NovelToon NovelToon
GIGOLO TAMPAN ITU TERNYATA ORANG TERKAYA DI MEXICO

GIGOLO TAMPAN ITU TERNYATA ORANG TERKAYA DI MEXICO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Moms Celina

Valerie bertemu Mario, pria tampan yang dikiranya gigolo di klub malam. Ia jatuh hati pada sosok sederhana itu, hingga kebenaran terungkap: Mario adalah orang terkaya dan paling berkuasa di Meksiko yang menyamar mencari cinta tulus. Dikhianati oleh kebohongan, Valerie ragu memberi maaf. Di tengah bahaya dan intrik kekuasaan, Mario berjuang membuktikan ketulusannya. Kini, keduanya harus memilih: melepaskan, atau mempertahankan cinta yang lahir dari kesalahpahaman di tengah kemewahan dan risiko nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak yang Tak Terlihat

Mario mengusap sampul berkas kulit tebal berwarna cokelat yang tergeletak di atas meja mahoninya. Di sana, tertulis nama itu dengan huruf timbul emas: Valerie Smith. Di dalamnya, tersusun rapi setiap detail kehidupan wanita itu, seolah seluruh perjalanan hidup Valerie ditangkap dan dibekukan di atas kertas-kertas itu. Mario membuka halaman pertama dengan gerakan perlahan, matanya menelusuri setiap baris tulisan yang diketik rapi oleh Camila.

Lahir di kota kecil di bagian utara negara itu, lulusan hukum dengan predikat cum laude dari universitas bergengsi, karier cemerlang yang menanjak cepat hingga menjadi salah satu pengacara korporat paling dicari di firma hukum ternama, tinggal sendirian di apartemen mewah namun sederhana, jarang bergaul, hampir tidak memiliki riwayat hubungan asmara yang panjang atau serius. Semuanya menggambarkan sosok wanita yang mandiri, cerdas, dan tertutup. Wanita yang membangun tembok tinggi di sekeliling hatinya, persis seperti yang ia tunjukkan malam pertama mereka bertemu.

“Dia wanita yang hebat, Mario,” ujar Ricardo yang duduk di seberang meja, menyesap minumannya pelan. “Latar belakangnya bersih, tidak ada skandal, tidak ada utang, tidak ada hubungan dengan lingkaran elit kita atau bisnis kotor apa pun. Dia benar-benar orang luar. Dan dari apa yang kubaca di sini… dia punya prinsip yang sangat keras. Tidak menerima suap, sangat tegas pada keadilan, dan dikenal tidak mau berkompromi demi keuntungan pribadi.”

Mario mengangguk pelan, jarinya menyentuh foto kecil Valerie yang ditempel di sudut halaman—foto resmi dari kartu identitas kantornya. Meski hanya foto paspor hitam putih, sorot mata tajam dan rahang yang tegas itu tetap terlihat jelas.

“Itu sebabnya dia berbeda, Ricardo,” jawab Mario pelan, suaranya rendah namun penuh penekanan. “Dia tidak butuh apa pun dariku. Saat aku menyamar sebagai pria miskin yang tidak punya apa-apa, dia tidak menganggapku sebagai peluang, atau sumber uang, atau alat sosial. Dia berbicara denganku karena dia ingin bicara, karena dia merasa didengarkan. Dia tidak peduli seberapa besar dompetku atau seberapa tinggi posisiku, karena dia sudah punya semuanya dengan usahanya sendiri. Dia mandiri.”

Ricardo menghela napas panjang, meletakkan gelasnya di meja dengan bunyi klik halus. “Justru itu yang aku khawatirkan, kawan. Wanita dengan prinsip setinggi itu biasanya adalah yang paling sulit didekati, apalagi jika menyangkut kebohongan besar. Kamu sedang berpura-pura menjadi orang lain, Mario. Kamu sedang membangun hubungan di atas dasar kepalsuan. Bagaimana reaksinya nanti saat dia tahu bahwa pria yang dia pikir hidup pas-pasan ini ternyata menguasai separuh ekonomi negara ini? Bahwa pria yang dia kira menjual tenaganya demi uang ini ternyata orang yang bisa membeli seluruh perusahaan hukum tempat dia bekerja hanya dengan jentikan jari?”

Mario menutup berkas itu perlahan, menatap tajam ke arah tembok jendela kaca raksasa yang memandang ke arah kota Meksiko yang luas dan sibuk. Di bawah sana, jutaan orang bergerak, bekerja, bermimpi, dan berjuang. Di antara keramaian itu, ada satu wanita yang entah bagaimana caranya telah mengacaukan seluruh rencana hidupnya.

“Aku tidak berbohong tentang perasaanku, Ricardo,” jawab Mario tegas. “Identitas yang aku pakai mungkin palsu, tapi apa yang aku rasakan saat bersamanya itu nyata. Selama setahun aku melakukan ini, bertemu ratusan wanita, berbicara dengan mereka, menertawakan lelucon mereka, mendengar keluh kesah mereka… tidak ada satu pun yang membuatku merasa hidup kembali seperti saat bersamanya. Valerie… dia tidak melihat apa yang ingin aku tunjukkan. Dia melihat lebih dalam. Dan itu yang aku cari selama ini. Seseorang yang melihat aku.”

Ricardo menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis, campuran antara kekhawatiran dan rasa sayang pada sahabatnya itu. “Kau sudah jatuh hati, Mario. Lebih dalam dari yang kau sadari. Dan itu berbahaya. Ingat Elena. Ingat bagaimana kau hancur saat tahu bahwa yang kau cintai hanyalah bayangan dirimu sendiri yang kaya raya. Sekarang kau mengambil risiko yang sama, tapi dari arah berlawanan. Kau berharap dia mencintaimu dalam keadaan miskinmu, tapi apa yang terjadi jika dia membenci kekayaanmu? Jika dia merasa dikhianati karena kau menyembunyikan kebenaran? Itu risiko yang besar, kawan.”

“Aku siap mengambil risiko itu,” jawab Mario tanpa ragu. “Untuk pertama kalinya sejak lama, aku merasa tujuannya sepadan dengan bahayanya.”

Ia bangkit berdiri, merapikan jasnya yang mahal dan pas di badan. Sorot matanya berubah, menjadi penuh tekad dan rencana.

“Sekarang, aku harus bertemu dengannya lagi. Tapi kali ini… aku harus melakukannya lebih cerdas. Aku tidak bisa lagi hanya muncul di depannya sebagai pendamping bayaran. Aku harus masuk ke dunianya.”

 

Sementara itu, di kantor hukum tempat Valerie bekerja, suasana sedang sangat sibuk dan tegang. Sejak pagi, Valerie tidak bisa berkonsentrasi penuh. Keranjang bunga mawar putih dari Mario masih berdiri megah di sudut ruangannya, mengeluarkan aroma harum yang samar namun terus mengingatkannya pada pengirimnya. Setiap kali matanya melirik ke arah bunga itu, pertanyaan yang sama terus berputar di kepalanya: Bagaimana dia tahu?

Dia yakin betul malam itu dia tidak pernah menyebutkan nama kantornya, apalagi alamat lengkapnya. Dia bahkan tidak ingat pernah menyebutkan nama belakangnya dengan jelas. Namun, Mario mengirim bunga itu dengan tepat sasaran, seolah dia tahu persis di mana Valerie berada, apa yang dia lakukan, dan bagaimana cara mencapainya.

“Pria itu bukan sekadar gigolo,” gumam Valerie pelan pada dirinya sendiri, mengetuk-ngetukkan ujung pulpennya di atas meja. Insting pengacaranya, yang selalu tajam dan tidak pernah salah, berteriak keras di dalam benaknya. Ada yang salah. Ada yang tersembunyi. Mario Whashington bukanlah sosok sederhana yang ia kira.

Pintu ruangannya diketuk, dan Javier masuk kembali, kali ini dengan wajah yang sedikit lebih serius dan membawa berkas tambahan.

“Val, ada kasus baru masuk. Besar. Sangat besar,” kata Javier sambil meletakkan dokumen di atas meja, lalu duduk di kursi di hadapan Valerie. “Klien utamanya adalah Grup Whashington. Mereka butuh penasihat hukum untuk merger besar dengan perusahaan tambang di utara. Dan kabarnya… mereka secara khusus meminta kamu yang menangani kasus ini.”

Tangan Valerie yang sedang meraih berkas itu terhenti di udara. Matanya membelalak kaget.

“Grup Whashington? Perusahaan Whashington?” ulangnya, suaranya sedikit tercekat. Nama itu adalah nama terbesar di negeri ini. Hampir setiap sektor ekonomi di Meksiko tersentuh oleh kekuasaan keluarga Whashington. Mereka adalah raja bisnis yang nyata, pemilik segalanya mulai dari perbankan, properti, industri, hingga media.

“Iya. Orang terkaya di negara ini, Mario Whashington, adalah pemilik tunggalnya. Dan anehnya, tim hukum mereka menelepon pagi ini dan secara spesifik meminta Valerie Smith yang memimpin tim penasihat dari pihak kita. Padahal biasanya, kasus sebesar ini ditangani oleh rekanan senior atau mitra utama. Kamu baru naik jabatan setahun yang lalu. Ini di luar kebiasaan.”

Javier menatap Valerie dengan pandangan menyelidik. “Kamu kenal mereka? Ada hubungan keluarga atau kenalan jauh?”

Jantung Valerie berdegup kencang, begitu keras hingga ia yakin Javier bisa mendengarnya. Mario Whashington. Nama yang sama persis dengan pria yang ia temui di klub malam itu. Mario Whashington—gigolo tampan yang ia kira tidak punya apa-apa. Dan sekarang, ternyata ada Mario Whashington—raja bisnis yang memiliki segalanya. Apakah ini kebetulan? Atau… apakah itu orang yang sama?

Tidak mungkin, batin Valerie berusaha menyangkal. Mustahil. Pria yang bekerja melayani wanita kaya dan pria yang menguasai ekonomi negara… itu dua dunia yang berbeda. Nama yang sama mungkin saja kebetulan. Meksiko ini luas, banyak orang bernama sama.

Namun, kenangan akan tatapan mata pria itu, caranya berbicara, wawasannya yang luas, dan kemampuannya mengetahui alamat kantor Valerie… semuanya bertumpuk menjadi satu kesimpulan yang mengerikan sekaligus menakjubkan.

“Aku… aku tidak kenal,” jawab Valerie akhirnya, suaranya sedikit serak namun berusaha tetap tenang. “Mungkin mereka melihat rekam jejak kasus-kasuskku yang lalu. Mungkin reputasiku sampai ke telinga mereka.”

Javier mengangguk setuju, meski masih terlihat sedikit ragu. “Mungkin saja. Tapi ingat, Val, ini kesempatan emas. Menangani kasus Whashington bisa melambungkan namamu di dunia hukum internasional. Tapi juga berisiko tinggi. Mereka dikenal sangat ketat, sangat berkuasa, dan sangat tertutup. Banyak hal yang tidak tertulis di atas kertas saat berurusan dengan keluarga Whashington.”

Javier mendekat sedikit, nadanya menjadi lebih pelan dan serius.

“Dan ada rumor, Val… rumor yang beredar di kalangan bisnis. Konon Mario Whashington itu pria yang misterius. Sangat jarang muncul di publik, hampir tidak pernah memberikan wawancara, dan sangat sulit ditembus lingkaran dalamnya. Ada yang bilang dia dingin, kejam, dan menghitung. Ada juga yang bilang dia sedang menyembunyikan sesuatu yang besar. Tapi satu hal yang pasti: apa pun yang diinginkannya, dia akan dapatkan. Tidak ada yang berani menolak permintaannya.”

Valerie menelan ludah dengan susah payah. Apa pun yang diinginkannya, dia akan dapatkan. Kalimat itu berputar di kepalanya, mengingatkannya pada ucapan Mario malam itu: “Ini bukan perpisahan, Valerie Smith. Aku yakin kita akan bertemu lagi.”

Apakah ini pertemuan yang dia maksud?

“Kapan pertemuan pertama dijadwalkan?” tanya Valerie, berusaha menstabilkan suaranya.

“Besok pagi. Di gedung pusat Whashington. Jam sepuluh tepat. Kamu akan bertemu langsung dengan Mario Whashington.”

Valerie merasa kakinya lemas seketika, meski ia masih duduk di kursi. Besok. Ia akan bertemu dengan orang terkaya di Meksiko. Ia akan bertemu dengan pria bernama sama dengan pria yang menghantuinya siang dan malam. Dan entah mengapa, nalurinya berteriak semakin keras, melewati segala logika dan penyangkalan: Itu dia. Itu dia orang yang sama.

 

Siang berikutnya, Valerie berdiri di depan gedung pencakar langit tertinggi di Kota Meksiko. Gedung Whashington. Struktur kaca dan baja yang menjulang tinggi hingga menembus awan, simbol kekuasaan, kekayaan, dan ketangguhan. Langkah kakinya terasa berat saat ia melangkah masuk ke lobi yang mewah, di mana setiap inci ruangannya berkilauan dengan marmer, emas, dan seni bernilai tinggi. Pemandangan ini sangat berbeda jauh dengan suasana remang dan samar di Club Vela Nera, namun ada sesuatu yang sama: aura eksklusivitas, tempat di mana hanya orang-orang terpilih yang boleh masuk.

Ia diantar oleh resepsionis yang sopan namun dingin menuju lift pribadi yang membawanya langsung ke lantai paling atas—lantai eksekutif. Sepanjang perjalanan naik, Valerie berusaha menata perasaannya. Ia harus profesional. Ia harus menjadi pengacara terbaik, tajam, dingin, dan tidak terbawa perasaan, tidak peduli siapa yang akan ia temui di sana. Ia harus memisahkan Valerie sang wanita dengan Valerie sang pengacara.

Pintu lift terbuka, dan ia disambut oleh seorang wanita cantik, berpenampilan rapi, dingin, dan berwibawa—Camila Reyes.

“Nona Smith, selamat pagi. Saya Camila Reyes, sekretaris pribadi Tuan Whashington. Tuan sedang menunggu Anda. Silakan ikuti saya.”

Camila berjalan di depan dengan langkah tegap, menuntun Valerie melewati lorong panjang yang dipenuhi lukisan-lukisan mahal, menuju pintu besar berukir emas di ujung koridor. Camila membuka pintu itu, mempersilakan Valerie masuk, lalu menutupnya kembali dengan pelan namun tegas di belakang punggungnya.

Ruangan itu sangat luas, hampir sebesar lapangan bola kecil, dengan langit-langit tinggi dan dinding kaca yang memberikan pemandangan seluruh kota di bawahnya. Di tengah ruangan, di balik meja kerja raksasa yang terlihat sangat berat dan kuno, duduk sesosok tubuh yang membuat napas Valerie tertahan sepenuhnya.

Pria itu bangkit berdiri perlahan saat Valerie masuk. Tinggi, tegap, bahu lebar, mengenakan jas hitam sempurna yang dibuat khusus, kemeja putih bersih, dan dasi sutra berwarna gelap yang menyatu dengan gaya elegan dan berwibawa. Rambut hitamnya disisir rapi namun tetap terlihat sedikit berantakan di ujungnya, rahangnya tegas, dan saat ia mengangkat wajahnya untuk menatap Valerie…

Valerie merasa dunianya berhenti berputar.

Mata itu. Mata cokelat gelap yang sama. Tatapan tajam yang sama. Senyum samar yang sama—senyum yang menyimpan seribu rahasia, senyum yang mampu meluluhlantakkan pertahanan dirinya dalam sekejap mata.

Mario Whashington.

Pria yang berdiri di sana, menguasai ruangan itu dengan kehadirannya yang begitu kuat hingga udara terasa lebih berat, adalah pria yang sama dengan yang ia temui di klub malam. Pria yang ia kira gigolo miskin. Pria yang ia kira tidak punya apa-apa selain ketampanan dan pesona.

“Selamat pagi, Nona Smith,” ujarnya. Suaranya terdengar lebih berat, lebih dalam, lebih berwibawa dibandingkan saat menyamar dulu, namun nada itu tetaplah nada yang sama. Nada yang pernah berbisik manis di telinganya malam itu.

Mario berjalan mengelilingi mejanya, mendekat perlahan dengan langkah yang tenang dan percaya diri—langkah seorang raja yang sedang berjalan di kerajaannya. Ia berhenti tepat di depan Valerie, cukup dekat untuk membuat jantung wanita itu berpacu tak beraturan, namun cukup jauh untuk menjaga batas formalitas.

“Senang akhirnya kita bertemu secara resmi,” lanjut Mario, menatap mata Valerie dalam-dalam, seolah ingin membaca setiap pemikiran yang sedang bergejolak di dalam kepala wanita itu. “Aku yakin kamu terkejut melihatku. Mungkin bahkan lebih terkejut daripada yang kamu bayangkan.”

Valerie ingin bicara. Ia ingin berteriak, bertanya, menuntut penjelasan. Lidahnya terasa kaku dan berat. Ia menatap wajah tampan itu, wajah yang sama persis, namun aura di sekelilingnya kini berubah total. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi kesan pria rendahan. Yang ada hanyalah kekuasaan mutlak, kemewahan yang tak terbayangkan, dan kehadiran yang mempesona sekaligus mengintimidasi.

“Tuan… Tuan Whashington…” Valerie akhirnya bisa berbicara, meski suaranya terdengar bergetar sedikit, tidak seperti biasanya. “Anda… Anda adalah orang dari klub itu…?”

Mario tersenyum lebar kali ini, senyum yang menampakkan deretan gigi putihnya, senyum yang sama yang membuat lututnya lemas dulu, namun kini terasa jauh lebih berbahaya dan menawan.

“Benar, Valerie. Aku adalah Mario yang kamu kenal malam itu. Tapi aku juga Mario Whashington. Pemilik perusahaan ini, dan banyak hal lainnya di kota ini, dan di negara ini.”

Mario mengangkat tangannya perlahan, seolah ingin menyentuh wajah Valerie namun menahan diri, lalu ia memasukkan tangan itu ke dalam saku celana jasnya yang mahal.

“Kamu bertanya-tanya mengapa, bukan? Mengapa seseorang yang memiliki segalanya memilih hidup sebagai orang yang tidak punya apa-apa? Mengapa orang terkaya di Meksiko menyamar menjadi pendamping bayaran di klub malam?”

Mario melangkah mundur sedikit, berjalan santai menuju jendela kaca besar, menatap pemandangan kota yang terbentang luas di bawah sana.

“Aku lelah, Valerie. Lelah dengan wanita yang mendekatiku hanya karena nama dan uangku. Lelah dicintai bukan karena siapa aku, tapi karena apa yang aku miliki. Aku ingin tahu apakah

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!