atas kematian ayahnya 5 tahun lalu.

Dari gadis desa yang dihina, Liana akan berubah menjadi wanita yang ditakuti.
Dia datang bukan untuk tunduk. Dia datang untuk membalas dendam.

Pertanyaannya:
Apakah balas dendam itu akan membuat Arka jatuh cinta padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TheDee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Jam 6.17 sore.

Dua mobil hitam melaju tanpa lampu di jalan sepi menuju safehouse Bandung.

Di dalam mobil pertama, pria dengan tato ular di leher berbisik lewat headset:

“Tim A, konfirmasi posisi. Target masih di dalam?”

“Positif. Sinyal ponsel aktif. Mereka belum pindah.”

Pria itu tersenyum tipis.

“Bagus. Malam ini selesai.”

Di safehouse, alarm sensor gerak berbunyi pelan.

Bram langsung berdiri dari kursi. *Bab 19: Pembukaan*[Lanjutan]

Jam 8.07 pagi.

Dua mobil hitam berhenti 300 meter dari rumah kayu di Lembang.

Mesin dimatikan. Lampu tetap mati.

Di dalam mobil, pemimpin tim menatap peta di tablet.

“Sensor gerak di jalur belakang udah mati 12 menit lalu. Mereka pasti nggak nyangka kita tahu jalur itu.”

Salah satu anak buahnya mengangguk.

“Perintah tetap sama: bawa Liana hidup-hidup. Hendra mau dia ngomong di depan kamera.”

Ia mengangkat tangan.

“Gerak.”

Empat orang turun, bergerak cepat di antara kebun teh.

Kabut pagi menutupi langkah mereka.

 

Jam 8.10 pagi. Safehouse Lembang.

Liana baru selesai live.

Tangannya masih gemetar, tapi matanya lebih terang dari semalam.

Maya menutup laptop.

“Bagus. Komentar udah balik 70%. Tapi jangan lengah. Hendra nggak akan diam.”

Arka berdiri di dekat pintu, matanya nggak lepas dari luar.

“Aku rasa mereka datang lagi. Sensor belakang baru mati.”

Bram langsung mengambil pistolnya.

“Rara, aktifkan jammer. Maya, hubungi polisi. Liana, ikut aku ke ruang bawah sekarang.”

Liana mengangguk cepat.

Ia udah hafal prosedur ini.

Tapi kali ini rasanya beda.

Kali ini rasanya seperti… akhir.

 

Jam 8.13 pagi. Ruang bawah.

Ruang bawah di safehouse Lembang cuma seukuran kamar mandi.

Tanpa jendela. Tanpa ventilasi bagus.

Liana duduk di lantai, memeluk lutut.

Arka berjongkok di depannya.

“Kalau pintu ini jebol, aku yang keluar duluan,” katanya pelan.

Liana menggeleng.

“Nggak. Kamu nggak boleh mati buat aku.”

Arka tersenyum kecil.

“Terlambat. Aku udah pilih.”

Di atas, terdengar suara kaca pecah.

Lalu langkah kaki berat.

 

Jam 8.15 pagi. Lantai atas.

Pintu depan jebol.

Dua orang bersenjata masuk, satu lagi berjaga di luar.

Bram langsung menembak ke arah lampu, ruangan gelap total.

Maya melempar flare mini ke sudut, cukup untuk bikin penyerang mengedip.

Rara bergerak cepat dari samping, menyapu kaki salah satu dari mereka.

Pria itu jatuh, pistolnya terlepas.

Bram menodongkan pistolnya.

“Siapa yang nyuruh?”

Pria itu tertawa pelan, meski darah mengalir dari bibirnya.

“Hendra Wijaya. Dan dia bilang… kalau gagal lagi, kita semua mati.”

Di luar, suara mobil polisi mulai terdengar.

 

Jam 8.18 pagi. Ruang bawah.

Pintu baja bergetar keras.

Ada yang mencoba mendobrak dengan linggis.

Liana berdiri, memegang pistol yang diberikan Bram tadi malam.

Tangannya gemetar hebat.

Arka berdiri di depannya.

“Jangan nembak kecuali aku bilang. Mengerti?”

Liana mengangguk pelan.

Pintu bergetar sekali lagi.

Lalu terdengar suara retak.

 

Jam 8.20 pagi. Luar safehouse.

Dua mobil polisi masuk dari arah jalan utama.

Lampu biru merah menyambar dinding rumah kayu.

Penyerang yang di luar langsung berbalik, lari ke mobil mereka.

Satu tertembak di kaki oleh polisi, dua lainnya kabur ke kebun teh.

Di dalam, Bram dan Maya berhasil melumpuhkan dua orang di lantai atas.

Satu tertangkap, satu tewas karena luka tembak.

Bram berteriak ke arah ruang bawah:

“Aman! Polisi udah di sini!”

 

Jam 8.23 pagi. Ruang bawah.

Pintu baja berhenti bergetar.

Liana masih berdiri dengan pistol terangkat.

Arka perlahan membuka pintu.

Di luar, Maya berdiri dengan wajah lega.

“Liana. Selesai.”

Liana langsung menjatuhkan pistol.

Kakinya lemas.

Arka menangkapnya sebelum jatuh.

Maya menatap mereka berdua.

“Kita harus pindah lagi. Lokasi ini udah kebakar. Sekarang.”

Liana mengangguk pelan.

Ia tahu, kalau mereka tinggal di sini 10 menit lagi, tim kedua akan datang.

 

Jam 9 pagi. Mobil evakuasi.

Konvoi dua mobil melaju ke arah Garut.

Jalur kecil, jarang dilewati.

Liana duduk di belakang, memejamkan mata.

Tubuhnya lelah, tapi otaknya nggak berhenti.

Arka menggenggam tangannya.

“Kamu nggak apa-apa?”

Liana mengangguk.

“Aku cuma… capek jadi orang kuat.”

Arka tersenyum kecil.

“Kamu nggak harus kuat terus. Di sini, kamu boleh lemah.”

Liana membuka mata.

“Kalau aku lemah, siapa yang bela ayahku?”

Arka terdiam.

Ia nggak punya jawaban.

 

Jam 11 pagi. Safehouse darurat di Garut.

Rumah tua di pinggir sawah.

Nggak ada listrik. Hanya lampu minyak dan sinyal satelit.

Liana duduk di teras, menatap sawah yang hijau.

Untuk pertama kalinya dalam seminggu, ia merasa tenang.

Maya masuk dengan tablet.

“Ada kabar. KPK resmi menetapkan Hendra Wijaya sebagai tersangka. Pukul 10 tadi pagi.”

Liana menatapnya.

“Benar?”

Maya mengangguk.

“Benar. Bukti aliran dana dari flashdisk ayahmu cukup. Besok pagi, mereka akan tangkap dia.”

Liana menutup mata.

Rasanya seperti beban 100 kilo lepas dari dadanya.

Arka duduk di sampingnya.

“Kita menang.”

Liana menggeleng pelan.

“Belum. Hendra belum ditangkap. Dan selama dia bebas, dia berbahaya.”

Maya mengangguk.

“Karena itu kita nggak akan lengah sampai dia di sel.”

 

Jam 2 siang. Kantor Hendra Wijaya.

Hendra duduk di ruang gelap.

Di depannya, layar TV menyiarkan pengumuman KPK.

Ia menutup mata.

Gagal.

Semua gagal.

Asistennya masuk dengan wajah pucat.

“Pak, polisi akan datang besok pagi. Apa kita… kabur?”

Hendra menggeleng.

“Kabur artinya kalah. Aku nggak pernah kalah.”

Ia berdiri, membuka brankas.

Di dalamnya ada paspor, uang tunai, dan satu file terakhir.

“Kalau aku masuk penjara, setidaknya aku bawa dia bersamaku.”

Asisten itu mengernyit.

“Maksud Pak?”

Hendra tersenyum tipis.

“File ini. Bukti bahwa Liana Dimas Putri bukan korban. Dia dalang.”

Asisten itu menunduk.

“Siap, Pak. Saya siapkan.”

Hendra menatap foto Liana di layar.

“Kamu pikir kamu menang? Ini baru pembukaan.”

 

Jam 6 sore. Safehouse Garut.

Liana baru selesai makan.

Nasi, telur, dan sambal buatan Maya.

Rasanya sederhana, tapi untuk pertama kalinya ia merasa aman.

Arka duduk di sampingnya.

“Kamu tidur dulu. Besok pagi kita ke Jakarta. KPK butuh kamu di persidangan.”

Liana mengangguk.

“Tapi aku takut. Takut besok semua berubah lagi.”

Arka menggenggam tangannya.

“Kalau berubah, kita hadapi bareng.”

Liana tersenyum kecil.

“Janji?”

Arka mengangguk.

“Janji.”

 

Jam 11 malam. Bandara Soekarno-Hatta.

Hendra berjalan cepat menuju gate internasional.

Paspor palsu di tangan.

Di belakangnya, dua orang pengawal.

Ia menatap layar keberangkatan.

Penerbangan ke Singapura 30 menit lagi.

Ia tersenyum tipis.

“Belum selesai, Liana.”

 

Jam 11.30 malam. Safehouse Garut.

Liana terbangun karena suara ponsel Arka.

Arka mengangkat, wajahnya langsung berubah.

Maya masuk dengan wajah pucat.

“Hendra kabur. Dia di bandara sekarang. Penerbangan 30 menit lagi.”

Liana berdiri cepat.

“Kalau dia kabur, semua selesai. Dia bisa atur semuanya dari luar.”

Maya mengangguk.

“KPK udah minta red notice. Tapi itu butuh waktu.”

Arka menatap Liana.

“Ada satu cara buat hentikan dia malam ini.”

Liana menatapnya.

“Apa?”

Arka menghela napas.

“Kita buka data terakhir dari flashdisk ayahmu. Data yang bisa bikin rekeningnya diblokir malam ini juga.”

Liana mengangguk pelan.

“Lakukan.”

 

Jam 11.45 malam. Bandara Soekarno-Hatta.

Hendra berjalan menuju gate.

Tiba-tiba layar di depannya berkedip.

REKENING DIBLOKIR – OTORITAS JASA KEUANGAN

Ia berhenti.

Kartu debitnya ditolak.

Paspor palsunya terdeteksi.

Petugas keamanan mendekat.

“Bapak Hendra Wijaya? Kami harus menahan Anda sementara.”

Hendra menatap layar itu.

Tangannya mengepal.

Di layar ponselnya, muncul satu pesan dari nomor tak dikenal:

“Permainan selesai, Pak Hendra.”

 

Jam 12 malam. Safehouse Garut.

Liana menatap layar laptop.

Notifikasi masuk:

Hendra Wijaya ditahan di bandara.

Ia menutup mata.

Air mata jatuh tanpa suara.

Arka memeluknya dari belakang.

“Kita menang.”

Liana mengangguk pelan.

“Belum. Tapi kita selangkah lebih dekat.”

Maya masuk dengan senyum lelah.

“Besok pagi, persidangan dimulai. Kita ke Jakarta jam 5.”

Liana mengangguk.

Ia tahu, besok adalah hari terakhir perang ini.

Bersambung... 🙏🤗🙏

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!