NovelToon NovelToon
Duda Pemuas Hasrat

Duda Pemuas Hasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Duda / Playboy / Cerai
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Lullaby

Arlan Pramudya adalah seorang arsitek sukses yang hidupnya terukur seperti penggaris siku. Baginya, ketidakteraturan adalah musuh. Sejak kehilangan istrinya tiga tahun lalu, Arlan mengunci diri dalam rutinitas kerja yang kaku dan peran sebagai ayah tunggal yang terlalu protektif bagi putrinya, Mika (6 tahun). Rumah mereka megah, namun terasa dingin dan sunyi—sebuah monumen kesedihan yang tak kunjung usai.

Masalah muncul ketika Mika, yang mewarisi sifat keras kepala ayahnya, menolak semua guru privat yang didatangkan Arlan. Hingga akhirnya, muncul Ghea Anindita, mahasiswi pendidikan yang datang dengan tawa renyah, sepatu kets kotor, dan metode belajar yang jauh dari kata "formal".

Awalnya, Arlan skeptis. Ghea terlalu berisik dan sering melanggar batas-batas "profesional" yang ia tetapkan. Namun, Ghea adalah satu-satunya orang yang berhasil meruntuhkan tembok pertahanan Mika. Perlahan, kehadiran Ghea tidak hanya mengisi kekosongan di meja belajar Mika

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Topeng Profesional

Denting cangkir kopi yang bertabrakan dengan tatakan porselen di meja sudut belakang kafe itu terdengar seperti dentuman perang yang tenang. Aroma kopi arabika yang kuat tidak mampu menyembunyikan ketegangan yang ada antara kedua wanita yang duduk berhadapan.

Shinta menyilangkan tangannya di dada, bersandar pada kursi kulit hitam dengan senyum angkuh menghiasi wajahnya yang dihias riasan sempurna. Tatapannya yang tajam mengamati Ghea dari ujung kepala hingga kaki, berusaha menemukan tanda kecemasan. Namun, Ghea tetap duduk tegak dengan punggung lurus, tangannya terlipat di atas meja, menunjukkan sikap tenang seorang profesional.

"Anda datang tepat waktu," Shinta memulai pembicaraan, suaranya lambat namun penuh intimidasi. "Saya menghargai efisiensi, Ghea. Terutama dari seseorang yang. . . berusaha kembali ke dalam hidup mantan suamiku. "

Ghea tidak tergoda untuk merespons. Ia menaruh sebuah flashdisk berwarna perak dengan logo minimalis di atas meja kayu di antara mereka. Bunyi lembut dari benda logam itu langsung menarik perhatian Shinta.

"Saya rasa tujuan kita di sini bukanlah untuk mengenang masa lalu atau membahas kehidupan pribadi, Ibu Shinta," ujar Ghea, suaranya tenang, datar, dan sangat formal. "Anda memerlukan data perbandingan harga Golden Synergy. Dan saya memiliki yang Anda cari. "

Mata Shinta nampak berkilau penuh hasrat saat memandang flashdisk tersebut. Ia mengangkat tangan penuh cincin berliannya untuk mengambilnya, namun jemari Ghea menahannya dengan lembut namun tegas di atas meja.

"Sebentar," kata Ghea dengan nada dingin. "Bisnis selalu melibatkan timbal balik. Anda memperoleh ini, dan Golden Synergy akan aman dari gangguan yang tidak perlu selama proses tender. Saya ingin jaminan bahwa setelah Anda menganalisis data ini, tim Anda akan menarik diri dari penawaran di sektor Sudirman. "

Shinta tertawa meriah, suaranya terasa dipaksakan demi menyembunyikan rasa terkejut atas keberanian Ghea. "Kamu sangat berani menantang wewenang saya, Ghea. Tapi baiklah. . . jika data di dalam ini benar-benar sebanding dengan nilai triliunan yang dijanjikan oleh Golden Synergy, aku bisa mempertimbangkan untuk membiarkan Arlan memenangkan sisa proyek kecil lainnya. "

Ghea perlahan melepaskan jarinya, sehingga Shinta bisa memasukkan flashdisk itu ke dalam tas desainer miliknya.

Di dalam pikiran Ghea, ia mulai menghitung mundur. Di dalam flashdisk itu terdapat dokumen analisis risiko yang telah ia ubah sedemikian rupa—tampak sangat autentik dengan format resmi Golden Synergy, ditambah dengan tanda air internal, tetapi angka margin keuntungan dan proyeksi biaya di dalamnya telah dinaikkan hingga 15% lebih tinggi dari nilai sebenarnya. Jika Shinta mengajukan penawaran berdasarkan data tersebut, perusahaannya akan secara otomatis mendiskualifikasi diri karena menawarkan harga yang tidak logis bagi para investor internasional.

"Senang berkolaborasi denganmu," ucap Shinta sambil berdiri, merapikan blazer merah menyala dengan gestur kemenangan yang tampak tidak tulus. "Kuharap Anda bisa merahasiakan ini dari Arlan. Akan sangat disayangkan jika asisten kesayangannya harus dipecat karena pengkhianatan. "

"Tentu saja," jawab Ghea dengan senyuman tipis yang sangat sopan—senyuman yang menyimpan rasa puas yang dalam. "Semoga harimu menyenangkan, Ibu Shinta. "

Setelah Shinta pergi dengan langkah percaya diri meninggalkan kafe, Ghea menghembuskan napas panjang yang selama ini tertahan. Ketegangan di bahunya perlahan menghilang. Ia mengambil ponselnya dan melihat waktu yang menunjukkan pukul 13.40.

Ia harus segera kembali ke meja kerjanya sebelum Arlan menyadari bahwa ia sudah terlalu lama tidak ada. Langkah pertama dalam menjaga Golden Synergy—dan Arlan—telah ia laksanakan dengan baik. Kini, Ghea siap untuk menyaksikan Shinta memasuki jaring yang telah ia siapkan dengan cermat.

Ghea melangkah melewati pintu kaca utama gedung SCBD, dengan langkah yang disengaja agar tampak biasa. Suara sepatu hak tingginya di atas lantai marmer yang bersinar terdengar teratur, menyatu dengan keramaian suasana kantor yang kembali aktif setelah istirahat makan siang usai.

Ia sejenak merapikan blazernya di depan cermin lift, memastikan tak ada jejak kecemasan di wajahnya. Ketika pintu lift terbuka di lantai kantor Golden Synergy, Ghea segera menuju meja kerjanya.

Baru saja ia menaruh tas dan duduk, bayangan tinggi yang tegap menghalangi sinar lampu di atas mejanya. Ghea mendongak dan melihat Arlan berdiri di sana.

Kedua tangan CEO itu terbenam di saku celana hitamnya. Ekspresinya datar dan dingin—sebuah topeng profesional yang biasa ia tunjukkan di depan pegawai lainnya—namun tatapan tajamnya menatap Ghea dengan intensitas yang tampak meminta penjelasan.

"Dari mana saja kamu, Ghea? " tanya Arlan, suaranya pelan dan terasa sangat formal, namun ada nada melindungi yang samar di baliknya. "Aku mencarimu di ruang rapat tiga puluh menit lalu untuk mengulas kembali berkas investor. "

Ghea berusaha menjaga ketenangannya. Ia memberikan senyum tipis yang profesional, lalu bangkit dari kursinya untuk menghormati atasannya.

"Maaf, Pak Arlan," balas Ghea dengan suara yang tenang dan terukur, memastikan nada suaranya tidak menarik perhatian rekan-rekannya di meja sebelah. "Saya tadi keluar sebentar untuk mencari udara segar dan membeli kopi di seberang. Dokumen investor yang Bapak maksud sudah saya siapkan dan semuanya aman berada dalam map ini. "

Ghea menyodorkan map biru berisi dokumen yang asli. Arlan menerima map itu, tetapi tatapannya tetap tertuju pada wajah Ghea. Sebagai orang yang sangat mengenal Ghea, Arlan menyadari ada sesuatu yang lain dari sikap tenang wanita di depannya saat ini. Ada sedikit cahaya kepuasan—dan sisa ketegangan—di balik mata bulat Ghea.

Arlan mengetuk map ke telapak tangannya sekali, kemudian mendekat sedikit, mengurangi jarak formal mereka hanya untuk sesaat.

"Ikut ke kantorku sekarang," bisik Arlan dengan nada tegas yang menolak penolakan, lalu ia berbalik dan melangkah mantap menuju ruangan kayunya di ujung koridor.

Ghea menarik napas pelan. Ia menyadari, meskipun berhasil mengecoh Shinta di kafe sebelumnya, menghadapi insting tajam Arlan di ruang kerjanya akan jauh lebih menantang. Ghea pun mengambil tabletnya dan melangkah menyusul Arlan.

Ghea menutup pintu ruangan kaca Arlan dengan perlahan, memastikan suara klik pengunci terdengar jelas. Begitu ia berbalik, Arlan sudah berdiri di belakang meja kerjanya yang besar, melepas jas hitamnya dan meletakkannya di kursi.

Kesan dingin Arlan sebagai CEO masih sangat terasa, tetapi begitu mereka hanya berdua di ruangan kedap suara ini, tatapan Arlan berubah menjadi sangat tajam dan fokus sepenuhnya pada Ghea.

"Duduklah, Ghea," kata Arlan, suaranya berat dan penuh wibawa.

Ghea melangkah maju dan duduk di salah satu kursi kulit yang ada di depan meja Arlan. Ia meletakkan tabletnya di atas meja dengan rapi.

Arlan menaruh kedua tangannya di atas meja, condong sedikit ke arah Ghea. "Sekarang, beritahu aku tentang perkembangan proyek Golden Synergy. Apa hasil dari analisis risiko dan perbandingan harga yang kamu kerjakan sejak kemarin? Apakah semuanya sudah siap untuk presentasi akhir? "

Ghea mengangguk tenang dan membuka tabletnya untuk menunjukkan diagram serta grafik proyeksi yang sesungguhnya—bukan dokumen palsu yang diberikan kepada Shinta.

"Semua dokumen perbandingan harga yang asli telah saya enkripsi dan aman di server internal, Pak Arlan," jelas Ghea dengan nada profesional. "Saya sudah mengurangi margin risiko hingga 8% sesuai permintaan konsorsium investor internasional. Dengan skema ini, penawaran kita menjadi yang paling efisien tanpa mengorbankan kualitas teknologi ramah lingkungan yang kita tawarkan. "

Arlan memperhatikan layar tablet yang disodorkan Ghea. Matanya dengan cepat membaca angka-angka rumit itu, mengangguk kecil sebagai tanda puas. "Bagus. Ini formula yang hampir mustahil untuk disaingi oleh kompetitor dengan cara yang fair. "

Namun, Arlan tidak langsung mengalihkan pandangannya dari Ghea. Ia menyipitkan matanya, bersandar di kursinya, dan mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja—menirukan ritme yang sama saat ia mengemudikan mobil pagi tadi, hanya saja kali ini terasa lebih menyelidik.

"Bagaimana dengan keamanan dokumen ini? " tanya Arlan pelan, menatap Ghea dengan tajam. "Kamu tahu Shinta memiliki banyak mata-mata. Dia akan melakukan apa saja untuk mendapatkan angka-angka ini sebelum rapat pleno besok. Apakah kamu yakin tidak ada celah untuk kebocoran? "

Ghea merasakan detak jantungnya sedikit meningkat, tetapi ia tetap mempertahankan senyum tipis yang penuh keyakinan. "Saya pastikan, dokumen asli kita seratus persen aman, Pak. Bahkan jika ada pihak luar yang berusaha mencari tahu. . . mereka hanya akan menemukan data yang bisa membuat mereka keliru. "

Arlan mengangkat sebelah alisnya, memahami makna tersembunyi dari ucapan Ghea. "Apa maksudmu? "

1
Soleh Mekanik
/Smile/
Heriyansah: Masih lanjut kok kak ceritanya, di tunggu ya. Semoga ga kecewa 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!