"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"
Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.
Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.
Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?
Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Dunia seolah berhenti berputar di depan pintu kontrakan yang reyot itu. Aira berdiri mematung, menatap wanita anggun di depannya yang memancarkan aura kekuasaan yang tak terbantahkan.
Kata-kata Tuan Muda dan Pesawat Pribadi masih berdenging di telinganya, meruntuhkan semua realita yang ia bangun selama beberapa hari terakhir.
Dewa bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang berpacu liar. Ia menatap Hans, asistennya, dengan tatapan yang bisa membunuh, lalu beralih ke ibunya, Nyonya Widya, yang berdiri dengan angkuh.
"Dewa! Apa kamu sudah tuli?" suara Nyonya Widya meninggi, suaranya yang melengking memecah kesunyian gang. "Hans, paksa dia masuk ke mobil! Tempat ini menjijikkan, aku tidak tahan mencium bau selokan ini lebih lama lagi!"
Aira melangkah mundur, matanya berkaca-kaca. "Mas... apa maksud semua ini?"
Dewa menyadari bahwa jika ia tidak bertindak sekarang, ia akan kehilangan Aira selamanya. Otaknya yang terbiasa memproses strategi bisnis bernilai triliunan kini bekerja secepat kilat untuk menyusun sebuah kebohongan yang masuk akal.
"Ibu! Berhenti!" teriak Dewa, suaranya meledak, mengejutkan semua orang termasuk ibunya sendiri.
Dewa melangkah maju, menghalangi pandangan ibunya dari Aira. Ia memberikan isyarat mata yang sangat tajam kepada Hans, isyarat yang berarti. 'Ikuti permainanku atau kamu dipecat.'
"Nyonya... tolong, jangan kumat lagi," ucap Dewa dengan nada suara yang tiba-tiba berubah menjadi penuh belas kasihan, namun ada tekanan di dalamnya.
Nyonya Widya mengernyitkan dahi, bingung. "Apa maksudmu? Kumat?"
Dewa berbalik ke arah Aira, wajahnya kini terlihat sangat sedih dan lelah. "Aira, maafkan aku. Aku tidak ingin kamu melihat ini. Wanita ini... beliau adalah Nyonya Widya, istri dari mantan bosku di Jakarta dulu."
Aira mengerjapkan mata, bingung. "Mantan bos?"
"Iya," lanjut Dewa dengan suara yang dibuat bergetar. "Putra tunggal beliau meninggal dalam kecelakaan pesawat setahun lalu. Namanya juga Dewa, dan wajah kami sangat mirip. Sejak kejadian itu, mental beliau terguncang. Beliau sering berhalusinasi dan menganggap setiap pria bernama Dewa yang ditemuinya adalah anaknya yang kembali hidup. Dia sangat kaya, tapi jiwanya... jiwanya sangat menderita."
Nyonya Widya terbelalak. "Dewa! Apa-apaan kamu? Aku ini ibumu..."
"Hans!" potong Dewa dengan cepat, menatap asistennya. "Bawa Nyonya masuk ke mobil. Beliau sudah mulai berhalusinasi parah. Lihat, dia bahkan mulai mengaku-ngaku sebagai ibuku lagi."
Hans, yang sudah bekerja bertahun-tahun dengan Dewa, segera menangkap maksud tuannya. Meskipun hatinya bergetar karena takut pada Nyonya Widya, ia tahu ia tidak punya pilihan.
"Mari, Nyonya," ucap Hans sambil memegang lengan Nyonya Widya dengan sopan namun kuat. "Waktunya minum obat. Anda sedang berada di pemukiman warga, jangan sampai orang-orang mengira Anda benar-benar sedang kambuh."
"Lepaskan! Kalian gila? Dewa, aku akan..."
"Ayo, Hans! Bawa beliau pergi!" perintah Dewa tegas.
Aira hanya bisa melihat dengan mulut terbuka saat wanita elegan itu dipaksa masuk ke dalam mobil mewah tersebut.
Nyonya Widya terus berteriak, namun kaca mobil yang kedap suara segera menutup, membungkam amarahnya. Mobil Rolls-Royce itu kemudian mundur perlahan dan menghilang dari mulut gang secepat kehadirannya.
Hening kembali menyergap. Para tetangga yang tadinya menonton perlahan membubarkan diri dengan raut wajah kecewa. Mereka yang tadinya mengira Dewa adalah orang kaya, kini tertawa kecil.
"Oalah... ternyata cuma orang gila yang nyasar," gumam Bu Siti sambil berlalu. "Kirain beneran Sultan."
Di dalam kontrakan, Aira duduk di tepi tempat tidur, tangannya masih gemetar. Dewa berlutut di depannya, memegang kedua tangan istrinya.
"Aira, maafkan aku. Aku seharusnya menceritakan ini sejak awal," ucap Dewa, mencoba mempertahankan nada suara yang paling meyakinkan. "Saat aku kerja di Jakarta, aku menjadi asisten pribadi suaminya. Nyonya Widya sangat baik padaku, tapi kondisinya mulai memburuk sejak putranya tiada. Dia sering mengirim orang untuk mencariku karena dia pikir aku adalah anaknya."
Aira menatap mata Dewa dalam-dalam. Ada bagian dari dirinya yang ingin mempercayai ini. Karena jika ini adalah bohong, maka pernikahan mereka adalah sebuah lelucon besar.
Jika Dewa benar-benar orang kaya yang sedang menyamar, maka semua ketulusan yang Aira berikan terasa seperti dipermainkan.
"Tapi kenapa tadi dia bilang kamu 'Tuan Muda'?" tanya Aira lirih.
"Itu panggilan untuk mendiang putranya. Hans dan pengawal lainnya memang selalu memanggil putranya begitu. Karena aku mirip, mereka kadang terbawa suasana jika Nyonya sedang kumat," jawab Dewa lancar.
Aira menunduk. "Dan soal uang triliunan yang aku dengar semalam?"
Dewa tersenyum pahit, mengusap punggung tangan Aira. "Aira, kalau aku punya uang satu triliun, apa mungkin aku membiarkanmu makan mi instan dan tidur di kasur tipis begini? Aku hanya sedang melamunkan angka-angka besar yang sering dibicarakan bosku dulu. Itu hanya pelarian dari kenyataan pahitku, Sayang."
Air mata Aira jatuh. Ia memeluk Dewa erat-erat. "Maafkan aku, Mas. Maaf karena aku sempat meragukanmu. Aku hanya... aku hanya takut kamu bukan pria yang aku kenal."
Dewa membalas pelukan itu, membenamkan wajahnya di bahu Aira. Ia merasa seperti pecundang kelas teri. Ia baru saja menggunakan trauma ibunya dan kebohongan besar untuk menipu wanita yang begitu tulus mencintainya. Namun, ia tahu, identitasnya tidak boleh terbongkar sekarang. Belum saatnya.
Satu jam kemudian, saat Aira sedang berada di dapur menyiapkan air minum, ponsel rahasia Dewa bergetar di dalam sakunya. Sebuah pesan suara masuk. Dewa segera menuju teras belakang yang gelap untuk mendengarkannya.
Suara ibunya terdengar, tajam dan dingin, tanpa sedikit pun nada halusinasi.
"Dewa, beraninya kamu mempermalukan ibumu sendiri dan menyebut Mama gila di depan wanita kelas bawah itu! Kamu pikir Mama tidak tahu sandiwaramu? Kamu ingin menguji ketulusannya? Baiklah. Mama akan beri kamu waktu satu minggu."
Dewa menelan ludah, rahangnya mengeras.
"Dalam satu minggu, jika kamu tidak pulang ke Jakarta dan meninggalkan wanita itu, Mama sendiri yang akan meratakan rumah kontrakan kumuh itu dengan tanah. Mama akan memastikan ayah wanita itu bangkrut, dan istrimu tercinta akan tahu betapa jahatnya suami yang ia puja selama ini. Pulanglah, Dewa. Jangan paksa Mama menghancurkan mainan barumu."
Pesan itu berakhir dengan suara 'bip' yang panjang.
Dewa mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih. Ibunya tidak pernah main-main dengan ancamannya. Ia tahu Nyonya Widya bisa dengan mudah membeli tanah di gang ini dan menggusur semua orang dalam semalam hanya untuk memberi pelajaran padanya.
"Mas Dewa?" suara Aira memanggil dari dalam. "Ada apa di luar?"
Dewa segera mematikan ponselnya dan berbalik, memasang senyum terbaiknya. "Tidak ada apa-apa, Sayang. Hanya ada kucing liar lewat."
Ia melangkah masuk, menatap Aira yang kini sedang menuangkan air ke gelas plastik. Dewa menyadari bahwa waktu kedamaian mereka di gubuk ini tinggal menghitung hari.
Ia harus melakukan sesuatu. Ia harus melindungi Aira, namun di sisi lain, ia mulai jatuh cinta pada kehidupan sederhana ini, kehidupan di mana ia dicintai bukan karena apa yang ia miliki, tapi karena siapa dirinya.
Keesokan paginya, Aira mendapati Dewa sudah tidak ada di rumah. Di atas meja, ada sepucuk surat kecil. "*Aku pergi mencari kerja lembur di luar kota, mungkin beberapa hari. Jaga dirimu baik-baik*."
Namun, saat Aira keluar untuk membeli sayur, ia melihat sebuah buldozer besar sudah terparkir di mulut gang mereka, dengan beberapa orang berseragam perusahaan konstruksi milik keluarga Dewa yang mulai melakukan pengukuran tanah.
Ancaman Nyonya Widya bukan hanya gertakan, dan Aira kini berada tepat di jalur kehancuran yang diciptakan oleh keluarga suaminya sendiri.
...----------------...
**To Be Continue** .....