NovelToon NovelToon
Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang Lembur dan Tamu Tengah malam

"Nayla Putri! Desain apa yang kamu buat ini? Kamu lulusan komunikasi visual atau kursus kilat dua hari di pasar malam?!"

Suara bariton milik Januar, manajer kreatif bersumbu pendek itu, menggelegar ke seisi ruang rapat, mengalahkan deru pendingin ruangan yang sedari tadi berjuang melawan hawa panas Jakarta. Secangkir kopi hitam yang tinggal setengah di mejanya sampai ikut bergetar, selaras dengan denyut nadi Nayla yang mendadak melompat ke angka seratus dua puluh per menit.

Nayla menarik napas dalam-dalam, meremas ujung blus kerjanya di bawah meja. Ini sudah pukul sembilan malam. Di luar jendela kaca kantor, lampu-lampu jalanan sudah menyala terang, kontras dengan masa depannya yang mendadak terasa suram di bawah tatapan tajam Januar.

"Maaf, Pak Januar," kata Nayla, berusaha menjaga suaranya tetap stabil dan profesional sesuai standar baku panduan karyawan. "Konsep awal yang Bapak minta adalah minimalis dan elegan. Desain warna pastel dan ruang kosong yang luas itu sengaja saya terapkan agar produk terkesan eksklusif."

Januar mendengus, melempar bundel cetakan dokumen desain ke atas meja bundar hingga menimbulkan suara debukan yang nyaring. "Eksklusif dengkulmu! Ini bukan minimalis, Nayla. Ini malas! Klien kita itu perusahaan jamu legendaris, mereka butuh sesuatu yang megah, yang berenergi, yang kalau orang lihat langsung merasa sehat bugar! Bukan warna pucat seperti orang kurang darah begini!"

Nayla menggigit bibir bagian dalam.

Lalu untuk apa dua minggu lalu pria berkepala botak di depannya ini menceramahinya tentang tren estetika modern kaum urban yang menyukai kesederhanaan? pikirnya dongkol.

Namun, sebagai buruh korporat yang masih memiliki cicilan ponsel pintar dan biaya sewa rumah kontrakan, Nayla tahu betul bahwa berdebat dengan atasan yang sedang kepalang tanggung mengejar target akhir bulan adalah bentuk aksi bunuh diri karier secara halus.

"Baik, Pak. Saya mengerti," ucap Nayla akhirnya, mengalah pada ego sang bos demi keselamatan dompetnya. "Bagian mana saja yang perlu saya rombak total?"

"Semuanya!" Januar mengetuk meja dengan ujung pulpennya, berirama dan menyebalkan. "Ganti warna latarnya dengan warna emas atau hijau zamrud yang tegas. Masukkan ilustrasi daun-daunan herbal yang tampak segar, dan buat tipografi judulnya lebih berani. Saya tidak mau tahu, revisi pertama harus sudah ada di pos-el saya sebelum jam dua belas malam ini. Klien mau melihatnya besok pagi-pagi sekali."

"Tapi, Pak, sekarang sudah jam sembilan lewat lima belas menit," cetuk Nayla, refleks melirik jam tangan peraknya.

Januar menaikkan sebelah alisnya, tatapannya sedingin es di kutub utara. "Lalu? Kamu mau bilang kalau kamu tidak bisa profesional? Banyak pelamar di luar sana yang mengantre untuk menggantikan posisi kamu, Nayla. Kalau kamu merasa tidak sanggup dengan tekanan di agensi ini, pintu keluar selalu terbuka lebar."

Ancaman klise namun selalu berhasil itu telak membungkam mulut Nayla. Dia hanya bisa mengangguk pasrah. "Baik, Pak. Akan saya selesaikan malam ini juga."

"Bagus. Begitu baru namanya etos kerja," ujar Januar, mendadak melunak seolah baru saja tidak melakukan intimidasi psikologis pada bawahannya. Pria itu merapikan jasnya, mengambil kunci mobil, dan melenggang pergi meninggalkan ruang rapat tanpa dosa, bersiap pulang ke rumahnya yang nyaman sementara Nayla harus kembali ke kubikelnya yang dingin.

Nayla kembali ke meja kerjanya dengan langkah gontai. Ruang kerja bersama yang biasanya bising oleh gelak tawa dan petikan gitar anak-anak magang, kini sunyi senyap. Hanya ada dia dan beberapa monitor komputer yang masih menyala, menampilkan visual-visual abstrak yang mulai membuat matanya perih.

Dia mengempaskan tubuh ke kursi kerjanya, menatap layar monitor berukuran dua puluh empat inci yang menampilkan perangkat lunak penyunting gambar. Jari-jarinya mulai menari di atas papan ketik dan sabak digital, memindahkan objek, mengubah palet warna menjadi hijau tua, dan menyematkan guratan-guratan emas imitasi yang menurutnya terlalu mencolok.

Namun, persetan dengan idealisme seni. Malam ini, idealisme terbesarnya hanyalah bisa pulang dan merebahkan diri di atas kasur tanpa perlu mendengar makian di keesokan hari.

Detik demi detik berganti, ditemani oleh desau angin malam yang sesekali mengetuk kaca jendela lantai empat kantornya. Jam sepuluh berlalu. Jam sebelas lewat. Pada pukul sebelas lewat empat puluh lima menit, dengan satu klik terakhir yang penuh penekanan, Nayla berhasil mengirimkan berkas revisi tersebut ke pos-el Januar.

"Selesai, bajingan," umpat Nayla lirih, sebuah katarsis kecil yang hanya berani dia ucapkan ketika ruangan benar-benar kosong.

Dia segera mengemas barang-barangnya. Dompet, ponsel, pengisi daya, dan sebuah novel romansa komedi yang belum sempat dia baca bab pertamanya dimasukkan ke dalam tas ransel kanvas.

Setelah mematikan semua perangkat elektronik dan memastikan ruangan terkunci rapat, Nayla melangkah menuju lift, lalu keluar menuju lobi gedung yang sudah dijaga oleh seorang satpam yang terkantuk-kantuk.

Perjalanan pulang malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Karena jam sudah menunjukkan tengah malam, kendaraan umum sudah jarang beroperasi. Nayla terpaksa memesan ojek daring dengan tarif yang sudah naik dua kali lipat karena zona waktu malam.

Sepanjang perjalanan di atas motor, angin malam kota Jakarta menerpa wajahnya yang kuyu, membawa serta aroma polusi dan sisa-sisa kepenatan siang hari.

Jarum jam sudah menunjuk angka setengah satu dini hari ketika motor ojek daring yang ditumpangi Nayla berhenti di depan gang perumahannya. Daerah sekitar kontrakannya sudah sepi senyap. Lampu-lampu teras rumah tetangga sebagian besar sudah dipadamkan, menyisakan keremangan yang hanya dibantu oleh lampu jalan umum berwarna kuning redup di beberapa titik.

Nayla Putri yang akrab dipanggil Nayla oleh teman-temannya melangkah gontai menyusuri gang yang lebarnya hanya cukup untuk satu mobil itu. Langkah kaki flat shoes-nya bergaung pelan di atas aspal, menciptakan ritme yang monoton di tengah kesunyian malam. Otaknya sudah mati rasa, tidak lagi memikirkan Januar atau revisi desain jamu, melainkan sudah membayangkan kehangatan bantal dan guling tidurnya.

Saat dia sampai di depan pagar besi bercat hitam rumah kontrakannya, Nayla merogoh saku tasnya untuk mencari anak kunci.

Sambil memasukkan kunci ke dalam lubang gembok, dia mendorong pagar tersebut hingga menimbulkan suara derit besi yang bergesekan, memecah keheningan malam yang pekat.

Nayla melangkah masuk ke halaman rumahnya yang berukuran mungil. Namun, baru dua langkah berjalan menuju pintu utama, matanya yang semula layu mendadak melebar sempurna. Kantuk yang sedari tadi menggelayuti kelopak matanya menguap begitu saja, digantikan oleh sengatan adrenalin yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Di atas lantai teras rumahnya, tepat di depan keset kaki bertuliskan Welcome, tergeletak sesosok tubuh manusia.

Nayla mematung di tempat. Jantungnya berdegup sangat kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Pikiran-pikiran buruk langsung berputar-putar di kepalanya bagai kincir angin yang mengamuk. ("Apakah ini korban pembunuhan? Korban begal yang merangkak mencari bantuan? Atau jangan-jangan, ini adalah hantu tipe baru yang lelah bergentayangan dan memutuskan untuk tidur siang di teras rumah orang?")

Dengan tangan yang gemetar, Nayla merogoh ponsel dari saku celananya. Dia menyalakan fungsi senter, lalu perlahan-lahan mengarahkan sorotan cahaya putih itu ke arah tubuh yang terbujur kaku tersebut

1
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
SANG
Hadi💪👍
falea sezi
lanjut q kasih nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!