Lelah dengan kehidupan keras sebagai budak korporat di kota besar dan duka setelah kehilangan kedua orang tuanya, Lin Ye memutuskan untuk pulang ke Desa Qingshui, tempat kakeknya dulu tinggal.
Di sana, ia menemukan ladang dan rumah kakeknya yang sudah terbengkalai, kecuali sebatang pohon raksasa misterius di belakang rumah yang anehnya tetap subur dan hijau.
Saat tangan Lin Ye yang terluka menyentuh pohon tersebut, Sistem Warisan Alam yang terkunci sejak kematian kakeknya mendadak aktif, mengenali garis keturunannya sebagai pewaris sah.
Kini, dengan bantuan sistem yang memudahkan pekerjaan bertani dan kehadiran roh-roh alam fantasi, Lin Ye memulai kehidupan barunya yang santai namun penuh keajaiban untuk membangun kembali kejayaan ladang kakeknya, melawan intrik tetangga yang rakus, dan perlahan menjadi kaya raya di tengah kedamaian pedesaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Kukuruyuk.
Suara ayam jantan bersahutan dari kejauhan, menyambut sinar matahari pagi yang perlahan mengusir kabut di Desa Qingshui. Udara pagi terasa sangat segar, terutama di sekitar pekarangan rumah Lin Ye yang kini memiliki sirkulasi energi alam yang sangat kuat.
Lin Ye terbangun dengan perasaan sangat bugar. Tidak ada sedikit pun rasa pegal di bahu atau punggungnya, meskipun semalam dia melakukan pekerjaan fisik yang sangat berat di dalam tambang. Kejernihan pikirannya masih bertahan, membuat matanya langsung terbuka lebar tanpa rasa kantuk.
"Khasiat ikan energi itu benar-benar bukan main," batin Lin Ye sambil beranjak dari ranjang kayunya.
Dia berjalan menuju pintu belakang, membuka kuncinya, dan melangkah keluar menuju ladang. Saat matanya menangkap pemandangan di bawah Pohon Ajaib, napasnya sedikit tertahan.
Meskipun matahari sudah bersinar, tomat-tomat yang bergelantungan di dahan tanaman itu memancarkan cahaya merah kekuningan yang sangat hangat dan memikat. Ukurannya sebesar kepalan tangan orang dewasa, kulitnya sangat mulus tanpa cacat sedikit pun. Aroma manis dan segar yang menguar dari petak tanah itu membuat mulut siapa saja yang menciumnya akan berair.
Di sisi lain petak tersebut, daun-daun lobak yang lebar menjulang subur. Lin Ye mendekat dan berjongkok. Dia memegang pangkal daun salah satu lobak itu.
Srek.
Lin Ye menariknya dengan perlahan. Tanah yang gembur mempermudah proses pencabutan itu. Sebuah lobak berukuran sangat besar, panjangnya hampir mencapai siku Lin Ye, tercabut dari tanah. Permukaan lobak itu tidak berwarna putih kusam seperti lobak pada umumnya, melainkan putih bersih mengkilap seperti batu giok yang baru dipoles.
"Luar biasa. Aku tidak menyangka Bambu Pengembun Otomatis dan Pagar Angin akan mempercepat pertumbuhannya sampai sejauh ini. Ini adalah panen yang sangat sempurna," ucap Lin Ye dengan senyum lebar.
Dia segera bergerak mengambil keranjang bambunya dari gudang. Dengan hati-hati, Lin Ye mulai memetik tomat matahari terbit satu per satu. Setiap kali tangannya menyentuh kulit tomat tersebut, ada sensasi hangat yang menjalar, seolah buah itu menyimpan miniatur matahari di dalamnya. Total ada tiga puluh buah tomat kualitas premium yang berhasil dia panen pagi ini.
Setelah itu, dia mencabut sisa lobak putih gioknya. Ada sepuluh buah lobak raksasa yang berhasil dia kumpulkan. Keranjang bambunya kini penuh sesak dengan hasil bumi yang bernilai fantastis.
Brummm.
Suara deru mesin diesel yang sangat berat memecah keheningan pagi di jalan utama Desa Qingshui. Suara itu terlalu besar untuk ukuran traktor tangan atau bus tua desa.
Lin Ye mengalihkan pandangannya ke arah jalan depan. Di sana, sebuah truk boks pendingin berukuran sedang dengan logo Hotel Grand Yushan terlukis besar di sisi badannya sedang merayap pelan menyusuri jalan tanah yang sempit. Truk itu melaju perlahan, berusaha menghindari lubang dan batu besar agar muatannya tidak berguncang.
Kedatangan kendaraan asing yang mencolok itu kontan membuat warga desa geger. Beberapa ibu-ibu yang sedang mencuci piring di depan rumah menghentikan aktivitasnya. Anak-anak kecil berlarian mengikuti truk tersebut dari belakang.
Di pekarangan rumahnya, Zhao He sedang bersiap berangkat ke ladang jagung saat dia melihat truk itu mendekati rumah Lin Ye.
"Truk pendingin dari hotel bintang lima? Anak itu benar-benar tidak berbohong. Dia betul-betul punya koneksi orang besar di kota," gumam Zhao He sambil menelan ludah. Dia merasa sangat bersyukur karena sudah menyerah dan berdamai dengan Lin Ye. Jika dia masih mencari masalah, dia mungkin akan berhadapan dengan orang-orang berkuasa yang menyokong pemuda itu.
Truk boks itu akhirnya berhenti tepat di depan gerbang kayu Lin Ye yang baru diperbaiki. Pintu pengemudi terbuka, dan Paman Chen, pengawal berjas hitam yang menemani Tang Wanjin tempo hari, melompat turun. Hari ini dia mengenakan kemeja rapi yang digulung sebatas siku.
"Selamat pagi, Tuan Lin. Saya ditugaskan oleh Direktur Tang untuk mengambil panen pertama sesuai kontrak kita," sapa Paman Chen dengan nada yang sangat sopan dari luar pagar.
"Selamat pagi, Paman Chen. Anda datang tepat waktu. Silakan masuk, barangnya sudah saya kumpulkan di halaman belakang," jawab Lin Ye sambil membuka gerbang lebar-lebar.
Beberapa warga desa mulai berkerumun dalam jarak yang aman, berbisik-bisik melihat interaksi tersebut. Kepala Desa Wang yang kebetulan sedang berjalan menuju balai desa juga menghentikan langkahnya dan bergabung dengan kerumunan warga, matanya menyipit penuh rasa penasaran.
Paman Chen menginstruksikan asisten supirnya untuk membawa sebuah timbangan digital portabel berukuran besar dan beberapa keranjang plastik tebal ke dalam halaman Lin Ye.
Saat Paman Chen tiba di halaman belakang dan matanya menangkap keranjang bambu milik Lin Ye, langkah kakinya terhenti secara tiba-tiba.
"Ya Tuhan. Aroma ini..." Paman Chen bergumam tanpa sadar. Dia berjalan cepat mendekati keranjang bambu tersebut.
"Ini adalah tomat matahari terbit dan lobak putih giok. Saya baru saja memanennya sepuluh menit yang lalu, masih sangat segar," Lin Ye menjelaskan dengan tenang.
Paman Chen mengambil satu buah tomat dan mengamatinya dengan sangat teliti. Dia adalah orang kepercayaan Tang Wanjin, dia sudah sering menginspeksi bahan makanan mewah dari berbagai provinsi. Namun, tomat di tangannya ini benar-benar di luar akal sehat. Beratnya padat, suhunya hangat, dan wanginya sangat menggugah selera. Dia lalu beralih melihat lobak raksasa yang tampak seperti ukiran batu pualam.
"Direktur Tang sama sekali tidak melebih-lebihkan ceritanya. Ini adalah kualitas sayuran tingkat dewa. Koki eksekutif kami akan menangis bahagia melihat bahan baku seperti ini, Tuan Lin," kata Paman Chen, nada suaranya penuh dengan rasa hormat yang tulus.
"Saya senang jika produk saya bisa memenuhi standar tinggi hotel Anda. Mari kita hitung jumlahnya agar Anda bisa segera kembali ke kota," balas Lin Ye profesional.
"Tentu saja. Tiga puluh buah tomat premium dan sepuluh buah lobak raksasa," Paman Chen menghitung dengan cepat dan mencatatnya di papan jalannya.
"Sesuai arahan Direktur Tang, tomat kualitas ini kami hargai tiga ratus yuan per buah, dan lobak raksasa ini karena ukuran dan kepadatannya, kami hargai lima ratus yuan per buah. Apakah Anda setuju dengan valuasi tersebut, Tuan Lin?" tanya Paman Chen.
"Tiga ratus untuk tomat dan lima ratus untuk lobak. Itu harga yang sangat adil untuk awal kerja sama kita. Saya setuju," jawab Lin Ye tanpa ragu.
Di dalam kepalanya, dia sudah mengalikan angka tersebut. Sembilan ribu yuan dari tomat, dan lima ribu yuan dari lobak. Total empat belas ribu yuan dalam satu kali panen. Ini adalah angka yang sangat fantastis.