Keadaan berubah ketika Nowi memergoki kekasihnya berselingkuh tepat di atas ranjang mereka sendiri. Baru saat itulah ia menyadari bahwa seluruh kenyamanan yang selama ini dinikmatinya tak lagi miliknya. Padahal sebelumnya Nowi memiliki segalanya. Karier cemerlang, kehidupan berkecukupan, dan pasangan yang berparas tampan.
Kini, semuanya telah sirna. Tak ada lagi tempat tinggal, tak ada lagi sumber penghasilan, dan satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah menjual rumah warisan orang tuanya di kota Batu. Tempat yang sangat dibencinya, sarat akan kenangan pahit, serta menyimpan satu rahasia besar yang telah ia kubur dalam-dalam sejak masa remaja.
Kehancuran hidupnya itu pun memaksanya kembali menghadapi masa lalu yang telah ia tinggalkan sepuluh tahun silam, serta satu-satunya pria yang mencintainya sepenuh hati, sekaligus sosok yang paling menderita karenanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan Flamboyan
"Aku punya hak lah ... karena pemimpin perusahaan ini percaya kalau aku bisa jadi bagian dari tim ini dan merekrutku untuk membantu menjalankan operasionalnya," jawab Yessica tegas. "Aku paham tugasku dan tahu aku bisa membawa manfaat bagi tempat ini. Selain itu, aku juga butuh pekerjaan ini."
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan ucapannya.
"Kelihatannya kita saling butuh satu sama lain. Jadi ya, aku rasa aku cukup punya hak buat minta satu hal supaya aku betah kerja di sini. Apalagi selama ini kamu yang bikin suasana kerja jadi gak nyaman."
"Zaki," tegur Vito dengan nada peringatan. Ia mengawasi gerak-gerik saudaranya dengan hati-hati.
Zaki menutup matanya lalu menarik napas panjang. Tangannya makin erat mencengkeram sandaran kursi hingga tulang jari-jarinya terlihat jelas, sambil berusaha keras menahan amarahnya. Beberapa detik kemudian ia membuka matanya pelan dan menatap Yessica.
"Baiklah," katanya akhirnya. Nada bicaranya yang dingin kini berubah menjadi penuh ejekan. "Apa satu hal yang mau kamu minta itu?"
"Jujur aja, ini nggak berat kok," kata Yessica. "Tapi menurutku penting supaya nggak ada salah paham lagi. Aku cuma mau kamu sadar kalau kita kerja bareng dan mulai sekarang kita harus bertindak sebagai satu tim."
Permintaan itu singkat dan langsung ke inti. Zaki tertawa pendek namun nadanya terdengar mengancam.
"Nggak mungkin, nyonya. Pokoknya jangan pernah lagi halangin perintah aku."
Ia langsung berdiri lalu keluar dari ruangan dengan marah, persis seperti anak kecil yang dilarang bermain.
Vito mengembuskan napas panjang. "Biasanya aku nggak pernah minta maaf atas kelakuan saudara laki-lakiku, tapi kali ini aku minta maaf banget," katanya kepada Yessica. "Aku bakal ngomong sama dia. Semuanya bakal baik-baik aja, dan aku pastikan mulai sekarang dia bersikap sopan. Terus kirimkan usulanmu ke dia dan juga salinannya ke aku ya."
"Makasih, Vito." Yessica mengembuskan napas pelan. "Sumpah, aku sebenarnya nggak susah diajak kerja bareng. Aku nggak ngerti kenapa dia nggak suka sama aku."
"Aku nggak khawatir soal itu, Yessica. Kamu juga nggak perlu khawatir. Semua bakal lancar nantinya. Dia juga bakal sadar sendiri seiring waktu."
Yessica mengangguk, mengambil buku catatannya, lalu pergi meninggalkan Vito sendirian di ruangan.
Mungkin Vito memang perlu mempertimbangkan kembali untuk mengirim Zaki konsultasi ke bagian HRD.
...***...
Di tempat lain ....
Perjalanan dari Surabaya ke Batu memakan waktu hampir enam jam. Nowi sempat ingin menyalahkan kemacetan, namun ia justru berhenti berkali-kali karena terpesona oleh pemandangan di sepanjang jalan.
Di hari cerah, Gunung Arjuna tampak megah dan selalu menjadi pemandangan kesukaannya. Hari mendung justru menjadi kesukaan Nowi. Awan tebal dan kabut tipis yang bergerak mengikuti arah angin terasa menenangkan dan sedikit misterius, hingga ia hampir lupa betapa tempat ini mampu membuatnya merasa hidup kembali.
Pemandangan alam sepanjang perjalan memang selalu memukau. Sampai-sampai Nowi bertanya-tanya bagaimana dulu ia bisa betah tinggal di kota lain, mungkin itu sebabnya hidupnya tidak pernah berkembang di sana.
Ia telah menyiapkan camilan kesukaan dan memutar musik dengan keras agar perjalanan terasa lebih singkat. Namun saat meraih sebungkus camilan, ia kesal karena yang terambil justru keripik gadung yang tidak disukainya. Ia memang berusaha mengambilnya diam-diam agar tidak diketahui Agnia. Dengan perasaan kesal, Nowi langsung menekan nomor cepat di ponselnya.
“Udah sampai?” suara ceria Agnia terdengar jelas dari dalam ponsel, membuat Nowi tersenyum lebar tanpa sadar.
“Aku udah kangen banget sama kamu, Agnia,” keluh Nowi.
“Keripik gadungku ikut sama kamu, ya?”
Agnia memang terlalu paham sifatnya.
“Iya. Dan aku lagi nyetir, nggak bisa lari lagi dari benda itu. Jijik banget. Serius deh, aku nggak ngerti gimana kamu bisa suka makanan beginian.”
“Kamu itu yang aneh. Mungkin kamu harus mulai makan makanan orang normal?”
“Nggak. Aku nggak bisa.”
“Nggak bisa atau nggak mau?”
“Keduanya.”
“Sekarang udah nyampe mana? Harusnya bentar lagi sampai, kan?”
“Hmm. GPS bilang sekitar satu jam lagi. Nanti aku kabarin lewat chat pas udah sampai.”
“Oke. Hati-hati.”
“Love you.”
Perut Nowi terasa berdebar saat menyadari kota Batu semakin dekat. Namun debaran itu bukan karena rasa senang, melainkan rasa gugup yang luar biasa. Ia bahkan sulit mempercayai bahwa dirinya benar-benar sedang dalam perjalanan pulang ke kota tempat ia dibesarkan.
Rasa cemas langsung menyerang sekuat tenaga hingga ia merasa mau muntah. Perasaan tidak nyaman itu semakin menjadi-jadi saat ia membayangkan harus bertemu dengan orang-orang yang dulu dikenalnya. Orang-orang yang pernah disayanginya. Orang-orang yang tidak sempat diucapinya selamat tinggal.
Lalu pikiran negatif mulai muncul di benaknya. Mungkin selama ini ia tidak pernah berarti apa-apa bagi mereka. Mungkin semua orang sudah melanjutkan hidup dan tidak merasakan kehilangan saat ia pergi.
Nowi sadar ia terlalu banyak berpikir. Namun mengapa mereka harus menyambut orang yang dianggap telah menyakiti keluarga mereka?
Sebenarnya yang ada di pikirannya hanyalah satu orang. Seorang laki-laki. Mungkin dulu laki-laki itu merasa terbebani bersamanya dan kini hidupnya jauh lebih baik tanpa harus memikirkannya lagi.
Batu adalah kota kecil yang terletak di sebelah barat Kota Malang. Bagi orang yang menyukai alam bebas, tetangga yang suka mencampuri urusan orang lain, dan tidak memiliki banyak pilihan tempat makan, kota ini bisa terasa seperti tempat yang istimewa.Udara di sini terasa berbeda, lebih bersih dan segar.
Nowi menarik turun topi yang diambilnya dari Agnia, berharap tidak mudah dikenali. Tubuhnya merosot lebih dalam ke kursi saat memperlambat kendaraan mendekati alun alun kota.
Jika bisa disebut pusat kota, tempat itu hanyalah jalan dua arah yang sederhana dengan bangunan kuno di sepanjang trotoar. Keranjang apel tergantung di setiap tiang lampu, dan jendela toko dihias dengan warna-warni yang cerah.
Nowi bertanya-tanya apakah Bu Ninik masih duduk di depan kafenya sambil melaporkan pengemudi yang melaju kencang kepada polisi?
Coffe Kauman terkenal dengan kue muffin apel kayumanisnya yang paling enak di dunia, dan mulut Nowi langsung berair hanya dengan mengingat rasanya. Dahulu itu adalah makanan kesukaannya. Ia telah berkali-kali mencoba membuatnya sendiri, namun tidak pernah mampu meniru rasa aslinya.
Dengan kepala menunduk, Nowi melewati jalan utama tanpa mengalami kendala apa pun. Setelah melewatinya, ia mengembuskan napas panjang yang selama ini ditahannya. Sampai di sini aman. Ia terus melaju menuju sisi lain kota.
Saat memasuki jalan Flamboyan yang berkerikil dan panjang menuju ujung jalan, gerakan tubuhnya Seakan berjalan sendiri mengingat jalan menuju rumah masa kecilnya. Tangannya mulai gemetar saat melewati jalan tanah yang panjang dan memasuki halaman rumah tua itu. Rasa kenangan langsung menyerang, namun bukan kenangan yang menyenangkan.