NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Selenium Alchemy

Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.

​Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.

​Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24

Pagi hari di apartemen berganti dengan ritme baru yang lebih teratur. Seperti yang telah dijanjikan Charles, sudut ruang tengah kini telah disulap menjadi ruang belajar darurat yang nyaman untukku. Sebuah meja kayu ek dengan lampu baca minimalis, tumpukan buku referensi sastra, dan laptop baru telah tertata rapi. Hari ini adalah hari ketiga aku menjalani metode belajar mandiri bersama guru privat yang dikirim oleh yayasan keluarga Utama.

Bu Sarah, kepala yayasan, secara mengejutkan memilih sendiri pengajar yang akan mendampingiku untuk mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia—bidang yang paling kuminati. Beliau bilang, pengajar ini adalah salah satu lulusan terbaik dari universitas negeri yang aktif dalam komunitas literasi pemuda.

Pukul sepuluh pagi, bel pintu apartemen berbunyi. Charles sudah berangkat ke kantor sejak subuh karena ada rapat pemulihan pasca-skandal Vivian, jadi hanya ada aku dan Pak Gunawan yang berjaga di depan pintu unit.

"Ibu Andini, pengajar privat Anda sudah tiba," ujar Pak Gunawan dengan nada sopan setelah membuka pintu besi ganda di depan.

"Silakan masuk, Pak, Bu," jawabku santun sambil berbalik dari meja belajar, bersiap menyambut guru baruku dengan senyuman terbaik.

Namun, senyuman itu membeku di bibirku. Udara di sekitarku seolah mendadak kehilangan oksigen ketika sosok pria jangkung dengan kemeja flanel rapi dan kacamata berbingkai tipis itu melangkah masuk. Ia membawa sebuah tas ransel kulit kanvas yang sangat kukenal—tas yang dulu sering dihiasi oleh gantungan kunci berbentuk pena bulu.

"Andini?" suara itu rendah, lembut, dan membawa gema dari masa-masa di mana hidupku hanya seputar lorong-lorong perpustakaan daerah dan aroma es lilin di pinggir lapangan.

"Kak... Kak Reyhan?" bisikku, nyaris tak mempercayai penglihatanku sendiri.

Reyhan Dewangga. Cinta pertama yang tumbuh secara diam-diam di sudut hatiku saat aku baru menginjak bangku sekolah menengah pertama. Dia adalah kakak kelas sekaligus ketua komunitas mading yang dulu mengajariku bagaimana cara merangkai bait puisi pertama. Pria yang selalu meminjamkan buku-buku rombengnya padaku, yang selalu mendengarkan keluh kesahku tentang atap rumah yang bocor dengan mata yang penuh perhatian. Dua tahun lalu, dia pergi ke luar kota untuk melanjutkan kuliah sastranya, dan sejak saat itu, kami kehilangan kontak seiring dengan memburuknya kesehatan Bapak Sudarman.

Reyhan menatapku dengan perpaduan antara rasa tidak percaya, kerinduan, dan luka yang teramat dalam. Matanya menyapu penampilanku—gaun rumah katun yang halus, apartemen mewah dengan pemandangan cakrawala Jakarta, dan kemewahan yang tidak pernah selaras dengan Andini yang dulu ia kenal.

"Jadi... berita di media itu benar?" suara Reyhan terdengar getir. Ia meletakkan buku-buku referensinya di atas meja dengan tangan yang sedikit gemetar. "Saat Bu Sarah memintaku mengajar seorang siswi berbakat yang membutuhkan privasi khusus, aku tidak pernah menyangka bahwa orang itu adalah kau, Din. Gadis kecil yang dulu berjanji padaku akan kuliah di jurusan sastra yang sama."

Rasa bersalah yang asing tiba-tiba menyergap dadaku. Aku melirik ke arah Pak Gunawan yang berdiri di sudut ruangan dengan wajah tanpa ekspresi, namun aku tahu, setiap detail kejadian di ruangan ini pasti akan sampai ke telinga Charles.

"Kak Reyhan, duduklah dulu," ucapku, mencoba mencairkan atmosfer yang mendadak terasa mencekam. "Banyak hal yang terjadi... hal-hal darurat yang tidak bisa kujelaskan lewat kata-kata."

Reyhan duduk di kursi kayu di hadapanku. Jarak di antara kami kini sedekat dua tahun lalu, namun ada jurang tak kasat mata yang amat lebar memisahkan kami. "Aku membaca semua berita itu, Andini. Tentang pernikahan rahasia, tentang CEO Utama Group. Aku tahu keluargamu mengalami masa sulit setelah Bapak Sudarman tiada, tapi... apakah ini caramu bertahan? Menikah dengan pria yang usianya jauh di atasmu? Apakah dia memaksamu?"

"Tidak, Kak! Charles tidak pernah memaksaku," potongku cepat, ada nada defensif yang otomatis keluar dari mulutku saat nama Charles disebut dengan nada meremehkan. "Pernikahan ini adalah bagian dari amanah dan perlindungan. Charles adalah orang yang baik."

Reyhan tersenyum masam, mata di balik kacamatanya menatapku dengan tatapan yang dulu selalu membuatku luluh, namun kini hanya memberikan rasa sesak. "Orang baik tidak akan membawa anak perempuan berumur tujuh belas tahun ke dalam pusaran skandal bisnisnya, Andini. Kau berganti dunia secepat ini. Di mana Andini yang dulu bangga dengan kesederhanaannya? Yang bilang padaku bahwa kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan rumah megah?"

Kata-kata Reyhan menghantamku tepat di ulu hati. Logikanya adalah logika dunia lamaku—dunia tempat aku dan dia dulu bermimpi di bawah pohon mahoni. Dia tidak salah, karena dia tidak tahu tentang air mata yang kutumpahkan di dada Charles semalam, tidak tahu tentang bagaimana Charles merubuhkan seluruh keangkuhannya hanya untuk menjadikanku poros dari dunianya.

"Dunia tidak sesederhana puisi-puisi kita dulu, Kak," lirihku, menunduk menatap jemariku sendiri. "Saat atap rumahku benar-benar runtuh, dan saat semua orang memalingkan muka, Charles yang ada di sana. Dia menaruh ember untuk menampung hujanku."

Reyhan terdiam, tangannya mengepal di atas meja. Sebelum ia sempat membalas, pintu lift pribadi di lorong apartemen berdenting terbuka. Langkah kaki yang berat, konstan, dan penuh wibawa terdengar mendekat.

Charles Utama masuk ke dalam ruangan.

Ia masih mengenakan setelan jas tiga potongnya yang sempurna. Auranya yang dominan seketika mengintimidasi ruang tamu yang luas itu. Matanya yang tajam langsung mengunci sosok Reyhan yang duduk terlalu dekat denganku. Kedatangan Charles yang tiba-tiba—di jam yang seharusnya ia berada di kantor—membuat atmosfer ruangan mendadak drop hingga ke titik beku.

Charles berjalan mendekat, tidak terburu-buru, namun setiap langkahnya memancarkan kepemilikan yang mutlak. Ia berdiri di samping kursiku, meletakkan satu tangannya di sandaran kursiku, seolah membuat batasan tegas yang tidak boleh dilewati oleh siapa pun.

"Selamat siang," suara Charles terdengar seperti es yang digores belati—rendah, dingin, dan penuh penekanan. Matanya menatap Reyhan dengan pandangan menilai yang menuntut penjelasan.

Reyhan berdiri, mencoba menyamai tinggi badan Charles, meskipun ia kalah dalam hal ketegasan aura. "Selamat siang, Pak Charles. Saya Reyhan, pengajar privat Bahasa Indonesia yang dikirim oleh Yayasan Utama."

Charles tidak mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Ia hanya mengangguk kecil, sangat formal dan tak tersentuh. "Saya tahu siapa Anda, Tuan Reyhan. Bu Sarah sudah mengirimkan profil Anda semalam. Namun, saya tidak tahu bahwa metode mengajar Anda melibatkan interogasi pribadi terhadap istri saya."

Ketegangan di antara kedua pria itu begitu pekat hingga aku bisa mendengar detak jam dinding kembali berdenting keras. Reyhan menatap Charles dengan keberanian masa muda yang menantang, sementara Charles menatap Reyhan dengan ketenangan seorang penguasa yang tahu bahwa ia memegang kendali penuh atas situasi ini.

Aku memandang keduanya dengan jantung yang bertalu-talu. Di satu sisi ada Reyhan, perwakilan dari masa laluku yang penuh kenangan manis dan kesederhanaan. Di sisi lain ada Charles, jangkar masa kiniku, pria yang telah menjadi pelindung sekaligus tempatku bersandar di tengah badai. Kehadiran Reyhan membawa kembali gema masa lalu yang gundah, namun tatapan posesif dan protektif dari Charles malam ini menegaskan satu hal: duniaku tidak akan pernah bisa kembali seperti dulu lagi.

1
Eni Wati
sll menunggu
R.A Naimah
nggak faham alur ya selalu berputar
Eni Wati
Lanjut
Eni Wati
sll menuggu
Eni Wati
Lanjut
Wawan
Semangat... ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!