NovelToon NovelToon
AndaiKata

AndaiKata

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Slice of Life
Popularitas:207
Nilai: 5
Nama Author: Elegi223

Qirana Velaryne Azzahra atau bisa kalian panggil gua rana/Luna Mahasiswa dari kampus swasta biasa, Gadis cantik harapan orang tua, itu sulit buat merealisasikannya, ketika gua beranjak dewasa, banyak hal yang gua sesali, terutama masa kecil gua, mungkin andai kata gua bisa balik ke masa itu, mungkin gua bisa merubah sedikit takdir gua, andai gua ngungkapin perasaan gua sejak dulu, pasti cowok yang gua suka bakal jadi pacar gua saat ini, andai gua fokus bangun diri gua, terutama bakat utama gua di bidang seni lukis, mungkin gua akan ada penghasilan tambahan, kenapa gua nggak bisa mewujudkan semua itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elegi223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Kakak-Kakak Gua sakit??

Waktu berlalu bergitu cepat hingga tak terasa Gua sudah menginjak ujia 8 tahun, kini Gua tengah menikmati sinar matahari terik bersinar memancarkan cahaya, membakar semangat pagi yang membara, bermain di taman yang tak jauh dari rumah, Gua bermain bersama Kuro dan Teddy, sambil menunggu Yura, Alvin dan juga Erin, rumah Erin tidak jauh dari sini, cuma beda lorong, rahasia yang selama ini Gua simpan dengan rapih, Kuro dan Teddy hanya Gua aja yang tau, tapi yang Gua heran dan juga bingung teman imajinasi Gua ini hanya Gua aja yang bisa liat, mereka nggak bisa. Itu terjadi saat Bunda tidak sengaja masuk ke kamar saat Kuro dan Teddy keluar dari kertas, Gua saat itu panik setengah mati tapi herannya Ibu tidak melihat Mereka sama sekali.

Pertemanan Gua semakin solid, Awalnya Erin dan Yura sering sekali berseteru sebab mereka ini ibarat api dan air nggak bisa bersatu tapi seminggu kemudian tiba-tiba akrab ini yang membuat Gua heran dari mereka berdua. Gua ngerti kenapa Erin nggak punya teman ia ternyata dikucilkan karna matanya yang aneh padahal menurut Gua mata ini sangat indah, tapi mereka berdua ini tidak ada di kehidupan Gua sebelumnya dan kenapa mata mereka seperti familiar, persis seperti yang ada di lukisan Gua berjudul "LEGENDA".

Suara keras Yura menggema seperti sound horeg berjalan " QIRANA.... TUNGGU KAMI.... KAMU KOK MAIN SENDIRI"ucap Yura, Gua menoleh ke arah sumber suara, di belakang Yura, Gua liat Alvin menutup telinganya dengan kedua jari telunjuknya, berbeda dengan Erin yang sambil komat kamit nggak jelas,

"astaga Yura! kau membuat telinga kami rusak tau!"ucap Erin dengan nada suara yang ketus, Erin mendekat, lalu melihat gambaran yang saat ini Gua kerjakan terlihat abstrak namun berkelas lalu ia mengeluarkan sesuatu pada tas ransel yang tertengger di punggungnya, ia mengeluarkan beberapa buku, mata Gua berbinar melihat buku-buku yang di keluarkan oleh Erin, buku-buku ini adalah hasil dari Perpustakaan kakeknya yang di simpan di loteng selama bertahun-tahun.

Ia berkata dengan malu-malu "lana.... buku ini kan yang kamu mau nggak?"ucap pelan Erin, tanpa basa basi Gua memeluk erat Erin layaknya sahabat yang saling menyayangi, Erin membalas pelukan Gua dengan malu-malu, Kami berempat belajar bersama, untuk persiapan hari pertama, mulai dari pelajaran berhitung, Kami bertiga kecuali Yura, termasuk anak-anak cerdas untuk anak seusia kami, namun dari ketiga orang tersebut Erin adalah teman yang bisa di ajak berbicara pemikirannya itu yang buat Gua salut untuk anak seusianya. Dia selalu menempel pada Gua entah sejak kapan yang Gua salut sama dia tuh soal pengaturan dia terhadap Gua baik itu makanan ataupun apapun itu ia selalu mewaspadai siapapun yang baru masuk dalam lingkaran pertemanan kami. Walaupun terkesan remeh tapi itu akan jadi modal untuk jadi asistent Gua di masa depan.

Gua bersama dengan Erin membaca buku yang ia bawa, buku itu cuma sejarah Dunia saja kalo nanti baca buku filsafat nanti malah mereka yang nggak ngerti. Berbeda dengan Yura yang tengah asik berlarian kesana kemari bersama dengan Alvin yang di paksa ikut-ikutan, Yura memperhatikan Gua dan Erin tengah asik membaca, senyum jahil tersungging di bibirnya, ia mendekat lalu mengambil buku yang kami baca, lalu berlari, kekesalan Gua memuncak lalu berlari mengejar Yura di ikuti Erin yang membantu, terjadilah aksi kejar-kejaran, sampai Gua berhasil mengangkap Yura lalu memarahinya habis-habisan, Yura cuma bisa cengir tanpa dosa, ia sudah terbiasa akan kemarahan Gua, Alvin disitu tertawa terbahak-bahak merasa puas di wakilkan perasaannya oleh Gua, Erin mendekat kemudian berusaha menenangkanku.

Setelah memarahi Yura habi-habisan, kami akhirnya bermain bersama-sama, bercerita satu sama lain membicarakan rencana untuk masa depan bersama, sampai membicarakan hal-hal di luar topik, tak terasa waktu sore hari kami pulang berpisah di lorong Erin pulang di lorong yang tak jauh dari lorong rumah kami, kemudian Alvin, begitu pula terakhir Yura, sesampainya di rumah, kakak Viera sudah menunggu Gua dengan ekspresi garang, ia menatap Gua dengan tatapan tajam lalu berkata

"lana! dari mana aja kamu! ini sudah sore tau Bunda nyari in kamu keliling komplek"ucap Viera kakak perempuan Gua yang umurnya 3 tahun di atas Gua saat ini kakak ku bersekolah di sd yang sama seperti Gua, ia termasuk murid cerdas di sekolahnya, cukup populer di kalangan murid dan orang tua wali.

Gua cuma nyengir doang, mana bisa lawan kakak Gua yang ganas ini, lalu memeluknya sambil berkata "hehe maaf kak lana keasikan main sama temen, terus baca buku ini"ucap Gua sambil menunjukan buku yang di bawa oleh Erin.

ia melirik buku Gua, terlihat judul buku 'Sejarah Dunia', ia penasaran lalu mengambil buku tersebut dari tangan Gua kemudian membaca, ekspresinya terlihat berubah-ubah, kadang mengerutkan keningnya, kadang matanya melotot tak percaya, ia kemudian menetralkan perasaanya lalu berkata

"tetap aja kamu nggak boleh pulang terlambat, lain kali pulang tepat waktu ya"ucapnya balas memeluk lalu mencium seluruh wajah Gua, tawa renyah menghiasi rumah sederhana, di iringi langit sore, menciptakan kesan 'senja'.

Gua sudah bisa membaca sejak umur 4 tahun Ibu tentu kaget melihat anaknya membaca buku di umur segitu namun ia justru bangga bahkan sering membandingkan Gua dengan anak-anak tetangga lain. hal ini membuat Gua bangga sebab Ibu tidak pernah sepamer ini dengan siapapun.

Langkah kaki cepat terdengar jelas di telinga Gua, suara tersebut semakin jelas ketika suara lembut memanggil Gua "sayang kamu udah pulang? yuk masuk Bunda sudah siapin camilan buat kamu"ucap Ibu,  tepat sekali itu suara yang sudah Gua rindukan, Gua menoleh lalu tersenyum lembut dan berkata

"iya Bunda, maafin lana bundah pulang telat"ucap Gua, kepala Gua menunduk menyembunyikan raut wajah ku yang sedih, Bunda tersenyum lalu mengelus pucuk kepala Gua lalu berkata

"udah... Bunda nggak masalah kok, asal kamu pulang selamat di rumah"ucap lembut Ibu, tak lupa mengelus pucuk kepala kakak pertamaku, perasaan Gua seketika berguncang, perasaan yang nyaman sekaligus haru. Tak terasa air mata mengalir menangis dalam dekapan ibu, itu terasa nyaman, rasa aman yang sangat Gua rindukan selama belasan tahun.

***

Setelah drama keluarga hari yang Gua tunggu akhirnya tiba, hari pertama sekolah di sekolah yang sama seperti kak Viera, bukan hanya dia ada juga kak Kaylo dan kak Liam yang entah kenapa mereka ikutan. Kecerdasan Gua hanya sebatas anak TK, Gua tentu tidak mau mencolok nanti bisa berakhir di meja eksperimen itu menakutkan.

Satu minggu sebelum Gua masuk sekolah kakak-kakak Gua sakit demam tinggi. Awalnya Gua kira itu cuma sakit biasa tapi ini sudah lebih dari tiga hari. Gua merasa aneh padahal kejadian ini tidak terjadi di kehidupan sebelumnya, apakah ini butterfly efek? tapi kenapa harus mereka! selama 5 hari penuh aku merawat mereka berdua, kak Kaylo dan kak Liam tentu di bantu kakak pertama Gua yaitu kak Viera. namun aku merasa kak Viera semakin dewasa di bandingkan anak seusianya.

Setelah kejadian tersebut Gua melihat kak Kaylo yang semakin aneh, ia terus terusan berlatih gerakan muay thai namun gerakannya masih labil sampai tangannya bengkak dan berdarah, begitu juga dengan kak Liam, ekspresi kak Liam yang aneh menatap Gua dengan beragam ekspresi, tapi aku bersyukur mereka akhirnya bisa sehat kembali.

Hari pertama sekolah SD Gua dimulai, tak lupa membawa Kuro dan Teddy, tentunya mereka harus di bawa, tak lupa dengan kuas favorit Gua yang di beli oleh Bunda hadiah ulang tahun Gua yang ke 7 tahun, kak Viera datang tak lupa dengan tas merah jambu yang bertengger di punggungnya, di belakangnya ada kak Kaylo dan kak Liam,

"udah siap dek, yu kita pergi bareng"ucap kak Viera sambil menggandeng lengan kiri Gua, di ikuti oleh kedua kakak laki-laki Gua, kami pergi ke sekolah menggunakan sepeda pemberian Bunda, semenjak kedatangan Gua di kehidupan ini, ibu selalu bekerja, tak pernah kenal lelah, terlihat wajah cantik yang rapuh di terpa lelah, ia membelikan 2 sepeda untuk kami meskipun bukan sepeda baru,

kami pamit pergi kesekolah tak lupa mencium tangan ibu sebagai adab dalam berpamitan, Di depan rumah ada Yura, Alvin dan Erin, Mereka sudah siap dengan sepeda mereka masing-masing, kak Viera mendekat sambil membonceng Gua di belakang tempat duduk sepedanya,

"Ayo berangkat entar kita telat"ucap Gua menoleh ke arah belakang dengan suara sedikit keras agar bisa di dengar oleh mereka, kami berangkat dengan formasi, Gua di depan ama kak Viera, Yura di belakang  Gua, ada Alvin di belakang Yura, Kak Kaylo di belakang Alvin, Erin di belakang kak Kaylo, terakhir ada kak Liam du urutan paling belakang. Angin sejuk pagi menerpa wajah ku, terasa damai tanpa pikiran yang mengganggu,

"senang nya terbebas dari neraka kuliah, dulu Gua rasa hal seperti ini mimpi, dan sekarang terjadi secara nyata"

ucap Gua dalam hati sambil memejamkan mata menghirup aroma khas di pagi hari, di jalanan terlihat berbagai macam hal dan kondisi yang tak terjelaskan, namun dibalik misteri tersebut, kerja sama antar manusia terjalin ibarat rantai yang saling bahu membahu, jalanan kota Palembang sangat lah ramai, pengendara motor maupun mobil saling bertautan, cacian, makian pengendara bagai musik penenang di pagi hari, sesampai di lorong parkiran sepeda sekolah terlihat SD dengan papan bertulis "Kusuma Bangsa" terhias indah di gerbang sekolah tersebut, tak lupa mengunci sepeda kami, mencegah kejadian tak di inginkan.

Yura menatap bangunan sekolah dengan mata yang memancarkan rasa kagum yang tak terlukiskan, ia berseru

"Wow sekolah ini nggak main-main, bangunannya tinggi banget!"ucapnya sambil mata dan kepalanya menoleh kesana-kemari, kak Viera terkekeh ia kemudian mengajak kami masuk, tak lupa menyapa satpam sekolah dengan ramah, berkata

"Selamat pagi pak"ucap kami serempak, Satpam sekolah yang biasa orang kenal Pak Asep, tersenyum ramah lalu berkata

"selamat pagi non, den, masuk atuh entar telat dimarain"ucapnya dengan nada khas orang sunda, Kak Viera masuk tak lupa mengucapkan terimakasih pada pak Asep kemudian masuk, kami berpisah di koridor sekolah, kelas kakak ku berada di lantai ketiga, sekolah ini berlantai 4 di lantai pertama terdapat ruangan guru, ruang uks, kantin sekolah, dan kelas 1A,1B,1C, dan 1D, di setiap kelas terdiri dari 38 murid, untuk kelas 2 sama seperti kelas 1 urutannya A, B, C,dan D begitupun seterusnya untuk kelas 3 sampai kelas 6,

nyahoo makasih udah baca cerita ku semoga kalian suka yak MUACHH

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!