Teratai Di Atas Abu
Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.
Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.
Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.
Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
Bayangan dari Menara Darah Hitam
Bab 24 — Bayangan dari Menara Darah Hitam
Di puncak tertinggi Sekte Gunung Awan Putih, di sebuah menara pengawas tua yang jarang dikunjungi, tersembunyi sosok yang berdiri diam di balik jendela kayu yang tertutup rapat. Sosok itu mengenakan jubah hitam pekat yang menyerap segala cahaya, wajahnya tertutup kain beludru hitam hingga hanya sepasang mata tajam yang terlihat — mata yang dingin, licik, dan penuh niat jahat yang mendalam.
Ia adalah Tuan Bayangan, utusan rahasia dari Menara Darah Hitam, organisasi yang telah menghancurkan Klan Teratai Suci ratusan tahun silam, dan kini diam-diam menyusup ke seluruh penjuru dunia persilatan. Ia datang ke sini bukan untuk berkunjung, bukan untuk bersahabat, melainkan untuk mengawasi, mengintai, dan menanam benih kehancuran di dalam tubuh Sekte Gunung Awan Putih, persis seperti yang telah mereka lakukan di hutan kabut roh.
Selama turnamen berlangsung, ia mengamati segala sesuatu dari ketinggian ini. Ia melihat kemenangan Lian Hua demi kemenangan, ia melihat kekuatan aneh yang dimiliki pemuda itu, dan ia merasakan hawa murni yang membuat jiwanya gelisah. Namun ia masih ragu, masih belum yakin, hingga saat itu tiba — saat bayangan teratai raksasa mekar di atas arena.
Saat cahaya putih dan hitam itu menyebar, saat hawa kuno yang sakral itu menerpa wajahnya, tubuh Tuan Bayangan seketika menegang kaku. Matanya yang dingin membelalak lebar, dan jantungnya yang sudah lama mati rasa karena kejahatan, kini berdebar kencang karena rasa takut dan keterkejutan yang luar biasa.
"Itu... itu aura..." gumamnya pelan, suaranya parau dan bergetar. "Tak mungkin salah. Itu adalah kekuatan sejati Klan Teratai Suci. Kekuatan yang seharusnya sudah musnah lenyap dari muka bumi ini ratusan tahun lalu, yang kami basmi hingga akar-akarnya, yang kami bakar hingga abunya terbang terbawa angin..."
Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tajam ke arah sosok pemuda di bawah sana. Matanya meneliti setiap gerakan, setiap aliran tenaga, dan akhirnya... pandangannya tertuju ke dada kiri Lian Hua, tepat di bawah jubah yang sedikit terbuka karena gerakan bertarung.
Di sana, tergantung sebilah liontin giok kecil yang berwarna hijau bening. Saat tenaga Lian Hua berputar, saat darahnya mengalir deras, liontin itu ikut bersinar lembut, memancarkan cahaya yang sama persis dengan bayangan teratai yang tadi muncul. Ukiran di atasnya — kelopak yang saling bertautan, putih di satu sisi dan hitam di sisi lain — terlihat sangat jelas, sangat nyata, dan sangat tak terbantahkan.
Itu adalah Liontin Warisan, pusaka tertinggi klan itu, yang hanya dimiliki oleh ketua klan dan pewaris tunggal sah. Pusaka yang dicari Menara Darah Hitam selama berabad-abad, pusaka yang mereka kira telah hancur bersama bangunan klan dulu.
Tuan Bayangan mundur selangkah, punggungnya menabrak dinding batu di belakangnya. Keringat dingin bercucuran di balik penutup wajahnya. Rasa kaget bercampur dengan kebencian yang membara, kebencian yang ditanam sejak nenek moyangnya, kebencian yang menjadi darah daging organisasinya.
"Jadi... ternyata tidak habis," desisnya, suaranya penuh racun dan amarah yang tertahan. "Ternyata masih ada yang tersisa. Masih ada keturunan, masih ada pewaris, masih ada yang membawa nama dan kekuatan itu. Dan dia ada di sini... di bawah hidung kami, diam-diam tumbuh kuat, diam-diam mengembangkan kekuatan itu."
Ia mengingat kembali peristiwa di Hutan Kabut Roh, saat inti energi hitam yang ia tanamkan di dalam tubuh Serigala Bulan Merah hancur seketika oleh kekuatan asing. Dulu ia bertanya-tanya kekuatan apa yang begitu ampuh bisa melumpuhkan ciptaannya. Sekarang semuanya terjawab. Itulah kekuatan teratai, musuh alami segala energi gelap dan jahat.
"Anak itu... Lian Hua..." gumamnya pelan, matanya menyala merah berbahaya. "Dia bukan sekadar murid luar yang tak bernilai. Dia adalah bahaya terbesar bagi rencana kami. Jika dia dibiarkan tumbuh, jika dia dibiarkan menguasai seluruh ilmu klan itu... maka Menara Darah Hitam akan menghadapi bencana terbesar dalam sejarahnya."
Ia mengeratkan tangannya di pinggir jendela hingga buku jarinya memutih. Di dalam benaknya, berputar rencana jahat yang baru, rencana yang lebih kejam, lebih licik, dan lebih mematikan.
"Kau pikir kau sudah bersembunyi dengan baik, anak kecil?" bisiknya dengan senyum mengerikan yang tersembunyi. "Kau pikir kau aman di balik dinding tebal sekte ini? Kau salah besar. Begitu kami tahu siapa kau, ke mana kau pergi, dan apa yang kau miliki... kau takkan pernah punya tempat aman lagi di seluruh dunia ini."
Ia berbalik perlahan, hendak meninggalkan tempat itu, kembali ke markasnya untuk melaporkan penemuan dahsyat ini, dan mengatur jebakan maut yang akan memastikan benih teratai itu hancur selamanya, sebelum sempat tumbuh menjadi pohon besar.
Namun sebelum ia hilang di balik bayangan lorong gelap itu, ia menoleh sekali lagi ke arah arena, ke arah sosok Lian Hua yang sedang berdiri tenang di tengah kekaguman ribuan orang.
"Ingatlah baik-baik momen ini," ucapnya dingin dan penuh ancaman. "Ini adalah terakhir kalinya kau bisa berdiri tegak dan tersenyum. Mulai detik ini, setiap langkahmu akan diikuti oleh bayangan kematian kami. Dan liontin indah di dadamu itu... sebentar lagi akan menjadi milik kami, setelah kami merobeknya dari dada dinginmu."
Angin gunung bertiup kencang, membawa kabut tebal menutupi menara tua itu sepenuhnya. Sosok misterius itu lenyap tanpa jejak, seolah tak pernah ada. Namun di balik keheningan dan kedamaian Sekte Gunung Awan Putih, benih bahaya yang jauh lebih besar daripada sebelumnya, kini telah jatuh dan bersiap tumbuh.
Perang antara Teratai dan Darah Hitam... baru saja dimulai kembali. Dan Lian Hua, pewaris terakhir, kini tak lagi bisa bersembunyi. Musuh bebuyutannya akhirnya tahu siapa dirinya. Dan kematian kini berjalan selangkah di belakangnya, menunggu saat yang tepat untuk menyambar.