Bailla adalah gadis muda berusia 20 tahun seorang putri tunggal yang memiliki karakter yang manja dan terbiasa hidup dengan kemewahan ia terpaksa menjadi ibu tiri muda dan menikah dengan duda beranak 3 yang terpaut usia 20 tahun. Pernikahan itu terpaksa terjadi idikarenakan perusahan orang tuanya diambang kebangkrutan akibat tertipu investasi bodong. Bagaimana Bailla menghadapi kehidupan sebagai istri dan ibu muda untuk anak-anak yang usia hampir sama dengannya ?? banyak hal lucu dan sedih yang terjadi degan Bailla si ibu tiri muda ini. ,🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hak Seorang Bapak (Telpon Yang Bikin Salah Paham) ***
Pukul 09.30 malam.
Rumah udah sepi. Lampu ruang tamu dimatiin. Cuma lampu teras yang nyala kuning, redup, kayak lampu warung yang nunggu tutup.
Pak Arya duduk di kursi plastik teras. HP di tangan. Napasnya dia berat. Dia udah nunda nelpon Lastri dari sore. Tapi nggak bisa ditunda lagi.
“Anak-anak udah tidur. Bailla lagi sibuk sama skripsi. 2 hari lagi konsultasi terakhir sebelum sidang. Ngomong sekarang, biar nggak ganggu.”
Itu alasan dia. Alasan yang kedengerannya rasional. Padahal sebenarnya dia takut. Takut kalau ngomong pas Bailla ada,
dia nggak kuat. Takut kalau ngomong pas Arbil denger,
meledak.
Dia pencet nomor Lastri. Satu kali nada sambung. Dua kali.
“Assalamualaikum, Bang.” Suara Lastri datar. Kayak udah tau bakal ditelpon.
Pak Arya langsung masuk inti. Nggak ada basa-basi. “Las, Abang udah bilang! Stop campurin urusan rumah tangga Abang!”
Suara Lastri naik setengah oktaf. Ngebentak dari HP.
“ABANG EGOIS! Abang mau bikin anak sama perempuan itu kan?! Abang udah lupa sama amanah Kak Sarah?! Kak Sarah dulu bilang jangan buru-buru nikah lagi, apalagi punya anak lagi!”
Di dalam rumah, Arbil belum tidur. Dia turun pelan-pelan.
Mau ambil air putih di kulkas. Tenggorokannya kering. Tidur nggak nyenyak dari kemarin.
Pas lewat teras, pintu gesernya kebuka dikit. Dia denger suara Bapaknya. Keras. Nada yang jarang dia denger dari Bapaknya.
Arbil berhenti. Nggak gerak. Nggak ambil minum. Dia dengerin.
Pak Arya, suara udah emosi, ngepres. “Itu bukan urusan lu, Lastri! Aku mau punya anak itu hak aku! Hak aku sebagai suami! Bailla itu istri sah aku! Kalau Tuhan kasih rezeki, kenapa lu yang ngatur?!”
JLEB.
Kalimat itu masuk telak ke kuping Arbil. Kayak ditampar pakai penggaris besi.
“Hak Bapak...” Arbil bisik sendiri. “Jadi Bapak udah nggak peduli sama Mama? Mama baru 2 tahun meninggal, Bapak udah mikirin anak sama Kak Bailla?”
Suara Lastri masih teriak dari HP. “Anak..? Abang gak kasihan sama Arbil, Ara, Aya? Mereka masih butuh Mama mereka!Bukan adik baru!”
Pak Arya balas. Suara dia pecah. “Anak-anak gue butu keluarga utuh, Las! Dan Bailla kasih itu! Dia nggak pernah minta gue lupain Sarah! Lu yang maksa gue hidup di kuburan! Gak mungkin saya harus selalu hidup dibayangin dengan orang yang sudah meninggal..! Gue harus maju! Anak-anak harus maju!”
Arbil mundur selangkah. Napasnya sesak. Dadanya kayak ditiban lemari.
Dia nggak denger kalimat “Gue nggak pernah minta lupain Sarah”. Yang dia denger cuma: “Hak aku mau punya anak”
ditambah “Gak mungkin hidup dibayangin orang meninggal”.
“Ternyata Bapak udah fix move on. Bapak mau bikin keluarga baru. Bapak mau ngapus Mama dari hidup kita.” Itu kesimpulan Arbil. Kesimpulan yang dibikin dalam dua detik. Kesimpulan yang salah, tapi masuk akal buat anak 17 tahun yang masih luka.
Air mata Arbil netes. Tapi bukan sedih.Marah. Marah yang nggak tau mau disalurin kemana.
GEDUBRAK!
Arbil banting pintu kamarnya. Kenceng banget. Sampai foto di dinding miring.
Bailla yang lagi lewat bawa laptop kaget. Laptopnya hampir jatuh. “Bil...? Kamu kenapa? Kok banting pintu...”
Arbil balik badan. Matanya merah. Nggak ada air mata lagi. Cuma ada bara.
Dia nunjuk muka Bailla. “PUAS, KAK?!”
Bailla mundur. Laptopnya dipeluk. “Bil... kamu ngomong apa...”
“Jangan pura-pura bego! Tadi aku denger Bapak nelpon Tante Lastri! Bapak bilang mau punya anak sama Kakak! Katanya itu HAK BAPAK!” Suara Arbil pecah. “Jadi selama ini Kakak deketin aku, deketin Ara, Aya, cuma biar Bapak kasih Kakak anak kan?!
Biar posisi Mama kegeser kan?!”
Bailla kayak disamber petir. Dia nggak bisa napas.“Arbil... bukan gitu... Kak nggak pernah...”
Arbil ketawa pait. Ketawa yang bikin dada sakit. “GAK PERNAH APA? Nggak pernah mau saingan sama Mama? Terus kenapa Bapak bilang nggak mau hidup dibayangin orang meninggal?
Karena Kakak kan?! Karena Kakak mau Bapak lupain Mama!”
Teriakan Arbil bikin Pak Arya lari dari teras. HP masih nempel di telinga.Lastri masih teriak di seberang. Tapi dia matiin.
“ARBIL! Jaga mulut kamu! Kamu denger dari mana?!”
Arbil nunjuk Bapaknya. Jari gemetar. “Aku denger sendiri, Pah!
Pah bilang mau punya anak sama dia! Pah bilang nggak mau inget Mama lagi! Pah jahat! Pah udah lupa sama Mama! Pah lebih sayang dia daripada kita!”
Pak Arya beku. Dia baru sadar Arbil nguping sepotong. Sepotong yang paling nyakitin.
“Nak... bukan gitu maksud Bapak...”Suara Pak Arya pecah.
Dia nggak tau mau jelasin gimana. Karena 17 tahun itu bukan umur buat nerima penjelasan pelan-pelan.
“PERCUMA, PAH! Tante Lastri bener! Pah udah dibutain sama perempuan ini!” Dia ngeloyor masuk kamar, ngunci pintu.
“AKU BENCI KAK BAILLA! AKU BENCI PAPAH!”
BRAK!
Pintu dikunci dari dalam. Kenceng. Kayak ngunci hati.
Hening.
Cuma ada suara isakan Bailla sama napas Pak Arya yang ngos-ngosan. Kayak baru lari maraton.
Bailla lemes. Dia duduk di lantai. Punggung nempel pintu kamar Arbil. “Mas... aku... aku pantes dibenci dia...”
Pak Arya jongkok. Dia narik Bailla ke pelukannya. Nggak peduli Bailla nolak atau nggak. “Enggak, Dek. Ini salah Mas. Mas kelepasan ngomong. Mas nggak tau Arbil denger...”
Bailla nangis. Nangis nggak bersuara. Cuma bahu yang naik turun. “Ya ampun cobaan apa lagi ini...”
Dari ujung lorong, Mpok Mur muncul. Daster batik, rambut acak-acakan. Dia udah nguping dari tadi. Dari pas Pak Arya mulai nelpon.
“Semua gara-gara si nenek sihir itu,” Mpok Mur gumam. Geregetan sendiri sama Siluman Sulastri itu.
Pak Arya nggak jawab. Dia cuma diem. Nggak bisa ngomong apa-apa. Karena dia tau, Mpok Mur bener.
Mpok Mur jalan pelan ke Bailla. Dia angkat dagu Bailla. “Menangis aja dulu, Neng. Nangis nggak bikin lu lemah. Nangis bikin lu manusia.”
Bailla nggak nolak. Dia pindah pelukan. Dari pelukan Pak Arya,
ke pelukan Mpok Mur.
“Mpok aku salah apa Mpok.. Ternyata kehadiran ku membawa masalah bagi keluarga ini.” Rintis Bailla. Suara pecah.
Mpok Mur ngelus punggung Bailla. Pelan. “Gak Sayang... Kamu nggak salah. Yang salah wanita si luman itu..”
Mpok Mur udah kehabisan stok kata. Terlalu syok nyaksiin kemarahan Arbil. Dia nggak nyangka anak itu bisa nyembur gitu. Padahal kemarin masih minta ditraktir bakso.
“Apa yang harus Bailla lakuin sekarang Mpok..?” Tanya Bailla pelan. Nggak ada harapan di suaranya.
Mpok Mur diem sebentar. Dia mikir. Nggak bisa asal jawab. “ Kamu tenang aja dulu ya. Cari solusi yang terbaik dengan Pak Arya.” Dia ngasih kode ke Arya. Kode mata. Kode yang artinya,
“Lu yang tenengin istri lu sekarang. Gue yang jaga pintu.”
Pak Arya ngangguk. Dia lepas Bailla dari pelukan Mpok Mur.
Terus dia peluk lagi. Peluk yang hati-hati.Takut kalau kenceng,
Bailla patah.
“Dek...... Sayang tenang dulu ya....” Suara Pak Arya pelan. Nggak ada perintah. Cuma ada minta. “Ini semua salah Mas.
Omongan Mas yang nggak terkontrol sampai menimbulkan kesalahpahaman ini.”
Bailla geleng. Rambutnya nempel pipi. “Gak kok mas.. Ini semua salah saya. Saya yang masuk ke rumah yang pintunya belum sepenuhnya terbuka..”
Pak Arya genggam dagu Bailla. Maksa Bailla natap dia.
“Gak sayang... Kamu nggak salah. Kita bicarakan baik-baik ya..
Besok. Pas Arbil udah dingin.”
Bailla angguk pelan. Nggak percaya. Tapi nggak ada pilihan lain.
Malam itu, nggak ada yang tidur nyenyak.
Pak Arya duduk di kursi teras lagi. HP di pangkuan. Layar masih nyala. Nama Lastri masih di layar. Tapi dia nggak nelpon balik.
Dia nggak kuat.
Dia mikirin Arbil. Mikirin anaknya yang bilang benci. Kata “benci” itu kayak pisau. Nggak dalem, tapi ngiris pelan-pelan.
Dia juga mikirin Bailla. Cewek 21 tahun yang ninggalin kuliah,
ninggalin temen, demi jadi ibu dadakan. Dan sekarang dibenci anak tirinya.
Dia ngerasa gagal. Gagal jadi suami. Gagal jadi bapak.
Gagal jadi manusia.
Di kamar, Bailla tidur. Tapi tidurnya nggak tenang. Dia mimpi Arbil teriak “Aku benci Kakak!”. Dia kebangun jam 1 pagi.
Nangis lagi. Nangis tanpa suara biar nggak bangunin Pak Arya.
Arbil juga nggak tidur. Dia duduk di lantai kamar. Punggun nempel kasur. HP di tangan. Dia chat Tante Lastri.
“Tan, bener ya Bapak mau punya anak sama Kak Bailla?”
Lastri bales cepat. “Bener Bil. Tante denger sendiri. Bapak kamu udah lupa sama Mama.”
Arbil nggak bales lagi. Dia matiin HP. Dia nggak tau mana yang bener. Tapi dia tau satu hal: dia sakit hati.
Mpok Mur duduk di ruang tamu. Nggak tidur. Dia ngopi. Kopi hitam pahit. Dia mikirin Lastri. Dia pengen nyamperin rumah Lastri besok. Mau jambak mulutnya.
Tapi dia nahan. Karena kalau dia ikut emosi, yang rusak bukan cuma Lastri. Tapi Bailla juga.
Dia ngelirik kamar Bailla. Denger isakan pelan. Dia ngerti. Cewek itu butuh waktu.
Jam 2 pagi, hujan turun pelan. Nggak deras. Cuma rintik yang bikin dingin.
Pak Arya akhirnya masuk kamar. Dia nggak tidur di kasur.
Dia tidur di lantai. Bantal satu, selimut satu. Biar kalau Bailla kebangun, dia nggak kaget.
Dia ngelirik Bailla. Masih nangis dalam tidur. Dia ngelus rambut Bailla pelan. “Maafin Mas, Dek. Mas janji, Mas bakal beresin.ini.”
Bailla nggak jawab. Tapi tangannya nyari tangan Pak Arya.
Nemu. Genggam. Nggak lepas.
Di luar, hujan makin deras. Di dalam, tiga orang terluka. Tapi satu orang lagi milih buat nggak lepas.
Pagi belum datang. Tapi malam itu, mereka belajar satu hal:
kata yang nggak selesai, bisa ngancurin rumah.
Dan kata yang belum diucapin, bisa nyelamatinnya.
Pak Arya tau, besok dia harus ngomong sama Arbil. Ngomong panjang. Ngomong jujur. Ngomong tanpa Lastri di tengah.
Bailla tau, besok dia harus ngomong sama Arbil juga. Nggak buat minta dimaafin. Tapi buat bilang,
“Kak nggak mau gantiin Mama. Kak cuma mau temenin kamu.”
Mpok Mur tau, besok dia harus ngomong sama Lastri. Nggak pakai kekerasan. Tapi pakai logika. Dan kalau logika nggak mempan, pakai omelan.
Malam itu, mereka belum selesai. Tapi mereka belum nyerah.
Dan kadang, itu udah cukup.
...****************...