Pulang dari rumah sakit sehabis melahirkan, Alena di kejutkan sebuah Lingerie Merah yang tergeletak di atas ranjang adiknya. Alena terkejut bukan tanpa alasan. Sementara Tiyas - adiknya itu masih lajang. Lalu, Tiyas gunakan untuk apa pakaian vulgar itu.
Setelah Alena menyelidiki, ternyata Lingerie itu Tiyas gunakan untuk memuaskan....????
Tak hanya hati Alena yang hancur. Masa depan putranya juga ikut terpatah. Di tengah himpitan masalah ekonomi, datanglah sosok Juragan cukup matang bernama~Danu Albiru. Pria berusia 38 tahun itu tidak hanya menawarkan pernikahan KONTRAK. Tapi membantu Alena bangkit, menjamin masa depan putranya.
Akankah Alena tetap mempertahankan pernikahannya dengan Dewantara? Ataukan bersedia cerai, dan memilih tawaran menggiurkan Juragan Danu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Pukul 3 dini hari, Bu Sarah akhirnya berhasil melewati masa kritisnya. Wanita tua itu langsung menangis, tatapan matanya seakan tengah menghawatirkan masa depan cucunya kelak.
Alena belum menceritakan apapun dengan Fauzan. Dan baru subuh ini, setelah Bu Sarah tersadar, pria tampan itu syok dengan mata terbuka cukup lebar.
"Rekan bisnis Mas mu tadi siang datang, Fauzan. Pabriknya tanam saham hampir 10 Milyar. Tapi setelah tanda tangan kontrak, Pabriknya sama sekali tidak mendapat keuntungan. Padahal 2 tahun lalu Ibu masih ingat, waktu yang sama Pabriknya mengalami problem. Mas mu sampai jual ladang peninggalan Ayahmu yang ada di Sleman. Lalu, di gunakan untuk apa uang sebanyak itu?!" Suara Bu Sarah tersendat-sendat oleh isakannya.
Fauzan meraup lambat wajahnya. Tiba-tiba saja udara dalam ruangan itu tak dapat ia hidup. Rasanya sangat sesak. Pandangan Fauzan jatuh pada Alena yang hanya terdiam sejak tadi.
"Kamu tahu semua ini, Alena?"
Alena menggelengkan kepala lemah. Bu Sarah kembali menyahut. "Pria tadi menunggu 1 bulan akhir ini, Fauzan. Jika dananya tidak di kembalikan, maka Pabrik yang ada di ujung desa akan di sita sebagai gantinya."
"Bu... Maafkan Alena ya. Maaf jika selama ini Alena seperti Istri yang bodoh yang tak tau apa-apa dengan semua urusan Mas Dewan," Alena merengkuh pundak Mertuanya. Air matanya sudah kembali menggenang.
Fauzan menyingkir sejenak. Pagi ini kepalanya bak di hantam benda yang paling berat. Rasanya panas, nyaris meledak.
"Brengsek! Uang itu pasti di gunakan Mas Dewan untuk menghidupi Tiyas. Aku nggak bisa diam. Aku harus cari tahu dimana sekarang tinggalnya mereka," bisik batinnya. Fauzan berkacak pinggang, satu tanganya memijak kedua pelipisnya.
Pagi sekali, Fauzan mengantarkan Alena pulang setelah menitipkan Ibunya kepada sang Suster.
Dalam perjalanan itu, tak ada yang membuka percakapan. Baik Fauzan maupun Alena sama-sama larut dalam pikirannya. Sejujurnya jika mau, Fauzan dapat melunasi semua uang saham itu. Akan tetapi, sebelum kegabah, Fauzan ingin tahu dari Kakaknya langsung, di pergunakan untuk apa uang sebanyak itu.
Fauzan menatap Alena sekilas. Wajah yang dulu ia tatap penuh senyuman hangat. Tawa lepas tanpa beban. Kini bak Fauzan memandang bunga mawar yang sudah layu. Harumnya pun nyaris hilang.
Tak lama itu, mobil Fauzan sudah tiba. Dan baru saja ia dan Alena turun, dari belakang masuk juga sebuah mobil putih cukup mewah milik Dewantara.
Alena membalikan badan, sementara Fauzan sudah mengepalkan tanganya.
Dibalik mobil itu, Alena dapat melihat siluet Adiknya yang sedang duduk tenang menunggu Dewantara turun. Fauzan juga melihat hal yang sama. Rahang pria itu sudah saling mengatup, ingin sekali memberikan beberapa bogeman untuk Kakaknya.
"Mau apa lagi kamu datang?"
Fauzan sudah akan maju, namun Dewan mengangkat rendah tanganya. "Ini urusan rumah tangga Mas. Kamu nggak usah ikut campur dulu, Fauzan!"
Dewan lalu menarik lengan Alena cukup pelan untuk di ajaknya masuk ke dalam. Alena merasa tak terima dengan sikap arogan suaminya kini. Dengan cepat, Alena menarik lenganya. Keduanya sudah berhenti di ruang tamu.
"Mau apa lagi? Masih belum puas nyakitin saya?" wajah Alena kali ini menatap. Tak ada gurat kesedihan lagi disana. Yang ada hanyalah kebencian yang sudah mengakar kuat.
"Alena... Saya tidak ingin menyakiti kamu. Tapi kamu lah yang tidak dapat mendengar semua kejelasan saya. Saya datang ingin meminta sertifikat rumah ini!" Tutur Dewan secara gamblang.
Alena syok, kepalanya sampai geleng-geleng lemah, tak habis pikir bagaimana suaminya itu dapat berkata seperti itu.
"Sudah belum cukup puas? Pak Danu sampai datang karena uang 10 Milyar yang kamu gunakan untuk menyenangkan GUNDIKMU ITU. APA SEMUA ITU BELUM CUKUP PUAS DI MATA KAMU, DEWAN?!" Suara Alena pecah. Teriakannya membuat penghuni rumah cukup tersentak.
Fauzan sudah akan masuk, namun lengannya tiba-tiba di tahan oleh Tiyas dari belakang.
"LEPAS!" Bentaknya. Sorot mata Fauzan sangat tajam. "Saya tidak akan membiarkan kamu mencuci otak Mas Dewan lebih lama," caci makinya. Setelah menunjuk wajah Tiyas, Fauzan bergegas masuk ke dalam.
Tanpa aba-aba, Fauzan menarik lengan sang Kakak, hingga tiba-tiba...
Bugh!
Bugh!
"Mas Dewan...."
Bukan Alena yang memekik, melainkan Tiyas-Iparnya. Wanita cantik itu langsung masuk dan melindungi tubuh Dewan dari tatapan tajam Fauzan.
Dewan menyeka sudut bibirnya. Ia menatap Fauzan berganti dengan Alean yang hanya terdiam acuh. Saking kerasnya, melihat darah keluar itu tak menunjukan reaksi apapun pada wajahnya.
"BRENGSEK! GARA-GARA KAMU IBU SAMPAI MASUK RUMAH SAKIT!" Suara Fauzan meledak. Ia berusah mendekat kembali, meskipun Tiyas menghadang-hadangi tubuhnya. "Kamu gunakan untuk apa uang sebanyak itu, jika problem pabrik masih kamu jualkan ladang yang ada di Sleman? BEDEBAH KAMU MEMANG, MAS!"
Napas Fauzan sampai terengah, bahunya terguncang naik turun.
Dewan maju, menghempas tubuh Tiyas ke samping. Lalu kini menatap Adiknya penuh rasa tidak terima. Bukan masalah keluarga, tapi ada hubunganya dengan Alena.
Rasa cemburu itu menggerogoti batinnya.
"Sepeduli itu kamu sama Alena? Dia kakak Iparmu sendiri, Fauzan! Aku tidak rela kamu terus menjadi pahlawan untuk keluargaku!" tekan Dewan mendorong dada Adiknya.
Fauzan berdecih, "Mata hatimu itu sudah busuk, Mas! Sama seperti busuknya kelakuan gundikmu itu!" tangan Fauzan menunjuk Tiyas.
Dewan kali ini tak mampu berbuat lebih. Ia malah mengabaikan ucapan Adiknya, tak peduli dengan rengekan Tiyas, tapi malah berjalan menuju tempat Alena.
Wajah cantik itu berpaling. Alena memeluk tubuhnya sendiri, tak peduli dengan tatapan Dewan.
"Alena... Saya hanya ingin semua masalah terselesaikan! Saya akan menggunakan sertifikat itu untuk jaminan. Saya akan melunasi semua dana saham itu," kedua bahu Dewan luruh, tanganya berusaha menggapai tangan sang Istri.
Alena masih bergeming. Hal menjijikan yang suaminya lakukan dengan sang Adik, kini berputar bak kaset rusak. Di tatap dekat seperti ini rasanya sudah teramat muak.
"Saya tidak akan menyerahkan apapun lagi. Saya memiliki Delan yang harus saya pikirkan masa depannya. Jika kamu memang ingin melanjutkan hal gila dengan wanita itu... Maka silahkan!" Kali ini suara Alena cukup tenang. Rasa ikhlas seolah muncul dari dasar hatinya.
Sehabis mengatakan itu, Alena berjalan maju kembali. Namun disaat ia melewati Adiknya, langkah itu berhenti sejenak. Tidak ada ucapan apapun. Hanya helaan napas berat, lalu langkahnya kembali masuk ke dalam.
Fauzan mendekat kearah Kakaknya. "Perselingkuhanmu tidak hanya menghancurkan hati Alena, Mas! Tapi mematahkan semua mimpi Delan di masa yang akan mendatang. Tidak ada keluarga cemara yang akan dia dapatkan. Dan sejak saat itu, Delan tidak hanya menganggap kamu hilang... Melainkan MATI!"
Fauzan melenggang keluar begitu saja. Dewan memejamkan mata dalam-dalam. Tiyas menghampiri.
"Mas... Udahlah, ayo kita pulang aja!" Tiyas menarik lengan Dewan, sementara pria itu menatap kearah dalam sekilas, lalu dengan berat hati segera keluar.
Namun ketika tiba di ambang pintu, tangisan Delan~Putranya, seketika pecah.
Oekkk... Oekkk...
Langkah Dewan terhenti. Kepalanya menoleh kembali ke belakang.
emang mulutnya lemes banget
maka kamu harus melepaskan alena
aku bingung mau komen apa tentang Fauzan ini🤔🤔