Larasati, gadis desa sederhana, percaya bahwa pernikahannya dengan Reza Adiguna akan membawa kebahagiaan. Namun semua harapan itu hancur di hari ia melahirkan—anaknya direbut, dirinya diceraikan, dan ia dicampakkan tanpa sempat memeluk buah hatinya.
Sendiri dan hancur, Larasati berjuang bertahan hidup di tengah kota yang asing. Hingga takdir mempertemukannya dengan Hajoon Albra Brajamusti, pria yang dulu pernah dikenalnya tanpa sengaja.
Dengan keberanian yang tumbuh dari luka, Larasati menyamar sebagai ibu susu demi bisa dekat dengan anaknya kembali.
Di tengah perjuangannya, hadir perasaan yang tak pernah ia duga.
Apakah Larasati sanggup merebut kembali anaknya sekaligus menemukan arti cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Sopan! 28
"Jadi kamu harus balik ke Semarang gitu, Ras?" tanya Brigita setelah mendengar cerita Laras.
"Iya Bu, soalnya makam bapak amblas. Saya harus pulang untuk memperbaikinya. Kalau tidak segera, takutnya semakin rusak,"jawab Laras.
"Kalau gitu pakai mobil aja. Bawa Pak Jarwo bersama kamu Ras. Malah akan lebih memudahkan kamu nanti mobile di sana,"sahut Hwan.
Brigita juga setuju dengan ucapan suaminya. Dari pada kelamaan mencari tiket bus ataupun kereta, lebih baik membawa mobil sendiri. Akan lebih menyingkat waktu dan Laras juga bisa menggunakan mobil itu untuk wira-wiri nantinya.
"Baiklah kalau begitu Bu, Pak. Saya tidak akan menolak tawaran Ibu dan Bapak. Kalau begitu saya langsung pamit saja. Soalnya saya harus mampir juga ke tempat Elio untuk memberikan ASIP ini,"jawab Laras sambil berpamitan.
Hwan dan Brigita mengantarkan Laras. Tak lupa mereka juga menitipkan Laras kepada Pak Jarwo. Hwan memberi perintah pasti kepada Pak Jarwo agar selalu mendampingin Laras ketika berada di kampung halaman wanita itu.
Mobil melaju dengan cepat. Seperti rencana Laras sebelumnya, bahwa dia akan mampir ke rumah Elio dulu untuk memberikan stok ASIP. Sebenarnya berat bagi Laras untuk meninggalkan Elio, namun sebagai anak dia juga tidak bisa mengabaikan tentang orang tuanya.
"Pak Jarwo sini aja ya, nanti saya cuma sebentar kok. Cuma mau ngasihin ini,"ucap Laras sambil memasang cadarnya.
"Iya Non, nggak apa-apa. Nggak usah keburu-buru,"jawab Pak Jarwo yang merupakan supir keluarga Brajamusti.
Laras mengangguk kecil, dia segera turun dari mobil sambil membawa cooler bag yang berisi lumayan banyak kantong ASIP.
Sesampainya di depan rumah keluarga Adiguna, ternyata Laras tak perlu mengetuk pintu. Pasalnya ada Ani di halaman yang sedang bersama dengan Elio. Wajah Laras langsung riang dan senyum mengembang lebar. Akan tetapi senyum itu langsung sirna ketika Reza muncul di hadapannya.
"Lho Mbak Saras, tumben pagi sekali ke sini nya. Biasanya agak siangan?" ucap Reza ramah.
Namun keramahan Reza itu membuat Laras merasa kesal. Terlebih wajah Reza yang tersenyum itu, malah membuat Laras merasa sangat jijik sekarang. Segala kenangan tentang pria tersebut membuatnya tak ingin berlama-lama melihat wajahnya. Kenangan yang indah namun ternyata racun yang sangat mematikan.
"Oh iya Pak, kebetulan ada Pak Reza. Saya mau izin libur untuk beberapa hari. Lalu ini~"
"Eh mau kemana emangnya?Terus Elio gimana? Ah maaf aku nggak bermaksud nahan atau kepo sama urusan kamu."
Belum selesai Laras bicara, Reza sudah memotong ucapan. Laras merasa kesal sebenarnya, tapi dia harus menahannya dengan baik. Jika tidak, bisa saja akan membuat Reza tahu siapa dirinya.
"Begini, saya ada urusan yang sangat urgent di kampung halaman saya. Dimana saya harus pulang untuk mengurusnya. Pak Reza tenang saja, untuk susu Elio tak perlu dikhawatirkan. Ini saya bawakan stok susu yang sudah saya kira-kira akan cukup selama saya pergi,"jawab Laras sambil memberikan cooler bag yang dibawanya kepada Reza.
Sebenarnya Laras enggan sekali berurusan dengan Reza. Bahkan tadi dia berpikir hanya akan memberikan cooler bag itu kepada Ani dan berpesan kepada Ani tentang acara liburnya. Namun siapa sangka pria itu malah muncul.
Dan yang membuat Laras merasa aneh adalah tatapan Reza yang ditujukkan padanya. Sorot mata Reza penuh dengan rasa penasaran terhadapnya. Laras pun segera mengalihkan pandangannya. Dia memilih untuk mendekati Elio dan menggendong putranya meski hanya sejenak.
"Ibu tinggal bentar ya sayang, jangan rewel oke,"ucap Laras dalam hati ketika menggendong Elio.
"Mbak Ani, maaf ya aku harus pergi bentar. Tapi aku jamin stok ASIP nya cukup. Kalau dirasa kurang nanti ke rumah tante aku aja, aku masih simpen beberapa di sana,"ucap Laras kepada Ani.
"Iya Mbak Saras, siap laksanakan heheh,"jawan Ani. Dia kembali mengambil Elio dari gendongan Laras karena Laras sudah bersiap akan pergi.
"Kalau begitu saya permisi Pak Reza, tolong sampaikan kepada Bu Eva kalau saya libur beberapa hari. Tapi saya akan usahakan cepet untuk kembali."
Setelah berkata demikian, Laras melenggang pergi meninggalkan halaman kediaman Adiguna. Dia tidak menunggu jawaban dari Reza karena itu tidak penting baginya.
Namun saat hendak masuk ke mobil, tiba-tiba tangan Laras di tahan oleh Reza. Sontak Laras terkejut sampai-sampai dia menampik tangan Reza dengan galak.
"Apa yang Bapak lakukan?" pekik Laras. Ucapan Laras yang sedikit keras sampai membuat Pak Jarwo terjingkat. Pria berusia empat puluh tahunan itu langsung melihat ke arah belakang.
"Kenapa Non?" tanya Pak Jarwo. Dia hendak turun tapi oleh Laras di larang.
"Nggak apa-apa Pak. Pak Jarwo di situ aja. Kita udah mau berangkat kok. Dan Pak Reza, apa yang Bapak lakukan tadi. Perlakuan Anda cukup tidak sopan,"ucap Laras dengan tatapan yang tajam.
"Ah maaf. Saya nggak ada maksud bersikap tidak sopan ke kamu. Hanya saja, entah mengapa aku kayak udah kenal kamu. Apa kita pernah ketemu sebelumnya?"
Degh!
Jantung Laras berdegup kencang. Wajahnya seketika menjadi pucat. Tapi Laras bersyukur karena Reza tak bisa melihat itu sebab cadarnya.
Laras sungguh gugup dan gelisah. Namun sebisa mungkin dia bersikap tenang.
"Tidak, saya tidak pernah bertemu Pak Reza sebelumnya. Pertemuan kita di rumah Bapak adalah pertemuan pertama kita. Mungkin Bapak salah orang. Atau mungkin orang yang Bapak kenal itu cuma mirip dengan saya,"jawab Laras dengan berusaha untuk tenang.
"Ah ya, mungkin begitu. Maaf sekali lagi ya Mbak Saras. Saya bener-bener nggak sengaja. Ah iy, boleh minta nomornya. Siapa tahu saya butuh untuk Elio,"balas Reza.
"Bapak bisa bertanya lewat Bu Eva. Beliau punya nomor saya kok. Dan maaf, saya harus pergi. Permisi."
Blak!
Laras langsung menutup pintu mobilnya. Dia juga segera meminta Pak Jarwo untuk menyalakan mobil dan bergegas pergi dari tempat itu. Semakin lama di sana, Laras merasa akan semakin tidak nyaman karena ulah Reza.
"Apa aku udah ketahuan? Nggak, nggak mungkin. Dia nggak mungkin udah ngenalin aku. Ayo tenang Laras, dia cuma penasaran aja. Ya cuma itu."
Laras menenangkan dan meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja. Dia harus bertahan hingga Hajoon kembali.
Sedangkan Reza, pria itu masih berdiri di tempatnya sambil melihat mobil yang ditumpangi Laras menjauh. Reza masih belum melepaskan pandangannya ke arah mobil itu.
"Perasaan familiar apa ini?"ucapnya sambil menggenggam tangannya yang tadi sempat menyentuh tangan Laras.
TBC