Di kantor, Arkananta Dewangga adalah CEO dingin yang bicara seformal buku pelajaran. Namun saat malam tiba, ia adalah "Nightshade", penulis novel dewasa populer dengan imajinasi paling liar.
Rahasia besar itu runtuh saat sekretarisnya, Saffiya "Sia" Adhisti, menemukan draf novelnya dan memberi kritik pedas: "Adegan ini kaku sekali, Pak. Kurang rasa!"
Terpojok karena writer's block, Arkan memaksa Sia menjadi "Konsultan Riset". Sia harus membantu Arkan memahami sensasi nyata demi kelanjutan bab novelnya. Dari diskusi di ruang rapat hingga eksperimen rasa di apartemen pribadi, batasan profesional mulai kabur.
Di hadapan publik, Arkan tetaplah CEO yang tak tersentuh. Namun di balik pintu tertutup, Sia menyadari bahwa bosnya jauh lebih panas dari semua karakter yang pernah ia tulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wie Arpie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjamuan Tak Terduga
Sore itu, Sia baru saja hendak mematikan komputernya ketika Gibran tiba-tiba melompat masuk ke ruangan Arkan tanpa mengetuk pintu. Sia, yang mejanya tepat di depan pintu Arkan, hanya bisa mengurut dada.
"Arkan! Sia! Jangan pulang dulu!" seru Gibran dengan suara menggelegar. "Gue baru saja dapet kabar kalau vendor dari Korea yang mau kerja sama buat proyek smart office kita tiba-tiba majuin jadwal makan malam jadi malam ini. Dan mereka minta asisten lo—Sia—juga ikut karena katanya Sia yang paling paham teknis dokumennya."
Sia dan Arkan saling berpandangan. Arkan yang sedang merapikan dasinya langsung memasang wajah datar andalannya. "Malam ini? Gibran, gue ada urusan..."
"Urusan apa sih? Alah, ntar aja urusin urusan Lo itu," potong Gibran sambil menarik jas Arkan dari sandaran kursi. "Ayo, ini proyek gede. Sia, kamu juga, ya? Jangan nolak, ini perintah negara!"
Sia hanya bisa mengangguk pasrah. "Baik, Pak Gibran."
Restoran yang dipilih Gibran adalah restoran BBQ Korea yang sangat ramai. Begitu sampai, mereka disambut oleh Mr. Kim dan timnya. Suasana sangat formal di awal, tapi begitu daging mulai dipanggang dan gelas-gelas mulai terisi, suasana mencair—terlalu cair bagi Arkan.
Masalahnya satu: Mr. Kim membawa asistennya, seorang pria muda bernama Jae-hyun yang rupanya sangat ramah. Jae-hyun terus-menerus memberikan potongan daging terbaik ke piring Sia.
"Wah, Sia-ssi, kamu sangat teliti dengan dokumen kemarin. Terima kasih ya," ujar Jae-hyun dalam bahasa Inggris yang fasih, sambil meletakkan selembar daun selada berisi daging di piring Sia.
Arkan, yang duduk di seberang mereka, mendadak kehilangan selera makan. Ia memegang sumpitnya dengan erat, seolah-olah sumpit itu adalah senjata.
"Mr. Kim," Arkan memotong pembicaraan dengan suara berat. "Mengenai pasal efisiensi energi di draf kemarin, saya rasa kita perlu bahas lebih detail."
"Ah, Mr. Dewangga, ini waktu makan. Santai sedikitlah," sahut Mr. Kim sambil tertawa. "Lihat Jae-hyun dan Sia, mereka terlihat sangat cocok membicarakan proyek ini."
Arkan mengerutkan kening. Cocok dari mananya? batinnya kesal. Ia melirik Sia yang tampak kikuk tapi tetap berusaha sopan melayani obrolan Jae-hyun.
Diam-diam, Arkan merogoh ponsel di saku jasnya.
Arkan: Jangan dimakan dagingnya.
Sia: Hah? Kenapa? Enak lho, Kan. Masa aku tolak, nggak sopan.
Arkan: Terlalu banyak lemak. Nggak baik buat kesehatan kamu.
Sia: Alesan. Bilang aja kamu cemburu liat Jae-hyun baik banget sama aku.
Arkan mendengus pelan. Ia meletakkan ponselnya, lalu menatap Jae-hyun dengan tatapan yang bisa membekukan es di kutub utara. Ia harus melakukan sesuatu.
Tiba-tiba, Arkan menjatuhkan sumpitnya ke lantai secara sengaja. Trak!
"Ah, maaf," ujar Arkan datar. Ia menunduk untuk mengambil sumpitnya. Namun, di bawah meja yang tertutup taplak panjang itu, Arkan justru mencari kaki Sia. Begitu menemukannya, ia menautkan jari kakinya ke pergelangan kaki Sia, lalu menariknya pelan ke arahnya.
Sia tersentak kaget sampai bahunya terangkat. "O-oh!"
"Ada apa, Sia-ssi?" tanya Jae-hyun khawatir.
"Eh... tidak, ada... ada semut! Iya, semutnya besar sekali," dusta Sia sambil melotot ke arah Arkan yang baru saja muncul kembali dari balik meja dengan sumpit baru (yang entah ia dapat dari mana).
Arkan kembali duduk dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, kakinya tetap mengunci kaki Sia di bawah sana. Sia mencoba melepaskan diri, tapi Arkan justru semakin erat menjepit kaki Sia dengan kakinya sendiri.
Sia mengirim pesan lagi dengan tangan satu di bawah meja.
Sia: LEPASIN! Ini di depan Mr. Kim, Arkan! Kalau aku keceplosan teriak gimana?
Arkan: Bilang saja itu ekspresi kepuasan karena dagingnya enak.
Sia ingin sekali menyiramkan jus jagungnya ke wajah tampan Arkan saat itu juga. Tapi ia harus tetap profesional. Ia mencoba membalas dendam dengan menginjak punggung kaki Arkan.
Brak!
Arkan tersedak air yang sedang diminumnya. Gibran menoleh. "Lo kenapa, Kan? Minum pelan-pelan, kayak dikejar deadline aja lo."
"Nggak apa-apa. Airnya terlalu dingin," jawab Arkan sambil menahan sakit di punggung kakinya.
Setelah dua jam penuh drama di bawah meja, akhirnya makan malam berakhir. Gibran sudah agak sempoyongan karena terlalu banyak minum bersama Mr. Kim.
"Arkan! Gue balik bareng tim Mr. Kim ya, masih mau lanjut ngobrol di bar," ujar Gibran sambil merangkul Mr. Kim. "Lo anterin Sia balik ya. Jangan sampai telat besok masuk kantor!"
Arkan mencoba menyembunyikan rasa senangnya. "Oke. Hati-hati."
Begitu mereka sampai di dalam mobil Arkan dan pintu tertutup, suasana yang tadinya penuh kepura-puraan langsung luruh. Sia melepaskan sepatunya dan mengeluh.
"Kaki aku pegel tahu! Kamu ngapain sih tadi? Jae-hyun itu cuma baik, bukan mau ngajak aku nikah!" protes Sia.
Arkan menghidupkan mesin mobil, lalu bersandar di kursi sambil menatap Sia. "Dia memberimu ssam (bungkusan daging). Di Korea, itu artinya dia suka sama kamu. Aku nggak bisa diam saja melihat pacarku 'ditembak' di depan mataku sendiri."
Sia tertawa geli. "Ya ampun, Arkananta Dewangga! Kamu riset novel sampai ke budaya Korea cuma buat cemburu? Kamu tahu nggak muka kamu tadi tuh lucu banget. Kaku tapi matanya melotot."
"Aku enggak melotot," bela Arkan. "Aku cuma memberikan pengawasan intensif."
Arkan kemudian meraih tangan Sia, menariknya pelan hingga posisi Sia sedikit condong ke arahnya. "Tapi serius, Sia... tadi aku benar-benar nggak fokus. Pikiranku cuma satu: pengen cepet-cepet bawa kamu pergi dari sana."
Sia terdiam, menatap mata Arkan yang kini meredup lembut. Aroma parfum Arkan yang bercampur wangi BBQ Korea entah bagaimana terasa sangat maskulin.
"Kan, kita kayak di drama Korea ya? Sembunyi-sembunyi di kantor, berantem di bawah meja makan..." bisik Sia.
Arkan tersenyum tipis, lalu mengecup ujung hidung Sia. "Bedanya, di drama Korea biasanya ada adegan ciuman di bawah lampu jalan setelah makan malam."
"Oh ya? Masa?" goda Sia.
Tanpa banyak bicara, Arkan mendekatkan wajahnya. Di bawah lampu jalanan Seoul—eh, maksudnya Jakarta—yang berpijar kekuningan, Arkan mencium Sia dengan lembut. Ciuman yang menghapus semua rasa kesal karena Jae-hyun dan semua kepura-puraan di kantor tadi.
"Ini riset buat Bab 28?" tanya Sia napasnya memburu sedikit setelah mereka melepaskan tautan.
Arkan menggeleng, menyalakan lampu interior mobil, lalu mengusap bibir Sia dengan jempolnya. "Bukan. Ini murni buat aku. Naskah Nightshade nggak butuh tahu soal yang satu ini. Ini rahasia kita."
Sia tersenyum lebar, menyandarkan kepalanya di bahu Arkan saat mobil mulai melaju membelah malam. Ia menyadari satu hal; meskipun penuh dengan keribetan dan drama "backstreet", hidup bersama Arkan selalu jauh lebih menarik daripada alur novel mana pun yang pernah ia baca. Karena di sini, plotnya tidak bisa ditebak, dan akhir bahagianya ia rasakan setiap hari.
"Besok mau riset apa lagi, Pak CEO?"
"Besok?" Arkan meliriknya jahil. "Besok aku mau nulis adegan di mana asistennya diculik bosnya ke Bogor lagi karena terlalu cantik saat pakai kemeja kerja."
"Arkan! Fokus nyetir!" tawa Sia pecah, mengisi ruang mobil yang hangat itu dengan kebahagiaan yang tulus.