NovelToon NovelToon
Air Mata Seorang Istri: Kakakku, Perebut Suamiku

Air Mata Seorang Istri: Kakakku, Perebut Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh / Teman lama bertemu kembali / Romansa / Konflik etika
Popularitas:82k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.

Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.

"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.

"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Di luar kamar, Rafka menatap ponselnya. Tangan dia gemetar, panggilan dari Kinanti tidak dia angkat. Untuk pertama kalinya, ia menolak panggilan wanita itu.

Rafka menatap pintu kamar yang tertutup, lalu ke arah ruang tamu. Gita yang masih mewarnai sendirian di sana.

Penyesalan menghantamnya telak. Dia sadar telah kehilangan sesuatu yang paling berharga. Kali ini, tidak ada hadiah, tidak ada janji, tidak ada kata maaf yang cukup untuk mengembalikannya.

Rumah itu masih berdiri. Keluarganya masih ada di dalamnya. Namun, kehangatannya telah pergi entah ke mana.

Ponsel Rafka kembali berdering. Kali ini nama "Bulan" yang tertulis di layar. Jarang-jarang adiknya menghubungi terlebih dahulu, kecuali sedang menginginkan sesuatu darinya.

“Ada apa, Bulan?” tanya Rafka.

“Mas, ibu jatuh di kamar mandi. Ayah juga malah mendadak lemas. Aku tidak bisa menggotong ibu sendirian," jawab Bulan diseberang sana dengan nada yang panik.

“Tenanglah. Mas segera ke sana," balas Rafka.

Di waktu yang bersamaan, Kirana terpaku menatap deretan angka di buku tabungan itu. Matanya bergerak pelan, menghitung ulang dengan jari yang mulai bergetar.

Satu bulan, bua bulan, tiga bulan, dan empat bulan. Transaksi di tabungannya kosong. Tidak ada penambahan sama sekali selama itu.

Padahal mereka sudah sepakat kalau setiap bulan, dua juta rupiah harus masuk ke tabungan bersama. Uang yang dikumpulkan dengan sabar, dengan pengorbanan, demi satu tujuan sederhana, membeli mobil agar Gita tak lagi kehujanan setiap kali mereka pergi.

“Empat bulan ...,” bisik Kirana lirih, napasnya tercekat. “Empat bulan tidak ada satu rupiah pun.”

Dada Kirana terasa ditekan sesuatu yang berat. Bukan hanya soal uang. Tapi soal kebohongan yang perlahan menyingkap wajah aslinya.

“Kenapa Mas Rafka tidak menabungkan uangnya?”

Pertanyaan itu menggantung, lalu berubah menjadi tuduhan yang menyesakkan.

“Atau jangan-jangan ....”

Kirana menelan ludah.

“Uangnya habis untuk Mbak Kinanti dan Ara?”

Bayangan itu membuat perutnya melilit. Kirana teringat wajah Kinanti yang selalu terlihat terawat, penampilan yang rapi, wangi, dan penuh percaya diri. Kakak kandungnya sendiri. Orang yang seharusnya menjadi tempat aman, bukan sumber luka.

Kirana menutup buku tabungan dengan hentakan kecil. Tangannya mengepal, kukunya menekan telapak sendiri sampai terasa perih. Geram, marah, dan hancur bercampur menjadi satu.

Dia bangkit dari duduknya, melangkah keluar kamar dengan langkah cepat.

Mata Kirana mencari-cari sosok Rafka. Jantungnya berdegup keras, seolah bersiap meledak. Belum sempat ia membuka mulut, suara Rafka lebih dulu memotong.

“Sayang!” Suara pria itu terdengar panik. Rafka muncul sambil meraih kunci motor di atas meja rias. Wajahnya tegang, gerakannya tergesa.

“Ibu jatuh di kamar mandi. Aku harus bawa beliau ke rumah sakit sekarang.”

Kirana membeku.

“Kamu tunggu di rumah, ya,” lanjut Rafka cepat, sudah mengenakan jaket. “Kasihan Gita kalau ditinggal sendirian.”

Kalimat itu terdengar seperti perintah. Bukan permintaan. Bukan diskusi. Mulut Kirana terbuka, tetapi tak ada suara yang keluar. Tenggorokannya kering. Semua pertanyaan tentang uang, tentang kebohongan, tentang tabungan yang tidak bertambah selama empat bulan belakangan. Suara dia seakan tertelan kenyataan lain yang sama menyakitkannya.

Rafka bahkan tidak menatap Kirana lama. Setelah satu anggukan singkat, pria itu sudah melangkah pergi.

Pintu kamar tertutup.

Kirana berdiri sendirian di ruang tamu yang terasa semakin luas dan dingin.

“Mas ....” Suaranya nyaris tak terdengar. “Kamu bahkan tidak bertanya aku kenapa kelihatan pucat.”

Air mata menggenang di matanya, tetapi tidak jatuh. Ada luka yang terlalu dalam untuk sekadar menangis.

“Dia bukan Rafka yang dulu,” batin Kirana pahit.

“Bukan pria yang enam tahun lalu menggenggam tanganku sambil berjanji akan jujur dan setia.”

Sementara itu, di tempat lain, Kinanti berjalan mondar-mandir di kamar kost-nya. Ponsel di tangannya kembali gelap setelah panggilan itu tak kunjung terjawab. Untuk kesekian kalinya.

“Kenapa sih nggak diangkat?” gerutunya kesal. “Biasanya juga selalu cepat.”

Sejak siang, ada sesuatu yang terasa janggal. Rafka menolak makan siang bersamanya. Tidak menjemput seperti biasa. Bahkan hanya membalas pesan seperlunya.

Kinanti mendengus, lalu duduk di tepi ranjang. Matanya menyipit, senyum tipis perlahan muncul, senyum yang penuh perhitungan.

“Kalau begitu, aku akan beri dia kejutan. Pasti dia tidak akan bisa menolak,” gumam Kinanti pelan.

Wanita itu berdiri, menyiapkan ponsel, lalu mengatur kamera. Gerakannya santai, seolah sudah terbiasa. Kinanti tahu betul sisi mana dari dirinya yang selalu membuat Rafka tak mampu berpaling. Ekspresi yang lembut, tatapan yang manja, suara yang dibuat rendah dan mendayu.

Rekaman dimulai.

“Mas ....” Suara Kinanti dibuat lirih, penuh isyarat. “Aku lagi pengin dimanja.”

Kinanti tersenyum tipis, memiringkan kepala, memainkan gestur yang selama ini berhasil menjerat. Tidak ada kata-kata kasar. Tidak perlu. Kinanti tahu, imajinasi Rafka akan bekerja dengan sendirinya.

Video itu ia kirim, lalu ia bersandar sambil menunggu, yakin pesan itu takkan diabaikan lama.

Rafka baru bisa menghela napas panjang ketika jam dinding rumah sakit menunjukkan pukul sepuluh malam. Ibunya sudah sadar, kondisinya stabil. Hanya kelelahan dan tekanan darah yang turun. Namun entah kenapa, rasa lega itu tidak benar-benar sampai ke hatinya.

Sepanjang perjalanan pulang, wajah Kirana terlintas di benaknya. Tatapan kosong istrinya sebelum ia pergi. Diam yang terasa lebih menyakitkan daripada amarah.

Sesampainya di rumah, suasana sunyi menyambut. Lampu kamar Gita menyala redup. Dari celah pintu, ia melihat Kirana tertidur di samping putri mereka, memeluk Gita erat—seolah takut kehilangan.

Rafka berdiri lama di ambang pintu. Dadanya terasa sesak.

“Aku sudah sejauh ini, ya?” bisiknya pada diri sendiri.

Rafka melangkah ke kamar tamu, merebahkan tubuh tanpa tenaga. Tangannya meraih ponsel. Puluhan panggilan tak terjawab dari satu nama membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Kinanti.

Satu video masuk.

Rafka ragu sejenak, lalu menekannya. Layar ponsel menyala, menampilkan sosok yang sudah terlalu terlarang. Napasnya tertahan. Ada dorongan kuat yang bercampur rasa bersalah, tetapi tetap saja jari-jarinya tidak menghentikan video itu.

“Apa yang sudah aku lakukan,” gumam Rafka, tetapi matanya tetap terpaku.

Setelah layar kembali gelap, Rafka memejamkan mata, mengusap wajahnya kasar. Di satu sisi rumah, istrinya tidur dengan luka yang ia ciptakan. Di sisi lain, godaan yang terus ia pelihara menunggu untuk kembali direngkuh.

“Besok ....” ucap Rafka lirih, lebih kepada dirinya sendiri. “Aku harus membereskan semuanya.”

Rafka tahu, itu bukan janji, melainkan kebohongan baru yang ia ucapkan demi menenangkan nurani yang semakin rapuh.

1
ken darsihk
kakak mu adalah mauttt Kirana
Naya En-lish
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Kiss//Kiss//Kiss//Kiss//Kiss/
ken darsihk
Tetap semangat Kirana
Susanty
gak bisa ngebayangin,adik ipar atau kaka ipar, nauzubillah,gak kepikiran di otak aku😤🤭
Dewi Sri
Turut Berduka cita, semoga amal kebaikan bibi author di trima... Aamiin
Karennina
kutunggu updatenya kak😄
Sunaryati
Ikhlaskan saja kehilangan rumah masa lalu penuh derita batin yang menyakitkan, lebih baik fokus pada rumah masa depan yang menjanjikan dan hati nyaman. Untuk orang tuamu bukan kamu yang menjauhi tapi mereka yang tidak kau dekati untuk berbakti.
Sunaryati
Keputusan kamu sudah benar tidak menikahi Kinanti, untuk menjaga perasaan putrimu Gita, Rafka.Jika kau sadar salah taubatlah. Berika uang gono- gini untuk Kinara, sebagai ganti tabungan yang kau habiskan untuk menuruti hawa nafsu bejatmu. Berikan nafkah putrimu, segara rutin
Ila Latifah
emak kirana juga aneh sih. apakah kirana anak tiri?
Ma Em
Semangat Kirana semoga usaha Kirana makin sukses , Kirana dan Gita selalu bahagia .
Naufal Affiq
lanjut kak
Dew666
💎🍭
Rahma Inayah
betapa egois nya bu Maya SDH jls2 Kinanti yg slah merusak.rumh tangga adiknya tp ttp aja Kirana yg di benci padhl satu rahim bukan ank tiri or angkat tp kasih syg kentara berbeda
tutiana
semangat kirana 💪🏻💪🏻💪🏻
tutiana
nah,,, karmanya enak to kinanti, selamat menikmati
Asyatun 1
lanjut
tutiana
ya ampun Thor pengen ngaplok mulutnya kinanti deh
Nanik Arifin
marahmu salah alamat, Maya... hrsnya yg kau usir, kau buang dr keluarga itu Kinanti, bukan Kinara. yg mencoreng nama keluarga, yg jd pelakor itu Kinanti. semua hancur Krn ulah Kinanti. mengapa org lain yg dituding & Kinanti ttp disayang". anda waras ?? kalian emg keluarga problematik
🌸Santi Suki🌸: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
Tri Lestari Endah
semangat kirana 💪
semoga kirana mendapat kebahagian kembali dgn pasangan hidup yg baru 😍 🙏
🌸Santi Suki🌸: ❤️❤️❤️❤️❤️
total 1 replies
Ita rahmawati
aku bner² curiga nih kalo si kirana bukan anaknya mereka,,tp ya emang ada juga sih ortu yg kyk gtu sm anak kandungnya sekalipun,,pilih kasih dlm segala hal kepada sesama anaknya 🤦‍♀️
🌸Santi Suki🌸: 😁😁😁🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!