Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.
Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Pagi itu datang dengan cara yang berbeda, membawa suasana yang tidak biasa sejak langkah pertama Seraphina memasuki dapur. Para pelayan yang sudah terbiasa bekerja dalam ritme tetap langsung menyadari kehadirannya, beberapa dari mereka berhenti sejenak dengan ekspresi ragu sebelum akhirnya berdiri lebih tegak, menunggu instruksi yang biasanya tidak pernah datang darinya secara langsung.
Seraphina tidak menunjukkan keraguan sedikit pun saat berjalan melewati mereka, tatapannya tenang namun jelas. Ia tidak datang hanya untuk melihat atau memastikan sesuatu berjalan dengan baik seperti biasanya, melainkan untuk mengambil alih sesuatu yang sudah lama ia tinggalkan.
“Aku akan memasak hari ini.”
Kalimat itu keluar tanpa tekanan, tetapi cukup untuk membuat suasana berubah. Para pelayan saling bertukar pandang sebentar, lalu mengangguk tanpa pertanyaan, mundur perlahan dan memberi ruang yang ia butuhkan.
Seraphina berdiri di depan meja dapur, menatap bahan-bahan yang sudah disiapkan dengan rapi. Jemarinya menyentuh satu per satu, seolah mengingat kembali sesuatu yang pernah begitu akrab baginya, sesuatu yang tidak benar-benar hilang meski sudah lama ia abaikan.
Gerakannya mulai mengalir tanpa banyak pikir. Pisau di tangannya bergerak rapi saat memotong sayuran, iramanya teratur dan stabil, menciptakan suara pelan yang mengisi keheningan dapur. Tidak ada kecanggungan, hanya jeda sesaat di awal sebelum tubuhnya kembali menemukan pola yang pernah ia kenal dengan baik.
Aroma bahan yang mulai diolah perlahan menyebar, menciptakan suasana yang hangat. Di sela-sela itu, pikirannya tidak sepenuhnya diam, karena kenangan datang tanpa diminta dan menempati ruang yang tidak bisa ia hindari.
Ia melihat kembali dapur yang sama dalam versi yang berbeda, lebih hidup, lebih penuh suara. Lysandra kecil duduk di kursi tinggi, mengayunkan kaki sambil menatap penuh harap, sesekali mendesak dengan suara manja yang dulu terasa begitu menyenangkan.
“Ibu, cepat.”
Suara itu masih terdengar jelas di benaknya, membawa bayangan yang terasa terlalu dekat. Kael berdiri di dekat pintu, tidak banyak bicara seperti sekarang, tetapi tetap menunggu dengan cara yang berbeda, seolah kehadirannya di sana sudah cukup untuk menunjukkan bahwa ia peduli.
Darius berada tidak jauh dari situ, bersandar dengan santai sambil memperhatikan, senyum tipis di wajahnya yang dulu selalu ia tafsirkan sebagai bentuk kehangatan yang tulus. Semua itu terasa utuh dalam ingatan, tanpa celah, tanpa keraguan.
Gerakan tangan Seraphina berhenti sejenak di atas meja, pisau yang ia pegang tidak lagi bergerak. Ia menatap ke depan tanpa fokus, membiarkan bayangan itu lewat tanpa mencoba menahannya.
Beberapa detik berlalu sebelum ia kembali menarik napas dan melanjutkan pekerjaannya. Ia tidak ingin tenggelam terlalu dalam, karena hari ini bukan tentang masa lalu, melainkan tentang satu kesempatan kecil yang ia berikan pada dirinya sendiri.
Masakan mulai tersusun satu per satu, dan ia memilih dengan hati-hati apa yang akan ia sajikan. Bukan sekadar hidangan, tetapi sesuatu yang pernah memiliki arti, sesuatu yang dulu selalu diminta dengan antusias.
Ia menata semuanya sendiri di meja makan, memastikan setiap detail terlihat rapi dan sesuai. Tidak ada yang terlewat, tidak ada yang dilakukan dengan setengah hati.
Ketika semuanya selesai, ia berdiri sejenak di depan meja itu, menatap hasilnya dengan diam. Ada jeda yang cukup panjang sebelum akhirnya ia memanggil mereka, suaranya tetap tenang seperti biasa.
Darius datang lebih dulu, langkahnya ringan seperti pagi-pagi sebelumnya. Ia berhenti saat melihat meja, alisnya terangkat sedikit, menunjukkan ketertarikan yang tidak terlalu dalam.
“Ini kamu yang membuatnya?”
Seraphina mengangguk pelan, tidak menambahkan apa pun.
“Sudah lama aku tidak memasak.”
Darius tersenyum kecil, nada suaranya santai seolah ini hanya perubahan kecil dalam rutinitas.
“Sepertinya aku beruntung hari ini.”
Lysandra datang setelahnya, berjalan dengan langkah ringan sebelum akhirnya berhenti saat melihat meja. Ia memperhatikan sekilas, lalu memberikan respons yang terasa sekadar formalitas.
“Wah, ini terlihat berbeda.”
Tidak ada antusiasme yang lebih dari itu, tidak ada rasa ingin tahu yang mendalam. Seraphina menangkap semuanya tanpa menunjukkan apa pun di wajahnya.
Kael datang terakhir, seperti biasanya tanpa banyak suara. Ia duduk tanpa komentar, hanya melirik sebentar sebelum mulai makan dengan gerakan yang efisien.
Mereka mulai makan dalam suasana yang tidak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Seraphina duduk di tempatnya, memperhatikan setiap reaksi dengan tenang, menunggu sesuatu yang mungkin tidak akan datang.
Darius mencicipi salah satu hidangan, lalu mengangguk kecil.
“Rasanya masih sama.”
Kalimat itu terdengar seperti pujian, tetapi tidak membawa kehangatan yang ia kenal dulu. Lysandra mencoba sedikit, lalu kembali menunduk pada ponselnya.
“Enak.”
Satu kata yang langsung hilang tanpa tindak lanjut. Kael tidak mengatakan apa pun, hanya makan dengan ritme yang cepat seolah waktu lebih penting daripada apa yang ada di hadapannya.
Seraphina mencoba membuka percakapan, menjaga nada suaranya tetap lembut.
“Aku ingat ini makanan favoritmu.”
Lysandra mengangkat kepala sebentar, ekspresinya datar.
“Oh… iya, dulu.”
Kata itu jatuh ringan, tanpa beban. Seraphina menangkapnya dengan jelas, tetapi tidak langsung bereaksi.
“Sekarang?”
Lysandra mengangkat bahu kecil, seolah itu bukan sesuatu yang perlu dipikirkan.
“Aku sudah jarang makan seperti ini. Terlalu berat.”
Jawaban itu sederhana, tetapi cukup untuk menjelaskan banyak hal. Seraphina mengangguk pelan, lalu mengalihkan perhatiannya pada Kael.
“Kamu masih suka yang ini?”
Kael melirik sekilas sebelum menjawab.
“Biasa saja.”
Tidak ada perubahan dalam nada suaranya, tidak ada upaya untuk membuatnya terdengar lebih baik. Seraphina menunduk sedikit, mencoba menahan sesuatu yang mulai muncul.
“Dulu kalian sering memintaku memasak ini.”
Kalimat itu keluar lebih pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. Namun respon yang datang tidak seperti yang ia bayangkan.
“Ibu, sebenarnya tidak perlu melakukan semua ini.”
Seraphina mengangkat pandangannya, bertemu dengan mata Lysandra yang terlihat tenang.
“Maksudku, kita sudah punya pelayan. Tidak perlu repot.”
Nada itu tidak kasar, tetapi juga tidak memiliki kehangatan. Kael menambahkan tanpa melihatnya.
“Ini mengganggu jadwal.”
Seraphina mengulang kata itu dalam hati, mencoba memahami cara mereka melihat situasi ini.
“Mengganggu?”
Kael mengangguk sedikit, penjelasannya langsung dan tanpa emosi.
“Kalau makan lebih lama, aku harus menyesuaikan pekerjaan.”
Penjelasan itu masuk akal dalam cara berpikirnya, tetapi tidak menyisakan ruang untuk hal lain. Darius tetap diam, tidak mencoba menengahi, tidak juga menunjukkan keberpihakan.
Meja makan kembali sunyi, tetapi kali ini sunyi itu terasa lebih jelas bentuknya. Seraphina menatap makanan di depannya, menyadari bahwa makna yang ia berikan tidak pernah benar-benar sama bagi mereka.
Ia menarik napas pelan, membiarkan udara masuk dan keluar dengan ritme yang stabil. Senyumnya masih ada, tetapi tidak lagi membawa harapan yang sama.
Ia mengangkat wajahnya dan menatap mereka satu per satu, melihat dengan cara yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Tidak ada lagi penyangkalan, tidak ada lagi usaha untuk menafsirkan sesuatu menjadi lebih baik.
Kesadaran itu datang tanpa paksaan, terbentuk perlahan dari semua yang ia lihat dan dengar.
Selama ini, ia adalah satu-satunya yang bertahan dalam perasaan itu. Ia yang memberi arti, ia yang menjaga, dan ia yang terus mencoba.
Sementara mereka tidak pernah benar-benar berada di tempat yang sama.
Seraphina menurunkan pandangannya kembali, tangannya tetap tenang di atas meja. Ekspresinya tidak berubah, tetapi sesuatu di dalam dirinya telah bergeser sepenuhnya.
Ia tidak merasakan kehancuran, tidak juga kemarahan yang meledak. Yang ada hanyalah kepastian yang dingin dan jelas.
Dan kali ini, ia tidak akan kembali seperti sebelumnya.