"Kau hanya beban yang menghancurkan reputasiku, Amora!"
Kalimat itu menghujam jantung Amora lebih dalam daripada fitnah sedarah yang sedang mengepung mereka. Hamdan Tarkan—pria yang dulu berjanji melindunginya dengan gelang rumput sederhana—kini berubah menjadi dinding es yang tak tertembus.
Dipaksa tinggal di dalam penjara emas Mansion Tarkan, Amora harus menghadapi skandal yang menyebut dirinya adalah saudara tiri pria yang ia cintai. Di tengah intrik kasta tertinggi dan kemunculan musuh dari masa lalu, Amora menyadari satu hal: Hamdan menyembunyikan kebenaran yang jauh lebih gelap.
Apakah Hamdan benar-benar ingin melindunginya, atau Amora hanyalah kunci untuk menguasai aset terakhir Dinasti Klan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Debu di Pasar Desa
Pasar Desa Sukawangi tidak pernah sesunyi ini. Biasanya, suara teriakan pedagang ikan dan tawar-menawar ibu-ibu memenuhi udara yang pengap. Namun pagi ini, hanya ada deru mesin mobil-mobil hitam mengkilap yang kontras dengan tanah becek pedesaan.
"Tutup semuanya. Saya tidak ingin ada satu pun orang asing yang mendekat ke area ini selama satu jam ke depan," suara berat itu terdengar mutlak.
Hamdan Tarkan (29 tahun) turun dari mobil SUV-nya. Postur tubuhnya yang tegap dibalut kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mewah yang harganya mungkin bisa membeli seluruh kios di pasar ini. Matanya yang tajam setajam elang menyapu sekeliling, mencari satu sosok yang menjadi alasannya datang ke tempat kumuh ini.
"Tapi Tuan Hamdan, para pedagang akan merugi jika kita menutup akses jalan—"
"Ganti rugi mereka sepuluh kali lipat, Farid. Lakukan sekarang," potong Hamdan dingin tanpa menoleh.
Di sudut lain pasar, Amora (23 tahun) sedang mengikat karung berisi sayuran dengan kasar. Keringat menetes di pelipisnya, tapi kecantikan alaminya tidak bisa disembunyikan oleh baju lusuh yang ia kenakan. Ia mendongak, matanya yang bulat berkilat marah saat melihat beberapa pria berseragam safari mulai mengusir pembeli dari lapaknya.
"Hei! Apa-apaan ini?!" Amora berdiri, berkacak pinggang. "Kalian tidak bisa seenaknya mengusir pelanggan saya! Ini pasar umum, bukan halaman rumah kalian!"
Langkah kaki yang berat dan berwibawa mendekat. Amora merasakan aura yang menekan sebelum pria itu benar-benar berdiri di depannya. Saat Amora mendongak untuk memaki, kalimatnya tertahan di tenggorokan.
Pria itu sangat tinggi. Wajahnya tegas dengan rahang yang kokoh. Namun, yang membuat Amora terpaku adalah tatapan pria itu. Ada kerinduan yang dalam, rasa bersalah, sekaligus ambisi yang menakutkan di mata cokelat gelap milik Hamdan.
"Amora," ucap Hamdan pelan. Suaranya terdengar seperti getaran guntur yang jauh.
Amora mengernyit. Ia merasa pernah mendengar suara itu, jauh di dalam ingatan masa kecilnya yang kabur. Namun, rasa kesal lebih mendominasi. "Siapa Anda? Berani-beraninya Anda mengacaukan dagangan saya!"
Hamdan maju satu langkah, membuat Amora terpaksa mundur hingga punggungnya menabrak tiang kayu lapaknya. Hamdan mengangkat tangan, hampir menyentuh pipi Amora yang terkena noda debu, namun ia menghentikan gerakannya di udara.
"Kau tidak berubah. Tetap galak seperti dulu," gumam Hamdan dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.
"Jangan sok kenal!" Amora mendorong dada Hamdan. Keras seperti batu. "Pergi dari sini sebelum saya panggil warga desa! Anda pikir karena punya mobil mewah, Anda bisa menutup pasar sesuka hati?"
Hamdan menatap sekeliling pasar yang mulai riuh karena protes warga di balik barikade anak buahnya. Ia tahu Amora membencinya saat ini. Ia tahu menutup pasar adalah cara yang arogan. Tapi hanya ini cara tercepat untuk memastikannya aman dari incaran orang-orang yang mulai mencium keberadaannya.
"Ikut aku, Amora. Tempat ini tidak aman untukmu lagi," ujar Hamdan dengan nada memerintah yang dewasa.
Amora tertawa sinis, matanya mulai berkaca-kaca karena amarah. "Aman? Saya sudah hidup di sini selama bertahun-tahun tanpa gangguan. Sampai Anda datang dan merusak hari saya. Pergi, Tuan... Tuan siapa pun Anda!"
Hamdan terdiam. Ia melihat tangan Amora yang gemetar karena emosi. Ia ingin sekali mengatakan, "Aku Abang Hamdan-mu, yang berjanji akan menjagamu 17 tahun lalu," tapi ia tahu, Amora yang sekarang adalah wanita asing yang penuh luka.
"Namaku Hamdan Tarkan," Hamdan merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar kartu nama emas dan menjatuhkannya di atas meja sayuran Amora yang berantakan. "Dan mulai detik ini, hidupmu bukan lagi milikmu sendiri."
Pria itu pergi. Meninggalkan kartu nama.
Amora memungut kartu nama emas itu dengan ujung jari yang gemetar. Tulisan Hamdan Tarkan – CEO Tarkan Group berkilau di bawah cahaya matahari pagi. Ia mendengus, meremas kartu itu hingga melengkung, lalu melemparnya ke tumpukan kol yang layu.
"Dasar orang kaya gila! Pikirnya dia siapa bisa mengatur hidup orang?" umpat Amora.
Namun, kekesalan Amora terganggu oleh suara riuh di ujung pasar. Beberapa warga desa mendekat dengan wajah bingung sekaligus senang.
"Amora! Kau kenal siapa pria tadi?" tanya Pak Kardi, kepala pasar, sambil menghitung segepok uang di tangannya. "Dia membayar sewa seluruh pasar untuk sebulan ke depan hanya agar kami pulang lebih awal hari ini!"
Amora terbelalak. "Apa? Pak Kardi, jangan mau dibeli begitu saja! Dia itu arogan!"
"Arogan tapi dermawan, Ra! Dia bilang dia tidak ingin kau kelelahan melayani pembeli hari ini," sahut seorang ibu pedagang jamu sambil mengedipkan mata. "Sepertinya kau punya pengagum rahasia yang sangat kaya, ya?"
Wajah Amora memanas. Bukan karena malu, tapi karena murka. Melindungi? Tidak ingin aku lelah? Baginya, itu adalah penghinaan. Pria itu baru saja menghancurkan rutinitasnya dan menjadikannya bahan tontonan satu desa.
Tanpa mempedulikan godaan warga, Amora menyambar tas selempang kulitnya yang sudah usang dan mulai berjalan cepat menuju jalan raya. Ia harus pulang ke gubuk kecilnya di pinggir desa, tempat yang ia anggap paling aman.
Namun, harapannya pupus. Di setiap persimpangan jalan setapak menuju rumahnya, berdiri pria-pria berbadan tegap dengan earpiece di telinga mereka. Mereka tidak mengganggunya, hanya berdiri tegap seolah-olah menjadi pagar hidup bagi Amora.
Saat Amora sampai di depan rumah kayunya, SUV hitam milik Hamdan masih terparkir di sana. Hamdan sendiri sedang bersandar di pintu mobil, melipat tangan di depan dada sambil menatap hamparan sawah di belakang rumah Amora.
"Berhenti mengikutiku!" teriak Amora dari jarak sepuluh meter.
Hamdan menoleh pelan. Ia melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan tatapan yang kini lebih tenang namun tetap mengintimidasi. "Aku tidak mengikutimu. Aku menunggumu."
"Untuk apa?"
Hamdan melangkah mendekat, mengabaikan jarak aman yang coba dibangun Amora. Ia berhenti tepat di depan Amora, aroma parfum kayu cendana yang mahal merasuk ke indra penciuman Amora, kontras dengan bau tanah sawah.
"Untuk memastikan kau berkemas," ucap Hamdan rendah.
Amora tertawa hambar. "Berkemas? Kau pikir aku akan pergi ke mana?"
"Ke tempat yang seharusnya. Mansion Tarkan."
"Dalam mimpimu, Tuan Tarkan!" Amora mencoba masuk ke rumahnya, tapi tangan kekar Hamdan menahan pintu kayu itu dengan mudah.
"Amora Gayana," Hamdan menyebut nama lengkapnya dengan penekanan yang membuat bulu kuduk Amora merinding. "Dunia ini tidak sesederhana pasar desamu. Ada orang-orang yang mulai mencari jejak ayahmu, dan mereka tidak akan segan menggunakanmu untuk memancingnya keluar."
Amora membeku. Ayah? Nama itu adalah luka lama yang sudah ia kubur dalam-dalam. "Aku tidak punya ayah. Ayahku sudah mati."
"Dia belum mati," potong Hamdan cepat. "Dan sebelum musuh-musuhnya menemukanmu, kau harus berada di bawah pengawasanku. Secara sukarela... atau terpaksa."
Amora menatap mata Hamdan, mencari kebohongan di sana, tapi ia hanya menemukan kesungguhan yang dingin. Di saat itulah, Amora menyadari bahwa hidupnya yang tenang sebagai gadis pasar telah berakhir di tangan pria yang dulu pernah ia panggil "Abang," meski kini ia membencinya setengah mati.
To be continued...