NovelToon NovelToon
SUAMI SEWAANKU SANG MAFIA PENGUASA

SUAMI SEWAANKU SANG MAFIA PENGUASA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Perjodohan
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Orang_Cuman_Cerita

Demi menghindari perjodohan gila dengan rentenir tua pilihan ibu tirinya, Alana nekat menyewa seorang pria asing di pinggir jalan untuk menjadi suami pura-puranya dengan bayaran 5 juta sebulan. Pria itu tampak seperti pengangguran tampan yang sedang butuh tempat sembunyi.

​Alana bekerja keras siang malam untuk menghidupi "suami miskinnya" itu. Ia bahkan rela membelikan pria itu kemeja obralan agar terlihat rapi saat menemaninya.

​Namun, Alana tidak pernah tahu bahwa pria yang setiap malam tidur di sofa sempit apartemennya adalah Xander, pemimpin kartel mafia paling ditakuti sekaligus CEO triliuner yang kekayaannya tak berseri. Saat keluarga tiri Alana mencoba menginjak-injak hidup gadis itu, mereka tidak sadar bahwa mereka telah membangunkan iblis kejam yang sedang menyamar.

​"Siapa pun yang berani menyentuh milikku, bersiaplah kehilangan nyawa." — Xander.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Murka Sang Penguasa

Keheningan di lobi Viora Jewelry pecah berkeping-keping. Pintu kaca utama kantor didorong dengan sangat kasar hingga nyaris membentur dinding. Seorang wanita paruh baya berpenampilan menor dengan perhiasan emas menumpuk di leher dan tangannya—Nyonya Bahar—menerobos masuk. Di belakangnya, seorang pria berkacamata yang mengenakan setelan jas abu-abu mengekor dengan wajah pucat pasi. Dia adalah pengacara pribadi keluarga Bahar.

​"Di mana Rex Leonidas?! Keluar kau, iblis berdarah dingin!" jerit Nyonya Bahar dengan suara melengking yang menyayat telinga. Matanya liar mencari sosok sang penguasa yang telah menghancurkan kerajaan bisnis suaminya dalam semalam. "Kembalikan semua aset suamiku! Kau tidak berhak menyita kasino dan seluruh rekening kami tanpa peringatan!"

​Para karyawan Viora Jewelry menahan napas. Pak Hendra, sang direktur, nyaris kehilangan pijakan kakinya melihat kekacauan yang terjadi tepat di depan bos besar yang sedang melakukan inspeksi.

​Di barisan divisi desain, tubuh Alana kembali menegang. Mendengar nama 'Bahar' disebut membuat trauma di alam bawah sadarnya kembali bangkit. Namun, rasa takutnya kini bercampur aduk dengan kebingungan luar biasa. Pria yang membisikkan kata 'Istriku' di telinganya barusan masih berdiri menjulang di hadapannya.

​Senyum tipis yang penuh intrik di wajah Xander seketika lenyap tak bersisa. Ia menarik wajahnya dari dekat telinga Alana, lalu menegakkan punggungnya. Dalam hitungan sepersekian detik, aura pria malang yang sempat ia perlihatkan pada Alana menguap sepenuhnya. Kini, yang berdiri di sana adalah wujud asli dari Rex Leonidas—sang predator puncak dari rantai makanan dunia bisnis dan mafia.

​Xander memutar tubuhnya dengan sangat lambat. Sepasang mata obsidiannya yang mematikan menatap lurus ke arah Nyonya Bahar dan pengacaranya. Tatapan itu begitu dingin, seolah-olah ia sedang melihat dua ekor kecoa kotor yang mengotori lantai marmer perusahaannya.

​"Dante," panggil Xander. Suaranya tidak keras, bahkan cenderung pelan. Namun, gema dari nada bariton yang berat itu mampu membuat bulu kuduk semua orang di ruangan itu meremang.

​"Ya, Tuan Besar," sahut Dante yang langsung melangkah maju bersama dua pengawal bertubuh raksasa, siap mengeksekusi perintah apa pun.

​Namun, sebelum Dante sempat menyeret mereka keluar, tatapan liar Nyonya Bahar secara tidak sengaja menangkap sosok Alana yang berdiri gemetar di belakang Xander. Mata wanita menor itu seketika melotot lebar, dipenuhi kilat kebencian yang menyala-nyala.

​"Kau!" Nyonya Bahar menunjuk tepat ke wajah Alana dengan jarinya yang berhias cincin emas tebal. "Anak tiri Melinda yang jalang! Ini pasti ulahmu, kan?! Suamiku mengirim preman untuk menjemputmu tadi malam, dan tiba-tiba seluruh bisnisnya hancur! Kau pasti menggunakan guna-guna atau memohon pada pria simpananmu untuk menghancurkan suamiku!"

​Alana tersentak mundur, wajahnya seputih kertas. Karyawan lain yang mendengar tuduhan itu mulai berbisik-bisik, menatap Alana dengan pandangan menghakimi.

​Dikuasai oleh amarah dan keputusasaan karena jatuh miskin, Nyonya Bahar kehilangan akal sehatnya. Wanita itu menerjang maju bak orang kesetanan, mengayunkan tangannya tinggi-tinggi berniat menampar wajah Alana yang membeku ketakutan.

​WUSSH!

​Angin dari tamparan itu nyaris menyentuh pipi Alana. Namun, sebuah tangan besar dengan balutan kemeja mahal lebih dulu membelah udara.

​GREP!

​Xander menangkap pergelangan tangan Nyonya Bahar di udara dengan cengkeraman yang luar biasa mematikan. Begitu kuatnya cengkeraman itu, hingga terdengar bunyi retakan pelan dari tulang pergelangan tangan wanita tersebut.

​"AARRGHHH!" Nyonya Bahar menjerit histeris. Wajahnya seketika berkerut menahan rasa sakit yang luar biasa. Ia berusaha menarik tangannya, namun tangan Xander sekeras baja yang terkunci rapat.

​Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti seluruh lobi. Tidak ada satu pun karyawan yang berani bernapas keras. Pak Hendra menutup mulutnya rapat-rapat, sementara pengacara Nyonya Bahar sudah berlutut di lantai dengan kaki gemetar, menyadari siapa pria yang baru saja diusik oleh kliennya.

​Xander menarik Nyonya Bahar satu langkah lebih dekat. Matanya berkilat dengan aura membunuh yang sangat pekat.

​"Berani sekali kau mencoba menyentuh milikku di depan mataku sendiri," desis Xander dengan suara yang sedingin es di dasar neraka. "Suamimu, si lintah darat rendahan itu, hancur karena dia berani mengusik wanita yang berada di bawah perlindunganku. Dan sekarang, kau datang ke perusahaanku, membuat keributan, dan mencoba melukai istriku?"

​Kata 'istriku' diucapkan Xander dengan penekanan yang sangat tajam dan lantang.

​BUM!

​Pernyataan itu bagaikan bom atom yang meledak di tengah-tengah kantor Viora Jewelry. Seluruh karyawan terbelalak kaget. Pak Hendra nyaris pingsan di tempatnya berdiri. Sarah, rekan kerja Alana, menjatuhkan pena yang dipegangnya hingga menggelinding ke lantai.

​Alana sendiri merasa jantungnya berhenti berdetak. Suaminya... pria yang tadi pagi menyantap nasi goreng murahannya di apartemen kumuh... baru saja mengumumkan pernikahan mereka di depan seluruh petinggi perusahaan raksasa!

​"Is-istri...?" Nyonya Bahar tergagap, rasa sakit di tangannya kini terkalahkan oleh teror yang merayapi tengkuknya. Gadis miskin yang diincar suaminya ternyata adalah istri sah dari Rex Leonidas yang legendaris?!

​Xander menghempaskan tangan wanita itu dengan kasar hingga Nyonya Bahar terjerembap jatuh menghantam lantai marmer. Ia kemudian mengeluarkan saputangan sutra dari saku jasnya, mengelap jari-jarinya yang baru saja menyentuh wanita itu seolah-olah baru saja menyentuh sampah yang paling menjijikkan, lalu membuang saputangan mahal itu tepat di atas wajah Nyonya Bahar.

​"Dante," perintah Xander tanpa menoleh. "Seret wanita ini dan pengacaranya keluar. Pastikan mereka tidak pernah lagi melihat cahaya matahari Jakarta. Jika aku mendengar ada satu lagi anggota keluarga Bahar yang bernapas di kota ini, nyawamu yang akan jadi bayarannya."

​"Dilaksanakan, Tuan Besar!" Dante dan para pengawal langsung meringkus Nyonya Bahar yang meronta-ronta sambil menangis memohon ampun, menyeretnya keluar dari lobi seolah ia hanyalah seonggok karung rongsokan.

​Setelah kekacauan itu dibersihkan dalam hitungan detik, Xander perlahan memutar tubuhnya kembali menghadap Alana. Tatapan matanya yang kejam kini mereda, tergantikan oleh tatapan posesif yang tak terbantahkan.

​Gadis mungil di depannya itu masih berdiri membeku. Mata indahnya berkaca-kaca menatap Xander, dipenuhi oleh badai emosi: syok, takut, bingung, dan merasa sangat ditipu.

​"Kau..." Bibir Alana bergetar, merangkai kata dengan susah payah. "Siapa kau sebenarnya...?"

​Tanpa mempedulikan puluhan pasang mata karyawan yang masih menatap mereka dengan syok berat, Xander melangkah maju. Ia melingkarkan lengannya yang kokoh di pinggang ramping Alana, menarik tubuh gadis itu hingga menabrak dada bidangnya yang keras.

​"Inspeksi selesai, Pak Hendra," ucap Xander tanpa menoleh ke arah sang direktur yang sedang gemetar. "Aku akan meminjam desainer junior ini. Jangan ada yang berani mengganggunya, atau kalian semua akan kupecat hari ini juga."

​Sebelum Alana sempat memprotes, Xander telah mengangkat tubuh mungil istrinya itu dengan mudah menggunakan gaya bridal style. Alana tersentak kaget dan secara refleks mengalungkan kedua tangannya di leher jenjang pria itu agar tidak terjatuh.

​Dengan langkah panjang yang dipenuhi otoritas absolut, Xander membawa Alana keluar dari lobi yang sunyi senyap, menuju ke arah mobil SUV anti peluru yang sudah menunggu dengan pintu terbuka. Waktunya bermain sandiwara miskin telah usai. Kini, sang penguasa akan membawa ratunya ke singgasana yang sebenarnya.

​(Bersambung...)

1
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
Orang_Cuman_Cerita: Lagi Proses Kak 👍
total 1 replies
Anonim
Lanjutkan 👍
Orang_Cuman_Cerita
Sukakan?💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!