Takluk pada Sekretaris Alana
Di lantai 42 Arkananta Tower, Devan Arkananta adalah hukum yang mutlak. Tampan, kaya, dan bertangan dingin, sang CEO dijuluki sebagai "Monster Arkananta" yang tidak pernah menoleransi kesalahan sekecil apa pun. Bagi seluruh karyawan, dia adalah predator puncak yang tidak tersentuh. Namun, di balik topeng es yang sempurna itu, Devan menyimpan rahasia kelam dan kerapuhan mental yang bisa menghancurkan kerajaannya dalam semalam.
Hanya ada satu orang yang mampu bertahan di sisinya: Alana, sang sekretaris eksekutif yang tangguh. Tiga tahun menjaga profesionalisme tanpa cela, dunia Alana berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ia menjadi saksi mata saat Devan tumbang akibat serangan panik (panic attack) yang hebat di ruang kerjanya. Sejak malam mencekam itu, Alana bukan lagi sekadar pengatur jadwal, melainkan satu-satunya perisai rahasia bagi sang CEO.
Ketika batas profesional antara bos dan sekretaris mulai terkikis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERGI MENINGGALKAN KERAJAAN
Seminggu berlalu sejak hari mereka menyusun segala rencana indah itu. Ruang kerja lantai 42 kini tampak berbeda—tidak lagi penuh ketegangan atau tekanan mencekam, melainkan hangat dan penuh semangat baru. Di meja besar yang kini tertulis nama mereka berdua, tumpukan dokumen sudah beres disusun rapi. Semua proyek penting sudah ditangani, semua keputusan besar sudah ditandatangani. Arkananta Group kini sudah siap berjalan tegak tanpa perlu dipantau detik demi detik oleh tuannya.
Pagi itu, Devan dan Alana berdiri di depan cermin besar di kamar utama rumah mereka. Koper besar sudah tertutup rapat di sudut ruangan. Alana mengenakan pakaian santai yang sederhana namun elegan, rambutnya dibiarkan terurai lembut, jauh berbeda dari penampilan rapi dan kaku saat masih menjadi sekretaris dulu.
Devan yang berdiri di belakangnya melingkarkan kedua tangan di pinggang Alana, dagunya bersandar lembut di bahu wanita itu. Di cermin, tatapan mereka bertemu, sama-sama memancarkan kebahagiaan yang tenang.
"Lihat dirimu," bisik Devan pelan, mencium telinga Alana. "Dulu kau berdiri di belakangku, menunduk hormat, takut salah bicara. Sekarang kau berdiri di sini, bersamaku, dan segalanya yang ada di sekelilingku adalah milikmu juga. Rasanya seperti mimpi yang tak mau aku bangunkan."
Alana tersenyum, menautkan jari-jemari tangan Devan di perutnya.
"Saya juga masih sering takut ini semua hilang, Devan. Tapi kalau benar mimpi, tolong jangan bangunkan saya selamanya."
Devan memutar tubuh Alana hingga berhadapan dengannya, lalu menangkup kedua pipi itu dengan lembut namun penuh genggaman.
"Tidak akan ada yang hilang. Justru kita yang akan pergi, meninggalkan semua ini sejenak. Meninggalkan gedung tinggi, kursi empuk, dan ribuan tanggung jawab yang membebani bahu kita bertahun-tahun lamanya. Selama dua minggu ke depan, kita bukan lagi Bos dan Sekretaris, bukan Direktur dan Pendamping. Kita hanya Devan dan Alana. Dua orang yang saling mencintai, tanpa gelar, tanpa aturan, tanpa musuh."
"Benarkah Bapak sanggup jauh dari kantor selama itu?" goda Alana, matanya berbinar geli. "Dulu Bapak sampai marah kalau saya telat mengirim laporan lima menit saja."
Devan tertawa renyah, suara rendah yang bergetar di dada. Ia menggeleng pelan.
"Dulu aku gila, Sayang. Aku mengira dunia berputar karena aku memaksanya berputar. Aku mengira kalau aku lengah sedetik saja, semuanya akan runtuh. Ternyata tidak. Dunia tetap berputar, perusahaan tetap berjalan, dan semuanya baik-baik saja... selama kau ada di hatiku."
Ia mengangkat tangan Alana, mencium punggungnya dengan penuh penghormatan.
"Dan aku belajar satu hal berharga darimu: Bahwa waktu itu terlalu mahal untuk dihabiskan hanya demi angka dan neraca keuangan. Waktu sebaiknya dihabiskan untuk hal yang tidak bisa dibeli uang: kedamaian, kebersamaan, dan cinta."
Mereka turun ke lantai dasar. Di sana sudah menunggu Pak Hendra dan beberapa staf inti yang datang khusus untuk mengantar. Wajah Pak Hendra tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca menatap pasangan muda itu.
"Silakan berangkat dengan tenang, Tuan, Nyonya. Jangan pikirkan apa-apa di sini. Gedung ini, aset ini, ribuan karyawan ini... kami akan menjaganya sebaik mungkin. Kami sudah terlatih dan sudah siap. Bapak dan Ibu cukup fokus untuk bersenang-senang, mengisi ulang energi, dan membahagiakan hati satu sama lain."
Devan menepuk bahu tua itu dengan kuat, penuh rasa percaya yang tak tergoyahkan.
"Aku menyerahkan kuncinya padamu, Pak Hendra. Selama dua minggu ini, kau adalah pemegang kendali. Aku percaya padamu melebihi siapa pun. Dan ingat satu hal: Jangan hubungi aku, kecuali kalau gedung ini benar-benar mau rubuh ditabrak meteor. Kalau cuma soal rapat, soal laporan, atau tawaran bisnis... biarkan saja atau putuskan sendiri. Aku sedang sibuk menjaga Ratu-ku."
Semua orang tertawa mendengar ucapan tegas namun manis itu. Alana tersipu malu, namun hatinya mekar penuh.
Saat mobil melaju meninggalkan gerbang kompleks rumah mewah itu, meninggalkan kota Jakarta yang padat, bising, dan penuh sejarah perjuangan mereka, Alana menoleh ke belakang. Pemandangan gedung-gedung tinggi perlahan menjauh dan mengecil, hingga akhirnya hilang tertutup jalanan yang berkelok dan pepohonan hijau yang rimbun.
Ia menoleh kembali ke depan, ke arah Devan yang sedang menyetir dengan santai, satu tangannya tetap menggenggam tangan Alana yang diletakkan di atas paha pria itu. Tidak ada wajah tegang, tidak ada telepon yang berdering, tidak ada dokumen yang harus dibaca. Hanya musik lembut, angin yang masuk dari jendela terbuka, dan wajah suaminya yang damai.
"Devan..." panggil Alana pelan.
"Hm?"
"Terima kasih. Terima kasih sudah membawa saya keluar dari sana. Rasanya seperti kita baru saja lolos dari penjara emas, ya?"
Devan meliriknya sekilas, lalu tersenyum hangat yang menembus sampai ke mata.
"Penjara emas itu benar adanya, Sayang. Aku menghabiskan separuh hidupku terkurung di dalamnya, merasa paling berkuasa padahal paling kesepian dan sakit hati. Sampai kau datang, membuka pintu itu, dan mengajarkanku cara bernapas yang benar. Sekarang kita bebas. Benar-benar bebas."
Perjalanan memakan waktu berjam-jam, namun rasanya begitu singkat. Mereka mengobrol tentang hal-hal sederhana: tentang rasa makanan yang ingin dicoba, tentang suara ombak yang ingin didengar, tentang bagaimana mereka akan menghabiskan waktu hanya dengan berbaring, berbicara, dan saling menatap tanpa tujuan lain. Devan bahkan bercerita tentang hal-hal konyol yang belum pernah ia ceritakan pada siapa pun, membuat Alana tertawa lepas sepanjang jalan.
Menjelang sore, mereka sampai di tujuan: Sebuah vila pribadi yang berdiri megah namun menyatu dengan alam, tepat di pinggir pantai yang airnya jernih dan pasirnya putih bersih. Tidak ada tetangga, tidak ada orang asing, hanya mereka, bangunan kayu yang hangat, dan suara deburan ombak yang konstan menenangkan jiwa.
Begitu turun dari mobil, angin laut yang segar langsung menyambut, menerpa wajah dan rambut mereka. Alana menghirup napas dalam-dalam, paru-parunya terasa penuh udara yang bersih dan bebas. Ia berlari kecil mendekati pagar pembatas yang langsung menghadap samudra luas, matanya memandang takjub ke arah matahari yang mulai turun perlahan, melukis langit dengan warna jingga dan emas yang mempesona.
Devan berjalan mengikuti di belakangnya, berdiri tegak tepat di belakang punggung Alana, lalu memeluknya erat dari belakang, membiarkan tubuh mereka menyatu sepenuhnya.
"Bagaimana?" tanyanya berbisik tepat di telinga Alana. "Apakah tempat ini layak untuk Ratu Arkananta?"
Alana memejamkan mata, bersandar sepenuhnya pada dada bidang yang menopangnya.
"Tempat ini indah sekali, Devan. Tapi jujur saja... meski kita menginap di gubuk reot pun, selama bersama Bapak, itu tetap jadi tempat terindah dan termahal di dunia bagi saya."
Devan mengecup puncak kepalanya berulang kali, penuh rasa syukur yang meluap-luap hingga matanya sedikit basah.
"Kau memang penyihir, ya? Kau membuat segalanya yang mahal jadi terasa biasa, dan segalanya yang sederhana jadi tak ternilai. Aku benar-benar jatuh cinta untuk kesekian ratus kalinya, Alana."
Ia memutar tubuh wanita itu menghadap laut, lalu menunjuk ke hamparan luas air di depan mereka.
"Lihatlah. Seluas inilah rasa syukurku. Setinggi inilah rasa bahagiaku. Dan sedalam inilah rasa cintaku padamu. Di sini, di bawah langit yang luas ini, aku berjanji: Dua minggu ini akan menjadi waktu terindah dalam hidup kita, dan menjadi permulaan dari ribuan hari indah yang akan kita jalani bersama."
Di bawah langit senja yang keemasan itu, dua jiwa yang dulu penuh luka dan ketakutan kini berdiri tegak, utuh, dan lengkap. Mereka telah meninggalkan kerajaannya, bukan karena takut atau kalah, tapi karena mereka sadar: Kerajaan yang sesungguhnya bukanlah bangunan beton dan kekayaan, melainkan hati satu sama lain tempat mereka pulang dan tinggal selamanya.
Dan sekali lagi, dengan suara lembut namun pasti, Devan berbisik janji yang tak pernah berubah maknanya:
"Segala yang ada di bumi dan langit ini, kebebasan ini, kedamaian ini, dan sisa napasku ini... semuanya dan selamanya tetap takluk, hanya padamu, Alana."