Davika Ovwua Mwohan adalah siswi kelas 3 SMA yang tidak hanya berpenampilan memikat layaknya boneka hidup dengan tubuh *gitar spanyol* yang seksi, tetapi juga memiliki kepribadian paling random dan kocak di antara teman-temannya. Di balik tingkah ajaibnya, Clara adalah koki andalan rumah yang jago menyulap segala jenis masakan mulai dari jajanan pasar hingga kuliner barat menjadi hidangan favorit keluarga, teman, hingga tetangga.
Keseharian Clara dipenuhi dinamika hubungan persaudaraan yang seru dan penuh warna. Ia terlibat hubungan ala "Tom and Jerry" dengan kakak pertamanya, Mas Gara, pria cuek dan berotot yang selalu bersedia menjadi ATM berjalan demi menuruti hobi makan dan tingkah acak Clara. Sementara itu, Mbak Nara, kakak keduanya yang cantik dan manis, turut melengkapi kehangatan dan keseruan lika-liku kehidupan masa muda Clara di dalam keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aliansi di Bawah Pendar Neon
Gus Zayyad masih mematung di atas kursi besi teras swalayan, menatap bayangan dirinya sendiri pada pantulan dinding kaca toko yang bersih. Rona liptint peach yang menyatu alami di bibirnya, dipadukan dengan gaya rambut comma hair yang bervolume, benar-benar mengubur identitasnya sebagai putra mahkota Al-Anwar yang ditakuti di dunia logistik.
"Davika..." suara bariton Zayyad terdengar lebih rendah dari biasanya, ada nada canggung yang tertahan di sana. "Jika ada satu saja santri atau dewan pengasuh pesantren yang melihat saya dengan penampilan seperti ini, pernikahan kakakmu tidak akan batal karena Kamil, tapi karena saya kehilangan muruah."
Davika justru mendengus geli, mengemas kembali kuas dan stoples cushion kecilnya ke dalam dompet kosmetik dengan gerakan yang sangat gesit. Sifat humorisnya yang sempat lumpuh akibat aksi kejar-kejaran tadi kini mulai merangkak naik ke permukaan.
"Muruah itu nomor dua, Gus. Yang nomor satu itu selamat dari kejaran om-om berjas dan pak polisi," sahut Davika ceriwis, sambil melirik jam digital di layar ponselnya. Pukul sembilan malam lewat sepuluh menit. "Lagian, coba lihat sisi positifnya. Dengan muka kayak begini, kalau kita kehabisan ongkos bensin, Gus tinggal berdiri di pinggir jalan raya, pasti langsung ada agensi hiburan yang nawarin kontrak kerja."
Zayyad hanya bisa mengembuskan napas pasrah, meskipun sudut bibirnya yang dilapisi perona tipis itu berkedut menahan senyum tipis yang langka. Ia berdiri, merapikan kemeja hitamnya yang kini terasa lebih longgar karena balutan perban berpita imut buatan Davika di balik kainnya. Tubuh tegapnya kembali mendominasi, namun kali ini dengan aura yang sepenuhnya berbeda seperti seorang selebriti internasional yang sedang menyamar di pinggiran kota.
"Sekarang, ke mana kita akan pergi?" tanya Zayyad, matanya memindai halaman parkir swalayan yang mulai sepi. "Kita tidak bisa kembali ke hotel, dan rumah keluargamu kemungkinan besar sudah dipetakan oleh orang-orang Kamil."
Davika terdiam sejenak. Rambut hitam lurus barunya bergoyang tipis ditiup angin malam yang membawa hawa dingin sisa hujan. Mata green-gray miliknya menatap tajam ke arah motor balap hitam Mas Gara yang terparkir manis di bawah lampu merkuri.
"Kita ke pelabuhan lama di ujung utara kota," ujar Davika, nadanya mendadak berubah serius dan berkelas, selaras dengan tweed jacket bersiluet tegas yang dikenakannya. "Di sana ada gudang kontainer tua milik teman lama Mas Gara yang sering dipakai buat nyimpen onderdil motor balap. Tempatnya terpencil, tertutup, dan punya banyak jalur pelarian kalau-kalau kita terdesak lagi. Dan yang paling penting... di sana ada sinyal pemancar satelit yang kuat. Davik perlu hubungi Mas Gara begitu burung besinya mendarat di Shanghai."
Zayyad menatap gadis remaja di hadapannya dengan pandangan yang kian mendalam. Di balik tabiatnya yang random, kocak, dan terkadang bertindak tanpa pikir panjang, Davika memiliki insting bertahan hidup dan pemetaan taktis yang luar biasa genius untuk ukuran anak seusianya.
"Baik," Zayyad mengangguk setuju, melangkah mendekati motor sport tersebut. "Tapi kali ini, biar saya yang pegang kemudi. Luka saya sudah mendingan setelah kamu obati, dan saya tidak mau mati muda karena dengkul saya harus mencium aspal basah lagi."
Davika mencibir jenaka, namun ia tetap menyerahkan kunci kontak motor kepada Zayyad. "Oke, silakan mencoba monster besinya Mas Gara, Oppa Zayyad. Tapi ingat, kalau lecet sedikit saja, Mas Gara bakal minta ganti rugi pakai seluruh saham perusahaan logistik Gus!"
Zayyad menaiki jok kemudi dengan sigap, sementara Davika dengan lincah melompat ke jok belakang yang tinggi, melingkarkan tangan mungilnya secara santai pada jaket kemeja Zayyad. Mesin 250cc itu kembali menderu garang, memotong keheningan malam kota yang sunyi saat lampu belakangnya melesat menjauhi pendar neon swalayan, bergerak menuju labirin baru di ujung utara kota yang sarat akan teka-teki.
...----------------...
Gus Zayyad memutar tuas gas dengan ritme yang jauh lebih terukur dibandingkan manuver gila Davika sebelumnya. Monster besi 250cc itu melaju stabil membelah aspal jalan lingkar luar yang sepi, meninggalkan pendar neon swalayan 24 jam yang perlahan meredup di kejauhan. Udara malam yang berembus dari arah pantai utara mulai terasa asin dan menusuk tulang, membawa kabut tipis yang membuat lampu-lampu jalan tampak berpendar samar.
Namun, ketenangan berkendara sang CEO tidak bertahan lama. Begitu motor melewati undakan jalan yang tidak rata, roda belakang sedikit mengentak, memaksa tubuh Davika yang duduk di jok belakang yang tinggi meluncur maju akibat gaya dorong instan.
Dug.
Zayyad mendadak kaku di atas sespan kemudi. Rahang tegasnya yang tertutup riasan cushion tipis langsung mengeras sempurna. Melalui permukaan punggungnya yang terbalut kemeja hitam formal, ia bisa merasakan dengan sangat jelas tekanan penuh dari struktur tubuh Davika yang semok dan padat. Tekstur empuk yang sangat berisi dari dada berukuran besar milik gadis remaja itu menempel tanpa sekat yang berarti pada punggung bidangnya, bergesekan seiring dengan ritme guncangan motor.
Jantung Gus Zayyad berdentum keras, menciptakan sensasi panas menjalar yang kontras dengan dinginnya angin malam kota. Sebagai pria yang dibesarkan dalam lingkungan pesantren yang super ketat menjaga jarak aman dengan lawan jenis, sentuhan fisik seintens ini adalah sebuah wilayah terlarang yang belum pernah ia masuki. Ditambah lagi, keempukan yang masif dari tubuh mungil Davika benar-benar menguji fokus kepemimpinannya di atas setang motor.
"Gus kaku! Jalannya yang bener dong, jangan sengaja nyari lobang!" seru Davika dari balik helm, suaranya yang ceriwis terdengar teredam namun tetap sarat akan nada protes yang alami.
Gadis itu berbicara dengan kepolosan mutlak tanpa beban pikiran, sama sekali tidak menyadari bahwa proporsi tubuhnya yang luar biasa padat telah membuat kewarasan pria berwajah oppa Korea di depannya nyaris berada di ambang batas. Bagi Davika, merapat pada punggung Zayyad hanyalah murni demi menjaga keseimbangan agar tidak terjungkal dari jok belakang milik Mas Gara yang setinggi langit.
Zayyad menarik napas dalam-dalam melalui hidung, mencoba menetralkan aliran darahnya yang bergejolak. Ia sengaja memajukan sedikit posisi duduknya ke arah tangki bensin, mencoba menciptakan jarak mikro untuk mengurangi gesekan intim yang menegangkan tersebut.
"Pegangannya yang benar, Davika. Di depan jalannya mulai berbatu," sahut Zayyad dengan suara bariton yang diatur sedatar dan sedingin mungkin, menyembunyikan badai canggung yang sedang berkecamuk di dalam dadanya.
"Iya, iya! Cerewet banget sih, mirip Mbak Nara kalau lagi ngoreksi draf skripsi mahasiswa," cibir Davika sembari mengetatkan kencang remasan tangan mungilnya pada pinggang Zayyad.
Motor balap hitam itu akhirnya berbelok memasuki kawasan industri pelabuhan lama. Di kanan kiri mereka, deretan dinding seng berkarat dan siluet raksasa dari kran-kran pengangkut kontainer tua mulai bermunculan dari balik kegelapan, menandakan mereka telah tiba di titik perlindungan yang dituju. Sebuah labirin hampa tempat aliansi tak terduga ini harus merumuskan langkah selanjutnya sebelum Mas Gara memutus kontak dari langit Shanghai.
selalu bilangnya kitab😄😄😄