Arumi Kurnia Ningsih seorang gadis berusia dua puluh tahun. Dia bercita-cita ingin menjadi desainer terkenal. Namun harapan itu pupus ketika sang ayah menjodohkannya dengan anak juragan teh.
Bagaimanakah hari-hari yang dijalani Arumi setelah menikah, akankah bahagia atau menderita. Yuk segera baca🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon feby_mb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Selesai nonton layar tancap, Arumi dan Rani memutuskan untuk pulang. Mereka akan menghitung uang hasil jualan mereka tadi. Mereka akan menghitungnya di rumah Rani.
Sebelum pulang, Rani mampir ke gerobak penjual martabak. Jarang-jarang dia temui penjual martabak masuk ke perkampungan.
" Bang martabak telurnya satu, yang manis satu"
" Martabak manisnya mau toping apa Neng?"
" Coklat keju aja Bang"
" Tunggu ya Neng"
Rani dan Arumi duduk di kursi yang tidak jauh dari gerobak martabak.
" Sejak kapan kamu tau sama keju?"
" Tuh liat bermacam toping yang ada di daftar menu Abang nya"
" Emang kamu udah pernah makan keju?"
" Belum Rum, makanya aku pesan toping coklat keju. Biar nanti tau rasa keju seperti apa"
Aroma aroma wangi dari martabak yang di panggang sudah tercium sama Arumi dan Rani. Mereka sudah tidak sabar ingin mencicipi rasa martabak manis itu.
" Abang udah lama berjualan martabak?" tanya Rani.
" Sudah Neng, tapi kalau masuk ke perkampungan baru kali ini. Itupun tadi dengar dari teman kalau disini lagi ada layar tancap "
" Emang biasa Abang jualan dimana?"
" Komplek perumahan mewah di kampung sebelah Neng"
" Emang boleh jualan di komplek-komplek mewah Bang?"
" Boleh, kan kita izin dulu sama satpam yang jaga di sana"
" Emang mereka nggak terganggu Bang"
" Alhamdulillah nggak Neng. Mereka malah seneng, karena nggak perlu keluar untuk belinya"
" Iya juga sih Bang. Lebih praktis gitu ya Bang"
" Iya Neng"
Martabak telur dan juga martabak manis pesanan Rani sudah jadi.
" Ini Neng martabak pesanannya"
" Berapa bang"
" Dua lima Neng"
Rani pun mengeluarkan uang sebanyak yang diminta sama Abangnya.
" Makasih Bang"
" Sama-sama Neng "
Setelah membayar jajanannya, Arumi dan Rani melanjutkan perjalanannya. Perjalanan ke rumah Rani melewati rumah Arumi.
" Sepertinya nggak ada orang di rumah kamu, Rum"
" Mungkin belum pulang dari balai desa "
Akhirnya mereka sampai di depan rumah Rani. Rumah Rani sama saja dengan rumah Arumi. Bedanya, halaman rumah Rani cukup luas. Jadi bisa ditanami buah ataupun tanaman lainnya.
" Assalamualaikum"
" Wa'alaikumsalam, eh ada nak Rumi"
" Tante"
Arumi bersalaman dengan ibunya Rani.
" Mari masuk, sudah lama Rumi nggak main kesini"
" Biasa Buk, Rumi sibuk"
" Sebentar, Tante buatkan minum dulu "
" Nggak usah repot-repot Tante"
" Nggak repot kok, sebentar ya"
Perlakuan orang tua Rani sangat berbeda dengan ibunya. Ibu Rani sangat lembut dan juga penyayang pada anaknya. Andai saja ibunya sedikit lebih perhatian padanya.
" Aku simpan box ini dulu ya Rum"
" Iya Ran"
Tak berselang lama, ibu Rani kembali dengan membawa dua gelas teh hangat.
" Silakan diminum tehnya "
" Makasih Tante"
" Rumi masih terima jahitan nggak?"
" Masih Tante, kenapa?"
" Tante mau minta tolong jahitkan baju untuk ibu-ibu PKK"
"Sebelumnya Rumi minta maaf tante, bukannya Rumi menolak permintaan Tante. Untuk sekarang Rumi belum bisa terima orderan banyak, karena Rumi cuma punya mesin jahit manual, nggak pake listrik. Dan lagi Rumi mengerjakan jahitannya cuma sendiri. Jadi Rumi takut nanti mengecewakan Tante, karena pesanannya tidak selesai tepat waktu"
" Kenapa kamu nggak coba buka tempat menjahit"
" Rumi sih mau Tante, tapi biaya untuk membuat tempat menjahitnya belum ada"
" Kenapa nggak coba sewa ruko dulu, nanti kalau uangnya sudah terkumpul barulah kamu bikin tempat sendiri "
" Sewa ruko kan mahal Tante, dan lagi yang mau menjahit baju di kampung nggak terlalu banyak "
" Ya nggak dikampung kita Rum, maksud Tante buka di kota"
Arumi memikirkan apa yang dikatakan ibunya Rani.
" Nanti pikirkan lagi Tante "
" Sekarang Arumi nggak punya uang Buk. Ibuk kan tau bagaimana ibunya Rumi" kata Rani yang datang membawa piring.
" Nanti Tante coba ngomong sama Buk kades. Siapa tau dia bisa bantu "
" Kalau pinjaman mending nggak usah Buk"
" Kenapa?"
" Rumi mau bayar pake apa. Semua gajinya kan diambil sama ibunya. Bukan cuma itu, uang upah dari menjahit pun diembat ibunya. Ini aja kami tadi mulai berdatangan gorengan. Tapi ibunya Rumi nggak tau"
" Tega banget ibu kamu Rum. Bisa-bisanya dia mengambil semua gaji anaknya "
" Mau bagaimana lagi Tante, yang kerja cuma Rumi"
" Mbak kamu nggak ada niat mau cari kerja?. Kan dia udah lulus kuliah juga"
" Dia bilang sih udah cari, tapi Rumi nggak tau dia cari kerjaan dimana. Soalnya Rumi nggak pernah liat dia pake baju untuk pergi lamaran kerja"
" Mbak kamu itu mau senang aja. Aku sangat berharap kamu bisa pergi dari rumahmu Rum"
" Kalau aku pergi dari rumah. Terus aku mau tinggal dimana Ran"
" Iya juga ya "
" Kenapa kalian berdua nggak coba berjualan dekat sekolah "
" Pagi aku berdua sama Rumi kan kerja metik daun teh, Buk"
" Gimana kalau sore di dekat lapangan bola"
" Di sana rame nggak Buk?"
" Rame, kan banyak anak-anak yang main bola sama tenis "
" Kalau rame nggak masalah. Tapi kamu bisa nggak Rum"
" Insyaallah bisa Ran. Aku akan usahakan kerjaan rumah cepat selesai "
" Nanti biar ibuk yang minta izin buk kades "
" Makasih Tante"
" Sama-sama Rumi. Ya udah, Tante tinggal dulu ya"
Ibu Rani pun meninggalkan Arumi dan putrinya. Karena ia masih ada kerjaan di dapur. Sepeninggal ibu Rani, kedua gadis itupun menghitung uang hasil jualan tadi.
" Alhamdulillah dapet untung tiga ratus ribu Rum"
" Alhamdulillah Ran. Uang ini kita jadikan modal aja, jadi nanti nggak pake uang kamu lagi"
" Berarti untung jualan sekarang kita jadikan untuk modal. Nggak masuk tabungan?"
" Nggak Ran, jadi nanti kita udah punya modal sendiri "
" Baiklah, padahal nggak masalah lho pake uang aku"
" Uang kamu di simpan aja. Nanti kalau butuh, kan bisa pinjam "
Rani menyimpan uangnya yang terpakai untuk modal jualan hari ini. Sedangkan uang laba dari berjualan akan mereka pakai untuk modal berjualan berikutnya.
" Sekarang waktunya kita mencoba martabak manis yang sudah kita beli tadi" kata Rani.
Aroma wangi tercium saat Rani membuka kotak martabak manis itu. Kedua gadis cantik itu sudah tidak sabar ingin mencicipi martabak manis. Tanpa menunggu lama Arumi dan Rani pun mengambil satu potong martabak manis.
" Ya Allah enak banget " kata Rani saat martabak manis sudah masuk ke dalam mulutnya.
" Iya, manisnya pas"
Kadang ada martabak manis yang bikin eneg. Tapi martabak manis yang mereka beli tadi manisnya pas, dan ada rasa asin dari kejunya. Jadi rasanya sangat pas dan juga enak.
Arumi juga sudah lama nggak makan martabak. Terakhir kali ia makan martabak mungkin kelas enam SD. Itupun di kasih sama gurunya saat ia ulang tahun. Dan itu pertama kali ada orang yang ingat hari ulang tahunnya selain Rani. Tapi sekarang Arumi tidak pernah lagi bertemu dengan gurunya. Dengar-dengar gurunya itu sudah pindah tugas.
To be continued.
Jangan lupa tinggalkan jejak sayang kalian 🤗🤗
Happy reading guys 🤗 🤗
ibuk macam apa itu pilih kasih..
Arumi diruh itu ini diambik lagi gajinya..
Memeras aja kerjanya.. huh..