NovelToon NovelToon
SUAMI SEWAANKU SANG MAFIA PENGUASA

SUAMI SEWAANKU SANG MAFIA PENGUASA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Perjodohan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Orang_Cuman_Cerita

Demi menghindari perjodohan gila dengan rentenir tua pilihan ibu tirinya, Alana nekat menyewa seorang pria asing di pinggir jalan untuk menjadi suami pura-puranya dengan bayaran 5 juta sebulan. Pria itu tampak seperti pengangguran tampan yang sedang butuh tempat sembunyi.

​Alana bekerja keras siang malam untuk menghidupi "suami miskinnya" itu. Ia bahkan rela membelikan pria itu kemeja obralan agar terlihat rapi saat menemaninya.

​Namun, Alana tidak pernah tahu bahwa pria yang setiap malam tidur di sofa sempit apartemennya adalah Xander, pemimpin kartel mafia paling ditakuti sekaligus CEO triliuner yang kekayaannya tak berseri. Saat keluarga tiri Alana mencoba menginjak-injak hidup gadis itu, mereka tidak sadar bahwa mereka telah membangunkan iblis kejam yang sedang menyamar.

​"Siapa pun yang berani menyentuh milikku, bersiaplah kehilangan nyawa." — Xander.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Terperangkap di Ujung Dunia

Pengakuan Dante meluncur layaknya bom waktu di tengah ruangan bawah tanah yang sedingin es. Mata obsidian Xander menyipit tajam. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia mengangkat pergelangan tangannya, mengaktifkan komunikator taktis yang terhubung ke frekuensi jet Aegis Two.

​"Pilot, status laporan! Mulai sekuens lepas landas darurat sekarang juga!" perintah Xander, suaranya menggema tegas memantul di dinding beton berkarat.

​Hanya ada suara desis statis dari ujung komunikator.

​"Pilot! Jawab aku!" geram Xander, urat-urat di lehernya menegang.

​"Tuan... m-mereka di sini! Ada terlalu ba—" Suara sang pilot terputus oleh dentuman ledakan yang menggelegar dari dalam komunikator, disusul oleh suara gemuruh logam yang koyak dan jeritan parau. Setelah itu, hanya tersisa keheningan maut yang memekakkan telinga.

​Bahkan dari jarak beberapa ratus meter, getaran ledakan itu terasa hingga ke telapak kaki mereka di dalam bunker. Alana tersentak mundur, tangannya refleks meremas ujung mantel tebal Xander. Jet mutakhir seharga ratusan juta dolar itu—satu-satunya tiket pulang mereka dari neraka Siberia—baru saja hancur berkeping-keping.

​"Sialan," umpat salah satu komando elit, mencengkeram senapannya erat-erat. "Tuan Besar, kita terdampar."

​Xander menoleh perlahan, tatapannya tidak menunjukkan sedikit pun kepanikan. Sebagai seorang raja mafia yang telah melewati ratusan pertempuran mematikan, pikirannya bekerja sepuluh kali lebih cepat di bawah tekanan ekstrem.

​"Bantu Dante berdiri," perintah Xander dengan suara yang membekukan darah, jauh lebih dingin dari badai di luar.

​Dua prajurit dengan sigap memapah tubuh besar Dante yang tertatih.

​"Volkov mungkin mengira ledakan itu akan mematahkan mental kita. Dia salah. Kita tidak akan mati membeku di tanah ini," ucap Xander absolut. Pria itu lalu beralih menatap Alana. Ia melepaskan syal tebal dari lehernya dan melilitkannya ke leher istrinya, merapatkan kerah mantel Alana untuk menahan hawa es yang semakin brutal.

​"Jet kita sudah tiada, Xander. Apa yang akan kita lakukan sekarang?" bisik Alana. Meski suaranya bergetar karena hawa dingin, sorot matanya tetap memancarkan keberanian yang teguh.

​"Kita bergerak ke utara," jawab Xander pasti. "Ada pangkalan kapal selam nuklir non-aktif di pesisir Laut Laptev, sekitar dua puluh kilometer dari sini. Klan Leonidas pernah membeli jalur rahasia di sana tiga tahun lalu. Jika kita bisa mencapai fasilitas itu, Elena bisa meretas sistem satelit lama dan mengirimkan bala bantuan."

​"Dua puluh kilometer menembus badai salju dengan pasukan musuh yang mengejar... itu bunuh diri, Tuan," desis Dante, menahan rintihan sakit dari tulang keringnya yang retak. "Tinggalkan aku. Aku hanya akan menjadi beban bagi Nyonya Alana dan kalian semua."

​Xander melangkah mendekat, mencengkeram kerah baju Dante, dan menatap wajah tangan kanannya itu dengan kemurkaan persaudaraan.

​"Aku tidak terbang melintasi benua dan menembus badai salju hanya untuk meninggalkanmu mati sebagai umpan, Dante," desis Xander tajam. "Kau pulang bersamaku, atau kita semua mati di tanah ini. Mengerti?"

​Dante menelan ludah, menunduk hormat dengan mata lelahnya yang berkaca-kaca. "Mengerti, Tuan Besar."

​"Bergerak!" komando Xander.

​Mereka menerobos keluar dari bunker tua itu. Badai salju di luar ternyata mengamuk semakin ganas. Jarak pandang kini kurang dari lima meter. Namun, dari arah selatan tempat jet mereka hancur, terlihat semburat cahaya merah dari kobaran api yang menyala kontras menembus kegelapan malam.

​Di bawah pendaran cahaya api itu, Alana yang masih mengenakan kacamata termalnya mendadak mematung. Melalui lensa birunya, ia melihat puluhan titik panas menyala benderang, bergerak sangat cepat ke arah mereka menembus barisan pohon pinus. Mereka tidak berjalan kaki.

​"Xander! Pasukan bermotor dari arah jam enam!" jerit Alana, menarik pistol Sig Sauer dari pinggangnya.

​Suara deru mesin snowmobile taktis pembelah salju mulai terdengar jelas, menenggelamkan lolongan angin malam. Perburuan hidup dan mati di atas hamparan salju Siberia baru saja dimulai.

​(Bersambung...)

1
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
Orang_Cuman_Cerita: Lagi Proses Kak 👍
total 1 replies
Anonim
Lanjutkan 👍
Orang_Cuman_Cerita
Sukakan?💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!