Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ceraikan aku
Nadia mengikuti Nanda masuk ke kamar.
Gadis kecil itu langsung membuka lemari pakaiannya dan mengambil baju rumahan favoritnya.
“Pakai yang ini, Sayang,” ujar Nadia sambil menunjuk sebuah setelan yang sedikit lebih rapi.
Nanda menoleh bingung.
“Lho, kok yang itu, Bun? Memangnya mau jalan-jalan?”
“Iya.” Nadia tersenyum lembut. “Besok kan libur. Jadi siang ini Nanda boleh main ke Timezone.”
Mata Nanda langsung membulat.
“Yang bener, Bun?”
“Iya, Sayang. Karena Nanda selalu nurut sama Bunda, rajin belajar, dan berusaha jadi anak hebat.”
“Yeay!” Nanda melompat kecil. “Makasih, Bunda!”
Nadia membantu memakaikan baju itu.
Tangannya bergerak pelan saat merapikan kerah baju, memasangkan jepit rambut, lalu menyisir rambut panjang Nanda.
Setiap kali sisir itu menyentuh rambut Nanda, dada Nadia terasa semakin sesak.
Sampai detik ini ia masih tidak mengerti.
Kenapa Allah menghadirkan Nanda dalam hidupnya.
Kenapa anak itu tumbuh menjadi bagian terpenting dalam dunianya.
Dan kenapa setelah enam tahun, kenyataan justru datang sekejam ini.
Nadia menelan rasa sakit yang kembali menggunung.
Lalu tersenyum ketika Nanda berceloteh tentang permainan yang ingin dicobanya nanti.
“Cantik sekali anak Bunda.”
“Ya dong, Anak Bunda gitu” sahut Nanda bangga.
Nadia terkekeh kecil. Namun dalam hati tentu saja berbentur dengan kenyataan yang dia terima
“Sekarang makan dulu, ya.”
“Siap, Bunda.”
Nanda segera duduk di kursi makan.
Seperti biasa, gadis kecil itu mengangkat kedua tangannya dan berdoa sebelum makan.
Nadia mengusap rambutnya penuh kasih sayang.
Pandangan matanya begitu lembut hingga nyaris membuatnya kembali menangis.
Saat itulah pintu rumah terbuka.
Mbak Tari masuk sambil membawa beberapa kantong belanjaan.
Ia langsung menuju dapur.
“Sayang, makan sendiri dulu ya. Bunda mau bicara sebentar sama Mbak Tari.”
“Ya, Bunda.”
Nadia melangkah ke dapur.
“Ibu Yuni belum pulang, Mbak?” tanyanya pelan.
“Katanya nanti pulang bareng Bu Ratna.”
Nadia mengangguk pelan.
Mbak Tari yang sedang menyusun belanjaan sempat memperhatikan wajah Nadia.
“Ibu baik-baik saja?”
Nadia memaksakan senyum tipis.
“Baik-baik saja.”
Meski keduanya sama-sama tahu itu bukan jawaban yang sebenarnya.
Nadia terdiam sesaat.
Lalu berkata pelan.
“Mbak Tari, saya mau minta tolong. Boleh?”
“Tentu saja boleh, Bu.”
“Dika sudah sehat, kan?”
“Alhamdulillah sudah sehat, Bu.”
Nadia mengangguk.
“Nanti temani Nanda main ke Timezone, ya.”
Gerakan tangan Mbak Tari langsung berhenti.
Ia menatap Nadia lekat-lekat.
“Kenapa, Bu?”
Ada sesuatu dalam sorot mata Nadia yang membuatnya khawatir.
Nadia menarik napas panjang.
Kalau rencananya ingin berjalan lancar, Mbak Tari harus mengetahui sebagian kebenaran.
Dengan suara pelan, Nadia mulai menceritakan apa yang baru diketahuinya.
Tentang Ratna.
Tentang Raka.
Tentang Nanda.
Tentang semua kebohongan yang selama ini disembunyikan darinya.
Semakin lama mendengar cerita itu, wajah Mbak Tari semakin pucat.
Beberapa kali ia menutup mulutnya sendiri.
Sampai akhirnya air mata jatuh tanpa bisa ditahan.
“Jadi...” suara Nadia terdengar lirih. “Mbak mau bantu saya?”
Mbak Tari mengusap pipinya.
Air mata terus mengalir.
“Bu Nadia...”
Perempuan itu menggigit bibirnya sendiri.
Lalu berkata dengan suara bergetar.
“Saya boleh peluk Ibu?”
Nadia langsung merentangkan tangan.
Mbak Tari memeluknya erat.
Sangat erat.
“Bu Nadia wanita hebat,” bisiknya.
Nadia memejamkan mata.
“Ini sudah takdir Allah, Mbak.”
Tangannya membalas pelukan itu.
Meski hatinya remuk.
“Jadi, Mbak mau bantu saya?”
Mbak Tari mengangguk cepat.
“Insyaallah, Bu.”
“Terima kasih.”
“Yang penting Ibu jaga diri baik-baik.”
Nadia tersenyum tipis.
“Insyaallah.”
Tak lama kemudian Mbak Tari menghubungi suaminya.
Meminta agar Dika bersiap ikut bermain bersama Nanda.
Setelah telepon ditutup, Mbak Tari menatap layar ponselnya cukup lama.
“Ya Allah...” bisiknya dalam hati.
“Aku belum tentu sekuat Bu Nadia kalau berada di posisi itu.”
Ia mengusap sudut matanya sekali lagi.
“Semoga Engkau berikan jalan terbaik untuk beliau.”
Nadia kembali ke meja makan.
Nanda sudah menghabiskan makan siangnya sampai bersih.
“Sudah, Sayang?”
“Sudah, Bunda.”
“Pintar.”
Nadia berjongkok di depan Nanda.
Membelai pipi tembam gadis kecil itu.
“Sayang, hari ini Nanda main dulu sama Mbak Tari, ya.”
Nanda langsung berkedip bingung.
“Lho, Bunda enggak ikut?”
“Bunda mau menunggu Papah dulu.”
“Terus?”
“Nanti kalian main di Timezone.”
“Bersama Papah?”
“Iya.”
“Dan Oma juga?”
Nadia tersenyum.
“Iya.”
Mata Nanda langsung berbinar-binar.
“Yeay!”
“Nanda ikut Mbak Tari dulu, ya. Jangan merepotkan.”
“Siap, Bunda!”
Nanda langsung memeluk Nadia.
Pelukan hangat yang membuat hati Nadia terasa seperti diremas.
Namun ia tetap tersenyum.
Tidak boleh menangis.
Tidak di depan Nanda.
Gadis kecil itu kemudian menggandeng tangan Mbak Tari.
Sebelum keluar rumah, Nanda sempat menoleh.
“Bunda.”
“Iya, Sayang?”
“Jangan lama-lama ya.”
Tenggorokan Nadia terasa tercekat.
Namun ia tetap mengangguk.
“Bunda janji.”
Nanda tersenyum puas.
Lalu pergi bersama Mbak Tari.
Nadia berdiri di ambang pintu sampai keduanya benar-benar menghilang dari pandangan.
Barulah senyum di wajahnya perlahan memudar.
Rumah terasa mendadak sepi.
Sangat sepi.
Nadia memejamkan mata sejenak.
Kemudian berbisik pelan pada dirinya sendiri.
“Kamu tidak boleh melihat pertengkaran orang dewasa, Nak.”
Sebab setelah ini, ada badai yang harus dihadapi.
Dan Nadia tidak ingin Nanda ikut terluka karenanya.
Nadia kembali ke kamar.
Dengan gerakan tenang, ia memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam koper.
Setelah semuanya selesai, ia menelepon Sindi.
“Sin, aku jadi.”
“Baik. Aku jemput sore ini.”
“Terima kasih.”
Telepon ditutup.
Nadia menarik koper ke ruang tamu.
Lalu ia duduk dengan punggung tegak.
Menunggu orang-orang yang selama ini membohonginya.
Terdengar suara mobil memasuki halaman rumah.
Seperti biasa, klakson berbunyi beberapa kali.
Namun Nadia tidak bergerak sedikit pun.
Ia tetap duduk di ruang tengah.
Tangannya saling bertaut di atas pangkuan.
Setelah beberapa kali klakson terdengar tanpa respons, akhirnya suara pintu gerbang yang dibuka menyusul dari luar.
Nadia menarik napas perlahan.
Dadanya terasa sesak.
Telapak tangannya dingin.
Namun wajahnya tetap tenang.
Terlalu banyak air mata yang sudah ia keluarkan hari ini hingga yang tersisa hanya kelelahan.
Tak lama kemudian pintu rumah terbuka.
Yuni masuk lebih dulu.
Begitu melihat Nadia duduk diam di ruang tengah, wajahnya langsung berubah kesal.
“Nadia, kamu budek, ya? Dari tadi klakson bunyi berkali-kali, enggak keluar juga.”
Nadia tidak menjawab.
Tatapannya tetap lurus ke depan.
“Semakin hari kamu semakin seperti anak kecil,” lanjut Yuni. “Poligami itu hal biasa. Enggak usah berlebihan begini.”
Nadia masih diam.
Ratna yang berjalan di belakang Yuni tersenyum tipis.
“Maklumlah, Mah. Nadia kan cuma ibu rumah tangga. Mana mengerti perkembangan zaman sekarang.”
Tatapan Ratna menyapu Nadia dari ujung kepala sampai kaki.
Seolah sedang menikmati kemenangan yang selama ini ia perjuangkan.
Namun Nadia tetap tidak bereaksi.
Tidak marah.
Tidak membantah.
Tidak pula menangis.
Jilbab krem yang dikenakannya jatuh rapi menutupi dada.
Wajahnya terlihat tenang.
Terlalu tenang.
Justru ketenangan itu membuat Raka merasa gelisah.
Ada sesuatu yang berbeda dari Nadia hari ini.
Sesuatu yang membuatnya takut.
Raka melangkah mendekat lalu duduk di hadapan istrinya.
“Nad...”
Tidak ada jawaban.
“Nadia, kenapa diam saja?”
Untuk pertama kalinya sejak mereka masuk, Nadia mengangkat pandangan.
Matanya bertemu dengan mata Raka.
Tak ada amarah di sana.
Tak ada pula air mata.
Hanya kelelahan yang sangat dalam.
Kelelahan seorang perempuan yang terlalu lama berusaha bertahan.
Nadia menarik napas perlahan.
Lalu berkata dengan suara tenang.
“Ceraikan aku sekarang, Mas.”
raka tak bakal setuju cerai kan kamu
nadia terlalu bego sdh tau di jdi kan keluarga toxin jdi baby sister gratis tetap mau bertahan di dlm rmh demi nanda ank selingkuh raka/ ratna 🤭