Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debu Parkiran dan Gengsi yang Runtuh
Setelah akhir pekan yang riuh di rumah Kirana—diisi dengan maraton film horor yang berakhir dengan jeritan Maya, sesi masker wajah yang berantakan, hingga curhat sampai subuh—hari Senin kembali menyapa dengan rutinitas kampus yang padat.
Bagi Kirana, Sabtu dan Minggu kemarin cukup untuk sedikit melupakan penatnya kuliah. Namun, di seberang taman kampus, di sebuah gedung dengan aroma oli dan besi yang menyengat, seseorang tidak merasakan hal yang sama.
Gedung Teknik Mesin Universitas Wikerta tidak pernah benar-benar tidur. Kesibukan di sana selalu berada di level maksimal karena tumpukan laporan praktikum atau "laprak" yang tidak ada habisnya.
Mahasiswa Teknik terkenal dengan tradisi "menginap" di kampus demi menyelesaikan proyek mesin atau sekadar mengejar tenggat waktu laporan yang tebalnya menyerupai bantal. Bima adalah salah satu penghuni tetap markas tersebut.
Sepanjang pagi hingga siang, Bima sebenarnya disibukkan dengan proyek mesin bubut dan asistensi laboratorium. Namun, fokusnya hancur berantakan.
Ia berkali-kali tertangkap basah oleh Adit sedang duduk di kursi plastik depan markas, melamun sambil memutar-mutar kunci motornya di telunjuk dengan gerakan mekanis yang repetitif. Matanya tidak tertuju pada skema mesin di depannya, melainkan menatap kosong ke arah deretan pohon mahoni yang membatasi wilayah Teknik dan Sastra.
Ada rasa rindu yang aneh, rasa ingin melihat mata sinis dan bibir yang mengerucut sebal itu lagi.
Bagi Bima, dua hari tanpa melihat Kirana mondar-mandir dengan wajah judesnya terasa seperti mesin yang kekurangan oli.
Bima sadar, jika ia terus bersikap sedingin es dan sekaku kunci inggris, Kirana pasti akan semakin menjauh dan memilih si "pangeran" mobil putih itu. Maka, hari ini Bima bertekad sedikit menurunkan ego besarnya. Ia ingin mencoba mendekat dengan cara yang lebih... manusiawi.
Sore itu, langit di atas gedung Sastra mulai berubah warna menjadi jingga yang pekat. Bima sudah berdiri di parkiran sejak sepuluh menit yang lalu, bersandar pada motor Cafe Racer hitamnya. Ia sengaja memarkirkan motornya tepat di jalur keluar yang pasti dilewati Kirana.
Kirana muncul dari lobi gedung bersama Maya dan Sari. Langkah mereka melambat saat melihat Bima. Maya langsung menyenggol lengan Kirana, "Ehem, ada yang nungguin kayaknya nih."
"Apaan sih, kebetulan aja itu mah," balas Kirana, meski jantungnya berdebar melihat Bima yang hari ini terlihat sangat maskulin dengan kemeja PDL Teknik yang lengannya digulung.
Namun, rencana kepulangan mereka bertiga tiba-tiba berantakan. Ponsel Sari berbunyi, dan wajahnya berubah panik setelah mengangkat telepon. "Aduh, Ra, May, nyokap gue nelpon, ada acara keluarga mendadak. Sopir gue udah nunggu di depan gerbang!"
"Nggak apa-apa, Sar. Keluarga lebih penting," jawab Kirana menenangkan.
"Terus lo gimana, Ra? Gue kan bareng Adit, masa lo sendirian? Mana udah mulai sepi gini," sahut Maya saat motor Adit mulai masuk ke parkiran.
"Gampanglah, gue tinggal pesen ojek online," kata Kirana sambil merogoh ponsel. Namun, nasib sial sedang menempel padanya. Aplikasi ojeknya terus menunjukkan status mencari driver. Setelah beberapa menit, satu driver ojol yang menyangkut justru membatalkan pesanan karena ban bocor.
"Yah, di-cancel!" keluh Kirana kesal. Baterai ponselnya pun kritis, menunjukkan angka 5%.
Bima yang sedari tadi memperhatikan akhirnya melangkah maju. Kali ini, tatapannya tidak sedingin biasanya. Ada binar yang lebih lembut saat ia menatap Kirana. "Belum pulang?" tanyanya. Kali ini suaranya tidak kaku, malah terdengar sedikit perhatian.
"Keliatannya gimana?" balas Kirana ketus, meski sebenarnya ia mulai cemas.
Maya langsung menyambar kesempatan. "Bim! Ojek Kirana batal, Sari dijemput darurat. Lu bisa anterin Kirana balik nggak?"
Kirana melotot. "Enggak, enggak! Gue bisa pesen lagi!"
"Ra, udah sore. Daripada lu kenapa-kenapa di sini," bisik Sari memanas-manasi.
Bima melirik jam tangannya, lalu menatap Kirana. "Udah sama gua aja. Gua nggak bakal aneh-aneh kok. Janji," ucapnya dengan nada rendah yang entah kenapa terdengar tulus.
Lima menit berlalu tanpa ojek yang datang.
Maya sudah berangkat bersama Adit, dan Sari sudah masuk ke mobilnya. Kirana akhirnya menyerah. Dengan wajah ditekuk, ia melangkah mendekati motor Bima. "Awas ya kalau lo bawa motornya ngaco," ancam Kirana sambil memakai helm cadangan milik Bima yang wangi.
"Pegangan ya, jalanan lagi rame," ucap Bima pelan. Kirana tertegun, biasanya Bima akan menjawab "Jangan nangis kalau jatuh," tapi kali ini kalimatnya jauh lebih sopan.
Motor hitam itu pun menderu keluar kampus. Di tengah perjalanan, Bima tidak langsung menuju rumah Kirana. Ia memutar ke arah kedai mie ayam favorit mahasiswa yang berada di gang tenang.
"Eh! Mau ke mana lo? Ini bukan jalan rumah gue!" seru Kirana sambil memukul bahu Bima.
"Makan mie ayam dulu ya? Gua laper banget habis praktikum seharian. Lu juga belum makan kan habis kelas tadi?" tanya Bima. Suaranya tidak lagi memerintah, tapi seperti mengajak.
"Gue mau pulang! Bima! Turunin gue!"
Bima tidak menggubris. Ia membawa Kirana ke sebuah kedai Mie Ayam di pinggir jalan yang cukup tenang. Setelah memarkirkan motor, ia turun dan menatap Kirana yang masih cemberut di atas motor. Tetapi pada akhirnya Kirana turun juga karena mendengar bunyi perutnya yang meminta makan.
Bima ketawa, "Tuh laper kan ngeyel sih".
Kirana terpaku melihat pandangan didepannya, tidak disangka-sangka Bima Pratama yang terkenal cuek dan dingin bisa ketawa juga pikirnya, manis lagi.
Mereka berhenti di sebuah kedai mie ayam sederhana. Setelah memesan dua porsi, mereka duduk berhadapan. Suasana yang biasanya penuh urat saraf, kali ini terasa lebih tenang.
"Kir, masih marah soal es jeruk hari Jumat?" tanya Bima sambil menuangkan sambal ke mangkuknya.
"Menurut lo? Lu tuh nyebelin, ngerusak mood orang," balas Kirana, tapi nada suaranya tidak setajam biasanya.
Bima meletakkan sendoknya sejenak, menatap Kirana lurus-lurus. "Gua minta maaf ya kalau cara ngomong gua salah. Gua emang nggak pinter basa-basi, tapi gua nggak ada niat jahat."
Kirana terpaku. Seorang Bima minta maaf? Ini adalah kejadian langka yang lebih langka daripada melihat mesin tanpa oli. Kirana melirik Bima yang tampak tulus. "Ya... asal jangan diulangin aja. Lu tuh kalau ngomong suka nggak disaring."
Bima tersenyum tipis—senyum yang benar-benar nyata, bukan seringai sinis. "Iya, gua usahain berubah. Biar lu nggak marah-marah terus tiap liat gua."
Kirana merasakan pipinya panas. Ia segera menunduk, menyibukkan diri dengan mie ayamnya. "Dih, pede banget. Emang siapa yang peduli lu berubah apa enggak." Namun, dalam hati, Kirana merasakan ada sesuatu yang hangat. Ternyata, Bima yang tidak cuek itu jauh lebih berbahaya bagi pertahanan hatinya.
Setelah menghabiskan mie ayam dengan obrolan yang tidak lagi berisi makian, Bima mengantar Kirana pulang. Motor Cafe Racer hitam itu berhenti tepat di depan pagar rumah Kirana.
Begitu motor berhenti, Bima melakukan sesuatu yang tidak disangka Kirana.
Ia sedikit memiringkan motornya dan dengan sigap menurunkan footstep belakang agar Kirana bisa turun dengan mudah. Tindakan kecil yang sangat manis itu sukses membuat jantung Kirana mencelos. Kirana turun dengan pelan, sempat tersenyum sekilas yang sangat tipis sebelum kembali memasang wajah "biasa saja".
Ternyata, Ibu Kirana sudah berdiri di teras, menatap mereka dengan senyum penuh arti.
"Lho, Kirana? Kok pulangnya malem banget, Nak? Sama cowok gagah lagi," goda ibunya saat mereka mendekat.
Kirana langsung gelagapan, wajahnya merah padam. "Eh, ini... anu, Ma, ojeknya tadi nggak ada yang mau jemput."
Bima melepaskan helmnya, lalu menghampiri Ibu Kirana. Kirana sudah bersiap kalau Bima akan bersikap kaku atau cuek, tapi dugaannya meleset total. Tanpa ragu, Bima menyalami tangan Ibu Kirana dengan sangat sopan.
"Malam, Tante. Maaf ya Tante kalau pulangnya agak telat," ucap Bima dengan nada bicara yang sangat rapi, membuat Kirana melongo di tempat.
"Tadi saya bawa anaknya dulu ke tempat makan, Tante. Buat makan dulu. Rasanya nggak enak kalau saya nganterin Kirana pulang dalam keadaan perutnya kosong habis kuliah seharian."
Kirana mengerjapkan mata berkali-kali. Ini beneran Bima si mekanik cuek itu? Sejak kapan dia bisa se-drama dan sesopan ini ke orang tua? Kirana merasa dunianya sedikit berputar melihat sisi Bima yang sangat "manusiawi" ini.
Ibu Kirana langsung tersenyum lebar, tampak sangat terkesan. "Oh, nggak apa-apa, Nak Bima. Justru Tante makasih ya sudah dijagain Kirana-nya. Jarang-jarang ada cowok yang perhatian banget sampai mikirin perut Kirana."
"Sama-sama, Tante. Kalau begitu, saya pamit dulu ya, Tante. Takut kemalaman di jalan," ucap Bima sopan. Ia melirik Kirana sekilas dengan tatapan yang jauh lebih lembut dari biasanya. "Duluan ya, Kir."
"Iya, hati-hati Nak Bima!" seru Ibu Kirana sambil melambai.
Bima pun memakai helmnya dan menjalankan motornya pergi, meninggalkan deru mesin yang perlahan menjauh. Kirana masih berdiri mematung di pagar sampai motor itu benar-benar hilang dari pandangan.
"Eh, Ra! Masuk yuk!" ajak ibunya sambil menyenggol bahu Kirana. "Itu siapa sih? Cowok kamu ya? Ganteng banget, rapi lagi pake baju Teknik gitu."
"Ih, Mama pengen tahu aja sih! Temen kampus, Ma!" jawab Kirana sambil masuk ke rumah, berusaha menutupi kegugupannya.
"Tapi Mama setuju sih kamu deket ama dia," lanjut ibunya sambil menutup pintu. "Soalnya dia kelihatan sopan banget, tanggung jawab lagi. Mana gantengnya laki banget gitu. Kamu dapetin dong cowok kayak gitu, jangan dilepas!"
"Mamaaa! Apaan sih! Udah ah, Kirana mau mandi!" seru Kirana sambil berlari ke kamarnya.
"Amit-amit banget gua ama dia" pikir kirana kemudian bergidik geli. Tapi dalam hatinya dia juga merasakan rasa senang karena perlakuan dan sopan santunnya Bima hari ini.